“Huwaaa!”
Kelelawar Goa menerkam Rama. Anak itu bertahan sebisanya. Mereka bergulat hingga terguling-guling. Gigi-gigi tajam sang monster terus mengarah ke lehernya, tapi ia berjuang keras memegangi rahangnya. Sayangnya ia tak cukup kuat hingga akhirnya tergigit.
“Aaaaah—tolong!”
Tentu saja tak ada yang datang. Justru para Pemuda Nusantara memang ingin membunuhnya, sementara penduduk desa juga tak berdaya.
Ia menjejak perut sang Kelelawar Goa, kemudian mendorongnya kuat-kuat. Berhasil. Monster itu terpental ke belakang.
Namun, makhluk itu segera mengepakkan sayap untuk menyerang lagi. Kali ini Rama menghindari terkamannya. Alhasil Kelelawar Goa menghantam dinding tenda. Kainnya tidak robek, tapi seluruh tenda terdorong hingga pasaknya lepas dari tanah. Monster itu pun tergulung oleh kain tenda. Saat meronta untuk melepaskan diri, ia malah makin terlilit gulungan kain.
Rama selamat.
Sebuah keberuntungan yang tak terduga.
Namun, suara teriakan segera terdengar dari tenda-tenda lain. Seorang wanita tua berlari keluar dari tenda, lalu diterkam Kelelawar Goa dari belakang. Anak itu terperangah. Rupanya ia bukan satu-satunya yang diincar Bang Jono. b******n itu ingin membantai penduduk desa.
Rama lekas berlari menuju tenda Sinta. Ia takut terjadi sesuatu pada adik-adiknya. Hanya saja, tiba-tiba sesuatu menghantam pergelangan kakinya sehingga ia jatuh terjerembab.
“Kamu ini kayak kecoa ya, masih hidup aja…”
Ia menoleh.
Tahir berdiri di sampingnya dengan tombak di tangan. Barusan ialah yang menjegal kaki Rama.
***
“Ada apa di luar? Kenapa orang teriak-teriak?” Ross mulai curiga.
“Nggak tahu,” jawab Jono. “Tapi pasti lagi diberesin sama Tahir. Tenang aja.”
“Saya harus ngecek anak-anak!” Ross sudah mengenakan baju dan hendak keluar. Namun, tangan kokoh Jono menghadangnya.
“Jangan bodoh. Gimana kalau di luar lagi ada serangan monster?”
Ross terbeliak. Selama dua tahun ia tinggal di desa ini, tak pernah ada serangan monster di malam hari. Sejak awal pemukiman memang dibangun di tempat yang aman, sehingga walau tak dipagari pun tak ada makhluk yang mendekat.
Lalu kenapa sekarang mendadak ada serangan?
Dan seolah Jono sudah mengetahuinya bahkan sebelum hal itu terjadi?
Sebuah kekhawatiran muncul di benak wanita itu. Sayangnya ia sendiri adalah tawanan yang tak bisa berbuat apa-apa selain berdoa untuk keselamatan anak-anaknya.
***
“Kenapa, Pak?!” teriak Rama frustasi. “Kenapa ngelakuin ini?!”
“Ngelakuin apa?” Tahir mengendikkan bahu. “Setahu saya gerombolan Kelelawar Goa tiba-tiba datang nyerang desa. Pemuda Nusantara berusaha keras menghalau, tapi sialnya tak bisa menghindari korban jiwa…”
Rama merinding mendengarnya. Orang-orang itu membuat skenario buatan atas pembunuhan yang mereka lakukan. Seperti saat Jono melenyapkan Erlangga.
“Dan di antara korban-korban itu…” Tahir memutar tombaknya, lalu diacungkan tepat di depan hidung Rama. “Adalah seorang anak laki-laki berisik bernama Rama.”
Setitik air mata mengalir di pipi Rama. Pada akhirnya ia akan mati seperti ini. Bukan oleh monster, tapi oleh sesama manusia yang terjebak di Nusantara. Perjuangannya untuk bertahan selama ini hanyalah sia-sia.
Tapi ia tak memejamkan mata. Ia ingin menatap dalam-dalam orang yang mencabut nyawanya. Dan mengutuknya.
Namun, Tahir malah menyeringai bahagia. Seolah sudah lama ia menantikan momen ini.
Pria tua itu membuat ancang-ancang. Kemudian ia menghujam senjatanya sekuat mungkin.
[Parry]
Sebuah notifikasi muncul. Barusan sesuatu memantulkan ujung tombaknya di saat terakhir, sehingga memantik efek [Parry]. Tubuhnya menjadi hilang keseimbangan. Lalu sesosok bayangan hitam bertopi kodok berkelebat di hadapannya.
“[Dual Scratch]!”
Cakar ganda menghantam d**a Tahir. Ia terdorong mundur beberapa langkah.
“Apa-apaan—" Pria tua itu terbelalak, seperti sedang melihat hantu.
Rama pun sama kagetnya. Ia tidak menyangka Erlangga masih hidup.
“Saya kecewa,” ucap pemuda tersebut. “Peradaban pertama yang saya temui sejak Pulau Weh, malah peradaban busuk yang kalian jalankan.”
“Peradaban busuk?” Tahir tersenyum mengejek. “Terus? Kamu mau apa?”
Erlangga memicingkan kedua matanya.
“Selama satu minggu saya berburu sampai lantai tiga dungeon, saya terus mikir. Saya bakal ngapain kalau ketemu kalian lagi? Apa saya siap ngotorin tangan saya? Tapi kalau dipikir masak-masak, dunia nyata juga selalu diwarnai darah kotor. Bedanya, ada aparat yang bersedia mengotori tangan mereka supaya tangan penduduk sipil tetap bersih. Selain itu juga ada penjara untuk mengurung manusia-manusia j*****m supaya nggak bisa mengulang kejahatannya. Tapi di dunia ini, nggak ada hal-hal yang kayak gitu. Jadi semua harus saya beresin sendiri.”
“Wow, wow, boleh juga,” ucap Tahir. “Tapi emangnya kamu sanggup?”
Erlangga melesat tanpa aba-aba. Ia melancarkan serangan-serangan yang tajam.
Tahir refleks menangkis semua itu dengan tombaknya. Mungkin pemuda itu berburu satu minggu di dalam dungeon, tapi ia sendiri sudah menghabiskan bertahun-tahun melawan Kelelawar Goa dan Manananggal, hingga pada satu titik di mana levelnya tak mau naik lagi. Ia tak akan kalah dari bocah kemarin sore.
Namun, semakin banyak pertukaran serangan yang terjadi, pria tua itu merasakan keanehan. Tiap menangkis dua atau tiga serangan, pasti ada satu serangan yang masuk melukainya. Dan yang lebih mengejutkan adalah kenyataan dirinya tak memiliki kesempatan untuk menyerang balik satu kalipun. Kesimpulannya, ia terdesak.
“Gimana bisa?!”
“Nggak usah kaget,” ucap Erlangga. “Dari awal juga orang kayak bapak ini pasti nggak familiar dengan sistem game RPG. Makanya bapak nggak bisa memaksimalkan kekuatan.”
Pemuda itu berbicara dengan napas teratur meski kedua tangannya sibuk melancarkan serangan.
“Sial—Jon!” Tahir mencoba meminta bantuan. “Jono! Jon— Aaaaah!!!”
Tangan kanan pria tua itu lepas karena cakar Erlangga. Wajahnya pucat pasi sementara keringat mengucur deras.
“Aku juga belajar hal baru,” lanjut Erlangga dingin. “Penjelajah yang Hit Pointnya masih di atas sepuluh persen, mau diserang seperti apapun tubuhnya nggak akan ninggalin luka fisik. Tapi ketika Hit Pointnya dibawah sepuluh persen, kalau kepalanya dipenggal, kepalanya bakal copot. Dan karena tangan Pak Tua putus, artinya Hit Point Pak Tua sudah di bawah sepuluh persen, ya?”
“Hua! Huaaaaa!!!”
Tahir kabur dari pertempuran. Ia membuang tombaknya untuk bisa fokus berlari. Tapi [Movement speed]nya tak sebanding dengan Erlangga. Sang pemuda dapat dengan mudah menyusulnya, lalu menebasnya mantap.
Cahaya kehidupan pun menghilang dari iris mata pria tua tersebut. Tubuhnya ambruk seiringin dengan Hit Pointnya yang menyentuh nol.
Erlangga menghela napas berat lalu ikut ambruk di atas kedua lututnya. Ia menatap kedua tangannya yang berlumuran darah. Saat Hit Point penjelajah di bawah sepuluh persen, tubuh mereka akan mulai terluka dan berdarah seperti di dunia nyata.
Tangan pemuda itu gemetar. Lehernya anyep. Ia merasakan sesuatu yang putus di dalam jiwanya, dan itu tak akan pernah bisa diperbaiki. Sebuah beban yang akan terus ia bawa sampai kapanpun.
Sekarang ia adalah seorang pembunuh.