Solo Training (Part 10)

1574 Kata
Erlangga menuruni bukit sambil membaca informasi pada jendela statusnya. [LV : 10] [HP : 266/266] [MP : 87/87] [STR : 16] [AGI : 12] [VIT : 4] [INT : 4] [DEX : 8] [LUK : 1] Selain mendapat poin status setelah naik level, ia juga mendapat banyak bonus poin tiap menjadi orang pertama yang mengalahkan jenis monster tertentu. Berhubung ia adalah satu-satunya orang di pulau ini, otomatis semua bonus tersebut menjadi miliknya. Awalnya memang berat, tapi hasilnya memuaskan. Andai saja ia berburu bersama orang lain, kemungkinan mereka malah akan bersaing memperebutkan bonus poin tersebut. Pemuda itu sampai di pesisir tanpa konflik sebab monster-monster kodok yang sekarang sudah kalah level darinya cenderung menyingkir. Ia menatap selat yang terbentang luas antara Pulau Weh dan Zona Aceh. “Jadi ini saatnya.” Ia membuka jendela [Inventory]. Semua material yang dibutuhkan sudah tersedia. Ia menekan [Skematik Rakit], lalu memasukan 10 Balok Kayu dan 10 Tali. Tiba-tiba cahaya bersinar terang di hadapannya. Ia sampai memicingkan mata kesilauan. Setelah cahayanya redup, sebuah rakit kecil sudah mengambang di atas permukaan air. Ada satu tiang kayu di tengahnya, tempat layar lusuh terkembang. Mulut pemuda itu menganga, tak mempercayai yang ia lihat. “Magic!” Ia masuk ke air lalu meraba-raba rakit tersebut, memastikan benda itu nyata. Dan memang nyata. Teksturnya padat. Tapi ia masih ragu, apa bisa menyebrangi selat dengan rakit seperti ini? Ia berusaha menghapus keraguan tersebut. Biar bagaimanapun harus dicoba dulu. Ia memanjat naik. Rakitnya goyang. Ia cepat-cepat pegangan ke tiang. Lalu muncul sebuah layar hologram berisi pertanyaan. [Rakit hanya bisa dipakai menyebrang ke Zona Aceh satu kali. Apakah Anda ingin menyebrang sekarang?] [Ya/Tidak] Erlangga menatap Pulau Weh untuk yang terakhir kali. Semua memorinya di tempat itu adalah kenangan buruk. Jadi tentu jawabannya sudah jelas. “Ya!” Ia menekan tombolnya. [Selamat jalan, berpeganganlah yang erat agar tidak jatuh ke laut.] “Eh?” Rakit pun bergerak secara otomatis, padahal tidak ada angin ataupun dayung. Perjalanan ke tengah laut cukup kasar karena gelombang ombak kerap menghantam. Tiap kali terjadi, rakitnya seperti mau terbalik. Erlangga was-was bukan main. Percikan air mengenai wajahnya, terasa asin. Dari cuma pegangan, sekarang ia memeluk tiang erat-erat. Semakin ke tengah, ia makin sadar betapa mengerikan posisinya ini. Rakitn itu cuma seukuran dua kali tiga meter. Bagaimana jika benda kecil ini terbalik di tengah laut? “Tapi aku kan punya Sembilan Nyawa, hahaha,” ucapnya gugup, sampai ia sadar nyawanya masih belum pulih pasca pertarungan melawan Sepuh Kodok Pulau Weh. Seharusnya ia istirahat dulu sebelum berangkat. Ia terbawa nafsu. “Sial…” Pulau Weh terlihat semakin mengecil di belakang sana. Meski tempat itu penuh kenangan buruk, ternyata satu bulan menghabiskan waktu di sana memberi kesan tersendiri pada Erlangga. Untuk pertama kalinya sang CEO makan daging kodok mentah, minum air kubangan, tidur kedinginan di alam terbuka, dipukuli kodok sampai tewas… Betapa beruntungnya ia yang hidup nyaman selama ini. Pemuda itu melambaikan tangan. “Daaah! Selamat tinggal!” serunya, entah pada para kodok penghuni pulau atau pada pulau itu sendiri. Ia kembali memeluk erat tiang rakit. Absurd sekali, pikirnya. Menyebrangi lautan pakai rakit. Apa dulu nenek moyangnya yang seorang pelaut juga melakukan hal sama? Makin ke tengah, perasaannya makin tidak nyaman. Laut begitu luas dan kosong, tapi kita tidak tahu makhluk apa yang tersembunyi di dalamnya. Bagaimana kalau tiba-tiba gurita raksasa menarik rakitnya? Kalau sampai jatuh, ia harus berenang di perairan tanpa dasar, yang jauh dari pesisir. Dahinya mulai berkeringat. Perutnya mulas. “Semoga aman… semoga aman…” Lalu titik kecil tampak di kejauhan. Erlangga memicingkan matanya. Apa itu Zona Aceh? Bukan. Ada tiga titik, yang sedikit demi sedikit terlihat makin jelas. Sampai akhirnya pemuda itu bisa mengenalinya sebagai tiga kapal yang sangat besar. “Ka—kapal?!” Erlangga terperangah. Tiap kapal mengibarkan bendera yang berbeda, ada yang bersimbol Banteng Merah, Beringin Kuning, dan Kubah Hijau. Saat posisi mereka cukup dekat, ia bisa melihat orang-orang di atas kapal tersebut. Dan orang-orang itu juga sepertinya melihat ke arahnya, mereka berkumpul di tepian geladak. “Woi! Woi! Tolong!” Erlangga melambaikan tangan. “Tolong! Tolong!” Para awak kapal juga berteriak, “Mau ke mana?! Sini berenang!” Yang benar saja, mereka menyuruh Erlangga berenang di tengah laut mengejar kapal. Sayangnya rakit Erlangga memiliki jalur yang tetap. Sementara kapal-kapal itu juga terus bergerak. “Woi! Tunggu! Kirim sekoci!” teriak sang pemuda putus asa. Tapi akhirnya mereka cuma berpapasan begitu saja.   ***   Wati ikut menengok apa penyebab awak-awak kapalnya begitu heboh. Ia melihat seorang pria di atas rakit yang melintas di antara kapalnya dan kapal Beringin Kuning. Orang itu berteriak-teriak minta tolong, tapi rakitnya tak bisa berhenti. Gadis itu mengerutkan kening sembari menggigit bibir bawahnya. “Aneh, kok udah ada yang naik rakit…” ujarnya. “Emangnya kita telat?” “Tidak mungkin, Sri Maharatu,” jawab seorang pria berbadan besar yang berdiri di sampingnya. Matanya sipit, pipinya tembam, dan sepasang kumis tipis seperti lele menggantung di ujung-ujung bibirnya. Kepalanya semi botak menyisakan rambut jarang-jarang. Ia bertelanjang d**a, mengenakan celana merah dan ikat pinggang emas. Sayangnya d**a dan perutnya bergelambir dengan sedikit rambut. Ketimbang mirip kesatria era kerajaan, ia lebih seperti orang obesitas yang sedang berkostum peran sebagai tentara Majapahit. Meski begitu, tatapan dan ekspresi wajahnya sangat tajam. “Tapi orang itu udah bikin rakit!” Wati menunjuk pria di atas rakit yang semakin menjauh. “Setahu hamba membuat rakit untuk menyebrang ke Zona Aceh bukanlah perkara mudah, terlebih bagi penjelajah baru. Walau kita terlambat satu atau dua hari, mustahil ia sudah berhasil membuat rakit secepat itu. Lagipula kita kita tidak telat. Penjelajah baru biasanya sampai di Pulau Weh sekitar tanggal satu atau dua setiap bulannya.” “Terus dia siapa, dong?” Sang pria berpikir sejenak. “Hamba curiga jangan-jangan dia tertinggal dari kelompok bulan lalu.” “Astaga.” “Apa kita perlu menampungnya?” tanya sang pria. “Hmm,” Wati menimbang-nimbang. “Ah, repot! Hahaha. Lagian juga nanti di Pulau Weh bakal banyak calon rekrutan baru.” “Baik, Sri Maharatu,” ucap sang pria patuh. Namun, sebenarnya sesuatu mengganjal di batinnya. Ia tahu benar, bertahan hidup di Pulau Weh itu seperti neraka bagi penjelajah baru. Tidak ada makanan dan mereka harus memburu monster-monster yang levelnya terlalu tinggi hanya demi sepotong daging kodok. Menyintas di sana hampir mustahil dilakukan sendirian.   ***   Keributan juga terjadi di atas galiung Beringin Kuning. Saleh dan Murdani memperhatikan seorang pria yang naik rakit sendirian. “Sulit dipercaya, Jendral!” Murdani mengusap-usap kacamatanya, lalu dipakai lagi. Penglihatannya masih sama. “Rakitnya cuma ditumpangi satu orang? Apa yang lainnya ditinggal? Padahal penjelajah baru harus kerja sama untuk membuat rakit.” Saleh berpikir keras. Ia yakin semua penjelajah baru sudah diangkut bulan lalu. Ia bahkan sudah menunggu di Titik Awal sebelum orang-orang itu tiba. Dan kalaupun benar ada yang ketinggalan, mustahil bisa bertahan hidup sendirian melawan masyarakat kodok bengis penghuni pulau. “Mungkin cuma orang iseng,” ucap Saleh. “Ingin nostalgia berburu kodok.” Ya, satu-satunya penjelasan yang masuk akal adalah orang itu merupakan penjelajah yang sedang bosan memasuki dungeon, lalu jalan-jalan ke Pulau Weh untuk mengetes ilmu. “Ada apa ini, Jendral?” Seorang gadis menghampiri keduanya. “Dik Nabila!” sapa Saleh. Nabila, gadis itu, mengenakan kaus jingga dan celana pendek putih. Sebuah pelindung logam menutupi bahu dan punggung tangan kirinya, sementara pedang besar menggantung di pinggang. “Bukan masalah besar, kita cuma berpapasan dengan seorang nelayan,” jelas Murdani. Nabila melihat ke arah nelayan yang dimaksud. Namun, rakitnya sudah berada terlalu jauh sehingga ia tak bisa mengenali sosok di atasnya. “Pulau Weh terlihat!” seru awak kapal di crow’s nest. “Semua bersiap turun ke perahu!” Nabila menatap bayangan Pulau Weh. Lagi-lagi trauma yang sudah ia lawan selama sebulan ini datang menyerbu. Ia hampir limbung, tapi Saleh menangkap bahunya. “Adik ndak apa-apa?” tanya sang jendral lembut. Gadis itu menarik napas dalam-dalam, lalu mengembalikan pijakannya. “Iya, tidak apa-apa, Jendral.” Ia sudah bertekad untuk menolong para penjelajah baru yang bernasib sama sepertinya. Selain itu ia harus merekrut orang kuat agar bisa menaklukan Dungeon Makassar secepatnya.   ***   Erlangga putus asa. Ia kesal karena orang-orang di atas kapal tidak ada yang berusaha menolongnya. Tak lama kemudian awal kelam berkumpul di langit. Angin dingin bertiup kasar. Gelombang permukaan air meninggi. Pemuda itu cepat-cepat memeluk tiang rakit. Ia mengeratkan geraham. “Rakit ini nggak bakal kebalik, kan?” tanyanya pada diri sendiri. “Anggep aja naik wahana Dufan… Anggep aja naik wahana Dufan… Anggep aja naik wahana Dufan…” Badai pun menghajar. Lautan mengamuk. Guntur meraung-raung. Rakit Erlangga terhempas ke sana kemari. Sebuah ikan besar tiba-tiba melompat ke angkasa, lalu mendarat kasar nyaris menghantam pemuda itu. “AAAAAaaaaaAAAaaaAaaa!!!” . . . Rakit Erlangga menyentuh pesisir. [Selamat, Anda sudah sampai di Zona Aceh dengan selamat.] Sebuah notifikasi muncul, kemudian rakitnya pecah menjadi balok kayu dan tali-temali seperti sedia kala. Selanjutnya material-material itu terdematerialisasi. Erlangga yang sedang tiduran pun tercebur ke dalam air. Ia lekas berenang panik ke tepian. Tubuhnya basah kuyup. Kakinya terasa berat untuk dilangkahkan. Kemudian ia jatuh berlutut di hadapan sebuah prasasti yang menghadap ke laut. [Selamat datang di Zona Aceh] [Tingkatkan level dan taklukan Dungeon Banda Aceh (Note : Bos Dungeon sudah ditaklukan)] [Selamat berjuang] Dari prasasti itu ada jalan setapak yang terbentuk membelah hutan di belakangnya. Erlangga berpikir sejenak. Ia menerka apakah mungkin kapal-kapal galiung tadi akan menjemputnya kemari? Tapi itu adalah pertaruhan. Bagaimana kalau taruhannya meleset? “Baiklah!” Ia meregangkan pinggang. “Biar kulihat dulu seperti apa dungeonnya!” Petualangan barunya akan dimulai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN