Solo Training (Part 5)

1350 Kata
Fajar menjadi karunia tak terhingga bagi Erlangga. Kehangatan matahari memancar. Udara terasa segar. Langit kembali biru, bersih sempurna dari awan kelam. Benar kata almarhum Chrisye, badai pasti berlalu. Erlangga berjemur telanjang di pantai sambil menjemur baju, mumpung tidak ada orang lain di sana. Sekalipun ada, ia mungkin tak peduli. Semalam benar-benar gila. Ia yakin sempat mati karena kehabisan Hit Point. Ternyata bukan cuma monster, lingkungan pun bisa membunuhnya. Apa jadinya kalau ia tidak punya Sembilan Nyawa. Bukan hanya fisik, kewarasannya juga diuji. Perutnya bergemuruh lagi. Ia menggerutu. Kenapa skill spesialnya cuma mengembalikan Hit Point, tapi tak membuatnya kenyang. Dan celakanya, saat ia kelaparan parah akan muncul simbol gambar lambung di samping parameter Hit Pointnya. Bersama dengan itu, Hit Pointnya perlahan terkikis. Seperti saat ia kedinginan parah. Dalam dunia game RPG, status negatif yang merugikan seperti itu disebut [Status ailment]. Dari pengalamannya berkeliling kemarin, tidak ada tumbuhan yang bisa dimakan di pulau ini. Satu-satunya sumber protein hanyalah potongan daging kodok menjijikan itu. Maka ia berjalan membelah hutan. Tak sampai berapa lama, ia melihat tiga Kodok Pulau Weh yang sedang berkumpul. Mereka saling berkomunikasi dalam bahasa kodok. Erlangga mengendap-endap, lalu menjauhi mereka. Ia tak mau ambil resiko. Melawan satu saja sudah susah, apalagi kalau dikeroyok. Ia pasti tewas. Perjuangan bertahan hidup membuatnya sedikit melupakan kekhawatiran mengenai keadaan di dunia nyata. Ia juga sudah menyerah berusaha menemukan penjelajah lain. Kelihatannya memang tak ada siapa-siapa lagi di pulau ini. Untuk mencari Nabila, pertama ia harus fokus membuat rakit penyebrangan ke Zona Aceh. Tapi sejauh ini belum ada kodok yang menjatuhkan material [Balok kayu]. “Fokus, fokus.” Kalau kemarin ia berhasil memburu dua monster, targetnya hari ini adalah mengalahkan tiga monster. Parameter statusnya sudah naik dan ia juga menguasai [Claw Mastery Lv 1]. Serangannya kini lebih kuat daripada saat awal. Selain itu, ia juga harus mencari goa atau semacam tempat berlindung. Ia tak mau kejadian tadi malam terulang lagi.   ***   Setelah perjalanan laut yang membosankan selama beberapa hari, para penumpang galiung Beringin Kuning melihat daratan. Tampak sebuah delta yang diapit oleh dua sungai besar. Di atas delta tersebut berdiri barisan dinding pertahanan batu merah yang sangat tinggi, lengkap dengan bastion-bastion nan kekar. Panji-panji Beringin Kuning berkibaran di sana. Udin tak menutupi keterpukauannya. Ia terus menyerukan kata-kata semacam ‘wooow’ atau ‘woah gilaaa’. abila yang awalnya tak begitu tertarik pun akhirnya tak bisa melepas pandangannya dari konstruksi yang amat masif dan antik tersebut. “Selamat datang di Kota Benteng Somba Opu!” seru Saleh setelah menikmati decak kagum orang-orang. “Benteng ini dibangun dengan tangan saya sendiri, sebagai titik kekuatan para pejuang dalam menaklukan Dungeon Makassar!” “Dungeon Makassar, Jendral?” seru Udin. “Kenapa Dungeon Makassar?” “Karena,” Saleh membuat jeda sesaat untuk menyusun kalimat dalam pikirannya terlebih dahulu. “Saat ini progress kita terhadang di Dungeon Makassar. Selama kita belum menaklukannya, dungeon-dungeon setelahnya tidak akan terbuka.” “Ooh…” Kapal galiung memasuki aliran sungai. Dinding kota benteng masih terlihat memanjang di sepanjang tepi sungai. Terkadang tampak satu atau dua penjaga yang sedang berpatroli di atasnya. Mereka melambaikan tangan dan dibalas oleh para awak kapal. “Tidak ada monster yang bisa menerobos ke dalam dinding,” ucap Saleh bangga. Sementara di luar benteng, ada gubuk-gubuk kecil dan juga kapal-kapal kecil yang tertambat. Para penjelajah dengan berbagai konstum sedang beraktivitas. Sekelompok orang yang mengenakan zirah logam naik ke atas salah satu kapal layar. Begitu melihat galiung yang dinaiki sang jendral besar melintas, mereka buru-buru memasang sikap hormat. Di dunia nyata, Benteng Somba Opu adalah peninggalan Kesultanan Gowa yang sudah dihancurkan oleh kolonial Belanda. Di tempat ini, Saleh membangun kembali tempat bersejarah tersebut berdasarkan imajinasinya. Sebuah pemandangan yang elok. Kapal mereka akhirnya merapat di dermaga yang terletak dekat gerbang benteng. Tempat itu ramai sekali, dipenuhi penjelajah yang hilir mudik keluar masuk. Seperti sebuah kota dalam game MMORPG yang dipenuhi oleh pemain. “Perjalanan selesai!” teriak seorang awak yang berdiri di crow’s nest—tempat pengintai yang menempel pada tiang layar utama kapal galiung. Awak lain buru-buru memasang jembatan untuk menghubungkan kapal dengan dermaga. “Rekrutan baru, baris!” perintah Murdani sang jendral tua. Orang-orang langsung menurut. Setelah melihat kota benteng, panji-panji partai, serta penduduk yang menaruh hormat pada para jendral, mereka jadi lebih patuh. Mereka semakin percaya bahwa Saleh dan Murdani adalah bentuk otoritas di dunia ini. “Sekali lagi saya perkenalkan, saya adalah Jendral Kolektor Murdani. Saya yang diserahkan tanggung jawab mulia untuk mengkaderisasi rekrutan baru agar menjadi anggota yang berguna bagi partai. Jadwal hari ini, saya akan membawa sahabat-sahabat ke asrama rekrutan baru. Masing-masing akan mendapat satu kamar. Mengerti?” “Mengerti, Jendral!” jawab orang-orang saling tumpang tindih, tidak kompak. “Good!” Saleh mendekat, lalu berbisik ke telinga Murdani. Pria tua itu pun melanjutkan. “Khusus untuk sahabat Nabila, yang akik berliannya terbukti spesial, satu dari dua belas batu kelahiran, akan mendapat pondokan khusus. Namun yang lainnya jangan iri, sebab sahabat juga bisa mendapat tempat tinggal yang lebih baik tergantung prestasi.” Tiap pasang mata langsung menatap Nabila tidak percaya. Gadis itu sendiri juga kaget. Ia merasa tak perlu diperlakukan secara khusus sampai seperti ini. “Maaf Jendral,” ucapnya hati-hati. “Tapi saya tinggal di asrama saja seperti yang lain.” Ditambah lagi ia merasa lebih aman jika bersama dengan orang yang ia kenal—meski baru beberapa hari—seperti Udin. Murdani mengerutkan dahi, lalu memandang Saleh. Saleh pun mengangguk kecewa. “Baiklah kalau itu keinginan sahabat,” ucap Murdani. “Sekarang kita jalan.” Mereka menuruni jembatan kayu yang menghubungkan kapal dengan dermaga. Di bawah sudah menanti sebuah kereta kencana, ditarik sepasang kuda hitam perkasa. Seorang perempuan berdiri di sampingnya. Ia memiliki kulit yang agak coklat kusam dan rambut pirang bergelombang. Mulutnya sedikit monyong ke depan. Pakaiannya serba hitam dengan motif bulu unggas coklat. “Selamat datang, Jendral Besar Saleh!” serunya cempreng. “Anda pasti lelah! Saya sudah menyiapkan kereta, juga mengatur sarapan dan musik untuk Jendral Besar!” Saleh mengedutkan sebelah matanya, tidak terkesan. “Siapa suruh?” tanyanya. “Ma—maaf?” tanya perempuan itu. “Siapa yang suruh Jendral Kancil Lela menjemput saya?” “Tentu saja ini inisiatif saya untuk menyenangkan Jendral Besar!” “Ini kan keretanya Mardjan. Mana Mardjan?” “Anu, Jendral. Mardjan… Mardjan sedang… sibuk Jendral.” Raut wajah Saleh jelas menunjukkan rasa tidak senang. Di antara tiga jendral perempuan, Lela adalah yang paling malas ia temui. Tapi celakanya justru Lela lah yang paling antusias terhadap dirinya. “Maaf, Jendral, sebaiknya kita tidak membuang-buang waktu,” ucap Murdani. “Baeklah.” Saleh dan Murdani naik. Lela hendak menutup pintu kereta, tapi tiba-tiba Saleh mencegahnya. “Tunggu dulu!” seru pria itu. “Dik Nabila kelihatannya lelah, bagaimana kalau naik kereta juga?” “Hah?” Lela melirik ke arah yang dimaksud. Saat melihat sosok Nabila yang cantik dan semampai, kedengkiannya terpicu. “Hah?! Tapi Jendral! Rekrutan baru mana bisa naik? Kereta kencana ini adalah kereta khusus Jen—” Saleh memelototi Lela, dan wanita itu segera diam seolah menyadari sudah melewati batas. “Ups—maaf, Jendral. Saya akan naik ke bangku kusir.” Dan ia benar-benar naik ke bangku kusir. “Ayo, Dik, cepat naik,” ulang Saleh. Nabila merasa tak enak. Ia melirik ke rekrutan lainnya, yang kelihatan kesal karena ia mendapat perlakuan spesial. “Jendral, saya jalan saja…” “Oh…” Saleh tampak kecewa. “Baiklah.” “Jendral, boleh saya saja yang naik kereta?” serobot Udin. Saleh langsung menutup pintu keretanya. Rombongan itu pun bergerak memasuki gerbang benteng yang dijaga dua orang berzirah dengan helm yang menutupi wajah. Di dalam benar-benar luas. Ada banyak orang dan juga bangunan. Seperti sebuah kota. Nabila nyaris tak mempercayainya, andai ini adalah peradaban yang diciptakan sendiri oleh orang-orang yang diculik ke Nusantara.   ***   “Aaaaaaaaaa!!!” Erlangga tengah berlari sejadi-jadinya melewati halang rintang di dalam hutan. Di belakangnya ada dua Kodok Pulau Weh yang mengejar. Padahal tadi ia baru berhasil mendapatkan material [Balok kayu] pertamanya. Tapi sial, mendadak teman-teman kodok itu muncul dari semak-belukar. Mana nyawanya tinggal sedikit. Alhasil ia harus mengerahkan seluruh kemampuan lututnya agar bisa melihat hari esok.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN