Para penjelajah yang kekenyangan menghabiskan waktu dengan tiduran atau menikmati laut. Beberapa lainnya mengobrol dengan awak kapal, berusaha mencari informasi tentang dunia ini. Mereka masih belum menangkap sepenuhnya penjelasan di Titik Awal, dan terus bertanya apakah ada cara lain keluar dari dunia itu.
Nabila berjalan menuju kabin kapten, setelah sesaat yang lalu seorang pria mendatanginya. Pria itu memperkenalkan diri sebagai Jendral Murdani dan menyampaikan pesan bahwa Jendral Saleh memanggilnya untuk suatu keperluan.
Gadis itu sama sekali tak punya gambaran atas keperluan apa yang dimaksud. Namun Murdani berkata bahwa sang jendral besar sendiri yang akan memberitahu secara langsung.
Sesampainya di depan pintu, ia mengetuk beberapa kali.
“Permisi,” ujarnya.
“Masuk!” terdengar suara dari dalam.
Nabila pun memutar kenop, lalu mendorongnya. Sebuah ruangan yang terbuat dari kayu berpelitur menyambutnya. Cahaya masuk dari kaca jendela, menerangi berbagai perabot di dalamnya. Ada lemari berisi botol-botol minuman, miniatur bola dunia di atasnya, meja dengan berbagai sajian makanan, dan seorang pria duduk di balik meja tersebut.
“Silakan duduk, Dik.” Pria itu, Saleh, menunjuk pada satu-satunya kursi kosong yang berada di sisi meja berlawanan darinya. “Ayo, jangan sungkan-sungkan.”
“Iya, terima kasi Pa—”
“Jendral Besar,” koreksi Saleh. “Semua memanggil saya Jendral Besar.”
“I—iya—Jendral Besar,” ulang Nabila tergagap. Kemudian gadis itu duduk. “Kalau boleh tahu, ada apa ya, Jendral?”
“Tidak apa-apa,” ucap Saleh, tatapannya terarah lekat pada kedua mata Nabila. “Saya cuma perhatikan sepertinya Adik kurang nafsu makan. Apa hidangan tadi sepertinya terlalu jorok, ya? Makanya saya sediakan hidangan khusus.”
Sang gadis melihat sebakul nasi hangat, ayam bakar, ikan asin, tahu, lalapan, semangkuk besar sayur asam, sambal merekah, tapi semuanya tetap tak membuat liurnya menetes.
Menyadari ekspresi gadis itu yang masih datar, Saleh lekas bereaksi, “Maaf, apa ini bukan selera Adik? Apa Adik mau daging steak?”
“Bukan—bukan begitu Pak—Jendral—” jawab Nabila buru-buru. “Saya sangat berterima kasih, cuma…”
Kalimatnya terputus. Ia menundukan wajah.
“Ah, saya paham, saya paham,” Saleh mengangguk-anggukkan kepala. “Dungeon Tutorial pasti berat, ya. Saya juga sama. Itu pertama kalinya saya melihat…” Ia berhenti untuk mencari kata yang mewakili tapi tak terlalu kasar, “…hal mengerikan.”
Nabila mengangguk kecil.
“Memang perlu waktu untuk melewati ini. Untuk sekarang sebaiknya Adik istirahat dulu. Tapi kalau ada apa-apa, jangan segan untuk meminta tolong. Seperti yang saya bilang, filosofi Beringin Kuning adalah menjadi peneduh bagi seluruh kadernya.”
Gadis itu mengangguk lagi. Ada kekosongan dalam hatinya yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Sulit baginya menerima hal tersebut, yakni kehilangan orang yang disayanginya, dan terpisah jauh dari keluarga dan sahabat-sahabatnya. Ia pernah terpisah dari rombongan saat berjalan-jalan di Malioboro, tapi ia masih bisa mencari yang lain memakai telepon. Saat ini situasinya berbeda, karena sinyal dari dunia nyata pun sepertinya tak bisa mencapai dunia ini. Tak ada cara untuk melakukan komunikasi keluar.
Saleh berpikir sejenak, lalu mengajukan sebuah pertanyaan, “Adik ingin pulang, kan?”
Akhirnya Nabila mengangkat wajahnya, kemudian mengangguk.
“Sahabat Wati sudah menjelaskan garis besarnya, tapi saya akan bicara lebih jauh mengenai potensi yang dimiliki adik,” lanjut pria itu. “Adik ini spesial.”
“Spesial? Saya?”
“Iya. Adik suka akik?”
“Emm…”
“Ndak apa-apa, saya juga awalnya nggak tahu soal akik,” lanjut Saleh. “Akik itu kan batu-batu besar yang dipakai bapak-bapak. Tapi akik itu ternyata macam-macam. Cincin berlian yang dipakai Adik juga termasuk akik.”
Nabila menatap cincin di jari manisnya. Ia harus mengakui, batuannya sangat indah. Berkilauan. Apabila diteliti oleh ahli batu mulia, mungkin ini adalah berlian dengan kemurnian tinggi.
“Setiap akik kekuatannya berbeda-beda, tergantung jenisnya. Kekuatan akik itu ada dalam bentuk skillset. Biasanya kekuatannya dibagi jadi lima peringkat, dari peringkat E yang skillsetnya kurang berguna tapi banyak dipunyai orang, sampai peringkat A yang skillsetnya sangat bagus tapi jarang dipunyai orang. Nah, kalau batu berlian milik Dik Nabila, itu masuk peringkat A.”
Rasanya Nabila tak begitu kaget, karena di dunia nyata pun batu berlian memang barang berharga.
“Lalu berlian ini, punya kekuatan semacam apa?” tanyanya seraya mengelus batu akiknya. Tiba-tiba saja, layar status hologram muncul di depan pandangannya. Kedua matanya terbelalak.
“Kaget, ya?” Saleh terkekeh. “Itu kekuatan yang saya maksud. Kalau Adik mau, akan saya ajari semuanya pelan-pelan. Status, skillset, adalah penting di dunia ini. Penentu segalanya. Dengan itu penjelajah bisa melawan balik para monster.”
Nabila tak begitu mendengarkan. Ia membaca lamat-lamat tiap kata yang berada di layar hologram, lalu mengganti-ganti jendelanya. Jika ada Erlangga, mungkin pemuda itu lebih dapat memahaminya.
“Jendral…” ucapnya pelan.
“Ya? Ada yang mau Adik tanyakeun?”
“Jadi kalau terus menaikan level, apa saya bisa pulang?”
Saleh mengerutkan dahinya sesaat, lalu mengangguk, “Itu benar, Dik.”
Nabila pun berusaha membulatkan tekad.
“Saya akan berusaha.”
Ia ingin bisa seperti Erlangga, yang tetap tegar dalam situasi terendah, dan mencari jalan keluar dengan kepala dingin.
“Saya belum benar-benar paham semua itu,” lanjutnya. “Kalau Jendral berkenan, saya mohon bimbingannya.”
Saleh tersenyum lebar, “Tentu saja, Dik. Tentu saja! Saya pasti siap membimbing Dik Nabila!”
“Terima kasih, Jendral,” ucap Nabila. “Jadi, soal parameter status—”
“Tunggu dulu!” Tiba-tiba Saleh mengacungkan telapak tangannya.
Nabila pun tercekat, khawatir sudah salah bicara. Ia tak berani berkata lebih lanjut.
“Yang namanya belajar, harus dengan perut kenyang.” Saleh mendenguskan napas. “Silakan Dik Nabila cicipi dulu panganannya, baru saya mau mulai membimbing.”
Sejujurnya Nabila masih tidak napsu. Tapi ia juga bisa merasakan ketulusan dalam kata-kata Saleh. Pria itu memaksanya makan demi kebaikannya sendiri. Kalau ia sampai sakit, bagaimana ia bisa bertahan di tempat ini?
“Baik, Jendral. Maaf.”
“Ya.” Saleh pun menunggu. Tapi sang gadis masih diam. Ia berkata lagi, “Cepat, dimakan.”
“Jendral tidak ikut makan?” tanya Nabila. “Saya pikir ini untuk dimakan berdua?”
“Ah!” Saleh seolah baru menyadari hal penting. “Benar. Kalau begitu mari kita makan, Dik. Selamat makan. Hahahaha.”
Nabila pun mengambil nasi hangat dan ayam bakar. Gadis itu sadar tubuhnya butuh energi. Ia memasukkan suapan ke dalam mulutnya lalu memaksakan diri mengunyah. Di luar dugaan, ternyata rasanya tidak buruk. Nasinya pulen dan bumbu ayam bakarnya meresap. Rupanya ada juga juru masak yang pandai di dunia ini.
***
Erlangga hampir muntah lagi. Ia mengerahkan segenap upaya untuk menelan daging kodoknya. Ia tak pernah mengira menyantap makanan bisa jadi perjuangan. Aroma amis dan tekstur lembek itu membuat lidah dan kerongkongannya terus bereaksi keras.
“Telan! Telan!”
Glek.
Ia menghela napas.
Pemuda itu berteduh di bawah naungan pohon kelapa. Hari ini cuma berhasil memburu dua kodok, sehingga ia cuma makan daging dua iris. Bukan karena malas, tapi karena tiap selesai berburu ia harus menunggu cooldown skill spesialnya terisi kembali. Ia tak berani melawan monster kalau nyawanya belum lengkap sembilan.
Mulutnya masih terasa pahit, sedangkan perutnya sama sekali tidak kenyang. Ia jadi rindu tukang nasi goreng tektek yang biasa berkeliling perumahan menjelang malam hari. Ia ingin memanggilnya, pesan nasi goreng pedas, makan sambil nonton film, lalu tidur dengan perut kenyang.
Matahari mulai terbenam di ufuk barat. Langit jingga berubah kelam. Kegelapan berangsur datang, membutakan suasana. Hanya cahaya bulan harapan terakhir Erlangga, yang juga lekas sirna kala formasi awan berarak menutupinya. Kegelapan total menganiaya pulau ini. Suara debur ombak yang pasang dan nyanyian-nyanyian kodok jadi terdengar makin mengancam.
Erlangga mengeluarkan handphone untuk menyalakan senter. Tapi baterainya sudah hampir habis. Tak lama kemudian alat itu mati untuk selamanya.
“Sial…”
Tak pernah terpikir olehnya suatu saat akan terjebak dalam situasi gelap seperti ini. Padahal kalau di rumah, sekalipun mati listrik masih ada senter, lampu darurat, bahkan lilin. Di pulau tak berpenghuni begini ia harus bagaimana? Ia kan tak tahu cara membuat api.
Tiba-tiba guntur bergemuruh dari kejauhan. Angin laut bertiup semakin dingin. Daun-daun kelapa bergemerisik kian kencang. Sebuah pertanda buruk.
Benar saja, tak lama kemudian hujan turun. Sangat deras. Seperti jutaan galon air ditumpahkan sekaligus dari langit. Dinginnya menusuk tulang.
Erlangga menutup kedua telinganya, sebab suara hujan itu terlalu keras. Tubuhnya seperti ditekan air terjun dari atas.
Petir ikut menyambar-nyambar. Kilatnya membutakan. Lalu sebuah pohon kelapa tumbang di depan mata Erlangga. Pemuda itu terbelalak. Ia berteriak. Suaranya masih kalah dari amukan badai. Ia ingin menjauh dari pepohonan, tapi kegelapan membuatnya tak bisa asal melangkah. Ia juga takut tak sengaja berpapasan dengan kawanan Kodok Pulau Weh.
Akhirnya ia meringkuk bersujud di tanah sembari menutupi kedua telinga. Tubuhnya menggigil. Ia berjuang fokus, tapi malah menggigil makin tak terkendali. Tubuhnya bagai diguncang dari dalam.
“Paling nggak aku nggak bakal mati gara-gara hujan,” pikirnya.
[HP : 67/110]
[HP : 66/110]
[HP : 65/110]
Ia melihat sesuatu yang aneh. Hit Pointnya berkurang. Sebuah simbol status berbentuk bunga es muncul di samping parameter Hit Pointnya. Mungkin artinya kedinginan parah akan mempengaruhi Hit Pointnya.
Erlangga, dua puluh lima tahun, berkali-kali selamat dari pertarungan melawan monster, kali ini menemui ajal karena kehujanan.
“Sial…”