1 | Perkenalan Tokoh
Raqa Abimanyu Dinata
Ruangan bernuansa putih dengan jejeran patung berbagai bentuk dan warna yang awalnya hening kini perlahan menggemakan suara, lebih tepatnya suara langkah cowok berkaos hitam yang berjalan santai sambil mengacak rambut setengah basahnya.
Bola matanya melirik ke kanan dan kiri, maksud berhati-hati, cowok dengan celana jeans ripped itu berdehem singkat ketika menemukan seseorang di ruangan khususnya.
Bukan sekedar deheman tanpa alasan, namun tatapan takut seolah ketahuan habis mencuri dari orang itu membuat Raqa melipat tangan di d**a. Selain berhasil menyulut amarahnya, ternyata orang itu juga berhasil memecahkan kerajinan patung milik Raqa.
Raqa Abimanyu Dinata, cowok dengan lengan kekar dan tubuh proposional meski baru berumur tujuh belas tahun itu memandang seorang pria bertubuh kurus di hadapannya penuh murka.
"BERANI-BERANINYA LO MASUK TANPA IZIN GUE?!" Raqa mendekat, dalam satu detik tangannya berhasil meraih kerah jaket pria itu. Mencengkramnya tanpa ampun. "APA YANG LO INGINKAN?! APA YANG LO CARI?!"
Tangan pria itu bergetar, menahan cengkraman Raqa di lehernya agar tidak menguat. "Ma-maaf, sa-saya hanya suruhan. To-tolong lepaskan. Sa-saya tidak bisa bernapas."
Bukannya melepaskan, Raqa justru menguatkan cengkramannya hingga pria itu hampir tercekik dan berdiri menggunakan ibu jari.
"Gue gak peduli. Cepat lo katakan apa tujuan lo ke sini?!" geram Raqa, menatap tajam pria itu, seolah siap memangsanya kapannya saja.
"Sa-saya mohon. Le--"
"ATAU LO NGGAK BAKAL KELUAR DARI SINI DENGAN SEMPURNA?!" ancam Raqa, tangannya mengepal, siap meninju, pria itu tidak bisa berkata-kata lagi karena Raqa sudah mencekiknya. "JAWAB!! GUE MUAK NGUSIR LO DARI SINI b*****t!"
"Sa-saya--"
"APA?! CEPETAN NGOMONG!"
Dan ketika tinjuannya hampir mendarat di bibir pria itu...
"ABANG! ABANG JANGAN PUKUL ORANG LAGI, RISA MOHONN..."
Tinjuannya mengudara, Raqa menoleh, dia mendapati Risa-adiknya memohon sambil menarik-narik ujung kaosnya. Gadis berkepang dua dengan pita merah itu menatapnya berkaca-kaca.
"Risa nggak mau abang mukul orang lagi. Risa takut abang kena marah papa, Risa nggak mau jauh dari abang. Abang mohon dengerin Risa... Abang."
Raqa mendengus kuat, dia menatap Risa lalu menatap pria tadi, dapat Raqa rasakan keringat dingin pria itu menetes ke tangannya.
Raqa berkata. "Sekali lagi lo datang, gue pastiin lo habis di tangan gue," bisik Raqa membuat pria itu merinding.
"ABANG! ABANG JANGAN ANCAM DIA," pinta Risa memelas. Membuat Raqa melepaskan cengkramannya kasar bahkan hampir mendorong pria tadi ke tembok.
Pria itu terbatuk-batuk
"Iya Risa. Abang minta maaf." Raqa nyengir, dia membawa Risa duduk di pangkuannya, gadis berumur tujuh tahun itu tersenyum. Sementara pria tadi secepat kilat enyah dari hadapannya.
Jika kalian mengira Raqa melepaskan cengkramannya karena kasihan, itu salah, Raqa justru tidak enak karena adiknya sedang ada di sini.
"Abang kenapa sih suka mukul-mukul orang mulu? Abang nggak takut masuk penjara kayak papa dulu? Abang nggak sering ngelakuin itu di sekolah juga, kan?" tanya Risa polos.
Raqa tidak menjawab, dia justru mengacak gemas rambut adik semata wayangnya itu.
"Risa ke sini minta dibikinin patung lagi?" tanya Raqa mengalihkan pembicaraan. Risa yang tidak masalah akan hal itu hanya mengangguk pasti.
"Risa pengen abang bikinin patung kelinci, sekalian mau tunjukkin ke temen-temen kalau abang pintar bikin patung," ujar Risa tersenyum.
Raqa mengangguki cepat ucapan Risa, ia mendudukan pelan gadis itu ke kursi rotan, tanpa basi-basi Raqa langsung mengambil celemek khusus untuk membuat patungnya.
Raqa memang menyukai kegiatan membuat patung atau kerajinan keramik sejenisnya. Entah mengapa dia sangat menyukai hobi semacam ini, berbagai bentuk sudah ia buat bahkan ada beberapa di antaranya yang sudah Raqa pamerkan.
"Risa tunggu disitu, liat atau sambil pelajari kakak bikin patungnya," ucap Raqa, dia mulai menyiapkan bahan membuat patung, seperti tanah liat, meja putar dan lain-lain.
Risa mengacungkan jempol, satu tangannya memeluk boneka teddy bear pastelnya erat. "Oke bang."
Selagi membuat patung, Risa diam di tempatnya sambil memperhatikan Raqa. Sementara pikiran Raqa justru bergelut pada kedatangan pria tadi. Raqa yakin ada yang tidak beres, sudah kelima kalinya pria itu datang tanpa tujuan yang Raqa ketahui.
Dua tahun setelah papanya masuk penjara, selalu saja ada yang datang ke markasnya. Padahal Raqa sudah memastikan jika tempat ini hanya diketahui oleh Risa dan neneknya.
Jadi, siapa pria itu?
Apa yang dia cari di markasnya?
****
Nabilla Shiletta
Seorang cewek berambut sebahu tampak fokus menata lukisannya, kuasnya bergerak ke sana-kemari memadukan setiap warna di kanvas putih itu. Sesekali melirik ke wadah cat di atas meja.
Ketika menyadari cat warna birunya sudah habis, cewek dengan celana jeans overall berpadu kaos putih itu menghela berat lalu berseru.
"DAMAR! WARNA BIRUNYA HABIS, AMBILIN DI NAKAS!"
Suara lengkingan itu cukup membuat seorang Damar--cowok berkacamata yang tengah sibuk memajang lukisan ke dinding buru-buru turun dari tangga dan berjalan ke arah nakas. Segera ia mencari barang yang diminta Nabilla.
"DAMAR CEPETAN IH! LAMA!!"
"Sabar Na, ini aku lagi cari, kayaknya ketimpuk sama warna lain deh," jawab Damar berusaha sabar, tangannya sibuk mencari-cari cat warna biru dari sekian banyaknya cat warna dalam nakas.
"Ah ketemu," gumam Damar ketika berhasil menemukan catnya. Wajahnya langsung berbinar. Damar segera melangkah lebar menghampiri Nabilla.
"Ini Na, catnya." Damar mengulurkan catnya. Nabilla menerima sambil mendengus kasar.
"Damar ih lama banget sih!"
Damar nyengir. "Hehe, maaf Na, catnya paling bawah sih, jadi harus singkirin yang atas dulu. Lagian cat kamu banyak banget."
"Bodo amat, kamu aja yang lelet kayak siput. Makanya kalau disuruh itu geraknya cepet. Nanti aku bilangin ke mama deh kalau Damar nggak suka disuruh-suruh lagi. Aku cari pembantu lain aja yang geraknya cepet."
"Yah Na, jangannn, Damar masih suka kok di suruh apapun sama Nabilla. Sekalipun Nabilla minta ambilin bulan Damar siap." Damar menggeleng cepat, takut Nabilla memecatnya, maksud pembantu di sini adalah orang yang siap disuruh-suruh apapun oleh Nabilla. Bukan pembantu rumah tangga.
"Bagus, Damar emang sahabat aku paling baik deh hehe," puji Nabilla menoel hidung Damar.
Yaiya baik, orang aku jadi babu disuruh mulu, batin Damar kesal.
Nabilla mulai mencampur cat birunya ke wadah khusus, perlahan kuasnya menyatu dengan cat itu, lalu Nabilla memoleskannya ke atas Kanvas. Berselang detik kemudian, perut Nabilla berdendang minta dikasih makan.
"Damar."
Cowok yang baru saja dua langkah menuju tangga itu menoleh, Damar mendengus berat lalu menatap Nabilla.
"Kenapa Na?"
"Aku laper, kamu siapin mie ayam ya, sekalian kita makan bedua di sini," pinta Nabilla memasang puppy eyesnya.
Damar hanya mengangguki pasti, namun jauh dalam lubuk hatinya Damar ingin sekali marah. Jika tidak dibayar, Damar dari dulu sudah mengundurkan diri jadi pembantu Nabilla.
"Iya. Kamu tunggu di sini, lima menit ya."
Nabilla mengangguk. "Oke. Sekalian jus jeruk pake lemon Dam."
Cowok itu menggangguk pelan seraya berjalan keluar ruangan, menuju lantai bawah tempat dapur berada.
Nabilla tersenyum menatap kepergian Damar, kebiasaan memerintah dan manja dari cewek itu membuat siapa merasa risih. Hanya Damar salah satunya, yang masih bisa menahan rasa sabar atas sikap Nabilla.
"NABILLA!" Suara khas ibu-ibu itu mengalihkan perhatian Nabilla dari kanvasnya. Wanita berhijab cantik itu menghampiri Nabilla dengan terburu-buru.
"Kenapa, Bun?"
"Nabilla kamu diterima di SMA Favorit itu."
"Apa? Jadi Nabilla bakal sekolah di sana? Yeay, Nabilla seneng banget. Pasti banyak banget cowok gantengnya. Tapi Damar juga satu sekolah sama aku, 'kan?"
Nara-ibunya Nabilla mengangguk. "Iya. Tapi besok Damar gak bisa berangkat bareng kamu, tante Rana bareng Om Hans mau anter anaknya sendiri. Jadi, kamu berangkat bareng Bunda aja ya."
Nabilla langsung cemberut, ia menaruh kuasnya di tempat cat. Melipat tangan di d**a, cewek berlesung pipi sebelah kanan itu berkata.
"Nabilla mau sama Damar. Pokoknya besok harus berangkat bareng Damar, titik!"
"Nabilla dengerin Bunda dulu."
Ngambek, Nabilla menghentakkan kaki kesal, dia meninggalkan ruangan tanpa peduli mamanya yang berusaha mengejar.
"NGGAK! POKOKNYA HARUS BARENG DAMAR!"
"Nabilla Shiletta! Kali ini kamu harus turutin Bunda sayang..."
-Raquilla-