Bab 12 - Kamu siapa ? Aku siapa ?

959 Kata
"Hai kakak ganteng" ucap Maudy sembari melempar senyum padaku "Kak, aku bawa pizza buat kakak sama pacar kakak" Dia terlihat tersenyum manis, tapi aku tahu apa yang sebenarnya dia rasakan, dia pasti sangat kecewa. Tapi dia benar-benar wanita yang kuat. "Hai Maudy, masuk dulu, lagi pada makan-makan nih" Dia pun mengiyakan ajakanku untuk masuk. "Hai kak Raka" "H-hai ju-juga Ma-maudy" Tampak wajah Raka terlihat pucat melihat Maudy datang kerumah baruku. "Wah ada pizza, asik nih bisa makan lagi," ucap Nana Kulihat Lika menengok ke arah kami untuk melihat siapa yang datang berkunjung. Seketika suasana menjadi agak sedikit panas, aku dan Raka sama-sama berkeringat dingin, kita berdua menjadi terasa asing sejak Maudy datang. Raka pun seperti nemberi kode kepadaku agar aku sengan sigap menjauhkan Maudy dari pandangan Lika. "Haaaiiii, apa kabar, siapa namanya ?" "Aku Maudy kak, aku adik angkat kak Rexa" Jawab Maudy tersenyum padaku. "Oh shhhiiittttt! Bisa bahaya nih kalo kebongkar semua" batinku. Lika pun mencubit manja lenganku, "Kamu kok ga bilang kalau punya adik, aku malu tau!" Aku pun hanya bisa tersenyum cengengesan tanpa bisa berkata-kata. Raka yang sedari tadi tampak panik menarik lenganku dan mengajakku keluar rumah, aku pun mengikuti jejak langkahnya. Kulihat kedalam rumah Lika dan Maudy tampak akrab walau baru bertemu, tapi sudah terlihat seperti teman lama. "Xa, ini giman..." "Iye gue tau!" Aku pun memotong omongan Raka. Aku dan Raka saling berbisik agar tidak terlalu didengar orang yang di dalam rumah. Setelah beberapa saat akh pun mencoba memberanikan diri untuk masuk kedalam rumah lagi. "Yaudah, gue masuk dulu Ka" Sebelum aku masuk kedalam rumah, aku dikejutkan Lika dan Maudy menghampiriku. Ya allah, bakal ketauan ini mah, batinku. "Kakak ganteng tersayang, aku pamit ya, jaga kak Lika baik-baik, kalo kakak jahatin kak Lika nanti aku bakal ngambek sama kakak" Maudy langsung memelukku kemudian ia mencium tanganku. "Kak Lika, kapan-kapan aku main kesini boleh ga ?" "Kamu kalau dateng langsung masuk aja, anggap aja ini rumah kamu juga sayang" Kata Lika sambil memeluk Maudy dengan hangat. Akhirnya Maudy pergi, aku dan Raka sedikit lega. Raka yang sedari tadi paling banyak bicara kini ia diam tanpa kata masuk kedalam rumah, ia tampak terlihat lesu. "Kamu kok ga cerita kalau punya adik secantik dia, aku jadi iri sama dia punya kakak ganteng tersayang" ledek Lika. "Berarti aku ganteng ya ?" sahutku mencoba mencairkan suadan Lika pun membisu dan masuk kedalam meninggalkanku lagi sendirian di depan rumah. --- Hari sudah mulai malam dan semua temanku sudah pulang ke rumahnya masing-masing. Aku dan Lika langsung membereskan dan menata semua barang-barang baru kami. "Sayang, ini peralatan elektronik kamu yang beli ?" tanya Lika. "Hmm, iya kenapa sayang" jawabku. "Ini kan mahal semua, kamu punya duit dari mana bisa beli barang sebanyak ini!" Aku yang mendengar perkataan Lika sambil minum langsung tersedak se jadi-jadi nya, dan aku pun mencari berbagai macam alasan yang masuk akal agar Lika percaya dengan omonganku. "Kamu ngerampok ya ?" tanya Lika lagi Aku pun tak menjawab dan hanya tertawa mendengar pertanyaan Lika. Semua barang-barang sudah tertata rapi, dan yang kotor pun sudah kami bersihkan. Aku langsung menuju kamar tidur baruku dan menunggu Lika selesai mandi. "Cewek emang kalo di kamar mandi ngapain aja sih ?" tanyaku dalam hati Karena hampir 1 jam lebih aku hanya menunggu Lika selesai mandi. Ckrekk Pintu kamar pun terbuka. Kulihat Lika yang masih terbalut handuk terlihat seksi dan menggoda. Rambutnya yang belum mengering membangkitkan gairahku. Aku berjalan ke arahnya mencium bibir manisnya yang masih berwarna merah muda. Kupeluk Lika dari belakang dan melepaskan handuknya secara perlahan. "Hhmmppss Rexa sayanggg" desahnya persis ditelingaku setelah ku pegang dadanya yang kini sudah mulai mengeras dan mengenyal. Dia pun membalikan badannya ke arahku dan menciumku secara manja, kubalas dengan cara melumat bibir mungilnya. "Aaahhhkkkk mmmphhsss" Setelah kurasa cukup untuk pemanasan, ku gendong Lika menuju tempat tidur dan merebahkannya secara perlahan. Kulit putih nan lembut membuatku ingin sekali berada diatasnya. "Entah aku saja yange berpikir atau memang d**a Lika terlihat lebih besar" batinku. Aku pun tidak terlalu mempedulikannya. Tak tahan melihat Lika terbaring tanpa sehelai benangpun membuat justinku benar-benar ingin keluar dari rumahnya. Aku membuka semua pakaianku lalu ku lemparkan jauh dari hadapanku. "Sayaannggg" Desahnya kini sangat membangkitkan gairahku, terdengar serak tapi lembut-lembut basah Ku ciumi daerahnya yang sedikit dipenuhi dengan bulu yang tertata rapi. Aku yang tidak sabar bermain dengannya kini memasukan jariku di area terlarangnya, ia pun menggelinjang penuh kenikmatan saat jari-jari ku semakin cepat berirama. "Aarrghhh saaayaangggg" desahnya. Jari ku pun terasa sedikit hangat, aku yakin ia pasti sudah mengeluarkan hasratnya yang pertama. Lagi-lagi aku semakin tinggi melihatnya sedikit lemas dihadapanku, tak perlu waktu panjang justinku langsung mencari tempat masuk kedalam area terlarangnya. "Mmmppphhhhh" Desahnya semakin keras saat ku goyangkan pinggulku dengan cepat. "Aaargghhhh ssaaayyaannggggg mmphhhss aaaahhhhhhhkkkkk" Teriakannya keras setelah justin muntah di dalam area wanitanya yang mengakhiri ronde pertama kami dirumah ini. Kami pun terbaling lemas tak berdaya, seperti kemarin, aku tetap tidak mau mencabut dan berpindah posisi. Ku lihat jam di dinding menujukan pukul 21.23 petang. Berarti hampir 3 jam aku bermain dengan Lika di atas kasur. "Sayang tumben kamu lama banget" desahnya pelan. Aku pun mencium keningnya dan menutup matanya yang mulai terlihat sayup-sayup. --- "Rexa sayang, bangun" ucap Lika sembari mengusap-usap rambutku. Kucoba membuka mata, walau sedikit berat karena dari semalam kami tidak henti-hentinya bermain. Lika pun mencium bibirku dan memainkan lidahnya di dalam mulutku. Aku yang mulai tinggi lagi kini menggoyangkan pinggulku maju-mundur dengan sangat cepat. Lika yang hanya bisa memejamkan mata nya dan mendesah di sekitar telingaku kini benar-benar terbaring lemas tak berdaya. Setelah justinku muntah lagi untuk kesekian kalinya di dalam area wanitanya Lika, ku rebahkan tubuhku persis disamping tubuh Lika. Ku elus dadanya yang terlihat bulat sempurna, kuciumi dan kuhisap sedikit demi sedikit dan membuat kedua dadanya memerah seperti di cap. Lika yang sudah sedari tadi terlelap kini hanya mengerang pelan tak berdaya. Kami pun beristirahat lagi sambil berpelukan. Setelah agak lama, kami pun terbangun bersama-sama, Lika yang sudah terlalu lemas berjalan mengangkang sambil memegangi tembok menuju kamar mandi di dalam. Aku yang melihatnya pun tertawa-tawa. "Sayang, sakit banget, capek tapi enak banget" ia pun tersenyum manja padaku, "Tapi dari kemarin kan kamu ngeluarinnya di dalam, emang gapapa ?" tanyanya lagi. Sedikit takut mendengar pertanyaan Lika aku pun meyakinkannya bahwa tidak akan terjadi masalah. Sejujurnya aku juga takut nanti jika nanti benar-benar terjadi, karen aku adalah pewaris tunggal dari...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN