DIANA DAN PENGAKUAN CINTANYA

1642 Kata
“Hai, Ma.” Sapa Doni sesaat setelah memasuki rumah Mamanya. Dia mencium pipi Mamanya dan mengambil posisi duduk setelahnya. “Anggun mana, Don? Nggak dateng lagi?” tanya sang Mama sambil celingukan mencari sosok menantunya. Ditatapnya sang anak laki-laki dengan tatapan yang menyiratkan ingin dijawab secepat mungkin. “Dia ngga dateng.” Jawab Doni lemah. “Kenapa dia ngga dateng? Udah lama lho dia nggak pernah ikut kamu ke sini. Dia nggak nganggep Mama sebagai mertuanya lagi ya?” kata sang ibu dengan nada emosi yang kental sekali. Doni memutar bola matanya. “Ma, ayolah. Anggun nggak ke sini karena aku memang nggak ngajak dia ke sini. Aku juga nggak ngasih tahu dia kalo Mama nyuruh aku ke sini bareng dia.” “Kamu ini apa-apaan sih, Don? Mama tuh perlu kalian berdua, bukan cuma kamu aja.” Doni menatap Mamanya dengan lelah. “Ma, aku tahu apa maksud Mama dengan nyuruh aku dateng berdua sama Anggun. Dan aku nggak mau ya Mama bikin Anggun drop lagi hanya karena masalah belum hamil.” “Hanya kata kamu, Don? Anak itu bukan sekedar hanya, Doni. Dia bagian penting dari pernikahan kalian.” “Ya aku tahu, Ma. Tapi kan memang belum dikasih, jadi berhenti neror Anggun dengan pertanyaan yang seolah-olah menyalahkan dia. Anggun tersenyum di depan Mama, tapi dia nangis di belakang aku, Ma. Dan itu menyakiti aku sebagai suaminya.” “Mama tanya baik-baik, Don. Mana pernah Mama nanya sambil bentak dia? Dia aja yang terus dilanda rasa bersalah, terus nangis, dan kamu nganggepnya Mama yang buat dia nangis.” “Okelah kalo Anggun memang terlalu cengeng, tapi ya jangan diungkit-ungkit lagi, bisa? Supaya Anggun nggak kepikiran terus dan akhirnya mendiami aku, Ma.” Sang Ibu berkacak pinggang karena terus disudutkan oleh putranya sendiri. Anak laki-lakinya memang selalu seperti ini kalau masalah sensitif ini terus dungkit-ungkit. Dan tentu saja Mama Doni jengkel karena putranya terus-terusan membela istrinya itu. “Kamu itu selalu aja belain Anggun kalo Mama bahas ini. Sadar sih, Don, hidup ini tuh bukan hanya tentang kamu dan Anggun aja. Mau sampe kapan kamu nunggu Anggun hamil, hah? Mama tuh capek nungguin kalian terus!” “Ya terus karena Anggun nggak hamil-hamil, apa aku harus ninggalin dia gitu?” tanya Doni dengan emosi. Dia tak habis pikir dengan jalan pikiran Mamanya yang terkesan merusuhi keluarganya. “Ya Mama nggak nyuruh kamu ninggalin Anggun. Cukup pertimbangkan program-program kehamilan yang bisa kamu dan Anggun coba. Contohnya kayak bayi tabung tuh.” Sang Ibu pun emosinya tersulut. Keduanya bertatapan dengan tatapan marah yang kentara sekali. “Kalau cara itu tetep nggak berhasil gimana, Ma? Aku nggak mempermasalahkan uang, tapi aku memikirkan psikis Anggun yang akan semakin terpuruk setelah itu.” Doni menjeda agar Mamanya dapat memahami apa yang dikhawatirkan olehnya dengan baik. “Anggun pasti akan semakin terpuruk karena sudah mencoba bayi tabung tapi nyatanya tetep nggak berhasil. Dia pasti bakal kepikiran terus setelahnya. Jadi daripada memilih cara yang cukup beresiko untuk Anggun, aku jauh lebih setuju dengan cara normal yang tanpa resiko apapun.” Sang Ibu memalingkan wajahnya sambil tersenyum kecut. “Kamu sama Anggun pisah ajalah, Don. Kalian bener-bener nggak mendengarkan saran Mama sebagai orang tua.” “Ma!!!” Doni membentak Mamanya karena ide konyol yang tak pernah terlintas dikepalanya sedikit pun. “Ma, please, jangan kayak gini. Ini tuh rumah tangga aku, jangan merusuhinya sampe seperti ini.” “Ini tuh demi kebaikan kamu, Don. Kamu tuh butuh anak.” “Aku lebih butuh Anggun daripada anak.” Kata Doni dengan tegas. Pria itu membalikkan badannya, tapi kemudian menatap Mamanya lagi dengan sorot kecewa. “Aku nggak akan dateng lagi ke sini kalo Mama masih ngungkit masalah itu.” *** “Tante, maaf ya karena nunggu lama. Tadi macet banget.” Kata Diana sambil lalu. Ibu Doni tersenyum tipis mendengar itu dan mempersilakan Diana untuk duduk di sebelahnya. Diana pun tak membutuhkan waktu lama untuk menyesuaikan dirinya dengan keadaan yang ada. Dia tersenyum sopan, meski melihat wajah masam Ibu Doni. Tentu saja dia tahu penyebabnya, tapi berpura-pura tidak tahu jelas pilihan yang baik. Dia akan berpura-pura tidak tahu, lalu kaget mendengar masalah yang sebenarnya, dan kemudian memberi sedikit saran yang tentu saja menguntungkannya. Tentu saja dia harus melakukannya. Menjadi sosok yang pengertian dan mampu memahami ‘calon mertuanya’ untuk menarik perhatianya sangatlah penting. Karena tanpa disadari oleh siapapun, di sini nasibnya bergantung pada Ibu Doni. “Tante kok murung banget sih? Semua nggak sesuai rencana Tante, ya?” tanya Diana untuk menunjukkan simpatinya. Tante Inggrid –Ibu Doni- memalingkan wajahnya untuk menghembuskan napasnya dengan kesal. “Semuanya memang nggak pernah sesuai dengan rencana Tante, Di. Entah hanya perasaan Tante aja atau gimana, tapi semuanya nggak ada yang sesuai rencana sejak Doni menikahi Anggun. Tante mulai jengkel dengan menantu Tante itu.” Diana menahan senyumnya yang ingin mekar begitu saja. Perempuan itu mencondongkan tubuhnya ke depan untuk berujar, “Jangan gitu dong, Tan. Doni cinta mati lho sama Anggun.” Tante Inggrid semakin menghembuskan napasnya dengan jengkel. “Jangan bawa-bawa nama Anggun, bisa? Tante jengkel banget tahu, Di.” Ujarnya tanpa merasa bersalah sedikitpun karena sudah seperti ini pada menantunya. “Tante pengen ketemu kamu tuh karena Tante yakin kamu bisa mengalihkan rasa jengkel Tante ke Anggun. Jadi tolong jangan bahas dia lagi ya.” “Emang Doni berubah banget ya, Tan?” pancing Diana lagi. “Dia masih anak Tante yang berbakti, tapi ya itu, kalo nama Anggun dibawa-bawa langsung berubah jadi anak durhaka. Apa-apa istrinya, Mamanya ngomong apa udah nggak dipeduliin lagi.” “Coba dikasih pengertian lagi dong, Tan. Gimana pun ini kan untuk kebaikan semua orang.” “Tapi Doni tetep nolak, Di. Doni malah bilang nggak mau dateng ke rumah lagi kalo Tante masih ngungkit-ngungkit ini.” Ibu Doni menjeda. “Apa jangan-jangan Anggun memang mandul ya, Di? Doni tahu, tapi karena saking cintanya, Doni nutupin itu dari kami semua.” Mata Diana membulat. Tidak menyangka kalau pemikiran perempuan yang sudah melahirkan Doni ke dunia itu cukup frontal. “Kok Tante berfikiran seperti itu sih?” “Ya gimana Tante nggak mikir sampe sana kalo kenyataannya Doni pun menunjukkan gelagat ragu kalau Anggun bakal hamil meski udah program bayi tabung. Apa coba yang bisa bikin orang sepesimis itu kalo bukan ada fakta sebenarnya yang mereka tutupi?” “Coba Tante tanya Anggun deh. Tanya dari hati ke hati. Siapa tahu dia luluh trus ngasih tahu Tante yang sebenarnya.” “Dan kamu pikir Doni akan membiarkan Tante, Di? Doni jelas-jelas protektif banget tentang Anggun.” Ibu Doni menyambar minuman yang ada di depannya dan meminumnya sedikit. “Udah lah jangan bahas mereka berdua. Mood Tante langsung ancur gara-gara mereka.” Diana terdiam karena peringatan Ibu Doni sudah sampai batasnya. Perempuan paruh baya itu benar-benar terlihat tidak mood, dan kalau Diana tetap memaksa untuk mencari tahu dengan membawa-bawa nama Anggun, dia khawatir Ibu Doni akan semakin illfeel padanya. Akhirnya Diana menyerah dengan topik mencari-keburukan-Anggun dan mengubahnya menjadi topik yang bisa jadi akan sangat menguntungkannya kalau berhasil. “Seandainya aja Doni nggak secinta itu ya sama istrinya. Aku pikir dia akan memilih menikah lagi.” “Kalo udah seperti ini, keputusan kayak gitu pun akan Tante setujui, Di. Daripada di terikat dengan pernikahan yang nggak berguna kayak gini. Mana dia anak satu-satunya Tante, laki-laki pula.” Ibu Doni memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri memikirkan masa depan anaknya terombang-ambing. “Mau kayak mana dia kalo nggak punya anak? Di masa tuanya nanti, siapa yang bakal ngurusin kalo bukan anak-anaknya?” tambahnya dengan muram. Diana memasang ekspresi sedih. “Kalau seandainya yang menikah dengan Doni adalah aku, kira-kira apa akan seperti ini juga ya, Tan?” setelah mengatakannya, Diana langsung memasang ekspresi sedih dan sedikit malu-malu karena sudah mengatakan sesuatu yang salah. Tante Inggrid membelalakkan matanya. “A-Apa, Di?” ujarnya karena tidak percaya dengan pendengarannya sendiri. Diana memainkan jemarinya yang saling bertautan di atas meja. Dia terkekeh miris. “Sebenernya aku mencintai Doni, Tan. Dari dulu banget. Tapi Doni nggak pernah melihat aku sebagai ‘perempuan dewasa’, jadi ya sudahlah.” Ibu Doni tercengang mendengar penuturan perempuan muda yang dulunya selalu menjadi teman sepermainan dengan anak laki-lakinya. “Salah satu alasanku pergi ke Singapura ya salah satunya karena mereka menikah. Nenek tahu dan khawatir aku nggak akan bisa move on. Jadi aku pergi.” “Kamu... kamu serius, Diana?” ulangnya seolah-olah tidak percaya dengan penegasan Diana yang berkali-kali untuk menunjukkan kebenarannya. “Sangat serius, Tan.” Kata Diana dengan mantap. “Tapi karena mereka udah menikah, jadi ya nggak usah terlalu dipikirkan, Tan. Anggep aja cuma angin lalu aja.” “Kamu kenapa nggak ngomong sih, Di? Dan kenapa harus pergi-pergi seperti itu. Kamu pasti ngerasa nggak adil.” Benar, Diana memang merasa tidak adil. Tapi Diana sudah berjanji akan membuat semuanya adil. Benar-benar adil, meski hanya untuk dirinya sendiri. Apalagi dengan umpannya yang ditangkap dengan baik oleh Tante Inggrid –Diana merasa peluangnya terbuka sangat lebar. “Tapi mereka udah menikah, Tan. Memangnya aku bisa apa?” Ibu Doni terdiam karena perkataan Diana ada benarnya. Tapi kemudian dia bertanya lagi. “Kenapa kamu nggak menyampaikan perasaan kamu dulu, Di? Saat mereka belum menikah, tentunya. Kamu mungkin masih punya peluang karena kamu dan Doni sering menghabiskan waktu bersama.” “Benar, Tan. Tapi kan Doni nggak pernah melihat aku sebagai perempuan. Dia cuma menganggap aku sebagai adik perempuannya saja.” Ibu Doni menyentuh punggung tangan Diana dan mengusapnya dengan lembut. Anak perempuan yang ada di depannya begitu miris. Dia kehilangan orang tuanya sejak kecil, dan setelah itu dia hanya tinggal dengan neneknya. Setelah dewasa pun dia kehilangan lagi pria yang dicintainya. Bukankah ini sangat miris untuk orang yang sudah berkali-kali kehilangan sesuatu? Batin Inggrid bersuara. “Lalu gimana perasaan kamu sekarang ke Doni, Di?” “Aku?” Diana menunduk malu. “Dosa nggak, Tan, kalo aku bilang masih mencintai Doni? Ini mungkin memalukan. Tapi aku memang masih mencintai dia. Dan besarannya masih sama seperti aku masih muda dulu.” “Kamu mau Doni tahu perasaan kamu?” “Maksud Tante apa? Aku... aku nggak mengerti?” “Tante akan bantu kamu agar Doni tahu perasaan kamu.” “Tante... Tante serius?” “Tentu saja.” Kata Ibu Doni dengan mantap. “Ayo kita bersama-sama sadarkan Doni kalau dia sudah salah memilih perempuan sebagai pendamping hidupnya.” Awalnya Diana memang berjudi dengan pertanyaannya yang menjurus untuk membongkar rencananya. Dia sudah siap dengan resiko yang akan menimpanya. Toh semua rencana memang memiliki resiko masing-masing. Tapi pada akhirnya semua yang dia khawatirkan tidak terjadi. Tante Inggrid sangat mendukungnya dan berencana membantunya. Seperti katanya tadi.  Diana menyeringai karena sadar kalau rencananya sudah separuh berhasil. Dia hanya perlu menaklukkan satu orang lagi yang jadi pusat dari segala masalah ini. Doni Atmajaya. Dulu Diana ketakutan dengan pikiran akan menghancurkan pernikahan Doni. Tapi siapa sangka seiring berjalannya waktu ketakutan itu sudah sirna. Yang ada sekarang adalah tekad bahwa dia akan menghancurkan rumah tangga Anggun dan Doni. Benar-benar sampai hancur –sampai tidak akan ada secercah harapan yang bisa memperbaiki kehancuran itu. TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN