Erlangga memutar otak, mencari kebohongan yang masuk akal. “Kok diem?” tagih Wati. Ia memicingkan sebelah matanya. “Gini,” Erlangga menelan ludah. “Bona…” “Aku kenapa Mas?” tanya Bona kaget. “Maksud saya,” pemuda itu bicara sambil berpikir, “Prajurit Tengkorak…” “Prajurit Tengkoraknya kenapa?” Bona makin khawatir karena namanya dibawa-bawa. Erlangga memutar-mutar telunjuk di udara. “Prajurit Tengkorak ada delapan, jadi… kita pakai untuk mancing Mbah sukur!” Setiap pasang mata petinggi Banteng Merah mengamati sambil mencerna maksud pemuda itu. “Jadi gini bapak-bapak, ibu-ibu,” ulang Erlangga. “Kami make Prajurit Tengkoraknya Bang Bona buat mancing Mbah Sukur. Terus Jessica nyerang pakai Tornado Api dari jauh. Saya—saya yang mikirin ide itu. Makanya kelompok ini selalu survive pas a

