Bab 10 - Ini kertas apa!

1346 Kata
"Lama banget" sahut Raka Aku pun membukakan pintu agar Renata bisa keluar. "Elu jangan masuk kampret" Aku pun menghalangi Raka masuk ke kontrakan dengan tubuhku. "Ihh gitu, cewek boleh masuk, gue malah ditahan" gerutunya sambil menyelonong masuk. "Ka ada yang mau gue omongin ama lu" "Siap boss, ada apa ?" "Udah deh ga usah bass boss bass booosssss" "APA!" "Sok sinetron banget lu Ka" Ia pun hanya tertawa mendengarkan ejekanku. "Lu mau pindah, yaudah" Ia pun mengambil ponsel dari dalam sakunya. "Pak Andi, tolong ya, nanti aku kirim alamatnya" sahut Raka. Kami pun keluar keluar mencari peralatan rumah tangga di AKIA. "Silahkan pak, mau pesan yang mana ?" tanya pegawainya sembari mengamati seluruh tubuhku dari atas hingga bawah. "Mbak, sofa itu harganya berapa ?" Aku pun langsung mencoba duduk di sofa yang sedari tadi ku elus-elus "Maaf pak, yang ini aja gimana ? Ini lebih murah" "Emang ini kenapa mbak ?" "Yang itu mahal pak, harganya 13 juta, kalau seandainya bapak hanya bertanya kepada saya, lebih baik bapak dengan pegawai yang lain saja!" lanjutnya lagi. Aku baru sadar jika sedari tadi aku hanya memakai celana pendek berkaos oblong dan memakai sandal jepit. Dia pun pergi setelah aku meminta maaf karena telah menduduki sofa nya. "Selamat siang kak, maaf ada yang bisa saya bantu ?" tanya seorang pegawai lain yang datang padaku. "Ini mbak, emang saya ga boleh ya duduk di sofa ini ?" "Boleh kok pak" ia pun melempar senyum padaku Ku lihat seluruh tubuhnya, sepertinya ia baru bekerja disini, karena ia belum berpakaian formal layaknya pegawai yang lain. "Mbak namanya siapa ya ? Kok ga ada name tag nya ?" tanyaku sambil melihat-lihat apakah ada keperluan yang lain yang harus ku beli. Aku hanya tidak ingin Lika merasa tidak betah dirumah yang akan kami tempati berdua. "Iya pak, saya baru disini, maaf kalau pelayanan saya kurang menarik" "Gue sih lebih dilayanin mbak dari pada sama mbak yang tadi" sahut Raka memotong obrolan kami. Ia pun hanya tersenyum menahan tawa mendengar guyonan Raka. "Oh iya mbak namanya siapa ya, aku Raka" Mbak nya pun hanya tersenyum sambil menjawab salam tangan dari Raka "Namaku Indri" "Heiiii" Aku memutuskan salam tangan antara Raka dan Indri "Ganggu aje lu" Raka pun kini menggerutu dan terlihat sebal, tapi berbeda dengan Indri yang sedari tadi tetap melempar senyum kepada kami berdua. Aku pun bersama Raka dan Indri melanjutkan perjalanan mengelilingi untuk mencari barang yang lain. "Televisi 32 inch ini harganya berapa mbak" "Yang itu 3 juta rupiah pak" sahut indri, kemudian ia menjelaskan secara detail tentang televisi yang barusan ku tanya. "Yaudah mbak, saya ambil yang itu" "Baik pak, televisi berukuran 32 inch ya pak" Lalu ia menunjuk televisinya dan mencatat pesananku. "Bukan mbak, yang sebelahnya" Ia pun terlihat sedikit terkejut karena yang aku tunjuk adalah smartv ukuran 70 inch. "Tapi ini harganya beda pak, yang ini 55 juta" sahutnya lagi "Yaudah gapapa mbak" Raka pun hanya tersenyum cengengesan ke arahku. Sudah hampir 2 jam kami berkeliling, Indri pun terlihat sedikit capek dan agak pucat. Indri pun pergi ke kasir bersama kami dan menghitung seluruh total belanjaan ku. Indri yang sedari tadi berbicara dengan Raka sedikit kaget karena mendengar total uang yang harus ku bayar. "Total belanjanya menjadi 860 juta rupiah pak dan itu sudah dapat diskon 1.83% dari total pembelanjaan bapak" sambutnya mbak kasir yang sedikit melirik ke arahku. Aku pun mengeluarkan kartu hitam dan memberikannya kepada mbak kasir itu. "Selamat sore pak, mungkin ada lagi yang bisa saya bantu ?" Entah dari mana pegawai yang pertama kali melayani kami pun menawarkan beberapa furniture lagi "Maaf mbak, kita ga butuh dilayanin pegawai sombong kaya mbak!" cetus Raka membuatku tertawa dan kulihat Indri pun hanya tersenyum kepada kami. Setelah puas berbelanja, aku dan Raka menjemput Karin apartement nya. Karin adalah orang yang membayar dan memenuhi semua kebutuhanku, dia juga adalah sahabat baikku dan Raka. Hampir selama kami di Jogja, ia lebih memilih menyendiri di apartement nya. "Maaf ya Xa, Ka, agak berantakan" sahutnya. Setelah ia mempersilahkan kami berdua masuk ke dalam tempat pribadinya, ia pun menengok ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada yang mengikutiku dan Raka. "Pak Rexa, ini berkasnya" sahutnya lagi Aku pun hanya membolak-balikkan kertasnya tanpa membaca dahulu. "Pak!" "Ssssssstttttttt!" *Sing "Cause if tou think i'm such a happy person no you are wrong ... " Itu adalah nada dering yang ku aplikasikan saat Lika memanggilku. Aku sengaja melakukannya agar aku tahu kalau itu adalah panggilan telepon dari Lika. Lika Pov "Hmm makasih ya sayang udah bantuin aku ngeberesin peralatanku" Nana pun tersenyum padaku, kemudia ia seketika memelukku sembari meneteskan air matanya. "Aku sedih kamu pindah Lika, kalo aku kangen kamu gimana nanti" "Kamu kan bisa main sayang" sahutku. Aku menenangkan Nana agar ia tidak usah menghiraukan kepergianku. Dia sedikit mulai semangat lagi saat aku mengajakanya membeli beberapa furniture untuk keperluanku dengan Rexa. Aku hanya sedikit khawatir bagaimana nanti jika nanti sampai sana aku dan Rexa belum mempunyai barang keperluan kami sehari-hari. Nana pun langsung sedikit berlari untuk bersiap-siap ber belanja denganku. "Kamu yakin Lika ?" Ia pun memandang aneh pada diriku. "Emang kenapa ?" "Pakaian kamu lho, tumben kamu ga pake pakaian yang kaya biasanya, biasanya kan kamu orangnya bersihan, udah gitu fashionable lagi" Aku pun sedikit tertawa yang sedari tadi mendengar perkataannya. Ya, aku memakai pakaian yang serba tertutup, aku hanya ingin menjaga hati Rexa, aku tidak mau laki-laki lain melihatku seperti dulu karena semenjak beberapa hari kemarin di tempat Rexa aku berjanji pada diriku sendiri kalau aku hanya akan terlihat cantik dan sexy di depan Rexa. Itu semua kulakukan untuknya karena aku benar-benar mencintainya. Setiba nya kami di tempat perbelanjaan, kami pun langsung mencari peralatan mandi dan kebutuhan dapur. Dengan cekatan kami berpisah dan berjanji akan bertemu lagi didekat kasir 1 jam kemudian. "Mas, ini berapa harganya ?" tanyaku kepada salah satu pegawainya. Ia pun langsung menjelaskan harga dan kelebihan jika aku berbelanja disana "Oh gitu ya mas, yaudah aku keliling dulu ya, maaf mas menganggu" aku pun sedikit tertawa sembari mulai melangkah pelan menjauhi mas-mas nya itu. "Disini mahal banget ya, kalo nanti aku beli, Rexa marah ga ya, tapi kalau aku ga beli AC nya, nanti Rexa pasti kepanasan, yaudah deh, aku beli yang dibutuhin aja dulu" batinku. Aku pun melanjutkan berkeliling mencari barang yang diperlukan. "Lho Lika ya ?" "Hhhaahhh Indri yaaaa" Indri adalah teman lama ku saat di sekolah menengah atas, Aku, Indri dan kedua temanku yang lain sering kali berkunjung ke panti asuhan, hampir setiap hari saat pulang sekolah dulu selalu kita ber empat sempatkan mampir walau kadang tak lama. "Tommaaattttt" Ia pun langsung memelukku, ketika saat sekolah dulu kami punya sebutan satu sama lain, Indri dan yang lainnya menyebutku "tomat" karena setiap aku malu pipiku selalu memerah bagaikan tomat. "Lho, kamu kerja disini ?" "Iya ini sampingan aku, aku baru seminggu disini, lumayan kan buat bayar biaya kuliah" ia pun melanjutkan tawanya. "Kamu mau nyari apa cantik" rayunya Aku pun memeluknya, dia memang orang yang selalu bisa membuatku merasa malu. "Aku mau nyari peralatan mandi sama kebutuhan dapur dimana ya ?" Indri pun menyeret tanganku agar aku mengikutinya pergi. "Wahhh banyak banget, tapi ada diskon ga ? Uangku nipis" aku menahan tertawa sembari memberi kode kepada Indri. "Siap tomattt, mumpung hari ini aku baru banget happy" "Makasih ya Indri ku yang paling cantik" sahut ku mencoba memujinya. "Yaudah yuk" "Nana, maaf, lama ya" "Enggak kok, cuma telat 49 menit 32 detik" Ia pun tersenyum menahan tawa. "Nana, kenalin ini temanku Indri" "Hai Indri" Nana pun memberikan tangannya kepada Indri sambil memperkenalkan dirinya sendiri. Setelah beberapa menit, kami tak sadar jika kami memakan sebagian jalan. Setelah mengecek apa saja yang dibeli, kami pun menuju kasir untuk melakukan pembayaran. Tak lama setelah itu, aku dan Nana berpamitan kepada Indri. "Rasanya baru kemarin aku masih bersekolah" batinku Setelah beberapa jam diluar membuat aku dan Indri langsing menuju kost. Kami pun menuji masing-masing kamar untuk mengistirahatkan diri. "Udah berapa jam ya aku ga ngabarin Rexa, dia sibuk ga ya ? Rexa marah ga ya sama aku ? Apa dia selingkuh sampe ga ada kabar begini ? Dia lagi ngapain ya ? Ga usah deh, ga usah ngabarin dia" batinku. Banyak sekali pertanyaan yang ada dikepalaku. Aku benar-benar takut jika Rexa harus meninggalkanku sekarang ini, aku tak akan siap harus berpisah dengannya. Tak tahan untuk tidak mengetahui kabar Rexa, aku pun mengambil ponsel dan menelepon Rexa. "Halo Rexa ... " Rexa Pov "Iya hallo juga sayang" "Enggak kok, iya, iya sayang, iya sayang, iya janji, iya sayang, iya, yaudah, love you" Setelah panggilan berakhir, ku lihat tampak Raka dan Karin menahan tawa menundukkan kepalanya. "Udah deh, ga usah ngejek" aku pun juga tertawa melihat tingkah mereka berdua. Setelah aku menyelesaikan tugasku, aku dan Raka berpamitan dengan Karin. Aku tidak bisa berlama-lama ditempat Karin karena aku hari ini mau mengemaskan barang-barangku dan pindah kerumah baru besok pagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN