Zona Aceh (Part 9)

1195 Kata
Jono menenggak habis sebotol minuman dengan rakus, lalu mendesah lega. “Ahhh…” Ia mengusap sisa cairan di bibirnya. Di samping pria itu, seorang wanita sedang berbaring miring di kasur sambil berselimut. Lehernya yang tak tertutup rambut memperlihatkan sisa keringat. Lalu Jono mengusap bahunya yang lembut. Wanita itu, Ross, spontan bergidik, tapi tak membuat gerakan apapun. Jono menyusuri tiap lekuk tubuh wanita itu menggunakan ujung jarinya, seraya mengagumi keindahan kulit Ross. Pria ia bahagia. Sangat bahagia. Kebahagiaan yang tak pernah ia temukan di dunia nyata. Dulu ia adalah seorang satpam. Dan Ross adalah manager di kantor tempatnya bekerja. Dulu ia cuma bisa berangan-angan tiap kali menghirup aroma parfum wanita itu tiap kali mereka berpapasan. Namun apa daya, ia cuma satpam. Lagipula Ross juga sudah punya anak dan suami. Kemudian penculikan terjadi—sebutan para penjelajah untuk proses pemindahan orang-orang dari dunia nyata ke Dungeon Tutorial. Malam itu Ross pulang dari kantor mengendarai mobil. Jono membukakan portal gerbang. Sekejap kemudian, keduanya berada di ruangan batu bersama sembilan puluh delapan orang lainnya. Awalnya mereka melewati dungeon bersama sebagai orang yang saling mengenal. Tapi trauma atas pembantaian Ghoul begitu dalam melukai Ross. Mendengar kata dungeon saja akan membuat wanita itu berkeringat dingin. Sementara Jono yang selama ini hanya mengerti bekerja memakai otot dapat cepat beradaptasi. Pada saat perekrutan, Jono mengikuti Ross bergabung dengan Partai Kubah Hijau. Tapi karena Ross dianggap tidak berguna, akhirnya ia dibawa ke Desa Pertama. Tentu saja Jono ikut. Ross melihat anak-anak terlantar dan berinisiatif untuk mengurus mereka. Jono yang merasa piawai berburu memilih bergabung dengan Pemuda Nusantara, kelompok relawan yang mengabdikan diri mencari makanan bagi penduduk desa. Namun, kemudian Jono menyadari sebuah ide brilian. Di dunia nyata, uang adalah kekuatan. Orang kaya bebas melakukan yang mereka mau. Di dunia ini, akik adalah kekuatan. Penjelajah berlevel tinggi yang memiliki banyak makanan bebas melakukan yang mereka mau. Dan Jono memiliki kekuatan tersebut. Ia mulai menyebarkan idenya, mencari dukungan dari anggota kelompok yang sepaham, sambil memangkas mereka yang melawan. Hingga akhirnya jadilah Pemuda Nusantara yang sekarang, sebuah kelompok yang dibentuk berdasarkan visi Jono. Ross pun tak bisa berbuat apa-apa ketika ia mengancam takkan memberi makanan untuk anak-anak asuhnya. Pria itu terkekeh. Ia membayangkan bagaimana reaksi suami Ross andai mengetahui keadaan istrinya sekarang. Namun, tiba-tiba wanita di sampingnya mulai terisak. Membuat mood Jono menjadi jelek. “Sudah dua tahun, Mbak Ross masih nggak bisa nerima saya?” Wanita itu cepat-cepat mengusap air matanya, tapi tetap menyembunyikan wajah. “Yah, biarin. Yang penting Mbak Ross tetep nerima daging saya.” Jono terkekeh. “Ngomong-ngomong malam ini jangan ke mana-mana, di sini aja.” “Tapi—Ami nggak ada yang jaga,” ucap Ross sambil berusaha membuat suaranya terdengar normal. “Kan ada Sinta,” kata Jono, “Jaman dulu anak seumur itu juga udah disuruh ngasuh adiknya yang masih bayi.” “Tapi—” “Pokoknya jangan!” hardik Jono. “Soalnya kalau terjadi apa-apa nanti saya gak bisa tanggung jawab.” Ross terenyak. Ia menerka-nerka apa maksud Jono. Padahal biasanya setelah puas ia akan diperbolehkan kembali ke tenda. Entah apa yang sedang direncanakan pria tersebut.   ***   Sekelompok Pemuda Nusantara mengepung satu Kelelawar Goa yang beterbangan ke sana kemari. Tahir dan Sukma mengawasi mereka. “Tangkap aja, jangan dibunuh!” perintah Tahir. Seorang pria melompat ke arah monster tersebut. Ia memeluknya, tapi sang kelelawar balas menggigit lehernya. Ia menjerit. Dua pria lainnya datang, mereka memegangi sayap kanan dan kiri monster itu. Pria ketiga menarik badannya. Mereka berjuang keras menahan amukan sang Kelelawar Goa. “Udah, bangun,” ucap Tahir pada pria yang masih berguling-guling di tanah. “Kamu kan belum mati.” “Iya, Bos…” Pria itu bangun. “Ayo kita bawa,” Tahir memberi instruksi pada tiga orang yang memegangi monster tersebut. “Suk, coba tangkap satu lagi.” “Satu lagi?” Sukma melihat orang yang tersisa. “Kurang orangnya, Pak.” “Kurang gimana?” “Tinggal dua orang yang masih nganggur. Buat megangin kelelawar kan harus bertiga.” “Sama kamu kan jadi bertiga, Suk!” “Eh…” Memang benar. Tapi sejujurnya Sukma agak risih memegangi makhluk-makhluk itu. Lagipula ia sendiri adalah petinggi Pemuda Nusantara, sama seperti Tahir. Dan Tahir juga tidak ikut memegangi kelelawar. “Dah, jangan buang-buang waktu. Kita pergi duluan. Ayo!” Tahir memimpin orang-orangnya keluar dari dungeon. “Hati-hati megangnya, jangan sampai lepas!” Sukma mendengus kesal. “Nyuruh-nyuruh melulu,” gumamnya bersungut-sungut. Akhirnya ia berdecak kesal pada anak buahnya, “Ayo cari kelelawar lagi.” Tapi sepanjang jalan pikirannya terung melayang. Selama ini ia pikir dirinya setara dengan Tahir. Kalau pria tua itu adalah tangan kanan Jono, maka ia tangan kirinya. Tapi rupanya ia tak punya cukup nyali untuk melawan perintah Tahir. Apalagi sejak ia mengetahui sisi sadistik orang itu. Ia tidak mengerti kenapa ada orang yang hobi menyiksa orang lain untuk kesenangan. “Bos, itu ada kelelawar!” seru seorang anak buahnya. “Ya jangan teriak doang, dong! Tangkep!” Sukma menumpahkan kekesalannya,. Kedua anak buahnya langsung berlari, sementara pria itu mengikuti dengan malas-malasan. Si Kelelawar Goa berbelok di tikungan. Kedua anak buahnya mengejar. Lalu terdengar teriakan, “Aaaaaaaaaa!!!” Sukma kaget bukan main. “Kenapa itu? Ada apa?!” serunya. Mereka masih di lantai satu dungeon, sehingga harusnya tak perlu teriak histeris begitu. Toh tidak ada Manananggal di sini. Pria itu mulai berlari kecil, lalu berbelok di tikungan. Seketika kedua matanya membelalak. Jantungnya berdegup kencang. Ia yakin Jono memenggal kepala pemuda itu seminggu yang lalu. Lantas, kenapa saat ini ia masih hidup dan bernapas? Sementara di bawah kaki pemuda itu, dua anak buahnya tergeletak tak sadarkan diri. Hantu? Monster yang menyerupai manusia? Sukma menebak-nebak. “Apa lagi yang kalian rencanakan?” tanya sang pemuda. “Kenapa nangkepin monster hidup-hidup?” “Itu—anu—” Sukma tersentak. Rasa takut hampir membuat lidahnya keceplosan. Ia tak punya kewajiban untuk membeberkan rencana Jono pada orang asing. Ia buru-buru memasang kuda-kuda bertarung. Ia mengangkat kedua tinjunya yang dilengkapi knuckle. “Kau mau bilang sekarang…” Sang pemuda menyiapkan kedua cakarnya. “Atau nunggu Hit Point mu di bawah lima persen dulu?” Lalu ia melesat bagai kilat ke arah Sukma.   ***   Rama berguling-guling di kasurnya. Belakangan ia kesulitan tidur. Kadang ia merasa sebal kenapa diberikan tenda terpisah. Padahal Ross, Sinta, Syafa, dan Ami tidur satu tenda. Di luar begitu senyap. Biasanya selepas maghrib memang penduduk sudah masuk ke tenda masing-masing. Hal ini membuatnya rindu dengan rumah. Kalau di perumahan, anak-anak masih main di gang sampai ibu mereka marah-marah menyuruh masuk. Bapak-bapak juga nongkrong di pos ronda, membuat lingkungan aman. Namun, samar-samar terdengar suara langkah kaki dari luar. Selain itu juga ada semacam kegaduhan. Orang-orang Pemuda Nusantara seperti sedang meributkan sesuatu, berteriak dan mengumpat. Kemudian di antara suara yang tumpang tindih itu, terdengar lengkingan nyaring yang seketika membuat bulu romanya berdiri. Suara yang cuma pernah ia dengar di dalam dungeon. “Kata Bang Jono anak ini dikasih duluan!” Suara itu makin dekat. Mendadak pintu tendanya terbuka. Rama spontan menoleh. Beberapa orang berdiri di sana, memegangi Kelelawar Goa yang mengamuk. Lalu mereka melepas monster tersebut, sehingga terbang kacau ke sana-kemari. Orang-orang itu segera pergi. Rama menjadi satu-satunya manusia yang terjebak bersama Kelelawar Goa. Monster itu pun menyerangnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN