Panik selalu membuat keadaan yang sudah buruk menjadi makin buruk. Erlangga yang berlari tanpa tujuan jelas malah terus bertemu dengan Kodok Pulau Weh lainnya. Monster yang mengejarnya pun jadi makin banyak.
Ia mengeratkan geraham. Dadanya mulai nyeri. Ia bisa melihat Hit Pointnya mulai terkikis. Kondisi kelelahan ekstrim ini memberinya status ailment [Fatigue].
“Udah sejauh ini.”
“Nggak mau mati.”
“Nggak boleh mati.”
Ia terus berlari, hingga tanpa sadar sampai ke pesisir. Di sana ia bingung harus ke kanan atau ke kiri. Walau pertanyaan sebenarnya adalah kapan kodok-kodok itu akan berhenti mengejar.
Di tengah ketergesaan, ia melompat ke air. Mendadak ide itu melintas di kepalanya sebab kedua lututnya sudah lelah.
Ombak datang menggulungnya kembali ke daratan. Tapi ia memaksa berenang ke tengah lagi karena kodok-kodok itu berada tepat di belakangnya. Mereka seperti sedang lomba menjadi yang paling pertama menangkapnya.
Pemuda itu berjuang mengayuh dirinya sendiri menembus ombak, sampai akhirnya berhasil mencapai perairan yang permukaannya lebih tenang.
Ia menoleh ke belakang, lalu terperangah karena ide dadakannya ternyata efektif. Kodok-kodok itu terdiam di pesisir, cuma bisa mendelik sambil menguak-nguak kesal. Mungkin mereka tidak suka air.
“Haha—” Erlangga tertawa pendek. Tekanan air di dadanya membuat napasnya berat.
Ia mengapung-apung sejenak. Namun, para kodok malah dengan sabar menunggunya. Perasaan Erlangga jadi tidak enak. Terpaksa ia berenang. Tapi para kodok mengikutinya di sepanjang garis pantai.
Matilah. Kalau begini terus, bisa-bisa ia tak bisa kembali ke daratan.
Pemuda itu berenang makin cepat.
Kodok-kodok itu juga melompat makin cepat.
Di tengah kekalutan, Erlangga menyelam lalu berbarik arah. Ia mengambil napas singkat, lalu menyelam lagi. Ia melakukannya untuk menghilangkan jejak dari para kodok.
Satu jam kemudian, ia terdampar di pantai. Ia sudah tak sanggup berenang. Untungnya para kodok juga sudah tak mengikutinya.
Tapi tubuhnya begitu lemas. Rasanya ingin berbaring untuk selamanya. Kelopak matanya kian berat. Ia tak peduli lagi meski diserang monster ketika tidur. Ia memejamkan mata.
.
.
.
Ada iklan mie instan yang sangat melekat di kepala Erlangga kecil. Seorang ibu menyanyikan jingle mie instan tersebut sembari menyajikan semangkuk besar mie hangat yang masih mengepul dengan taburan toping—daun sawi, tomat, telur, potongan ayam, dan bawang goreng—di atasnya. Suami dan anaknya berkumpul, lalu menghirup aroma mie instan tersebut dalam-dalam. Dari ekspresinya, belum apa-apa mereka sudah terbayang akan kelezatannya. Kemudian mereka menyantapnya bersama di ruang keluarga yang nyaman.
.
.
.
Waktu SD, ada tukang es kelapa yang berjualan di dekat sekolah Erlangga. Mang Odoy namanya. Bagi Erlangga yang lelah dan haus akibat belajar seharian, lapak Mang Odoy bagaikan oasis, dan es kelapa Mang Odoy adalah sumber mata air segarnya. Begitu menenggak sedikit saja, segala dahaga yang ia rasakan langsung terbilas total.
.
.
.
Di rumah Erlangga tidak memasang AC. Tapi di rumah neneknya ada AC. Itu sebabnya ia paling senang ketika menginap di rumah nenek. Ia bisa main game dengan sepupu-sepupunya sampai tengah malam. Lalu mereka tidur dalam kamar besar yang dingin, sambil berselimut tebal. Kontradiksi memang, untuk apa pakai pengindin ruangan tapi di saat yang sama juga memakai penghangat. Tapi ia tak bisa bohong, berselimut di ruangan ber-AC sangatlah nyaman. Mereka berbaring, mengobrol, bercerita hantu, sampai akhirnya satu-persatu jatuh terlelap.
.
.
.
Kemudian suara alarm berbunyi.
.
.
.
Erlangga membuka matanya. Suara alarm dalam potongan mimpinya terasa begitu nyata. Tapi rumah neneknya itu mendadak sirna disapu ombak Pulau Weh. Matahari terbenam di ufuk barat, dan ombak yang mulai pasang memukul-mukul kaki pemuda itu.
Ia bangkit lalu meregangkan tubuh. Bunga tidur yang indah. Saking indahnya membuat Erlangga merasa sakit ketika harus bangun ke kenyataan.
“Haus…”
Ia berjalan lunglai memasuki hutan. Satu-satunya sumber mata air—selain air asin lautan—di pulau ini adalah di rawa-rawa. Itu merupakan habitat para kodok, sehingga ia harus benar-benar cermat sebelum mendekatinya.
Ia menemukan satu. Setelah memastikan tak ada monster di sana, ia berlutut di tepi genangan air yang sangat keruh. Ia menciduknya dengan hati-hati agar kotoran yang mengendap tak ikut terambil. Kemudian ia meminumnya. Rasanya memualkan.
Kerongkongannya tidak puas, tapi paling tidak dahaganya terobati. Siapa yang akan mengira kalau seorang CEO muda terkenal itu suatu hari harus minum air dari kubangan? Ia tersenyum ironis. Lalu tertawa sendiri. Tanpa suara.
Ia segera menyingkir dari sana. Ia tak mau terjebak di antara Kodok Pulau Weh saat malam tiba.
“Survive… survive…” bisiknya pelan.
***
Murdani memberikan orientasi awal pada rekrutan baru. Ia mengajak mereka mengelilingi lingkungan Somba Opu. Saleh ikut bersama mereka, sambil dipayungi menggunakan songsong oleh Lela—seperti bangsawan keraton.
“Kita berada di distrik pemukiman.” Murdani mengawalinya dari asrama tempat para rekrutan baru tidur semalam. Itu adalah gedung kayu yang di dalamnya memiliki puluhan kamar. Desainnya sederhana, tapi dalamnya luas.
Selain itu ada perumahan yang terbagi dalam beberapa klaster. Mulai dari kelompok rumah-rumah berukuran kecil, yang lebih besar, dan yang megah-megah. Semua ditempati oleh kader partai sesuai peringkat dan jabatannya. Model bangunannya pun beragam, ada yang bentukannya rumah panggung, ada yang cuma persegi dari batu, ada pula yang bercorak Romawi kuno. Seolah semua bisa membuat rumah semaunya tergantung kreativitas yang dimiliki.
Di sebelah pemukiman terdapat Gudang Logistik. Ada kotak-kotak kayu model peti harta karun era bajak laut. Ukurannya besar-besar, dijaga oleh beberapa penjaga.
“Ransum dan material yang dikumpulkan oleh segenap kader partai akan disimpan di sini, lalu dibagikan lagi pada segenap kader partai yang membutuhkan,” jelas Murdani. “Mungkin sahabat-sahabat heran, apa item sebanyak itu bisa dimuat di sini? Tentu saja muat, karena itu bukan peti biasa, melainkan [Peti Harta Berukuran Extra Besar] yang bisa menyimpan banyak barang. Cara kerjanya seperti jendela [Inventory] pribadi, hanya saja kapasitasnya jauh lebih besar. Dengan ini kami pastikan tidak ada satu kader partai pun yang kelaparan.”
Dari sana mereka ke Bengkel Tempa. Bangunannya luas dan memiliki atap tinggi. Ada berbagai peralatan yang dibutuhkan seperti landasan anvil dan tungku pembakaran. Tampak para ahli tempa menghajar-hajar bilah panas di atas anvil. Tungku pembakaran menyala membara di sampingnya, mengeluarkan hawa panas yang menyiksa.
“Ada dua cara mendapatkan senjata dan baju pelindung. Yang pertama dijatuhkan oleh monster, yang kedua dibuat di Bengkel Tempa seperti ini,” jelas Murdani.
Kemudian ada lapangan kosong. Di atasnya, belasan orang sedang melakukan hal-hal di luar logika dunia nyata. Seorang pria menebaskan pedang yang diselimuti petir. Seorang ibu-ibu menembakkan anak panah yang meledak begitu mengenai target. Dan seorang anak remaja memanggil bunga-bunga es dari udara kosong.
“Apa-apaan itu, Jendral?” seru Udin terngaga.
“Ini adalah Arena Latihan. Sesuai namanya, tempat latihan bertarung. Kadang juga digunakan sebagai panggung kalau ada acara besar.”
“Maksud saya… orang itu! Orang itu tangannya keluar api!” Udin mengacung-ngacungkan jarinya. Bukan cuma dia, rekrutan baru lainnya pun keheranan.
“Hahaha,” Murdani tergelak. “Jangan heran, karena sekarang saya akan mengajari sahabat-sahabat semua mengenai dasar-dasar pertarungan!”