Erlangga melesat dengan kecepatan yang tak masuk logika. Dirinya yang tiap hari menghabiskan waktu duduk di depan layar komputer seharusnya memiliki kemampuan fisik yang payah. Tapi nyatanya saat ini ia melaju bagai seorang atlet lari jarak pendek. Bukan karena latihan keras selama hampir satu bulan ini, melainkan karena ia meningkatkan parameter status [Agility]nya.
Ia memberi serangan pembuka.
“[Dual Scratch]!”
Sepuh Kodok Pulau Weh menyilangkan tangannya untuk menangkis, tapi hantaman tersebut tetap mengurangi Hit Pointnya.
“Koak!”
Monster itu balas melepas tinju. Tubuh Erlangga merunduk dengan jarak hanya beberapa milimeter sebelum pipinya kena hajar. Lalu ia mencakar pinggang sang kodok.
“Koakakakakaka!!!”
Sepuh Kodok Pulau Weh melompat mundur satu langkah.
Erlangga tak berniat untuk memberi kendor. Ia langsung bergerak maju guna melayangkan serangan berikutnya.
Namun, tiba-tiba monster itu menyambutnya dengan sebuah tinju uppercut yang telak mengenai dagunya.
[Critical]
Seketika kesadaran Erlangga seperti putus. Tubuhnya terlempar jauh, dan tercebur ke permukaan rawa. Hit Poitnya berkurang drastis, sekitar dua puluh lima persen.
“Buah!”
Ia buru-buru naik ke tepian.
“Gila!”
Kalau satu kontak pukulan saja memberi kerusakan sebegitu parah, berarti ia akan mati hanya dalam empat pukulan.
Sepuh Kodok Pulau Weh mengejar ke arahnya.
Erlangga mencoba peruntungannya sekali lagi. Ia mencakar pipi monster tersebut, lalu sang monster membalas dengan tinju lurus ke perut. Lagi-lagi ia terpental jauh sampai tercebur ke kolam.
“Ohok—ohok—” Ia memuntahkan air yang terminum. Perutnya mual.
Melihat Sepuh Kodok Pulau Weh yang mengejar lagi, Erlangga cepat-cepat naik ke daratan. Ia segera kabur. Namun, tiba-tiba sang monster melompat sangat jauh—lebih seperti terkaman. Kepalan tinjunya menghantam tengkuk Erlangga.
[Critical]
Pemuda itu tersungkur menghantam tanah. Rasanya seperti baru saja ditabrak mobil. Andai ini dunia yang sebenarnya, mungkin kepalanya sudah lepas dari badan.
Para kodok yang menonton tampak bersorak-sorai. Mereka berlompatan menguak-nguak yang Erlangga artikan sebagai tawa.
Pemuda itu mendorong tubuhnya untuk bangun, tapi satu hantaman lagi datang menghabisinya.
[HP : 0/240]
Sang Sepuh Kodok Pulau Weh mengangkat kedua tinjunya ke udara, sebuah gestur juara. Wajahnya tak berekspresi, tapi kedua matanya menyiratkan ekstasi. Yang ia tak tahu, pertandingan belum usai.
Erlangga masih menggeletak di tanah. Pikirannya kalut. Ia tak bisa membayangkan nasibnya bila tak punya skill Sembilan Nyawa. Ia pasti mati. Ini adalah pembantaian, sama seperti saat berhadapan dengan Ghoul Besar!
Tapi, sekarang kan ia punya skill Sembilan Nyawa. Ia harus manfaatkan itu.
Tiba-tiba pemuda itu berguling dengan Hit Point yang sudah terisi seperti semula. Ia melancarkan jurus andalannya.
“[Dual Scratch]!”
[Critical]
Cakarnya menyabet sang monster yang sedang lengah. Saat pergerakan monster itu terhenti akibat efek [Stagger], Erlangga mengambil langkah seribu. Ia berlari sejadi-jadinya tanpa berani menoleh. Suara kuakan terdengar riuh di belakangnya. Jika kodok-kodok itu adalah manusia, mungkin saat ini mereka sedang mengolok-oloknya karena meninggalkan pertarungan.
Sepuh Kodok Pulau Weh menerkam lagi. Tinjunya mementalkan Erlangga. Pemuda itu tak punya waktu untuk terkapar. Ia segera lari lagi meski sempoyongan. Ia meninggalkan area rawa, masuk ke area pepohonan.
Sang monster meninju punggung Erlangga. Pemuda itu mental tinggi, menghantam batang pohon di depannya, lalu jatuh di antara semak belukar.
Sepuh Kodok Pulau Weh mengikuti. Ia mencari Erlangga di antara semak belukar. Lalu kedua matanya mendelik. Ia tak bisa menemukan keberadaan lawannya. Ia mengedarkan pandangan, namun hanya ada hutan kosong di sekitarnya.
“[Cat Walk].”
Erlangga menggunakan skill untuk berjalan tanpa suara, bahkan melenyapkan suara ranting-ranting yang bergesekan dengan tubuhnya. Ia menempatkan diri di belakang tubuh sang monster, menjadikannya berada di titik buta.
Ya, pemuda itu lari, tapi bukan melarikan diri. Ia lari untuk memancing sang monster masuk ke daerah kekuasaan sang pemburu kodok, yakni hutan lebat yang memiliki banyak celah sembunyi.
Erlangga menerjang.
“[Dual Scratch]!”
[Critical Backstab]
“Koaaak!!!”
Monster itu cepat-cepat berbalik. Tapi Erlangga dengan cepat juga menjauh, menyaru di antara lingkungan. Ia jalan berputar, kemudian menyerang punggung monster itu lagi.
“KOAAAAAKKKKK!!!”
Sepuh Kodok Pulau Weh frustasi. Namun bodohnya monster itu adalah, ia tak cukup cerdas untuk menyadari bahwa seharusnya ia tak bertarung di luar elemennya. Ia terus mencari-cari Erlangga seperti algoritma sederhana, lalu diserang, lalu mencari penyerangnya lagi, lalu diserang lagi, begitu seterusnya.
Kemenangan Erlangga sepertinya sudah di depan mata.
Ia menerjang lagi.
“[Dual Scratch]!”
[Mana Point Anda tidak cukup untuk mengaktifkan skill]
“Eh?”
Serangannya jadi bantet. Sang monster yang mendengarnya pun berbalik. Dan langsung meninju.
Erlangga tersungkur. Monster itu melanjutkan tinjunya.
Erlangga tewas.
Ia hidup lagi.
Tapi kali ini Sepuh Kodok Pulau Weh tidak lengah. Ia meneruskan tinjunya, menghempas Erlangga hingga menghantam pohon. Lalu ia menerkam, menghajar perut Erlangga yang masih bersandar di pohon, membuat pohon di belakangnya roboh.
Pemuda itu benar-benar tak diberi kesempatan kabur. Ia diserang secara bertubi-tubi. Meski punya banyak nyawa, tapi jumlahnya berkurang dengan cepat.
Ia dilempar ke sana kemari seperti mainan.
Namun, ia belum mau menyerah. Apalagi ia sadar Hit Point sang monster pun tersisa sedikit lagi. Ia membulatkan tekad, menguatkan pijakan, lalu balas menyerang.
Mereka baku hantam.
Saling bertukar serangan.
Cakar, tinju, cakar, tinju, cakar, tinju…
Sesekali [Evasion] membantunya menghindari serangan.
Sebuah adu stamina untuk menentukan siapa yang dapat bertahan paling akhir.
“Pertarungan—belum—selesai!”
Nyawanya tinggal dua.
Tapi ia tak berencana kabur.
Karena Hit Point sang monster pun tinggal setitik!
Lalu cakaran terakhirnya tiba-tiba membuat Sepuh Kodok Pulau Weh terdiam.
[HP : 0/1000]
Makhluk itu mengeluarkan kuakan lemah, kemudian tubuhnya ambruk.
[Anda mengalahkan Sepuh Kodok Pulau Weh]
[Anda mendapatkan 100 exp]
[Anda naik ke level 10]
[Anda mendapatkan 3 poin status]
[Anda mendapatkan 1 poin skill]
[Anda mendapatkan 1 bonus poin status sebagai orang pertama yang mengalahkan Sepuh Kodok Pulau Weh]
[Anda mendapatkan 1 Sup Kodok]
[Anda mendapatkan 3 Daging Kodok Mentah]
[Anda mendapatkan 1 Skematik Rakit]
[Pencapaian Terbuka : Penguasa Kodok]
[Pencapaian bagi penjelajah baru yang membantai Sepuh Kodok Pulau Weh]
[Bonus Item : Jubah Kulit Kodok]
[Status : Langka]
[Pertahanan : 5]
[Efek : Meningkatkan kekuatan lompatan]
Erlangga ternganga. Ia takjub pada dirinya sendiri. Ia baru saja berhasil mengalahkan bos monster. Kali ini tidak seperti saat melawan Ghoul Besar. Kali ia benar-benar mengalahkan lawannya, menggunakan kedua tangannya sendiri.
Napasnya terengah-engah. Ia melepas topi kodoknya, lalu menggaruk-garuk kepalanya.
“Aku berhasil,” gumamnya. “Aku berhasil…”
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu berteriak sekencang-kencangnya.
“AKU BERHASIIILLL!!!”
Suaranya membahana membelah angkasa, terdengar sampai ke kodok-kodok elit di rawa. Itulah tanda petualangannya bertahan hidup di pulau ini sudah selesai.