Zona Aceh (Part 12)

1046 Kata
Erlangga melihat penduduk desa yang berkerumun menyaksikan pertarungannya. Sesuai perkataan Jono, orang-orang itu kini tampak menggantungkan harapan padanya. Ia dianggap sebagai sosok yang akan membebaskan mereka dari genggaman Pemuda Nusantara. Sekaligus sosok yang akan menggantikan kelompok itu mencarikan makanan. “Gimana? Bukannya kamu orang sibuk?” Jono menyeringai meski darah segar mewarnai giginya merah. “Kamu masih ada urusan penting, kan?” Erlangga harus mencari Nabila. “Ngalahin saya emang gampang,” lanjut Jono, “Tapi itu bukan solusi. Lagian dari awal juga kalau mereka bisa nyari makan sendiri, saya nggak perlu ada di sini.” Erlangga mengerutkan keningnya. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu dihembuskan. Kemudian ia terkekeh. “Bukan urusan saya, dong.” Jono melongo mendengar jawaban tersebut, tapi terus tertawa terbahak-bahak. Pria itu sangat puas. Ross yang akhirnya memutuskan keluar dari tenda langsung tercekat menyaksikan jasad bergelimpangan. Ia hampir pingsan, namun berusaha keras untuk tetap berdiri. “Tuh! Dengerin!” seru Jono pada penduduk desa. “Anak ini bodo amat sama kalian, tapi sok pahlawan! Dia ngebantai semua bawahan saya, jadi sekarang siapa yang mau nyari makanan buat kalian, hah?!” Sorot mata penduduk yang sebelumnya diwarnai harapan kini kembali jatuh dalam keputusasaan. “Bang Jono salah,” tukas Erlangga. “Salahnya di mana?” Pria itu sudah berhenti tertawa. “Siapa bilang mereka nggak bisa nyari makan sendiri?” “Siapa bilang? Ya nggak usah dibilang juga udah kelihatan, kok. Orang cacat, kakek-kakek, nenek-nenek, bocah, emangnya mereka bisa apa?” “Semuanya, mohon perhatian!” Kali ini giliran Erlangga yang berseru pada penduduk desa. “Di dunia nyata, kerjaan saya tiap hari cuma duduk di depan komputer. Jangankan olahraga, naik tangga aja udah ngos-ngosan. Tapi kalian lihat, kan, barusan saya berkelahinya lebih jago dari atlet pencak silat? Itu karena sistem Nusantara! “Dunia ini beda dari dunia nyata! Selama kalian naikin level, terus naikin parameter status, kekuatan dan kecepatan kalian bisa meningkat! Gak peduli gimanapun kondisi kalian! Dan itu juga sebabnya Jono ngelarang Rama dan Sinta masuk dungeon. Mereka ngelarang bukan demi keselamatan anak-anak itu, tapi karena takut anak-anak itu naik level!” Rama sendiri bukannya sama sekali tak menyadari hal tersebut. Ia cuma masih meragukan kemampuannya dalam berburu. Begitu pun penduduk desa yang lain, sejak awal mereka meyakini bahwa dirinya tak mampu. Tidak ada yang terpikir untuk iseng mencoba mempertaruhkan nyawa di dungeon. “Oh—hohoho, ngomong apa sih… Masa iya, saya, Jono, takut sama anak-anak? Saya ngelarang mereka murni karen—” “Kak Angga tenang aja, saya yang akan tanggung jawab nyari makanan buat penduduk desa!” seru Rama tiba-tiba. Ia menyuarakan dirinya dengan sangat gagah. Tatapannya mantap, tak ada keraguan di sana. Dan ia mengucapkan itu bukan karena kenaifan, tapi justru karena sudah mengalami seperti apa pertarungan itu. “Saya bakal berburu, naik level, terus nyari makan buat adik-adik, bunda, dan penduduk desa!” Ross tersentuh. Anak yang selama ini ia rawat sekarang sudah tumbuh menjadi laki-laki. “Saya juga sama!” Sinta angkat bicara. “Saya mau berburu bareng Kak Rama!” “Pfft—hahahaha!” Jono terbahak dibuat-buat. “Ngomong apa bocah-bocah ini?! Kalian aja masih ngompol pas berhadapan sama monster!” “Kalau gitu Bang Jono mau taruhan?” timpal Erlangga. “Biarin mereka masuk dungeon, terus seminggu lagi Bang Jono duel sama mereka?” Wajah pria itu langsung mematung. Seminggu di dungeon bisa membuat level Erlangga naik setingkat ini. Dan bukan tak mungkin dalam seminggu Rama dan Sinta juga bisa menyamainya—apalagi kalau mereka berburu di bawah bimbingan Erlangga. “Saya—saya juga mau berburu!” ucap seorang pria yang tak memiliki kedua kaki. “Saya emang nggak bisa jalan, tapi mana bisa saya diam aja ngelihat anak kecil yang susah payah cari makan? Lagian… mungkin akik ini juga punya kekuatan tersembunyi.” “Saya juga!” sahut yang lainnya. Bahkan sang kakek yang berbicara dalam bahasa daerah pun sepertinya mengikuti arah pembicaraan tersebut dan ikut mengatakan sesuatu. Mereka satu suara. Akhirnya penduduk desa memutuskan untuk menentukan nasibnya sendiri, sehingga tak perlu bergantung serta dipermainkan pihak lain. Jono semakin terdesak. Ia kehabisan kartu untuk dimainkan. Kalau sudah tak ada yang membutuhkannya, maka tak ada alasan bagi siapapun untuk membiarkannya hidup. Mimpi indahnya, kerajaan yang ia bangun di dunia ini, runtuh dalam satu malam. Oleh seorang pemuda yang entah bagaimana tak mati meski sudah dibunuh. Gerahamnya bergemeletuk. Otaknya berputar. Kalau ia bisa menyelamatkan diri, mungkin masih ada kesempatan terbuka baginya di tempat lain. Maka pria itu mundur beberapa langkah, lalu tiba-tiba berbalik. Ia berlari ke arah Ross yang berdiri di depan tenda untuk dijadikan sandera. Erlangga tak memperkirakan hal tersebut. Meski ingin mengejar, tapi ia tak punya skill seperti— “[Earth Splatter]!” Rama menerjang bagai kilat. Ia menghantam Jono secara vertikal. Meski kerusakannya tidak seberapa karena skill miliknya masih level 1, tapi berhasil membuat pergerakan kaki targetnya melambat. “[Fire Ball]!” Sebuah bola api menyusul menghantam Jono. Akurasinya tepat sasaran. Hit Point pria itu yang sudah di bawah lima persen membuat panas kobaran apinya lebih menyakitkan. Sekujur kulit Jono terbakar. Ia menjerit. Kemudian Erlangga berhasil menyusul di sampingnya. “Lihat sendiri, kan, apa yang anak-anak itu bisa lakuin?” Sekarang Jono hanya bisa pasrah. Erlangga menyiapkan cakarnya. Namun, sebuah pergulatan moral tiba-tiba terjadi dalam batinnya. Tapi biar bagaimana pun tangannya sudah terlanjur basah. Erlangga membulatkan tekad, lalu menghujam punggung Jono hingga menembus d**a. Darah segar muncrat dari tenggorokan pria itu. “Kamu… pembunuh…” gumam Jono di ambang napasnya. “Iya, tahu,” jawab Erlangga. “Dan menurut saya emang kematian adalah hukuman paling pas buat sampah masyarakat sepertimu. Supaya nanti nggak ada lagi orang yang dibuat susah olehmu.” Pemuda itu mencabut tangannya. Hit Point Jono pun habis. Tubuhnya langsung ambruk. Erlangga terpaku menatap jasad tersebut. Meski tadi ia berusaha bicara setenang mungkin, nyatanya jiwanya tetap terguncang. Kalau dosa itu ada, maka rasanya dosa itu sudah menempel lengket di bahunya, dan tak akan bisa dilepas lagi hingga akhir hayatnya kelak. Dunia ini sudah mengubah manusia-manusia di dalamnya. Ross segera berlari memeluk anak-anaknya. Malam itu adalah pengalaman yang sangat mengerikan bagi semua. Kemudian mentari terbit, menandakan datangnya hari pertama tanpa Jono dan Pemuda Nusantara di Desa Pertama. Mulai sekarang tiap penduduk akan berjuang bahu-membahu membangun komunitas sesungguhnya, bukan sekedar menjadi ternak yang diberi makan tiap hari sambil menunggu disembelih.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN