Beberapa minggu setelahnya Irish menghirup udara segar. Ia ingin melupakan kesedihan kemarin karena Alandra akan pergi. Hatinya ingin menahannya, namun ia tak kuasa untuk melakukan itu.
Tanpa ia tahu, di kejauhan Alandra tengah melakukan hal yang sama. Lelaki itu pun diam-diam menikmati pemandangan indah di wajah Irish.
Ibunya datang melewati Irish, tiba-tiba ia mengulas senyuman tatkala memuji pakaian yang dipakai ibunya. Pujian terus mengalir di bibirnya, betapa cantiknya, betapa pantasnya sang ibu memakainya.
Samar, wanita itu menjawab dan hal itu terdengar di telinga Alandra.
“Kau sangat cantik, Bu.”
“Tentu saja, aku lebih pantas memakai pakaian ini ketimbang ibumu.”
Mendengarnya Alandra paham bahwa ibu yang selalu ketus pada Irish itu, bukanlah ibu kandungannya. Biar begitu, rasanya tak pantas wanita paruh baya itu memperlakukan Irish seperti tadi.
Namun, saat penyematan mahkota kerajaan saat pertama kali. Tak sengaja Alandra menatap perlakuan wanita itu sangat kontras dengan apa yang dilakukannya pada seorang anak pelayan yang seusia dengan Irish, dana selama ia tinggal di sana kerap melihat pemandangan itu. Alandra merasa aneh, mengapa wanita paruh baya itu begitu baik dan perhatian pada orang lain, dan apakah Irish dan sang raja tahu hal ini?
“Hei, sampai kapan kau menatapnya dari jauh? Dekati dan ajaklah bicara.” Zahn muncul dan duduk di sampingnya begitu pun Oenix.
Sedari tadi, pemuda itu tampak diam dan menatap lurus ke arah Irish dan tanpa ia tahu, mereka memperhatikannya.
Ishan mengerjap, ia meraih gagang sapu yang terlepas dari tangannya. Tadinya, ia memang tengah menyapu halaman luas itu, tapi kemudian duduk di kursi kayu tepat di bawah pohon rindang.
“Oh, kalian. Aku hanya merasa kasihan, kenapa putri Irish selalu diperlakukan tidak adil sementara anak pelayan disayang-sayang.”
“Maksudmu oleh ibunya?” tanya Oenix.
Alandra mengangguk. “Rasanya, ingin sekali membantu sang putri.”
Oenix terkekeh.
“Anakku. Kamu itu, hanya pelayan di sini. Kita digaji, untuk bekerja, bukan mengurusi urusan majikan. Saranku, kita jangan sampai berbuat yang membuat sang raja dan keluarganya terganggu.”
Alandra menghela napas panjang. Benar ucapan Oenix, jika dia terlalu ikut campur, bukan tak mungkin membuat Tuannya tidak nyaman, lalu memecatnya. Sehingga, ia tidak lagi bisa mencari keberadaan Dayan.
Ya, beberapa minggu, setelah ia berbincang dengan Irish malam itu. Gadis itu mengatakan bahwa ia pernah bertemu dengan Dayan di daerah ini – Amorei.
Bahkan Irish menyebutkan ciri-ciri rubah itu.
“Mengapa kau baru memberi tahuku?” tanya Alandra kala itu.
“Maaf, aku baru mengingatnya.”
Maka, sejak saat itulah Alandra, meminta Zahn dan Oenix untuk bersama-sama tinggal sementara sambil bekerja di kerajaan itu, sambil mencari keberadaan Dayan dan guru bela dirinya.
“Baiklah, Paman. Aku manut saja dengan ucapanmu.” Alandra kembali meraih sapunya.
Oenix menepuk-nepuk bahunya. “Bagus. Setelah ini, cepat selesaikan pekerjaanmu, biar kita bisa segera kembali mencari kabar tentang Dayan dan guru bela diri.”
“Ya, Paman.”
Oenix meninggalkan mereka.
“Pangeran, kita akan ke peternakan kuda hari ini untuk memandikan kuda-kuda.”
“Baiklah, aku akan menyelesaikan menyapu dulu. Kau duluan saja.”
“Kau tahu, pekerjaan di sana lebih kusukai,” bisik Zahn.
“Kenapa?”
“Kita bisa berkesempatan belajar memanah sambil menaiki kuda, dan diajari teknik berpedang tingkat mahir.”
“Eh, iya juga ya aku kok bisa lupa. Padahal, selama kita di sini kemampuan bertambah, kan lumayan,” cetus Alandra
Zahn mengangguk senang.
~~~
Matahari kian naik, Irish memutuskan bermain di peternakan kuda.
Tapi, ia kehilangan keseimbangan.
“Anda tidak apa-apa Tuan putri?” tanya Lin.
Wajah pelayan itu tampak khawatir melihat luka gores di lengan sang putri, saat gadis itu terjatuh.
Putri Irish, tengah berlatih memanah sambil menaiki kuda di lapangan luas itu, namun kuda yang ditunggangi mendadak agresif, membuat tubuh sang putri kehilangan keseimbangan hingga jatuh.
“Tidak apa-apa, hanya tergores. Kita sudahi saja, aku mau istirahat, tapi antarkan aku untuk mencuci tangan.
“Baik, Putri.”
Irish beranjak hendak tempat itu, menuju aliran air. Namun di area kandang, mata kuningnya menatap Alandra, di kejauhan yang tengah memandikan kuda-kuda bersama Zahn.
“Aku ingin ke sana!” seru Irish menunjuk ke arah kandang.
Mata pelayan terbelalak. “Untuk apa Putri? Seumur hidupmu belum pernah menginjakkan kaki di kandang kotor itu. Kita lurus saja, untuk membersihkan tangan dan kakimu, agar luka goresnya bisa kuobati.”
Irish tersenyum. “Lukaku tidak parah. Ini akan jadi kali pertama aku menginjakkan kaki di sana. Ayo, pergi.”
Pelayan itu melemaskan bahu, pasrah. Lalu ia mengekor sang putri menuju kandang.
“Hai, Tuan-Tuan, sedang apa?” tanya Irish.
Keduanya mendongakkan kepala, sejurus kemudian melebarkan mata.
Alandra dan Zahn terkejut, untuk apa sang putri mengunjungi kandang kuda?
“Kami sedang mandikan kuda-kuda. Sebaiknya Anda menjauh, Putri,” ujar Zahn.
“Aku ingin melihat bagaimana kalian bekerja. Boleh kan?” tanya Irish.
Alandra dan Zahn pun tidak bisa melarang lagi.
“Kalau begitu, beri jarak ya,” ujar Alandra.
Irish pun tersenyum seolah melayang dengan suara lembut Alandra. kemudian duduk memperhatikan mereka, lebih tepatnya memperhatikan Alandra.
Tiba-tiba ....
Beberapa kuda terus bersuara berisik sambil menendang-nendang ke segala arah.
“Ada apa dengan kuda ini?” tanya Ishan.
“Biasanya, binatang memiliki insting tentang suatu bahaya,” ujar Zahn.
“Oya?”
“Aaaaa!” Teriak Irish.
Semua mata tertuju padanya
Brugh!
Irish terjatuh.
“Ada apa Putri?” tanya Lin.
Sedetik kemudian, pelayan itu menjerit.
“Ular! Tolong!”
Irish, terus menggusur tubuh mencoba menjauh dari ular yang terus maju ke arahnya.
Alandra mengambil kampak tak jauh darinya, dan saat ular itu lengah ia tangkap dan memukul kepalanya hingga hancur.
Mereka menyaksikannya merasa takjub akan keberanian Alandra. Terlebih ular itu berukuran besar.
“Alandra, cukup. Ular itu telah mati,” ujar Zahn menarik lengan Alandra.
“Kepalanya harus hancur, agar matanya juga hancur. Mata ular yang sudah mati bisa merekam semua kejadian sebelum kematiannya. Maka teman ular ini akan membalaskan dendam dari rekaman yang tersisa itu, dan mengejar kita,” terang Alandra.
Tidak ada yang meminta penjelasan, namun bibirnya tiba-tiba saja mengucapkan itu. Sebuah kalimat dari Dayan, saat ia diserang ulah. Ah, lelaki itu begitu merindukan sang rubah.
Lin membantu Irish untuk bangun. “Anda tidak apa-apa?”
Ucapan itu membuat Alandra tersadar dan mendekati Irish.
“Lenganmu terluka.”
“Tidak apa-apa. Maaf ya, jadi ribut begini gara-gara aku.”
“Bukan apa-apa. Mari ke pondok sana, biar kuobati lukamu, aku masih menyimpan obat pemberian tabib Ramsi.”
Irish pun mengangguk.
“Zahn, hanya tinggal sedikit lagi. Tidak apa-apa selesaikan sendirian?” tanya Alandra.
“Tentu. Kau pergilah obati tuan putri.”
~~~
Iris meringis menahan sakit. Saat Alandra mengoleskan obat ke lengannya, sementara Lin menunggu di luar pondok.
“Rasanya perih, tapi nanti akan cepat sembuh. Ditahan saja, ya,” ucap Alandra.
Irish tersenyum dengan perlakuan Alandra.
“Terima kasih, kau sangat baik. Terima kasih juga, kau memilih tinggal di sini, hari-hariku lebih baik dari sebelumnya.”
“Benarkah? Aku tak melakukan apa pun padamu,” cetus Alandra.
“Itu hanya perasaanmu saja.”
Keduanya saling diam dan menatap satu sama lain.
“Aku merasa, kita pernah bertemu sebelumnya.”
“Oh, ya?”
“Iya, warna matamu dan suaramu mirip dua orang yang kukenal.”
“Dua orang? Siapa saja?”
“Warna kuning matamu mirip Airish, kenalanku. Dan suaramu mirip Dayan.”
“Airish, bukankah itu namaku juga? Airish Zaara.”
Alandra mengangguk di sela senyum.
“Ini membuatku tak habis pikir, mengapa kalian bertiga banyak kesamaan. Aku hampir gila memikirkan ini. Perasaanku campur aduk.”
Irish tertegun, ia tidak menyangka jika Alandra berpikir keras akan hal ini. Tangan lembutnya memegang jemari Alandra, membuat tatapan keduanya kembali beradu.
“Aku tidak bisa lagi menutupi semuanya.”
“Maksud Nona?”
Tampak Irish menghela napas panjang, lalu membuka cadar yang selama ini menutupinya jika berhadapan dengan Alandra.
Saat tahu, wajah di balik cadar itu Alandra menatap tak percaya.
“Bu-bukankah, kau ... Airish, gadis yang kutemui di gunung Zas?”
Irish mengangguk.
“Aku ingin memberitahumu sejak awal, namun aku takut kamu terkejut, sementara aku ingin kau tetap di sini.”
Alandra terdiam, terus menatap wajah bersih milik gadis itu.
“Apa kau marah? Aku benar-benar minta maaf ....”
Alandra menarik tubuh gadis itu untuk ia dekap, menghadirkan degup jantung yang cepat.
“Kau tahu, pikiranku bercabang antara harus menemuimu melalui peta yang kau beri, atau mencari Dayan dan guru bela diri,” ucap Alandra lembut.
“Lalu, akhirnya kau di sini.”
Mereka melepas pelukan.
“Ya, negeri Amorei itu selain tempat tinggalmu juga di mana guru bela diri itu tinggal.”
Mendengarnya Irish bergeming.
“Kau tidak terkejut?” tanya Alandra.
“Tidak, aku akan bantu kau menemukannya.”
Gadis itu tersenyum penuh arti.
“Baiklah, terima kasih. Kau sudah lama bersamaku, waktunya kembali pulang. Pegang tanganku. Kubantu berdiri.”
Tapi, wajah Irish mendadak sendu.
“Kenapa?”
“Aku masih ingin di sini bersamamu, masih rindu. Kau tahu kan, walau kau bekerja di sini kita jarang bertemu,” ujar Irish.
Alandra mengangguk.
“Karena Kasta kita beda, apa jadinya jika kau dekat denganku. Dan aku yakin raja dan ratu tidak akan menyukainya.”
Irish menunduk, ia tak membantah kalimat itu. Karena sejatinya memang benar, terlebih ia sudah dijodohkan dengan orang lain.
Dengan berat hati, ia pun bangkit dan keluar dari pondok.
“Besok kau ingin pergi berburu?”
Alandra menggeleng. “Aku harus bekerja.”
“Tolong ikut ya, ayahku pasti mengizinkan dengan alasan kau menemaniku. Mau?”
Setelah berpikir beberapa saat, Alandra pun mengangguk.
“Sekarang pulanglah dan istirahat.”
Irish pun akhirnya bersedia.