“Maaf ya, Don, karena aku ngerepotin banget.”
Diana berujar dengan suara lembut yang cenderung dibuat-buat. Dalam hatinya dia tertawa senang karena Doni tidak menolak permintaannya. Beberapa hari lalu Diana berbelanja furniture dan hari ini semua furniture-furniture tersebut diantarkan oleh petugasnya.
Tentu saja Diana berdalih tidak nyaman dengan petugas pria yang datang untuk mengantarkan furniture tersebut sehingga Doni tidak segan untuk menuruti permintaannya. Doni benar-benar tidak berfikir akan ada bahaya yang mengintai dari permintaan tolong sederhana yang sebenarnya sudah diatur oleh Diana dan juga Mamanya.
Ya, ini memang rencana Diana dan Inggrid. Semuanya sudah mereka rencanakan sampai detail terkecil. Dan sejauh ini semuanya berjalan dengan lancar karena mereka yakin Doni yang sekarang masih sama dengan Doni yang dulu. Doni benar-benar tidak berubah dari dulu sampai sekarang. Pria itu sangat mudah ditebak. Dia juga masih sebaik ini pada Diana yang notabene-nya bukanlah keluarganya. Kalau seperti ini, bukankah wajar kalau Diana masih menaruh harapan pada pria itu? Diana yakin kalau dia memiliki space tersendiri di hati Doni dan inilah yang akan dimanfaatkan oleh Diana.
“It’s okay, nggak apa-apa kok.”
“Anggun tahu nggak kalo kamu ke sini?” Diana memancing yang membuat Doni tersenyum kecut.
“Ya nggak mungkinlah aku ngasih tahu Anggun tentang ini. Dia bisa salah paham. Lagipula ini kan nggak memakan waktu lama, jadi setelah ini selesai ya aku bisa langsung pulang seperti biasanya.” Kata Doni masih dengan suara cuek yang santai. Diana terkekeh.
“Oh ya, duduk gih. Aku siapin es sirup buat kamu sama petugas yang nganter furniture. Kasihan kayaknya karena udah angkat-angkat berat.”
Doni mengangguk dan langsung duduk di tempat yang Diana tunjuk tadi. Sambil menunggu dia memerhatikan rumah Diana yang terlihat minimalis sekali. Rumahnya memang tidak besar, tapi cukup untuk menunjukkan kalau wanita yang tinggal di dalamnya adalah sosok wanita karir sejati. Diana benar-benar sudah sukses setelah dua tahun tidak bersua.
Dia ingat bagaimana dulu Diana selalu mengekorinya. Doni sampai was-was kalau Diana tidak akan bisa jauh dari sisinya. Tapi siapa sangka perempuan kecil manja yang dikenalnya dulu justru nekat ke Singapura dan kembali setelah sesukses ini. Dia bertahan hidup dengan baik di negara orang. Bahkan Diana berkembang menjadi sosok perempuan yang luar biasa melebihi ekspektasinya sendiri.
“Nenek belum ada rencana pulang ke sini? Aku kangen banget pengen ketemu beliau.” Tanya Doni saat Diana memasuki ruang tamu dengan nampan berisi es sirup yang terlihat menyegarkan.
Diana tersenyum tipis, lalu menaruh es sirup milik Doni ke ke atas meja di depan pria itu. Tanpa pikir panjang Doni langsung menyeruputnya sedikit. Diana terkekeh karena sikap pria itu.
“Jadi kangennya cuma sama nenek doang nih? Nggak kangen sama aku juga?” pancing Diana yang langsung dibalas dengan tawa renyah pria itu. Doni pasti berfikir kalau perkataannya adalah sebuah bentuk dari candaan, tapi sayangnya Diana tidak bercanda sedikitpun. Diana penasaran bagaimana Doni akan menjawab pertanyaannya ini.
“Kamu ini ada-ada aja, Di.” Komentar Doni. “Kangen sih kangen, tapi ya sebatas adik perempuan. Aku khawatir kamu kenapa-napa di Singapura, tapi begitu melihat kamu pulang dan baik-baik aja, aku lega banget. Kamu bener-bener perempuan tangguh.”
Tangan Diana meremas nampan yang masih dipangkunya dengan kuat. Dia menampilkan senyum kecut yang menipu. Dia senang dipuji, tapi kenapa statusnya hanya adik perempuan saja? Diana ingin dianggap sebagai wanita yang tangguh, bukannya adik perempuan yang tangguh.
Merasa tak punya jawaban untuk kalimat Doni, Diana izin pamit untuk mengantarkan es sirup untuk petugas pengantar furniture. Sambil mengantarkan minum, dia mengatur emosinya yang mulai terluka karena status adik perempuan yang didengungkan oleh Doni. Dia tidak boleh terpengaruh oleh kalimat itu dan emosi. Semua rencananya bisa berantakan kalau dia lepas kendali sekarang.
Setelah memastikan semuanya aman, Diana memutuskan kembali ke hadapan Doni. Dia memilih duduk di kursi single yang tadi memang didudukinya. Nampan yang sudah kosong pun dia letakkan begitu saja di atas meja.
“Hubungan kamu sama Anggun gimana, Don?” tanya Diana untuk memancing obrolan agar terasa lebih natural.
“Ya nggak gimana-gimana sih. Intinya kami baik-baik aja.” Jawab Doni dengan santai.
“Terus hubungan kamu sama Mama kamu gimana? Kemaren pas aku ketemu beliau buat minta nomer kamu, Tante Inggrid kayaknya keliatan jengkel banget. Hubungan kalian lagi nggak baik ya?” tanya Diana dengan cuek seolah-olah ini adalah topik biasa saja. “Kenapa sih? Udah segede ini masih berantem sama Mamanya. Nggak baik lho, Don.”
Doni memutar bola matanya. Dia mulai risih karena ditanyai sesuatu yang jawabannya cukup privasi. Tapi menunjukkan ketidaksukaannya jelas bukan pilihan yang baik. Itu akan semakin menegaskan kalau sesuatu yang kurang baik memang sedang terjadi.
“Berantem itu wajar sih, Di. Namanya juga keluarga dan nggak selalu sependapat, jadi ya wajar kalo ada perdebatan kecil yang bikin masing-masing individu jadi jengkel sendiri.” Jawab Doni sesantai mungkin. Senyum menipunya pun dia tampilkan dengan baik.
Sekali lagi dia tegaskan, kalau ini adalah masalah keluarga. Sedekat apapun keluarganya dengan Diana, tapi faktanya Diana tetap bukan keluarga kandungnya. Jadi menjaga jarak pun perlu, pikir Doni.
Dan apa yang dilakukan Doni membuat Diana memutar otaknya. Doni tidak seperti Tante Inggrid yang mudah sekali menangkap umpannya. Mungkin karena Tante Inggrid sudah muak dengan semuanya jadi mudah untuknya bercerita dan membeberkan semua rahasia terkecil dari rumah tangga putranya. Tapi Doni tidak seperti itu. Dia masih teguh dengan keyakinan bahwa urusan rumah tangga bukanlah urusan yang bisa dijadikan konsumsi publik.
“Tante Inggrid menceritakannya ke aku lho. Tentang kamu dan Anggun yang nggak kunjung memiliki anak.” Ujar Diana to the point. Cuma ini satu-satunya cara, batin Diana.
Doni langsung termenung sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di pinggiran sofa yang dia duduki. Mamanya benar-benar tidak bisa membedakan mana hal yang seharusnya disimpan dan mana yang bisa disebarkan ke publik, batin Doni dengan muram. Dan tak dipungkiri lagi kalau dia semakin kecewa dengan tingkah Mamanya yang sangat berlebihan.
“Nggak usah terlalu dipikirin, Di. Itu urusan rumah tangga aku yang seharusnya nggak kamu ketahui.”
“Don, Mama kamu hanya berniat baik lho dengan menyarankan program bayi tabung. Memang bener kalo dia udah ngebet banget buat gendong cucu, tapi lebih dari itu dia juga mikirin kamu dan Anggun. Dia pengen ngeliat kamu dan Anggun secepetnya punya anak.”
“Bahkan Mama juga menceritakan ini ke kamu, Di?” kata Doni dengan tatapan tak percaya. Mamanya benar-benar sudah kelewatan! Raung Doni dalam hati dengan murka.
“Kamu kan tahu aku sama Mama kamu deket banget dulu. Dan kemaren pas kita ketemu, ya bener-bener lebur banget reuni kami sampe ngomongin kamu dan Anggun juga.” Diana memberitahu dengan wajah polosnya. “Aku udah kelewatan ya?”
Doni ingin mengatakan ya tentang Diana yang sudah terlalu ikut campur, tapi dia urungkan mengingat ini bukan murni keinginan Diana. Mamanya yang membuat Diana terlibat dan akhirnya tahu masalah yang seharusnya tidak diketahuinya.
“Kalo Mama bahas-bahas ini lagi, kamu nggak usah nanggepin. Anggep aja angin lalu. Mama akan semakin bertingkah kalo kamu nanggepinnya secara serius.”
Diana mengiyakan meski kemudian dia bertanya lagi, “Kenapa kamu dan Anggun nggak mencoba saran Mama kamu, Don? Ini lho yang aku heranin. Kan demi keluarga kecil kalian juga.” Kata Diana dengan ekspresi bingung yang dibuat-buat.
“Anggun akan terluka kalo sampe rencana ini gagal, Di. Dan aku nggak mau nyakitin dia.”
“Okelah kalo kamu nggak mau Anggun terluka dengan program bayi tabung ini, lalu kamu mau ngajak Anggun cek kesuburan? Setelah sekian lama nggak hamil-hamil, kamu perlu lho melakukan ini untuk memastikan.”
Cek kesuburan selalu menjadi masalah yang sensitif untuk pasangan mana pun. Beberapa pasangan akan tersinggung karena merasa kesuburannya diragukan. Dan Doni pun merasa opsi ini juga tidak baik apabila dilakukan olehnya dan Anggun. Lagi-lagi dia menggeleng yang langsung ditanggapi oleh Diana dengan sinis.
“Kenapa? Nggak mau juga? Takut Anggun terluka lagi?” kata Diana setengah mengejek. “Kok Anggun kayak nggak niat banget sih, Don? Padahal ini demi kalian lho, tapi kok usahanya setengah-setengah kayak gini.” Diana memprovokasi Doni yang mulai dilanda perasaan bingung. Dalam hatinya dia menyeringai karena dia berhasil sampai pada obrolan ini.
“Di, jangan ngomong kayak gitu. Kamu itu nggak tahu Anggun itu seperti apa.” Doni mulai berujar dengan nada tidak suka. Dia mulai yakin kalau Diana sudah hampir melewati batasnya sebagai perempuan yang sudah dianggapnya sebagai adik.
“Iya aku memang nggak tahu. Jadi aku cuma bisa berspekulasi. Dan spekulasi aku mengatakan seperti ini ketika Anggun terlihat nggak bersungguh-sungguh mengurusi masalah penting ini.” Jawab Diana sekenanya. “Buktiin dong kalo spekulasi aku salah.”
“....”
“Apa susahnya sih buat program bayi tabung? Atau kalo nggak mau, apa susahnya sih cek kesuburan? Buat kalian juga lho ini tuh. Ini saran yang baik, kenapa kamu nggak bisa menerimanya dengan baik juga?”
“....”
“Coba kamu omongin ini sama Anggun dulu. Kali aja dugaan-dugaan kamu salah. Siapa tahu Anggun mau dengan saran Mama karena dia pun sudah pengen gendong anak. Jangan menarik kesimpulan sendiri, Don.”
Doni bangkit dari duduknya. Faktanya dia mulai terpengaruh oleh semua perkataan Diana. Dia benar-benar harus pergi sebelum membenarkan pendapat Diana dan melakukannya yang berakhir dengan melukai istrinya.
“Aku harus pergi sekarang juga.” Kata Doni dengan tegas.
Diana pun ikut bangkit dan menatap pria itu dengan tatapan yang sulit diartikan. “Maaf kalau aku terkesan merusuhi rumah tangga kamu, seperti Mama kamu. Tapi niat kami baik, Don. Kami cuma pengen kamu dan Anggun sadar kalau ini bukan hal yang sepele. Bisa jadi kalian yang setuju untuk program bayi tabung akan mengubah sesuatu yang penting.”
Doni mengabaikan setiap kalimat Diana. Dia sudah muak dengan semua ucapan tersebut. “Aku harus pergi. Ini udah waktunya aku untuk balik ke kantor.” Doni berbalik dan meninggalkan Diana yang masih berdiri di tempatnya.
Diana pun tidak menahan atau pun memohon maaf lagi. Bahkan dia tidak merasa menyesal atas kelancangannya. Toh memang ini benar adanya. Yang diana katakan tidaklah salah. Doni saja yang berfikiran sempit.
Diana menyeringai melihat punggung Doni yang perlahan menjauh. Tapi lebih dari itu, seringaiannya semakin lebar saat melihat tubuh Doni yang tampak kewalahan. Semuanya terjadi secara slow motion di depan matanya. Doni terhuyung dan mencari tembok untuk dijadikan pegangan. Tapi karena terlalu lemah, Doni akhirnya tersungkur. Ketika Doni terjatuh, detik itu juga senyum Diana mengembang.
“Maaf, Don, sepertinya niat kamu untuk pulang tepat waktu tidak akan terjadi hari ini.” Kata Diana dengan rangkaian rencana jahat yang langsung terlintas di kepalanya.
Rencana Diana dan Inggrid yang sebenarnya dimulai hari ini.
TBC