Arena Bertarung jadi ramai. Orang-orang berkumpul di bangku tribun. Tapi bukan karena banyak kader partai yang berlatih. Mereka malahan ikut duduk di tribun atau pinggir lapangan, guna menonton aksi para rekrutan baru. Sebuah penyimpangan yang ditolerir setiap Murdani akan memberi pelajaran pertama.
Saleh sendiri menyaksikan dari kursi khusus, sambil dipayungi oleh Lela. Hal yang menjadi sensasi tersendiri di antara kader sebab tak biasanya sang Jendral Besar turun langsung melihat rekrutan baru.
“Boleh saya memberi masukan?” tanya Lela.
“Tidak,” jawab Saleh.
“Sebagai pucuk pimpinan tertinggi partai, seharusnya Jendral Besar tidak perlu melihat atraksi rekrutan baru seperti ini.”
“Saya kok yakin seyakin-yakinnya ya kalau tadi sudah bilang kamu ndak boleh memberi masukan?”
“Maaf Jendral.”
Lela pun menutup bibirnya rapat.
Murdani memerintahkan para rekrutan membuka jendela statusnya masing-masing. Lalu pria itu menjelaskan perihal enam parameter status yang mempengaruhi pertarungan. Saat ini semuanya bernilai satu poin, tapi bisa ditingkatkan seiring dengan naiknya level.
“Parameter STR itu mempengaruhi kekuatan serangan fisik, baik dengan tangan kosong maupun senjata jarak dekat. Penggunaan senjata akan semakin meningkatkan serangan. Ada banyak macam senjata seperti pedang, kapak, keris, gada, macam-macam lah pokoknya. Nah, sekarang kita latihan bertarung tangan kosong dulu. Bawa Bola Jeli nya!”
“Bola Jeli?” Udin berbisik kebingungan. “Boba?”
Seorang asisten instruktur datang menuntun kuda yang menarik gerobak besar. Gerobaknya berbentuk peti yang rapat. Namun benda itu terus bergoyang-goyang, seolah ada sesuatu di dalamnya yang berusaha keluar. Sang asisten membuka sedikit celah di pintu gerobaknya, lalu sesosok makhluk melompat keluar dari sana.
[Bola Jeli]
Tampak monster sebesar bola basket berwarna pink transparan memantul-mantul tidak jelas. Ada dua biskuit chocochip yang menempel di sisinya. Mungkin itu matanya.
“Ini adalah monster lemah yang kami tangkap untuk keperluan latihan,” jelas Murdani. “Sekarang siapa yang mau coba melawannya duluan?”
“Saya, Jendral!” Udin mengajukan diri. Ia meninju-ninju telapak tangannya. “Saya mau ngetes ilmu, nih.”
Beberapa masih ingat bagaimana nasib pemuda itu saat nekat menyerang Ghoul Kecil. Mereka pun mengantisipasi musibah yang sama akan terulang.
“Tinggal tinju aja, ya?”
Udin mengambil ancang-ancang, lalu mengayunkan kepalannya. Tepat mengenai sang monster yang sedang memantul di udara.
[5]
Notifikasi jumlah serangan muncul dan makhluk itu terpental ke belakang, memantul di tanah, menghantam gerobak, kemudian mental lagi ke arah Udin.
[5]
Tubuh Bola Jeli menghantam dahi pemuda itu, mengurangi Hit Pointnya. Udin jatuh terjerembab ke tanah. Beberapa orang langsung tertawa melihatnya.
“Jangan ketawa!” teriaknya.
“Tapi nggak sakit, kan?” tanya Murdani. “Nggak seperti waktu dicakar Ghoul di Dungeon Tutorial.”
“Eh, iya juga ya,” Udin menggosok-gosok dahinya. “Lebih sakit kehantem bola basket beneran.”
“Badan kita sekarang ini sudah dirubah oleh sistem. Serangan monster biasanya nggak sakit, kecuali serangan kritital atau yang kerusakannya fatal. Tapi tetap hati-hati, jaga jarak, karena kalau sampai Hit Point sahabat habis, sahabat bisa meninggal.”
Udin menelan ludah. Sekarang Hit Pointnya tinggal [95/100].
“Tapi tenang saja, Hit Point sahabat juga akan bertambah seiring kenaikan level. Sekarang lanjutkan pertarungannya.”
Udin bangun lalu menyerang si Bola Jeli beberapa kali lagi. Setelah perjuangan keras, monster itu pun pecah.
[Anda mendapatkan 1 exp]
“Aku dapat exp!” seru pemuda itu gembira. “Apa itu exp?”
“Experience,” jawab Murdani. “Setelah jumlah exp nya cukup, sahabat akan naik level. Lalu status dan Hit Point sahabat bisa ditingkatkan.”
Dan begitulah, masing-masing rekrutan diberi satu Bola Jeli sebagai lawan tanding. Mereka tersebar di lapangan terbuka, dengan pengawasan dari instruktur.
Nabila menatap monster yang tampak tidak berbahaya—malah cenderung lucu—itu. Sang monster hanya melompat-lompat sedada orang dewasa. Tapi ia tidak akan menyerang sebelum diserang duluan.
Gadis itu pun mengeratkan tinjunya. Ia membayangkan ini seperti permainan meninju di Timezone.
“Maaf ya…”
Ia melayangkan tinju.
[Miss]
Serangannya yang canggung tidak mengenai sasaran.
“Mbak, santai aja, Mbak,” seru Udin yang merasa menjadi veteran setelah mengalahkan satu Bola Jeli. Ia berdiri di samping instruktur yang mengawasi Nabila.
“Iya.”
Nabila mencoba fokus, lalu meninju sekali lagi. Kali ini kena. Meski pukulannya rasanya tidak kuat, tapi tetap menghasilkan serangan senilai lima poin, sema seperti yang lainnya. Seolah semua orang saat ini memiliki kekuatan fisik setara.
“Ayo lagi, Mbak! Hajar terus!” seru Udin seakan ia adalah suporter pribadi Nabila. Instruktur di sampingnya tampak terganggu, tapi tak berkata apa-apa.
Gadis itu terus menyerang hingga akhirnya sang hancur.
“Horeee berhasil!” Udin bersorak-sorai.
Nabila tidak mengerti. Ini bukan permainan, kenapa pemuda itu sangat senang?
Lalu tatapannya teralih pada seorang anak laki-laki kecil yang sedang berjuang memukul Bola Jeli. Entah kenapa monster yang dihadapi anak itu melompat-lompat lebih cepat dan kasar dari yang lainnya.
Nabila ingat, anak itu sudah ada di sana bersama mereka sejak Dungeon Tutorial. Tapi sebelumnya ia tak terlalu memperhatikan karena ia sendiri sedang kacau. Gadis itu pun mendekatinya untuk membantu.
Tapi tiba-tiba Bola Jeli yang dihadapi anak itu menyala. Warnanya berubah merah membara. Pantulannya makin cepat hingga tak bisa lagi diikuti mata telanjang. Lalu tubuhnya meletus. Suaranya seperti balon meledak. Namun, dari dalam tubuhnya muncul wujud baru yang berukuran sepuluh kali lebih besar dari sebelumnya.
[Bos Bola Jeli]
Monster itu memiliki nama berwarna merah.
“Bos Bola Jeli? Kok bisa? Dia berevolusi?” seru para instruktur. Mereka kaget, sebab itu bukan monster sembarangan. Yang jelas bukan tandingan penjelajah level 1. Nilai serangannya antara dua ratus sampai tiga ratus, sehingga pemula yang Hit Pointnya cuma seratus pasti akan mati seketika.
“Awas, itu anak kecil tolongin!” seru yang lainnya pada instruktur terdekat. Celakanya, saat ini jarak para instruktur ke anak itu lebih jauh dibandingkan sang Bos Bola Jeli yang hanya terpaut tiga langkah.
Nabila terbelalak.
Monster itu melompat tinggi, hendak menimpa si anak. Sementara si anak yang ketakutan malah berjongkok meringkuk. Hanya Nabila yang berjarak paling dekat dari anak itu.
Trauma Dungeon Tutorial seketika menyergap. Ingatan-ingatan buruk itu membuat tubuhnya mematung.
Tapi ia juga tak bisa membiarkan anak itu berakhir tragis.
Maka ia berlari.
[Skill Spesial Diaktifkan : Zirah Berlian]
Mendadak cahaya terang bersinar dari batu akik gadis tersebut. Kemudian lapisan zirah semi transparan terbentuk melapisi tubuhnya.
Ia segera memeluk si anak laki-laki, sesaat sebelum Bos Bola Jeli menghantam mereka.
[Block]
Sang Bos Bola Jeli terlontar ke atas, lalu menghantam lagi karena tarikan gravitasi.
[Block]
Aneh. Nabila tak merasakan apapun. Hit Pointnya juga utuh.
Lalu terdengar suara letusan senjata api, diikuti letusan tubuh Bos Bola Jeli yang pecah di udara. Potongan tubuh jelinya muncrat menjadi fragmen-fragmen kecil.
Murdani baru saja menembak monster tersebut menggunakan senapan arquebus berdekorasi emas yang entah sejak kapan ada di genggamannya.
Nabila pun mengintip, memastikan keadaan sudah aman. Zirah semi transparannya terurai. Namun, tatapan semua orang masih terpaku pada dirinya. Udin, para rekrutan baru, Murdani, instruktur, kader-kader partai, Lela, bahkan Sang Jendral Besar Saleh. Mereka baru saja menyaksikan skill spesial yang luar biasa.
“Mustahil, Jendral!” seru Lela. “Dia masih level satu, kan? Harusnya kan belum belajar skill!”
“Diam, Lela,” ucap Saleh dalam. “Itu Skill Spesial. Skill khusus bawaan akik yang langsung dikuasai sejak pertama dipakai. Sama seperti Mata Naga saya. Dan hebatnya, saya rasa zirah itu bukan sekedar meningkatkan pertahanan, tapi juga memblokir semua serangan secara total. Ini sangat gila.”
Lela terbelalak menatap sang jendral, lalu melihat Nabila lagi. Perasaannya benar-benar tidak nyaman. Kalau matanya tidak menipu otaknya, maka hari ini saingannya bertambah satu lagi.