Diana membuka mata dengan senyum tipis. Dan senyumnya mengembang saat melihat ada sosok pria yang tertidur di sebelahnya dalam kondisi telanjang bulat. Diana puas, rencananya benar-benar berhasil. Ralat, menjelang berhasil tepatnya.
Diana mengangkat tubuhnya sedikit untuk kemudian membaringkan kepalanya ke atas d**a bidang Doni. Tangannya yang bebas melingkupi tubuh Doni dari samping. Dulu tidak pernah sekalipun Diana berfikir akan bisa seperti ini dengan Doni. Dia pikir hanya Anggun yang bisa, tapi siapa sangka Tuhan memberinya kesempatan sekarang ini?
Senyumnya semakin mengembang saat menyadari tubuh Doni yang telanjang di bawah selimut mulai menggeliat. Pria itu akan bangun dan menyadari semuanya. Dia sudah tidak sabar menanti respon Doni dengan keadaan mereka yang sekarang ini.
Tubuh Diana tersentak hanya beberapa detik setelah otaknya memikirkan respon Doni. Dan inilah respon Doni. Pria itu mendorong tubuh Diana dan langsung beringsut dengan selimut yang dia tarik rapat-rapat. Matanya membulat melihat keadaan mereka yang tanpa sehelai benang pun di atas ranjang yang sama.
“Diana... ini... ini apa-apaan?” tanya Doni dengan detak jantung yang bertalu dengan hebatnya. Kondisi mereka yang tak wajar ini membuat Doni panik setengah mati. “Diana jawab aku?!” tambah Doni dengan panik.
“Kamu lupa, Don? Sebelumnya kita having fun dengan having s*x. Aku nggak nyangka kamu bakal ngelupain momen indah yang baru aja terjadi beberapa jam lalu.”
“Indah katamu? Diana, ini mengerikan!!” Doni membentak. “Aku pria yang sudah bersuami. Gimana mungkin having s*x dengan perempuan yang bukan istri aku dianggap sebagai sesuatu yang indah!!”
Doni panik luar biasa. Dia mencengkeram rambutnya sampai menjadi kusut. Di kepalanya langsung terlintas wajah istrinya yang sedang tersenyum dengan cantiknya. Dan senyum itu akan hilang kalau Anggun tahu tentang ini, batin Doni berteriak.
“Ini salah... ini salah!” kata Doni nada gusar yang kentara sekali. Matanya memerah karena situasi ini. “Kamu pasti bohongin aku kan, Di? Ini cuma trik kamu biar keadaan kita jadi seperti ini.”
“Nggak ada yang salah, Don. Ini adalah kebenaran. Kita memang tidur bersama. Aku nggak memanipulasi apapun.” Diana menjawab dengan tenang.
Dan dari ketenangan yang dipancarkan oleh suara Diana, Doni tahu kalau ini bukanlah manipulasi. Ini serius. Doni semakin panik kala menyadari kalau mereka benar-benar bercinta dengan perempuan yang bukan istrinya.
“Kamu –perempuan macam apa kamu sebenarnya, Diana?! Bagaimana bisa kamu melakukan ini ke pria yang sudah bersuami, hah?!” kata Doni dengan berteriak.
Diana sempat terkejut, tapi buru-buru dia memperbaiki ekspresinya. “Aku adalah perempuan yang mencintai kamu, Don. Dan aku melakukan ini karena aku mencintai kamu.”
“Tapi aku hanya mencintai Anggun! Aku nggak pernah cinta sama kamu. Sedikit pun nggak pernah, Diana!”
Ekspresi Diana berubah muram. Pikiran tenangnya sudah hilang tak berbekas. “Ngapain sih kamu masih mikirin istri yang nggak bisa hamil itu, Don? Ada aku di sini. Apa aku nggak keliatan di mata kamu, hah?”
“Anggun memang belum bisa ngasih aku anak, tapi dia tetep istri aku, Di. Dia perempuan yang aku cintai dan aku minta baik-baik ke orang tuanya untuk jadi istri aku. Aku nggak mungkin memperlakukan dia dengan buruk hanya karena masalah sepele itu.”
“Sepele kata kamu, Don? Kalau ini cuma sepele, Mama kamu nggak akan bertindak sampe seperti ini. Anak itu masalah yang serius, Doni.”
“Mama kata kamu? Jadi kamu berkonspirasi dengan Mama aku?” kata Doni dengan tatapan tidak percaya.
Dia tidak menyangka Mamanya akan tega melakukan ini padanya. Hubungan mereka memang sempat renggang karena masalah anak, tapi bagaimana mungkin Mamanya bertindak gila seperti sekarang?
“... Sialan kalian!” tambah Doni dengan kecut.
Sudah tak dipedulikan kalau ada Mamanya di belakang Diana dan kata sialan dia tujukan pada semua orang yang membuatnya menjadi seperti ini. Tangannya mencengkeram selimut erat-erat.
“Kalian gila!” Doni mengerang dengan frustasi. “Kenapa kalian melakukan ini ke rumah tangga kami? Aku dan Anggun memang belum memiliki anak, tapi aku sangat-sangat mencintai Anggun. Aku menerima dia apa adanya. Lalu kenapa kalian ikut campur masalah kami, hah? Di mana nurani kalian sebagai perempuan?!”
“....”
“Dan kenapa juga kamu melakukan ini, Di? Gimana mungkin kamu yang baik jadi kayak gini? Mana Diana yang dulu aku kenal sangat baik, huh?”
“Ini aku, Don. Ini aku! Aku nggak berubah. Aku masih Diana yang sama. Hanya karena aku memperjuangkan kamu, lalu kamu anggap aku berubah?” jawab Diana sambil mengguncang bahu Doni agar pria itu sadar. Ada dirinya di depannya, lalu kenapa dia masih melihat istrinya yang tidak berguna itu?
“Aku nggak pernah minta kamu perjuangkan, Diana!” jawab Doni sambil menepis kedua tangan Diana di bahunya. Perempuan itu terdorong agak keras, tapi Doni tidak peduli. Dia bahkan tidak akan peduli kalau Diana terluka secara fisik. “Kalo gitu, emang dari dulu sifat kamu kayak gini ya? Kamu mengerikan. Kamu menjijikkan. Aku nggak nyangka pernah ketemu orang seperti kamu, Di.”
“....”
“Pertemuan kita di hotel –aku benar-benar menyesal karena sudah bertemu kamu lagi, Diana.” Tambah Doni dengan ekspresi penyesalan yang sengaja dia tunjukkan dengan terang-terangan.
Diana terluka luar biasa mendengar perkataan Doni. Doni tidak mencintainya, jadi dia tidak memahami bagaimana rasanya menahan sesak karena orang yang dicintainya menikah dengan orang lain. Doni tidak tahu bagaimana perjuangan Diana untuk sampai di titik ini dan menjadi seburuk ini.
“Tapi nyatanya kamu ketemu aku, Don. Dan kita ada di titik ini sekarang. Itu artinya, kita memang ditakdirkan.” Diana menjeda dengan emosi yang juga sama kentaranya. “Dan ya, aku memang mengerikan dan menjijikkan. Tapi asal kamu tahu, aku pun jadi seperti ini ya karena kamu juga. Seandainya kamu ngeliat aku dari dulu, Don. Seandainya kamu tahu perasaan aku.”
“Diam, Diana!” Doni menyela dengan tegas. Jari telunjuknya terangkat ke arah Diana dengan sorot mata yang tajam. “Ini semua kegilaan kamu, dan kamu menyalahkan aku? Kamu memang udah nggak waras!”
Dari sudut mana pun, semua yang dilakukan Diana adalah kesalahan. Dan perempuan itu tidak mau disalahkan karena dalihnya. Doni benar-benar tidak menyangka sudah bertemu monster yang kejam.
Doni bangkit dan memakai pakaiannya dengan terburu-buru. Tangannya gemetar karena masih tidak percaya hal buruk ini menimpa dirinya. Dibenaknya terlintas wajah istrinya yang pasti akan menangis histeris kalau berita ini sampai bocor. Ini bencana, batin Doni berteriak dengan marah.
“Aku melakukan ini karena aku mencintai kamu, Don!” Diana bangkit sambil menahan selimut agar menutupi tubuhnya yang tak mengenakan sehelai benangpun di baliknya. Dia berusaha mendekati Doni, tapi pria itu menolak dengan gestur tangan yang tegas.
“Jangan mendekat, Di. Aku... Aku—” Doni menghempaskan tangannya dengan kasar. Tangannya terkepal untuk menahan keinginan melukai siapapun yang keadaan jadi seperti ini.
“Doni...”
“Aku pernah menganggap kamu sebagai adik perempuan kesayanganku, Di. Tapi siapa sangka kamu akan sejahat ini. Kamu benar-benar mengecewakan sekali, Diana.”
“Aku mencintai kamu, Don! Dan aku nggak pernah mau hanya sekedar jadi adik kamu. Aku mau jadi wanita-nya kamu!”
“Dan kamu seharusnya tahu itu nggak akan pernah terjadi! Bahkan dalam mimpi sekalipun, kamu nggak boleh memikirkannya!” Jawab Doni dengan cepat dan tegas. Dia masih tak habis pikir dengan kelakuan Diana yang membuatnya benar-benar merasa jijik.
“Tapi aku mencintai kamu, Don!”
“Ini bukan cinta. Ini kegilaan kamu!!”
“Kenapa, Don? Kenapa kamu nggak mencoba dengan aku? Aku yakin bisa ngasih kamu anak, nggak seperti Anggun yang nggak hamil-hamil!”
“Aku menikahi Anggun bukan karena ingin punya anak. Okelah, aku memang pengen punya anak dengan Anggun. Tapi lebih dari itu, aku menikah dengan Anggun karena aku mencintai Anggun.” Doni menjeda dengan muram. “Dan aku nggak mencintai kamu, Di. So, aku juga nggak pengen punya anak dari kamu. Nggak akan pernah.”
Tangan Diana terkepal. Dia merasa tersinggung dengan perkataan Doni yang begitu kejam kepadanya. Dalam hatinya dia menyalahkan Anggun, sekaligus mempertanyakan kenapa harus selalu Anggun dan Anggun yang mendasari penderitaannya. Dia marah memikirkan apa kelebihan Anggun dan apa kekurangan dirinya sampai tidak akan pernah dicintai oleh Doni Atmajaya.
Diana hanya mampu terduduk muram saat Doni meninggalkan dirinya tanpa pamit sedikitpun. Dia terluka, tapi tidak masalah. Ini hanya awal. Toh Tante Inggrid sudah berjanji akan membantunya untuk membuat Doni mencintainya. Dan Diana yakin Tante Inggrid tidak akan mengingkarinya.
Diana meraih ponselnya dan mengetikkan sesuatu.
To : Tante Inggrid.
Rencana kita berhasil, Tan. Semua bener-bener melebihi ekspektasi kita.
Send.
***
Doni memasuki rumahnya dengan ekspresi lesu luar biasa. Tubuhnya terasa lemah. Mungkin inilah rasanya pulang dengan setumpuk pekerjaan sekaligus setumpuk dosa. Doni benar-benar ingin menyerah, tapi bagaimana caranya? Memberitahukan semua ini pada Anggun jelas bukanlah ide yang baik. Tapi menyembunyikannya pun tidak akan memberikan solusi. Lalu apa yang harus dia lakukan sekarang?
“Mas, kok pulang agak maleman nggak ngasih tahu aku sih? Aku khawatir lho. Apalagi tadi aku nelponin handphone kamu tapi nggak bisa terus.”
Anggun langsung bertanya sambil memeluk tubuhnya. Hangat sekali dan menenangkan. Tapi mengingat Diana yang terbangun di sebelahnya dalam keadaan telanjang pun cukup membuat tubuhnya gelisah tak menentu lagi.
Anggun menyadari suaminya yang sangat aneh malam ini. Dia mendongak dan mendapati wajah yang tidak seperti biasanya. “Mas, kok muka kamu kusut banget sih? Matanya juga merah banget. Sakit ya?”
Anggun menempelkan tangannya ke dahi suaminya dengan perhatian. Dan keningnya berkerut saat tidak ada tanda-tanda sakit sedikit pun. Anggun tidak tahu kalau yang terluka bukanlah fisik Doni, tapi hatinya.
Doni menatapi istrinya dengan penuh penyesalan. Pria itu meraih tangan istrinya yang ada di dahinya dan mengecupnya secara sekilas. Dia terus menatap Anggun saat melakukan itu agar bayang-bayang Diana segera sirna. Dia harus bersikap biasa saja atau Anggun akan curiga dan rumah tangganya hancur lebih cepat. Tidak, itu tidak boleh terjadi. Dia tidak bisa membiarkan kejahatan Mamanya dan Diana berhasil.
Doni mencoba tersenyum. “Nggak apa-apa kok, sayang. Kecapekan aja. Tadi ada masalah, terus dilakuin rapat dadakan. Lumayan lama, makanya nggak sempet balik nelpon kamu.”
Anggun ber-oh-ria yang membuat Doni semakin bersalah saja. Doni bertekad untuk selalu jujur dengan istrinya, tapi siapa sangka hari ini dia harus berbohong demi kebaikan rumah tangganya.
“Kamu udah makan?”
“Belum dong. Aku nungguin kamu.”
“Ya udah ayo makan.”
“Jangan dong. Kamu mandi dulu sambil nunggu aku angetin supnya. Selesai mandi langsung makan dan kamu bisa langsung istirahat. Capek banget kayaknya. Muka kamu loyo banget.”
Doni mencoba tersenyum walau sulit. “Ya udah ngikut aja apa kata istri.”
“Oke deh. Aku angetin masakanku dulu ya. Sana gih kamu mandi.”
Anggun mendorong punggung suaminya agar bergegas mandi, tapi Doni sengaja menghentikan langkahnya. Dia berbalik untuk menatap istrinya lagi.
“Kenapa lagi?” tanya Anggun dengan gemas.
Tanpa pikir panjang Doni langsung memeluknya. Anggun terkekeh.
“Maafin aku, Nggun.”
Anggun terkekeh karena dia pikir Doni meminta maaf karena keterlambatannya untuk pulang ke rumah yang membuat Anggun harus menunda makan malamnya. Tapi lebih dari itu –ada bencana yang baru saja terjadi. Dan Anggun tidak tahu alasan yang sebenarnya kenapa suaminya sampai meminta maaf.
Doni memeluk istrinya dengan erat. Hari ini Anggun mungkin masih menyapanya dengan senyum lebar, tapi besok –kalau semuanya terbongkar- akankah dia bisa melihat wajah Anggun lagi?
TBC