"Jadi gimana, Yan? Lo tertarik sama Anzela? Sejak kapan?"
"Udah agak lama sih, Rey. Tapi gue Pendem sendiri," jawab Tian berubah masam. Mengingat apa alasannya memendam perasaan itu sendiri membuatnya agak kesal.
Rey menganggukan kepalanya paham mencoba mengerti maksut dari sahabatnya. Mungkin Tia belum siap untuk menceritakan semuanya pada mereka. Lagi pula tidak semua hal bisa mereka ceritakan satu sama lain. Tian juga butuh privasi, dan sahabatnya mengerti akan hal itu.
"Gue tau sih. Tapi, kenapa lo nggak coba deketin Anzela?"
"Lo tau Ayah gue gimana kan, Bay?Ayah gue nggak mungkin setuju gue pacaran sekarang. Mungkin Ayah mikirnya bakal ganggu fokus belajar gue di Sekolah," jelas Tian akhirnya.
Memorinya memutar kembali kejadian beberapa waktu lalu saat ia kepergok memandangi foto Anzela di akun i********: gadis itu. Dengan sebatang cokelat di atas meja belajarnya yang sudah ia siapkan untuk di berikan Anzela di Sekolah. Tiba-tiba Ayahnya masuk ke dalam kamarnya, melihatnya dengan ponsel bergambar wajah Anzela kemudian berujung pada pertengkaran besar. Tian tidak mau membuat emosinya kembali naik pitam. Ia sendiri kesal dengan keposesifan orang tuanya yang terlalu membatasi ruang pribadinya. Tapi, apa boleh buat. Untuk saat ini Tian hanya bisa menuruti apa yang orang tuanya kehendaki.
Bayu dan Rey seketika itu juga bungkam. Mereka tak melanjutkan pertanyaan yang masih tersisa banyak di kepala mereka. Masih banyak lagi pertanyaan yang akan mereka layangkan untuk Tian. Namun, terurungkan karna jawaban Tian kali ini membuat mereka berdua tidak bisa lagi berkata-kata.
"Gue ngerti, Yan. Ayah lo terlalu ngatur privasi lo. Tapi, kenapa lo nggak nyoba buat berjuang?Kalian bisa jalanin dulu kan? Tanpa sepengetahuan Ayah lo mungkin?"tanya Rey dengan nada sok bijaknya.
"Gue yakin. Kalau Anzela tau yang sebenernya. Dia milih ga akan terima gue. Dengan alasan dia ga mau gue ngebantah perintah orang tua gue. Gue tau dia juga bakal nolak gue mentah mentah, Rey."
"Lo tau Anzela ceweknya gitu, Yan?Anzela udah tau soal lo yang suka sama dia?"
Tian menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Wajahnya berubah lesu. Tangannya mengacak rambutnya prustasi. Ternyata menjadi cowok incaran banyak cewek membuatnya tidak bisa dengan sesuka hati mencintai satu perempuan yang ia suka.
"Dia ga mungkin mau nerima cowok kaya gue. Orang tua aja di lawan, gimana nanti gue mau jaga kepercayaan dia ke gue? Lagian hubungan tanpa restu dari orang tua nanti nggak bakal di kasih jalan mulus. Karna setiap tindakan kita yang berujung baik, pasti selalu ada restu dan doa dari orang tua."
"Waduh..Mantul sekali Ferguso. Kenapa Tian Teguh telah lahir di muka bumi ini menjelma menjadi cucu buyutnya om Mario teguh?" Tanya Bayu tanpa titik koma membuat Rey menjitak kepala sahabatnya itu. Sedangkan Tian mendenguskan napasnya lagi debgan kasar sembari bersender pada tembok di belakangnya.
"Tapi serius deh. Demi kak Ros yang nggak pernah nemu baju lain selain pink. Demi acara Azab berubah jadi acara pengajian. Gue setuju juga sama ucapan Tian kali ini."
Bayu kembali menoyor kepala Rey setelah cowok itu selesai berbicara dengan otak miringnya. Tian hanya bisa menggelengkan kepalanya pasrah sambil memijit pelipisnya yang terasa pening.
Beginilah persahabatan mereka. Saat serius mereka akan sangat serius dan berubah menjadi laki-laki dewasa dan beertanggung jawab. Namun, saat seperti ini. Mereka akan bersikap sembilan puluh derajat jauh berbeda dari sebelumnya.
Beruntungnya orang-orang mengenal mereka sebagai sosok yang cerdas dan Tampan.
"Gue heran sama diri gue sendiri. Kenapa ya? Kata orang gue ganteng, tapi mau dapet cewek aja susahnya minta ampun.."
Rey dan Bayu hanya bisa cengengesan mendengar pernyataan dari Tian barusan.
"Gue juga heran, Yan. Orang sekaku dan sedewasa lo bisa juga jatuh cinta sama cewek yang kriterianya jauh dari pemikiran kita. Gue kira, lo bakal Jatuh Cinta sama cewek model, atau lemah lembut yang nggak bar-bar tentunya.."
Rey mengangkat wajahnya mengarah pada Bayu."Hubungannya apa Ayam kalkun?"
"Nggak ada,"
Tian menggelengkan kepalanya lagi menanggapi kelakuan dua sahabatnya yang sama tidak warasnya ini. Tapi, yang selalu membuatnya heran adalah kenapa orang-orang selalu menganggap mereka sebagai seseorang yang keren? Padahal menurut Tian sendiri, tidak ada apapun yang dapat di banggakan dari mereka satu persatu.
"Rey,"panggil Bayu pelan.
"Apa?"
"Cilok di tempatnya mbak Ening naik harga nggak ya?Gue kok laper, tapi gue sayang duit cuma buat beli cilok terus."
"Astagfirullah, tobat Bay. Tobat lo jadi orang..gue juga laper."
Bayu menjitak kepala sahabatnya. Membuat sang pemilik mengaduh kesakitan menerima jitakan empuk dari Bayu.
"Gue kangen sama mbak Ening. Sekalian mau apel ciloknya."
"Alan mana? Nggak kelihatan dari tadi?"tanya Tian tanpa memperdulikan keluhan Rey tentang perutnya.
"Weh iya, kemana tuh anak. Kaya drakula beneran tiba-tiba nggak ada."
"Si Edward si Alan itu."
"Edward siapa?"
"Kakak gue yang main pilem Twiligh,"jawab Bayu dengan tingkat ke PD an tinggi.
"Idih sok ngarep lo, Bay."
"Biarkan mimpiku menjadi angan pilu saat hati ini selalu berharap padamu, oh... belahan jiwaku.. maukah kau belah duren denganku?"
"Duh Gusti. Tolonglah hambamu yang manisnya bagaikan kuah empek empek ini. Kuatkan hambamu menhadapi sadisnya dunia karna banyaknya otak otak tak terkendali yang hinggap di jendela," kata Rey dramatis sambil menengadahkan tanganya ke atas menirukan orang berdoa.
"k*****t lo, Rey."
"Kalian bener- bener nggak waras."
"Mau kemana, Yan?"tanya Bayu saat melihat Tian beranjak dari kursi duduknya di kelas.
"Kantin."
"Mau bolos pelajaran Pak Agus?"
"Males gue PPKN. Jiwa gue udah jiwa Nasionalisme berdasarkan Asas Pancasila dan kesatuan Bhineka Tunggal Ika."
"Heh, Rey. Ngapain lo bawa-bawa nama mbak Ika?"
"Serah, lo deh cacing kremi. Gue mau apel mbak Ening ikut sama Tian."
"Gue ikut k*****t,"kata Rey sambil setengah berlari mengejar Bayu dan Tian yang telah mendahului mereka.
......