Solo Training (Part 8)

1144 Kata
Sejak peristiwa Bos Bola Jeli, Nabila semakin paham apa yang membuat dirinya spesial. Penjelasan resmi dari Zirah Berlian adalah memberi penggunanya status [Invincible] selama beberapa saat. Artinya, saat zirah itu digunakan, tak ada satu seranganpun yang bisa melukainya. Para instruktur mengatakan bahwa skill itu sangat langka, sebab sebelumnya tak ada yang benar-benar bisa menahan serangan monster hingga seratus persen. Ke depannya mungkin ia bisa berperan besar dalam penaklukan dungeon. Gadis itu berbaring di kamarnya, menyusun semua informasi itu dalam pikirannya. Dan tak terhindarkan, sebuah penyesalan melintas dalam benaknya. Andai saja waktu itu ia memiliki skill ini, mungkin Erlangga tak perlu tewas. Bulir-bulir air asin mulai mengalir dari maniknya. Dadanya bagai teriris. Ia rindu rumah. Ia ingin bertemu ayah dan ibunya, lalu menumpahkan kesedihan ini. Ia ingin menjelaskan bahwa Erlangga tidak salah, malahan pemuda itu sudah berkorban nyawa untuknya. Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dari luar. “Mbak, latihan pagi!” panggil Udin. Entah karena sumpahnya atau apa, ia terus mengikuti Nabila seperti ajudan. Gadis itu mengusap air matanya. “Sebentar!” Ia merapikan diri, lalu membuka pintu. Udin sudah menunggu di sana bersama seorang anak laki-laki. “Kak Nabila, ayo berangkat bareng!” Anak itu adalah Yosep, yang diselamatkan Nabila tempo hari. Ia masih seumuran kelas tiga SD. Semua rekrutan baru di tempat ini sibuk beradaptasi, sehingga tak ada yang punya waktu untuk anak tersebut. Karenanya naluri Nabila tergerak mendekati anak tersebut. “Ayo!” “Ah!” Tiba-tiba Yosep tercekat. Ia buru-buru merogoh kantungnya, lalu menyerahkan sebuah sapu tangan. “Eh? Buat apa?” tanya Udin bingung. Yosep tidak menjawab, malah menarik tangan Udin agar mereka jalan duluan. “Ayo Om!” “Eeh! Emangnya siapa yang Om elu? Lu kan manggil Mbak Nabila Kakak napa manggil gua Om?!” Nabila menatap sapu tangan tersebut. Apa Yosep tahu kalau ia habis menangis? Ia memakai kain tersebut untuk mencecap sisa air di ujung matanya, lalu menarik napas dalam-dalam. Perjalanan masih panjang. Dibanding dirinya, anak kecil seperti Yosep pasti lebih menderita. Karena itu ia harus berjuang agar ia, Yosep, dan semuanya bisa pulang. Apalagi ia memiliki akik spesial, yang berarti ia juga memiliki tanggung jawab yang sama besarnya. “Angga, aku akan berjuang,” gumamnya. “Seperti kamu yang selalu berjuang.”   ***   “Hatsyi!” Erlangga bersin. Ia langsung meringkuk. Jantungnya berdebar keras. Bagaimana kalau suara bersinnya barusan membangunkan para kodok? Ia menunggu beberapa saat. Tak ada pergerakan. Aman. Rembulan ditutupi awan hitam. Tapi baginya itu sudah bukan masalah, karena ia sudah mempelajari sebuah skill pasif bernama [Night Sight]. Dengan itu ia bisa melihat dalam gelap selayaknya kucing. Meski skillnya masih level 1, tapi sudah cukup karena targetnya tidak bergerak. Kodok-kodok itu tidur di malam hari. Erlangga mulai mengendap keluar dari balik semak-belukar. Ada satu Kodok Pulau Weh yang sedang mendengkur pulas. Monster itu sama sekali tidak mendeteksi kehadirannya, sebab suara langkah kakinya tak terdengar berkat efek skill [Cat Walk]. Skill tersebut memberinya keheningan juga keseimbangan ekstrim dalam berpijak. Begitu jarak di antara mereka tinggal setengah langkah, ia mengeksekusi serangan. “[Dual Scratch]!” Itu adalah skill aktif berupa cakaran ganda yang memberi kerusakan empat ratus persen. Serangannya saling bersilangan melalui kedua jemari tangan, menghujam sang monster tanpa ampun. [Critical Backstab] Serangan pertama ke punggung yang digunakan setelah menggunakan [Cat Walk] memberinya bonus serangan [Backstab], yang dikombinasikan dengan bonus [Critical], yakni serangan yang tidak dikurangi pertahanan ketika sang monster sedang lengah. Kodok Pulau Weh itu pun terbangun. Refleks ia mengayunkan balok kayunya. Lalu tiba-tiba tubuh Erlangga bergerak ke belakang sendiri seperti ada energi tak kasat mata yang menariknya. [Miss] Itu adalah efek dari skill pasif [Evasion], yang memberinya probabilitas menghidari serangan lawan. Pemuda itu membalas lagi dengan rentetan serangan biasa. Skill aktif seperti [Dual Scratch] tak bisa digunakan terus-menerus karena ada cooldown beberapa saat sampai skill tersebut siap. Kodok Pulau Weh juga melancarkan serangannya. Hit Point Erlangga habis duluan, tapi ia langsung hidup lagi. Lalu ia memberi serangan penghabisan. “[Dual Scratch]!” Sang monster pun hancur. [Anda mengalahkan Kodok Pulau Weh] [Anda mendapatkan 10 exp] [Anda mendapatkan 1 Daging Kodok Mentah] [Anda mendapatkan 1 Balok Kayu] Kedua matanya melotot. “Yeah!” Ia mengepalkan kedua tangannya. Akhirnya, setelah berhari-hari, ia berhasil mengumpulkan sepuluh [Balok kayu]. Tiba-tiba muncul notifikasi berikutnya. [Pencapaian Terbuka : Pemburu Kodok] [Pencapaian bagi penjelajah baru yang membantai 100 Kodok Pulau Weh] [Bonus Item : Topi Kodok] [Pertahanan : 1] [Efek : Meningkatkan seluruh parameter status sebanyak 1 point bila berhadapan dengan Kodok di Pulau Weh] “Pemburu kodok…” Kalau di dunia nyata, pemburu kodok adalah orang yang turun ke sawah pada malam hari untuk mencari kodok. Rasanya tidak sekeren pemburu kodok di tempat ini. Ia mengecek topi yang dimaksud. Seperti topi anak-anak dengan hiasan dua mata kodok. Konyol sekali. Tapi ia tetap menggunakannya. Setelah mengumpulkan balok, sekarang ia tinggal mencari tali yang dibawa para kodok di sisi lain pulau. Saat ini kepercayaan dirinya sangat tinggi. Ia telah meningkatkan parameter status, mempelajari berbagai skill, dan mengasah insting bertarung. Mengkombinasikan ketiganya menjadikan dirinya sebagai pemburu kodok alami yang mematikan. Tapi tak hanya itu. Ia juga pandai menangkap Beruk, monster lain penghuni pulau ini. Apabila dikalahkan, kadang-kadang makhluk itu menjatuhkan buah kelapa. Dengan begitu sesekali Erlangga bisa mengkonsumsi sesuatu yang layak diminum. Lalu hari berganti hari, minggu berganti minggu. Nama para Kodok yang tadinya berwarna merah berubah jadi jingga, hingga akhirnya berubah jadi hijau. Artinya level Erlangga sudah melampaui mereka, dan ia bisa membantai belasan sampai puluhan kodok dalam sehari. Bahkan kadang monster-monster itu yang menjauh begitu melihatnya. Ia jadi merasa seperti preman yang paling ditakuti. Namun, pada satu titik perkembangan levelnya terhenti. Makin tinggi level penjelajah, butuh lebih banyak exp untuk meningkatkannya. Saat ini exp yang diberikan para kodok sudah tidak mencukupi. Ini adalah sebuah sinyal, sudah waktunya sang pemburu kodok menempuh ujian terakhir. Setelah istirahat yang cukup dan mengisi Sembilan Nyawa, Erlangga naik ke atas bukit tertinggi, tempat bersemayamnya raja dari segala kodok. Di sana terdapat rawa besar yang dihuni kodok-kodok elit. Tapi begitu Erlangga menginjakkan kaki, kodok-kodok elit itu menyingkir sebab merasa kalah level. Mereka membuka sebuah jalan setapak berupa susunan daun teratai di permukaan air. Sang pemuda melintasinya. Jalan itu mengarah ke sebuah daratan kecil, di mana seekor kodok jumbo sudah menanti. Ukuran tubuhnya dua kali lipat dari kodok biasa. Otot-ototnya sangar. Ia tak membawa balok ataupun tali. Tampak kekuatan destruktifnya terletak pada tinjunya yang berurat-urat. [Sepuh Kodok  Pulau Weh] Tebakan Erlangga, monster itulah yang memegang material terakhir yang ia perlukan—[Skematik Rakit]. Mereka berdiri berhadapan, saling menatap, mengukur kekuatan satu sama lain. Kali ini berbeda, tidak seperti saat melawan Ghoul Besar. Sekarang sang pemuda lebih siap. Erlangga menuding Sepuh Kodok Pulau Weh dengan telunjuk. “Serahkan sketsanya!” Ia tahu monster itu tak bisa diajak bicara, tapi ia benar-benar ingin melakukan adegan ini. Sang Sepuh Kodok membalas dengan suara rendah, “Koookkk…” Entah apa artinya. “Baiklah kalau itu maumu.” Erlangga melesat. Perhelatan puncak digelar.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN