“Udah sepi,” ucap Jono setelah diam menyimak beberapa saat. Tak ada lagi teriakan yang terdengar. Ia memerintahkan Tahir untuk menghabisi paling tidak setengah penduduk desa. “Saya ngecek keadaan di luar dulu ya. Mbak Ross tunggu di sini aja.”
Wanita itu sangat murung. Dalam pikirannya terbayang berbagai imajinasi yang sangat mengerikan.
Jono membuka tirai tendanya.
Lalu ia mematung.
Matanya terbeliak sementara rahangnya menganga.
Tahir dan bawahan-bawahannya tergeletak di tanah lapang. Satu-satunya yang berdiri tegak ialah pemuda yang harusnya sudah ia penggal seminggu lalu. Tak hanya itu, penduduk desa juga berkumpul di sekitarnya. Semua menatap dengan ekspresi marah, suatu hal yang belum pernah berani mereka tunjukan selama ini.
“Apa-apaan ini kumpul-kumpul?”
“Kau—kau mau membunuh kami!” seru seorang pria yang tak memiliki kaki. Yang lain ikut berseru, mengumpat Jono.
“Orang-orang pengecut,” dengus pria tersebut. “Beraninya sambil ngumpet di belakang orang lain.”
Ia berjalan mendekati Erlangga, pemuda yang menjadi perisai orang-orang. Ia melirik jasad-jasad bawahannya, lalu menelan ludah.
“Kamu… yang buat ini?”
“Iya,” jawab Erlangga singkat.
Tanpa perlu banyak cakap lagi, Jono mengeluarkan pedangnya.
“[Earth Splatter]!”
Ia mengayunkan senjata dalam genggamannya dengan kekuatan penuh. Erlangga menahannya, dan bumi terbelah. Tapi efek yang dirasakan sang pemuda kali ini tak separah sebelumnya. Ia masih berdiri tegak tanpa kehilangan ketenangan.
“[Dual Scrath]!”
Ia melancarkan balasan. Setelah menggunakan skill, ia melanjutkan dengan serangan beruntun.
Dari pengalaman sebelumnya, Erlangga sadar bahwa Earth Splatter hanya memberi efek perlambatan pada kecepatan berjalan—Movement Speed—, bukannya kecepatan serangan—Attack Speed. Dalam sistem game RPG, itu adalah dua hal yang berbeda. Apalagi jika meninjau konsep skill tersebut yang mana pengguna melakukan lompatan jauh ke arah target, sebenarnya itu adalah skill yang lebih cocok digunakan mengejar lawan yang melarikan diri—bukan dalam duel satu lawan satu seperti ini.
Jono menangkis cakar Erlangga, lalu menendang perut pemuda itu. Tapi kerusakan dari tendangan tak sebesar pedang, kecuali ia adalah tipe petarung yang mengandalkan kaki. Di dunia ini, teknik bertarung juga menentukan senjata mana yang memberi kerusakan paling besar. Erlangga memiliki skill [Claw Mastery] yang meningkatkan serangan cakar, sementara Jono mungkin menguasai [Sword Mastery] dan Tahir [Spear Mastery].
[Miss]
Erlangga berhasil merunduk tepat waktu sebelum pedang Jono mengenainya, lalu ia mencakar perut pria tersebut.
“Uargh!!!”
Jono kesulitan. Erlangga memiliki serangan yang cepat dan kemampun menghindar yang tinggi. Di sisi lain ia yang cuma mengandalkan pertahanan akhirnya malah menjadi samsak dari cakaran-cakaran pemuda itu.
Maka ia memutuskan untuk menggunakan skill rahasianya.
“[Sword Saint]!”
Cincin akiknya menyala terang. Kemudian sekujur tubuhnya dilingkupi cahaya hijau. Saat menyerang, tebasan-tebasannya memiliki kecepatan lebih tinggi dari sebelumnya. Lebih tepatnya, skill itu meningkatkan kecepatan serangannya hingga dua kali lipat.
“Makan nih!”
Jono menyerang membabi buta. Kali ini Erlangga yang kesulitan mengikuti pergerakan pria itu.
Namun, sang pemuda terpikir satu cara simpel untuk menghadapinya. Ia melompat mundur. Saat Jono mengejar, ia berlari menjauhi Jono. Mereka seperti bermain kejar-kejaran dalam jalur melingkar.
“Woi! Tunggu! Diam di tempat!” teriak Jono frustasi.
Erlangga tak menanggapi. Baru setelah cahaya hijau di tubuh Jono pudar, Erlangga berhenti.
“Hahaha, Bang Jono ini tidak pernah main game, ya?” tawa Erlangga mengejek.
Pria itu menjawab dengan decakan kesal.
“Semua skill tipe buff biasanya punya durasi. Jadi kalau Bang Jono pakai skill aneh-aneh, saya tinggal kabur sampai durasinya habis, kan? Lalu karena ada waktu cooldown, Bang Jono nggak bisa langsung pakai skill itu lagi.”
“Nggak usah sok ngajarin!” umpat Jono sembari mengatur napas.
Tapi mulut Erlangga gatal.
“Skill Earth Splatter dan Sword Saint itu harusnya dipakai bareng,” jelasnya. “Pertama aktifin Sword Saint, abis itu kejar lawan pakai Earth Splatter. Efek slow nya bakal bikin musuh gak bisa kabur ke mana-mana kayak saya barusan. Bang Jono malah pakai Earth Splatternya duluan, jadinya pas ngejar saya pasti skillnya lagi cooldown.”
Jono benar-benar murka, diajari oleh bocah ingusan seperti itu. Tapi ia berjuang keras untuk mengendalikan diri.
“Oke, oke, makasih ilmunya. Akan saya praktekan lain kali—”
“Emangnya siapa bilang Bang Jono masih punya kesempatan untuk lain kali?” Tiba-tiba suara Erlangga menjadi dalam dan tajam. Ia menjejak tanah, lalu bertolak. Ia memberi hujan serangan yang bertubi-tubi.
Jono berjuang sebisanya untuk menangkis, tapi kalah cepat. Hit Pointnya terus berkurang secara deras.
Penduduk yang menonton mulai bersorak-sorai, menanti tumbangnya sang rezim.
Ia tak habis pikir.
Seminggu yang lalu Erlangga masih mudah untuk dikalahkan. Bahkan kalau pemuda itu menghabiskan satu minggu untuk berburu dalam Dungeon Banda Aceh, tak mungkin mendadak bisa menandingi Jono yang telah berburu bertahun-tahun.
Yang tak ia tangkap adalah konsep [Level Cap], yaknik level maksimal yang bisa dicapai oleh pemain. Dalam game bertipe RPG biasanya ada batasan level yang bisa dicapai pemain saat berburu di suatu dungeon. Karena semakin tinggi levelnya, pemain membutuhkan exp yang lebih besar untuk naik ke level berikutnya. Pada saat yang sama, exp yang diberikan oleh monster yang lebih lemah juga akan dikenakan potongan. Sehingga umumnya bila Level Cap suatu dungeon sudah tercapai, pemain akan pindah berburu ke dungeon berikutnya yang lebih kuat.
Jadi saat ini level antara Jono dan Erlangga bisa dikatakan setara. Tetapi ada dua hal yang membuat Erlangga lebih unggul.
Pertama, ia mendapat banyak bonus poin status di Pulau Weh. Sehingga meski level keduanya sama, secara umum status yang dimiliki Erlangga lebih tinggi.
Kedua, karena Jono tidak pernah main game RPG. Ia tidak paham cara menggunakan skill secara maksimal, juga mengalokasikan poin status secara sembarangan. Dalam membuat karakter yang kuat, pemain RPG biasanya fokus pada satu hal. Karakter tipe penyerang meningkatkan STR, AGI, DEX, pemain tipe bertahan meningkatkan STR, VIT, pemain tipe sihir meningkatkan INT, dan sebagainya. Erlangga yang memahami itu meningkatkan statusnya secara tepat, di sisi lain Jono yang membagi acak poin ke semua parameter tak mencapai potensi maksimal. Hal sama juga yang terjadi pada Tahir, Sukma, dan anggota Pemuda Nusantara lainnya. Meski mereka semua memiliki level yang sama, tapi pembagian parameter status yang salah menciptakan perbedaan kekuatan yang jauh di antara mereka.
Darah Jono berceceran.
“Tunggu! Tunggu!” serunya seraya memegagi pinggangnya yang terluka. Matanya berkedut kala melihat Hit Pointnya yang tinggal sembilan persen.
Erlangga tak mau menunggu.
“Dengerin! Kalau saya mati, emangnya kamu mau nanggung beban ngasih makan orang-orang ini?!”
Erlangga pun terhenti, begitu juga dengan gemuruh sorakan penduduk. Ia memperhatikan orang-orang yang sejak tadi menyaksikan pertarungan ini. Mereka sendiri baru tersadar bahwa mungkin kekalahan Jono malah bisa jadi awal bencana yang baru.
“Benar…” Jono menyunggingkan senyum. “Apa kamu mau diam di desa ini, ngasih makan orang-orang nggak guna setiap hari, entah sampai kapan?”