A_38

1508 Kata
Irish masih menatap punggung kekar milik Alandra. Saat lelaki kembali bekerja. “Mari Tuan Putri, kita kembali ke istana,” ucap Lin. Awalnya, Irish ragu karena masih betah di sana, namun tidak ada pilihan lain, akhirnya berjalan meninggalkan tempat itu. “Lin, salah tidak jika aku menyukai pelayan?” Lin membulatkan mata. “Jatuh cinta maksudnya? Pada siapa?” “Alandra.” Lin sontak menutup bibir tipisnya dengan telapak tangan. “Jangan kencang-kencang Putri, bisa-bisa ada yang dengar dan kau dilaporkan pada raja, lalu ... lalu __” “Lalu dihukum dengan dicambuk oleh ibu tiriku?” “Ya, saya tidak ingin Anda terluka, Putri. Dan tolong lupakan lelaki itu.” Irish terkekeh. “Jangan khawatir. Ibu tiriku tak akan berani melakukan itu, karena aku lebih kuat darinya.” Lin hanya menepuk dahinya, mendengar ucapan gadis itu. Ia tahu, itu hanyalah omong kosong karena buktinya Irish selalu diam jika ibu sambungnya itu bersikap buruk padanya. “Baiklah, ayo putri.” Pelayan itu membimbingnya. “Eh, tunggu Lin. Kau mau membantuku?” Mereka kembali menghentikan langkah. “Ya, tentu saja. Apa itu?” Irish tersenyum jahil dan membisikkan sesuatu pada Lin. “Apa? Jangan nekat Putri!” pekik Lin. “Jangan khawatir, aku bisa mengaturnya.” “Ta-tapi bagaimana kalau ....” “Katanya membantuku.” Irish mengerucutkan bibirnya, sambil membuang muka. Melihat itu, Kin tak bisa menolak lagi. “Baiklah ....” Irish terlonjak gembira, ia memeluk pelayannya itu. “Terima kasih, kau teman yang baik.” ~~~ Di area peternakan Alandra dan Zahn telah selesai mengerjakan semuanya. Mereka beristirahat di pondok seraya meminum air. Alandra larut dalam lamunan. Satu sisi ia bahagia, karena bisa kembali bertemu dengan gadis yang disukainya. Namun pikirannya betapa ia beraninya menyukai anak raja, sementara saat ini Alandra hanya seorang pelayan. “Apa? Kau menyukai Irish?” Zahn terkejut saat Alandra jujur tentang perasaannya. Ia mengangguk pelan. “Saat ini kasta kalian beda, raja Irlan pasti tidak akan setuju. Lagi pula, kau punya tujuan yang lebih penting, lupakanlah perasaanmu padanya. Maaf jika ini menyinggung perasaan Pangeran. Tapi, jangan melakukan sesuatu yang sia-sia yang mungkin menghambat perjalanan kita,” cerocosnya. Alandra menarik napas berat. “Bagaimana kalau aku bawa Irish kabur dari sini,” ucapnya tiba-tiba. “Apa? Ku sudah hilang akal? Jangan macam-macam!” tegas Zahn. Alandra menggasak rambut frustasi. “Ya sudah, ayo pergi aku ingin ke kamar dan istirahat.” Alandra bangkit berdiri. Tujuannya hanya satu, ia ingin segera ke kamar membenamkan wajah ke bantal dan melupakan semuanya. Zahn menepuk bahunya. “Maafkan ucapanku Pangeran. Aku juga khawatir, tentang perasaan tuan putri jika cintanya semakin dalam padamu. Sedangkan Kita hanya sementara di sini.” Kali ini Alandra terdiam. Benar ucapan sahabatnya, ia hanya musafir yang singgah sementara. Ia tidak boleh membuat rugi atau melukai hati seseorang. Setelah ini, Alandra berniat bicara dengan Irish terkait ini. ~~~ Malam mulai gelap, tanpa bintang satu pun. Alandra duduk termangu di perapian. Entah kenapa, ucapan Zahn terngiang di kepala. “Pangeran, kau diminta tunggu di sini sebentar. Paman Oenix, ingin bicara,” ucap Zahn. Alandra mendongak pada Zahn yang tiba-tiba muncul dan duduk di dekatnya. “Soal apa?” Zahn menggeleng, manik matanya menatap ke arah perapian. Suhu hangat mulai menjalar ke lapisan kulit. “Entahlah, kau tunggu saja.” “Alandra ....” Alandra dan Zahn membeku mendengar suara perempuan yang memanggilnya. Ia pun perlahan menoleh ke arah suara. ~~~ Sebelumnya .... Lin memasuki kamar Irish, sesuai keinginan putri itu. Diam-diam, mereka berganti pakaian, Irish memakai baju milik Lin, begitu pun sebaliknya. Kini, Irish telah berganti pakaian menjadi seorang pelayan, tak lupa wajahnya ditutup dengan cadar. “Lin, berbaringlah di ranjangku, tutup seluruh tubuhmu dengan selimut. Jika ada yang mengetuk pintu, atau masuk ke kamar ini, jangan bangun dan pura-pura tidurlah,” titah Irish. Lin hanya mengangguk, sebenarnya ia sangat takut. Namun apa daya kita tidak bisa menolak keinginan sang putri. Perlahan dengan jalan mengendap-endap, Irish keluar dari kamarnya. Suasana di ruangan itu cukup temaram dan hanya ada beberapa pelayan membuat ia leluasa untuk keluar dari istana. Sesampainya di luar, hawa dingin menusuk tulang ditambah aroma bekas hujan. Dua lelaki tegap berseragam prajurit dilengkapi senjata menyilangkan tangan di d**a, mereka tengah berjaga di area istana. Irish, bisa menatap mereka di balik jendela. Ia hanya takut, jika prajurit itu mencurigainya. Irish terkejut, saat seseorang mencolek bahunya. ‘Aduh, siapa ya?’ perlahan ia menoleh, tampak seorang pelayan wanita menatap heran. “Lin, kau sedang apa mengintip?” Huft! Irish merasa lega, karena pelayan itu tak mengenalinya. Tanpa suara, ia pun membungkuk hormat lalu bergegas pergi. “Ih, dasar aneh!” ujar pelayan itu. “Hei, setelah patroli, aku beri kamu makan enak di tempatku. Mau?” Suara itu, terdengar di telinga Irish. Mereka adalah para penjaga yang tadi ia lihat. Irish mendekat ke arah dinding lorong menuju dapur, seraya mengerutkan dahi dan menajamkan pendengaran. “Ada angin apa mentraktirku. Kamu ingin dimaki istrimu yang perhitungan itu, hah?!” “Tak apalah. Sebentar lagi, giliran yang lain bekerja malam ini, sebaiknya kita bersiap.” Irish mengulas senyum mendengar percakapan mereka. Walau sebenarnya, sisi kelamnya ada kesedihan yang menjalar. Mengingat semua yang ia alami. Awalnya, ia mampu memendam semuanya sendirian, namun ia butuh bahu seseorang untuk bersandar. Gadis bermahkota zamrud merah itu, menghembuskan napas panjang. Kembali membayangkan bagaimana susahnya ia berperan menjadi seseorang yang tangguh layaknya lelaki. Belajar bertarung, memainkan pedang dan memanah. Hatinya menjerit, namun ia tak kuasa untuk menolak. Semua ... demi membalaskan dendam. Ia menjadi malang saat ibu kandung meninggal dunia. Sang ayah menikah lagi, yang membuat hidupnya penuh penderitaan. Irish kehilangan kedua ibu kandungnya, saat terjadi bentrokan massal di dua daerah – mengakibatkan banyak orang yang meninggal termasuk ibunya. Sang ibu tiri, tidak pernah menyayanginya, karena wanita paruh baya itu menuding bahwa Irish anak pembawa sial, bahkan kerap mempengaruhi ayahnya agar membenci dirinya, walau beruntung sang ayah tetap menyayanginya. Menjadi anak satu-satunya pewaris tahta, Irish bahagia terlebih saat ia merasa berguna bagi semua. Walau hatinya tidak cukup bahagia dengan hasil jeri payahnya karena ibu tirinya selalu mencari-cari kesalahannya. ‘Apakah aku terlalu manut, sehingga mau saja diperlakukan begitu? Sadarlah Irish, kamu berhak mencari kebahagiaan,' batinnya. Ia tersenyum getir. ‘Aku sudah tidak punya siapa-siapa selain ayahku kini. Hingga, apa pun yang dilakukan ibu tiriku. Aku harus sabar menghadapinya.’ Iris terus bersenandika menghibur diri. Ia mengulas senyum terbaiknya, seraya merapatkan mantel Lin, yang ia pakai. ~~~ “Pikiranmu sempit sekali. Pasti ada lah perempuan yang tulus, kamu hanya belum menemukannya saja.” Kembali, obrolan prajurit terdengar di area lain. Artinya, Irish benar-benar harus hati-hati, jangan sampai mereka tahu jika dirinya tengah menyamar. “Lalu, kenapa sampai sekarang Anda masih sendiri?” tanya salah satu prajurit muda menyelidik. Baginya, bicara memang mudah. “Pernikahan itu perjanjian, pertalian dan komitmen. Aku tidak mau terikat semua itu. Bebas seperti ini adalah jalanku,” jawab prajurit tua. “Hidup tanpa cinta, apa enaknya?” Prajurit tua itu terkekeh. “Cinta? Kamu sendiri, apa yakin benar-benar mencintai istrimu? Jika ya, kamu bahagia?” Yang diajak bicara hanya terdiam memikirkan kata-kata lelaki yang lebih tua darinya itu. Mereka pun terus berbincang menjauh dari tempat itu. Irish pun bisa bernapas lega. Brukk!! Seorang lelaki bertabrakan dengan bahu kanan Irish. Hingga suara nyaring botol di genggaman seseorang itu terjatuh dan pecah. “Maaf. Saya tidak sengaja,” ujar Irish berusaha sopan. Dengan ragu, ia membuka perlahan matanya dan ternyata seseorang yang dikenalnya. ‘Paman Oenix?’ batinnya. “Oh, kau pelayan pribadinya tuan putri kan?. Mengapa Anda keluar sendirian malam-malam begini?” “Udara dingin Paman. Saya mencari perapian yang tengah menyala untuk menghangatkan tubuhku,” ucap Irish beralasan, ia berharap Oenix tidak mengenal suaranya. “Oh, silahkan. Di sana ada beberapa perapian yang dinyalakan para pelayan.” Irish pun mengangguk. “Terima kasih Paman.” “Oh ya, jika kau bertemu Alandra. Katakan padanya, aku tidak jadi mengajaknya berbincang, karena harus memperbaiki lampu minyak di lorong sana,” ujar Oenix. “Baik, Paman.” Kembali, Irish, melangkah dan benar-benar mendekati perapian. Tak sangka, ia malah bertemu dengan Alandra yang tengah berbincang dengan Zahn. “Alandra ....” Alandra dan Zahn membeku mendengar suara perempuan yang memanggilnya. Ia pun perlahan menoleh ke arah suara. “Kau pelayannya Tuan Putri?” Gadis itu menggeleng dan melepas cadar yang dipakainya. “Putri Irish?” Alandra menatap tak percaya. Gadis itu melenggang santai. Sadar Zahn hanya akan menjadi obat nyamuk ia beringsut. “Alandra, aku belum membersihkan diri. Permisi.” Zahn berlari ke arah dapur. “Eh? Eh?!” Alandra tak bisa menghalanginya lagi. “Kamu merasa tidak, kalau malam ini lebih dingin?” tanya Irish yang langsung saja duduk di sampingnya. Api mulai menghangatkan tubuh. “Mungkin angin dari luar terlalu dingin, Tuan Putri. Kenapa kau kemari malam-malam?” tanya Alandra. “Mengganggumu,” seloroh Irish. “Apa?” Gadis itu tampak terkekeh dengan mimik wajah pemuda itu. “Kau punya manisan dan minuman hangat?” tanya Irish. Alandra yang tengah kebingungan mengangguk. “Bagus, aku mau. Tolong bawakan,” imbuh gadis itu. “Baik. Setelah ini jelaskan padaku mengapa Anda kembari,” ucap Alandra kemudian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN