Bab 11 - Kita sama dong

1054 Kata
"Ka ?" "Hah" "Makasih ya" Kupeluk Raka setibanya kami di depan kontrakanku. "Ih jijik bet gue, ntar disangka homo, jauh-jauh lu kampret!" Aku pun tertawa sembari membuka kan pintu depanku. Aku yang sedikit lelah langsung menuju dapur untuk mengambil cola di kulkas. Sedangkan Raka seketika merebahkan dirinya di sofa seperti biasa. Pagi ini tepat hari minggu, aku pun yang sedari tadi sudah bersiap-siap lari pagi terhalang akan seseorang anak kecil bersepeda membawa yang menawariku barang dagangannya. "Selamat pagi kak, minumannya kak ?" Gadis kecil yang cantik itu pun menyodorkan sebuah botol air mineral padaku. "Kamu namanya siapa dek ?" "Aku Desta kak" lanjutnya lagi sambil membuka kotak yang penuh dengan berbagai macam minuman, ia seperti mengisyaratkan ku untuk memilih beberapa minuman yang ia punya. "Yaudah aku yang ini aja" Aku membuka tutup botol air mineral yang tadi ia berikan padaku, kuambil selembar uang 100rb an dan kuberikan kepadanya. "Kak maaf, aku ga punya kembaliannya" "Gapapa kembalinya buat adek aja" "Aku ga mau kak, gapapa kok kak besok-besok kita bisa ketemu lagi kak" Tak banyak berkata lagi, ia segera pamit dengan lembut dan pergi mengayuh sepedanya. Aku pun juga pergi berbalik arah berlari santai menikmati indahnya pagi ini. Krriiinnggg kriiinngggggg "Hallo Xa, kok lu ga bangunin gue ?" "Lu kayanya pules banget" "Yaudah, balik sini Xa, pak Andi ama karyawannya lagi naikin barang-barang lu ke truk" "Yosh, otw Ka" Aku pun menutup panggilan telepon dari Raka. "Selamat datang pak Rexa" Sambut pak Andi begitu aku baru memasuki gudang. Aku lalu menjabat tangan pak Andi dan seseorang di sebelahnya. "Perkenalkan pak, ini mas Apri, ia yang akan mengantarkan barang-barang bapak dengan truk yang didepan" "Oh iya mas Apri, nanti kalau bisa sampe tempatnya sebelum makan siang ya mas" Aku pun membuka dompet dan memberikan beberapa lembar uang untuk tipsnya. "Sshhaaappp pak bos" sahutnya sembari ia tersenyum cengengesan. Setelah semuanya beres, aku langsung mengambil kunci mobilku dan pergi menjemput Lika di tempat kost nya. Kulihat dari kejauhan ia ditemani seseorang, aku langsung membawa semua barang yang dari tadi sudah tertata rapi di depan tempat kost Lika. "Sayang, aku mau tutup mata kamu boleh ?" tanyaku sambil mengambil penutup mata di dashboard mobil "Pasti mau ngasih kejutan ya kamu, dasar Rexa si playboy" Lika pun tertawa kepadaku, tak sadar dia kalau pipinya kini mulai memerah seperti kepiting direbus. Aku hanya bisa tersenyum memikirkan kejutan yang nanti akan aku berikan padanya. Lika Pov "Gimana beib, pacar kamu jadi jemput ? Kalo ga jemput aku aja yang nganterin kami, gimana ?" tanya Nana padaku "Belum diangkat panggilanku, lagi dijalan mungkin" sahutku. Aku dan Nana yang sedari tadi menunggu Rexa datang mengobrol tentang pertemuan kami hingga sekarang, ia begitu antusias bercerita tentang canda tawa kami selama di tempat kost ini. "Ehh pangeran siapa itu ganteng banget ?" tanya Nana setelah melihat Rexa turun dari mobilnya. "Dia adalah pangeran yang menyelamatkanku dari tempat nenek lampir ini" aku pun tertawa mengejek Nana "Huhh beruntung banget kamu Lika, punya pacar ganteng, putih, tinggi, pokokya keren deh, dasar tomat!" kali ini giliran ia membalas mengejekku. Rexa dan Nana membantuku untuk membawa semua peralatanku. Aku dan Rexa pun berpamitan dengan Nana, sekilas kulihat ia meneteskan air mata di pipinya dan langsung mengelapnya. Kami langsung melanjutkan perjalanan kami menuju rumah baru kami. "Sayang, aku mau tutup mata kamu boleh ?" tanya Rexa, ia pun langsung mengambil penutup kepala di dasbbordnya. Selama yang ku ketahui, Rexa benar-benar tau bagaimana caranya memanjakan kekasihnya, aku sangat beruntung bisa bersama dengannya walau kadang aku suka cemburu dibuatnya saat Rexa, Raka dan Indri tertawa bersama di salah satu tempat perbelanjaan furniture. Di perjalanan pun aku hanya bisa menahan rasa senang bahagia, aku sangat canggung sekali, aku juga penasaran, apa yang akan Rexa lakukan sekarang ? Kejutan seperti apa yang dia berikan ? Entah banyak sekali pikiran yang ada di benakku. Aku hanya bisa mengigit bibir bawahku untuk mengatasi rasa gelisah ku. Rexa Pov "Laki-laki mana yang tidak b*******h melihat Lika mengigit bibir bawahnya" batinku Sebenarnya rumah yang akan kami tempati tidak terlalu jauh dari kontrakanku, hanya berkisar 20 menit jika mengendarai mobil, tapi aku lebih memilih mengajak Lika berkeliling sedikit lebih lama. "Mmppphhhhhh" Aku pun mencium bibirnya yang mungil itu begitu sampai di tempat tujuan. Ia pun meraba seluruh wajahku bahwa itu adalah aku, kemudian Lika membalas ciumanku dengan hangat. "Rexa, kamu mau jual aku ya sampe aku harus pake penutup mata begini" "Kalo kamu aku jual, nanti bukan cuma aku aja yang merasa kehilangan, tapi seluruh alam semesta beserta isinya pasti merasa sedih" lanjutku sembari mengeluarkan Lika menujut tempat yang akan membuatnya terkejut. Lika Pov Aku berjalan menuntun tangan Rexa mengikuti langkahnya, terdengar agak mulai berisik saat Rexa mempersilahkanku masuk. Sedikit rasa kecewa, aku kira ia akan membawaku ketempat yang sangat sunyi hanya kami berdua, hanya ada aku dan Rexa menikmati keindahan alam. "Rexa kita dimana sekarang ?" "Nanti kamu juga bakal tau kok sayang" sahutnya sembari meletakkan tanganku. "Coba kamu buka mata kamu sekarang sayang!" Aku pun mendengarkan perkataannya, dan sedikit terkejut melihat apa yang ada didepanku sekarang ini. Rexa Pov "SURPRISE!" Semua orang pun yang ada di dalam ruangan tertawa melihat Lika terkejut. "Kamu ih, aku kira kaya di sinetron gitu, ternyata cuma cucian piring kotor!" Ia pun bergidik kesal, tangannya yang terasa lembut tanpa henti-henti nya mencubit seluruh badanku. "Sakit tau" "Biarin, biar kamu tau, enak aja aku dikerjain" Seisi ruangan pun tertawa dengan gembira. Saat Lika melihat semua orang di sekelilingnya, ia pun merasa heran. "Lho kamu kok bisa disini ?" Lika pun mendekati Nana. Jika aku sudah benar-benar mencintai seseorang, aku harus tau apa yang dibutuhkan untuk pasanganku, Nana adalah teman Lika, aku sengaja mengajaknya untuk membuat Lika terkejut. "Yaudeh yuk, makan-makan lagi nih mumpung ada tuan rumahnya sekarang, nanti kan bisa dicuciin piringnya sama Rexa" Kata si kampret barusan "Enak banget lu ya jadi orang" Sekarang gantian Lika yang menertawaiku. Selama beberapa saat canda dan tawa selalu menyertai kami semua. Lika pun mengambil beberapa piring yang sudah kotor dan membawanya ke dapur untuk dicuci bersih. Aku pun mengikuti arahnya dan meninggalkan semua orang di ruang tengah yang sedang menonton televisi. Terlihat jelas dari belakang postur tubuh Lika yang membuat justinku bangun dari tidurnya. Ku peluk tubuhnya dari belakang dan ia pun terkaget. "Sayanggg malu tau masih ada orang di depan" Sahutnya sambil mencoba menggoyangkan pinggulnya agar tanganku yang sedari tadi memeluk badannya terlepas. "Biarin, emang aku sengaja biar mereka pada tau weeekkkkk" Aku pun mencium telinga bagian belakang Lika yang membuatnya seperti menggelinjang "Mmpphhhsss sayang, geli tau, nanti aku pengen lho" ucapnya yang membuat kedia pipinya kini merah merona. "Permisi!" "Xa, ada orang nih di depan nyariin lu!" teriak Raka "Iye bentar, ganggu aje lu!" Aku pun mulai meninggalkan Lika sendiri di dapur, tak lupa juga ku kecup keningnya sebelum aku pergi menuju pintu depan. "Lho kamu ? Kok bisa tau aku disini!" Aku pun terkejut setengah mati, keringat dingin mulai membasahi tubuhku melihat apa yang ada di depanku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN