Setelah sepuluh menit berlalu Nabilla berada di UKS bersama Raqa, kini cewek itu duduk anteng di tepi sebab tidak terima dispensasi apa pun dari cowok itu.
Tapi, kalau Nabilla mau, ia bisa saja merengek agar tidak ikut, sayangnya ia juga tidak mau kehilangan moment menatap wajah Raqa yang menurutnya kelewat tampan itu.
"Baiklah, saya minta maaf karena ada urusan kecil mendadak yang tidak bisa ditinggalkan," ucap Raqa. Tadi, aula sempat heboh karena si ketua OSIS itu membuat mereka menunggu.
"Jadi, sebagai permintaan maaf, saya akan berikan hadiah kepada peserta yang berhasil mengumpulkan tanda tangan terbanyak. Dan hukuman berdiri di depan bagi peserta yang tidak dapat tanda tangan satu pun."
Berbagai mimik peserta langsung menghebohkan aula, ada yang memekik girang, ada yang celengak-celenguk mencari teman karena tidak dapat tanda tangan satu pun, atau tersenyum kecut seolah dialah peserta yang dapat tanda tangan paling banyak.
"Lu udah dapat berapa, Tar? Gue baru 5 ini," ucap Sagita. Mentari mengecek bukunya, ada tujuh tanda tangan di sana.
"Tujuh. Yes, gue dapat tujuh, salah satunya ada tanda tangan Kak Juan ini. Baik banget dah tuh senior, ganteng lagi."
"Yee gue juga ada kali. Nih liat, Kak Juan ampe curang ngasih tanda tangan dua," aku Sagita.
"Kok gitu? Yah, gue cuma dikasih satu," sungut Mentari. "Tapi nggak papa, yang penting ada. Kalau lo dapat berapa, Nab?"
Nabilla terdiam beberapa saat lalu menggeleng, sontak saja Sagita maupun Mentari melotot tidak percaya. Namun detik selanjutnya, Damar yang duduk di sebelah Nabilla menjelaskan.
"Wajar lah Nabilla nggak dapet, dia kan tadi pingsan pas Kak Raqa ngumumin soal tanda tangan," ujar Damar. Azmi dan Azka yang duduk di belakang ikut menyembulkan kepala. "Iya nggak, Mi? Ka? Kita udah minta izin sama kak Ragil supaya Nabilla nggak dihukum." Damar mendorong kacamatanya naik. "Jadi, Nabilla nggak bakalan dihukum."
"YEAY. Kalian emang daebaek!"
"Apa? Ketek?"
Nabilla mengerucutkan bibir. "Daebaek tau, Dam. Kamu punya kuping nggak sih?"
Damar nyengir singkat, ia mengusap leher salah tingkah. Lantas saja Sagita, Mentari, Azmi maupun Azka tertawa geli. Tapi, ketika asik-asiknya tertawa, perhatian keenam orang tersebut teralihkan oleh suara berat nan seksi di depan sana.
"Hanya kalian yang tidak dapat tanda tangan sama sekali? Apa itu benar? Saya minta kejujurannya."
Nabilla menelan saliva kasar, Sagita dan Mentari saling berpandangan, sementara Azmi dan Azka fokus ke depan. Lalu Damar, cowok itu menghela napas berat seolah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Nabilla menatap ngeri ke panggung yang sudah ada peserta MOS, ada sembilan peserta di sana. Dua di antaranya perempuan. Nabilla jadi berpikir, apakah ia yang akan menggenapkan jejeran peserta di panggung itu?
"Apa kalian selemah itu hingga untuk dapat satu tanda tangan saja tidak bisa. Dimana kalian menaruh otak?" geram Raqa, dia mengedar pandang lalu mengisyaratkan semua panitia memeriksa seluruh buku peserta lewat delikan mata.
Panitia yang paham akan hal itu segera bertindak. Termasuk Juan, dia sedari tadi berjaga di tepi aula memilih memeriksa peserta terdekat. Dan pilihannya jatuh pada Nabilla.
Nabilla mendadak gugup plus takut.
"Nggak papa. Sini buku lu gue lihat. Kalo sama gue, selow-selow aja. Gue paham dong lu tadi sakit tangan," ucap Juan.
Nabilla menghembuskan napas lega. Tiga menit berlalu, ketika buku teman-temannya selesai diperiksa, Juan mendekat dan mengacak rambutnya.
"Temen lu ternyata pinter-pinter. Cakep dah temenan sama lo yang cantik ini."
Nabilla menunduk malu, pipinya memerah seperti tomat. "Kakak gomba."
"Haha. Gue kan—"
"Bagaimana? Apa panitia menemukan ada kecurangan?" Suara itu memotong, milik Raqa, tepat setelahnya mata Juan bertemu dengan cowok itu.
Juan mengacungkan jempol setinggi mungkin, respon Raqa menggeram kesal. Tidak mungkin! Pasti ada di antara peserta melakukan kebohongan.
Dan ketika matanya bertemu dengan mata Nabilla, Raqa tersenyum kecut saat itu juga. Diambilnya mikrofon, hendak bersuara tapi sebuah tangan menahan lengannya.
Bryn menggeleng, lalu berbisik, Raqa mendengarkannya seksama. Bersamaan dengan itu juga, mata licik milik Pak Gusti terarah padanya.
-Raquilla-
"Bapak tidak mau tau, pokoknya, kamu harus jaga sikap dengan siswi bernama Nabilla itu." Pak Gusti bersandar pada kursi kebesarannya seraya memilin jari.
Raqa memutar bola mata malas. "Denger ya, Pak. Saya nggak peduli. Memang cewek itu siapa? Sampai Bapak ketakutan. Majikan?"
"Raqa," sela Pak Gusti, kini beliau duduk tegap, jarinya terpaut di atas meja. "Sepertinya kamu memang harus tau fakta itu sekarang. Karena ini menyangkut sekolah, terutama kamu, saya tidak ingin sekolah ini dicap tidak baik hanya karena ketua OSIS-nya seperti kamu."
"Bapak ngomong? Kalau ceramah mending di mesjid."
"Saya hanya memberikan sedikit clue tentang siswi bernama Nabilla. Apa kamu tidak tertarik?"
"Gak! Dia cuman cewek manja yang bikin susah."
"Baik kalau begitu, pasang telinga kamu baik-baik." Pak Gusti tersenyum sinis. Ia mengeluarkan sebuah berkas dari nakas. "Bagaimana jika Nabilla berpontensi besar untuk kemajuan sekolah? Kamu mau menerima faktanya? Jika Nabilla, merupakan anak salah satu penyalur dana terbesar SMA Bakti Buana."
"Terus?" Raqa memang tidak tertarik dengan perbincangan ini.
"Ck, kamu masih tidak mengerti?"
"Males. Situ aja yang ngejelasin."
Pak Gusti menghembuskan napas berat. Saat seperti inilah, keinginan menenggelamkan Raqa ke laut memuncak tinggi.
"Itu Artinya, sedikit saja Nabilla terluka, maka sekolah akan jadi ancamannya."
"Oh," jawab Raqa biasa saja. "Udah selesai, kan ngomelnya. Saya keluar."
"Raq-"
Belum selesai bicara, Raqa lebih dulu keluar dengan membating pintu. Pak Gusti menghembuskan napas berat, hanya sesaat, beliau kembali bersandar sambil bersedekap, dengan kedua kaki tertopang di meja.
"Kalau itu yang bisa membuat kamu berubah? Mengapa tidak?"
-Raquilla-
"Damar mana, sih?! Kok lama banget?" Nabilla bergumam, ia sedari tadi menunggu Damar tapi cowok itu tidak datang juga.
Acara MOS pun sudah selesai, semua peserta diperbolehkan pulang. Nabilla melirik arloji berwarna pink di pergelangan tangannya, menunjukkan 13.20. Artinya, sudah dua puluh menit ia menunggu Damar.
"NABILLA!"
Seruan dari belakang membuat Nabilla menoleh, ia tersenyum mendapati Damar berjalan mendekat. Cowok berkacamata itu membawa sekotak s**u strawberry berlogo sapi.
"Damar lama! Aku ampe keringatan nih," gerutu Nabilla.
"Iya maaf dong, Nab. Kantinnya jauh banget. Aku aja lari tadi supaya cepet. Nih susunya."
Nabilla mendesis kesal, tangannya menerima sodoran s**u dari Damar. "Au ah."
"Yah, jangan ngambek dong, Nabilla. Aku minta maaf nih, dimaafin nggak?" bujuk Damar.
"Nggak! Damar temenin aku dulu ke taman belakang."
Damar menaikkan satu alisnya. "Ngapain?"
"Gambar bunga, ya, ya, ya?" Nabilla memasang wajah puppy eyesnya. Siapa saja yang melihatnya pasti gemes, tapi bagi Damar itu menyebalkan.
"Iyain aja dah, biar cepet pulang."
"Hore! Yuk, Dam."
Damar menggangguk, mereka berjalan bersisian, sesekali Nabilla menunjukkan buku gambarnya. Ada bermacam gambar di sana, Damar akui, jika Nabilla benar-benar pintar dalam bidang seni.
"Ini aku gambar pas kita lagi piknik. Damar inget, nggak?" tanya Nabilla, menunjukkan gambar pemandangan buatannya.
"Inget kok. Waktu itu kamu juga nggak sengaja ngompol. Heboh deh jadinya tante Nara."
"Damar ih jangan diingetin! Malu tau!" gerutu Nabilla, wajahnya memerah malu. Waktu itu mereka berumur tiga belas tahun.
"Iya dah, maaf."
Perjalanan dilanjutkan, Nabilla terus saja berceloteh soal gambarnya padahal Damar bosan dengernya. Cowok itu manggut-manggut saja sambil main game. Karena asik berceloteh sambil menunjuk buku gambarnya, tiba-tiba seseorang menabrak Nabilla hingga buku itu mendarat di lantai.
"Bukuku ... " Nabilla menatap nanar buku gambarnya yang tergeletak di lantai. "Bundaaa haa. Kamu jalan pakai mata nggak, sih? Ini buku kesayangan aku. Ambilin nggak?"
Bukannya takut dengan wajah sangar Raqa, Nabilla justru ngomel-ngomel. Kuping Damar maupun Raqa panas jadinya.
"Lu yang salah, cewek manja! Emang ada apa orang lagi jalan sambil liat buku?! Jalan itu liat ke depan."
"Terserah aku dong liat kemana. Pokoknya Kakak ambilin tuh buku aku jatoh," dengus Nabilla.
Raqa ingin sekali melempar Nabilla ke kandang kambing milik Ragil. "Ambil sendiri! Bisa nggak lu nggak nyuruh-nyuruh gue?! Bukunya deket, nggak sampe semeter."
"Nggak mau!" mencak Nabilla. "Kakak yang jatuhin, kakak juga yang ambil."
"Bukan gue yang jatuhin ya asal lu tau."
"Tapi kakak yang nabrak."
"Dan lu yang pegang bukunya!"
Dan Damar hanya menutup mata dan telinga. Sesaat kemudian deheman milik pria mengalihkan suasana.
"Kakak—"
"Ekhem."
Mereka bertiga menoleh, Damar mengelus d**a lega, Nabilla tersenyum puas, sedangkan Raqa, ingin sekali menimpuk kepala Pak Gusti dengan sepatu baunya.
"Tuh ada guru, kakak mau aku bilangin ke dia?"
Raqa mendengus, dasar Nabilla. Jadi, dia juga sudah kenal dengan pak Gusti? Raqa tidak punya pilihan selain menuruti Nabilla.
"Nih." Raqa mengembalikan dengan malas buku gambar bersampul biru itu. "Lain kali kalau mau main sama gue, jangan disekolah."
"Emang main apa juga sama Kakak?" tanya Nabilla.
"Main kuda-kudaan."
"Mau!" seru Nabilla, wajah cewek itu menampilkan kepolosan sekaligus bloon.
"Heh Gila!" Raqa bisa stress di sini berlama-lama, jadilah ia hendak minggat tapi tangan Nabilla menarik ujung seragamnya. "Ngapa lagi, ha?!"
"Kakak mau kemana? Temenin aku dulu."
"Heh, lu buta apa gimana? Temen lu itu ada. Ngapain sama gue?"
"Anggap aja sebagai permintaan maaf kakak," kata Nabilla. Dia bisa dicap sebagai cewek paling berani, iya berani kalau nggak sendiri.
"Gue nggak bakalan minta maaf kalau gue nggak merasa bersalah."
"Nggak peduli. Pokoknya kakak harus temenin aku. Kalau nggak, aku bilangin sama papa terus sama guru itu!" Nabilla menunjuk Pak Gusti yang masih berdiri anteng seraya bersandar di tembok koridor.
"Mau nggak?"
Raqa mendelik, tanpa buang waktu dia langsung menarik tangan Nabilla untuk minggat dari sana. Sementara Damar, tersenyum puas sebab dunianya terbebas dari Nabilla.
"Yes, majikan gila udah minggat, asikuy!"
-Raquilla-