Pagi berembun, Irish mematut di cermin. Hanya menjenguk Alandra yang tengah sakit, ia sibuk memoles wajah, menyisir rambut panjang berwarna cokelat miliknya, dan memakai pakaian terbaiknya.
Lin, pelayan pribadinya memasuki kamar dan menyodorkan wewangian ekstrak bunga untuk dijadikan parfum.
Irish menghidu aroma lavender, dan menempelkannya pada gaun berwarna putih corak bunga.
Lin, begitu terpukau akan kecantikan sang putri, sehingga pantaslah jika banyak lelaki kalangan bangsawan bahwa dari negeri seberang, jatuh cinta padanya.
“Anda sangat cantik, Tuan Putri. Apakah setelah menemui Tuan Alandra, Anda ada urusan lain?” tanya Lin.
Pipi Irish mendadak memerah, ia pun menelan saliva.
“Oh, tidak. Aku ... hanya ingin memakai gaun ini saja, karena sudah lama tidak memakainya.”
Lin pun mengangguk tanpa bertanya lagi. Ia mengantar sang putri ke meja makan, untuk sarapan bersama.
Di sana, hanya ada ibu tirinya sendirian. Hal itu, membuatnya merasa tidak nyaman, karena dirinya dengan sang ibu sambung tidaklah akrab.
“Ayah tidak ikut makan bersama?” tanya Irish, seraya menggeser kursi untuk ia duduki.
Wanita paruh baya itu, mengangkat kedua alisnya sambil memindai tubuh Irish.
“Kau kan tahu, dia masih sakit. Pelayan sudah mengabtarnya makan ke kamarnya.”
Irish pun mengangguk dan tak berniat untuk bertanya lebih.
“Kau mau mendatangi sebuah pesta?” selidik wanita itu.
“Oh, tidak Bu. Saya, hanya akan menjenguk Alandra dan dua temannya.”
Wanita itu tersenyum sinis. “Hanya menemui rakyat jelata, kau rela memakai pakaian mewah. Bukan karena kau menyukai salah satu dari mereka kan?” selidiknya.
Irish mengerjap seketika.
“I-itu ....”
“Jangan lupa, kau telah ayahmu jodohkan dengan orang lain yang martabatnya sepadan dengan kita. Jadi jangan coba-coba menyukai orang lain!” tegas wanita itu.
Hilang sudah selera makan Irish, ia bangkit dan merapikan pakaiannya.
“Aku sudah selesai makan, permisi Bu.”
Gadis itu melewatinya.
“Kau mau ke mana?” tanya wanita paruh baya itu.
Irish menoleh sedikit. “Ke kamar ayah. Ibu mau ikut?”
Ibu tirinya tak menjawab, dan melanjutkan makan.
Sementara Irish membawa kakinya ke kamar sang ayah, lalu mengetuk pintu.
“Masuk!” Suara raja Irlan dari dalam.
Gadis itu pun masuk, dan mendapati ayahnya terbaring lemah. Ia merengkuh jemari yang sudah keriput.
“Ayah kenapa sakit lagi?”
Raja Irlan tersenyum tipis.
“Ayahmu ini sudah tua, jadi wajar sakit-sakitan. Tapi, yang terasa sekarang hanya lemas dan sakit kepala saja,” ucap sang raja.
“Tapi, Ayah juga demam,” ujar Irish sedikit kesal pada ayahnya yang sok kuat.
Lelaki paruh baya itu pun terkekeh kecil. “Jangan khawatir Nak, Ayah tidak apa-apa. Oya, kau belum bertemu Alandra dan dua temannya?”
“Sekarang, Yah. Tapi menjengukmu terlebih dahulu.”
Raja Irlan mengangguk.
“Oh ya, sebagai anak yang berbakti. Apa yang harus kulakukan agar kau bahagia dan tenang, Ayah?” tanya Irish.
“Kau yakin?”
“Iya, Ayah. Apapun akan kulakukan.”
Sang ayah menatapnya lekat-lekat, dan mengeratkan genggaman mereka.
“Ayah memiliki sahabat di negeri seberang. Kami berdua sahabat dan sama-sama seorang pangeran saat itu. Kami pernah menulis surat perjanjian.”
Alis Irish berkerut. “Perjanjian?”
“Iya. Isinya, jika anakku dan anaknya berbeda jenis kelamin, maka akan dijodohkan.”
Kemudian raja itu mengeluarkan gulungan kertas dari laci.
“Terimalah surat ini. Isinya sebuah surat dan juga peta di mana sahabatku tinggal dan juga anaknya. Berikan surat ini sebagai bukti. Maka, engkau dan anaknya akan menikah. Itulah kebahagiaanmu mengapa? Karena sahabatku orang yang baik dan berhati murni, ia pasti memiliki anak yang baik. Ayah ingin kau menikah dengannya agar bahagia dan tenteram,” ujar Irlan panjang lebar.
Irish terkejut, ia tak menyangka jika itu keinginan ayahnya. Namun, ia telah berjanji maka dirinya tidak lagi membantah keinginan sang ayah, apalagi kesehatan Irlan kian hari kian memburuk.
Gadis itu pun, menarik napas panjang.
“Baik, Ayah. Aku akan menemui calon suamiku sesuai dengan petunjukmu ini.”
Irlan mengusap kepalanya lembut.
“Kau memang anakku yang baik.”
Obrolannya dengan Irlan selesai. Irish pun melenggang, terus berjalan melewati lorong, menuju kamar pelayan yang satu arah dengan dapur umum.
Para pelayan berhambur mendekatinya, sambil memberikan hormat.
“Ada apa gerangan Tuan Putri ke mari, khawatir nanti baju Anda kotor.”
“Di mana kamar Alandra?”
Mereka saling menatap.
“Ketiga orang baru, yang membantuku kemarin. Ada pemuda berbaju putih, namanya Alandra,” imbuh Irish.
Barulah mereka paham, dan mengantarkannya ke kamar Alandra.
Irish mengetuk pintu, namun yang membukanya bukanlah Alandra, melainkan Zahn.
“Putri? Kau ada di sini?”
Irish mengangguk. “Aku ingin bicara dengan Alandra. Bisa?”
“Boleh, silakan. Semalam ia demam, jadi saya menemaninya tadi. Masuklah! Saya keluar dulu.”
“Terima kasih.”
Lalu, gadis itu masuk namun Alandra rupanya masih terbaring. Ia memilih duduk di kursi tepat di samping Alandra, matanya tak lepas dari wajah tampan lelaki itu.
Tapi, seketika ia teringat akan ucapan ayahnya, bahwa ia harus menikah dengan pilihan sang ayah. Wajahnya berubah sendu.
“Dayan ....”
Irish membeku, saat bibir tipis Alandra menyebut nama dengan lirih, namun jelas terdengar.
“Dayan ....”
Kembali Alandra menyebut nama itu. Tanpa sadar Iris meremat jemari Alandra, membuat lelaki itu perlahan menyipitkan mata, hingga mata birunya terbuka lebar.
“Alandra, kau sudah bangun?”
“Dayan, kau kembali?” Alandra mencari arah suara hingga tatapannya tertuju pada Irish.
“Aku Irish. Siapa Dayan? Gadis pujaanmu?” tanyanya.
Alandra masih mengumpulkan kesadaran, ia berusaha duduk dan menegakkan punggungnya seraya memegang dadanya yang masih sakit.
“Maaf, suaramu begitu mirip dengannya.”
“Kau belum menjawabku, siapa Dayan? Sepertinya kau rindu berat padanya, hingga tak sadar menyebut-nyebut namanya saat tidur.” kembali Irish bertanya.
Alis Alandra bertaut. “Oya? Aku tak sadar melakukannya.”
Irish menarik napas panjang.
“Mungkin kau begitu merindukannya, hingga alam bawah sadarmu terus menyebut namanya.”
Ucapan gadis itu, membuat Alandra menunduk. Apa yang diucapkan putri itu benar adanya. Tapi Dayan hanya seekor binatang, ia pun tidak paham mengapa begitu merindukan rubah itu.
“Ya, mungkin benar. Aku sangat kehilangannya.”
“Dia kekasihmu?”
Alandra tersenyum tipis, ia yakin jika gadis itu akan terkejut siapa yang dirindukannya.
“Bukan, dia seekor rubah putih. Teman perjalananku, sebelum Zahn dan Paman Oenix.”
Kedua alis Irish terangkat. “Wah, sampai sebesar ini kau begitu perhatian pada binatang. Pasti Dayan begitu istimewa.”
“Ya, dia istimewa buatku. Maka dari itu, setelah aku menemukan guru bela diri, aku bertekad akan mencari Dayan dan meminta maaf padanya.”
Irish menanggapinya dengan senyuman tipis.
“Kuharap kalian ditakdirkan bertemu lagi. Lalu, bagaimana kondisimu?”
“Sudah baikan, Nona. Terima kasih.”
“Oh, kau memanggilku Nona sekarang.”
Alandra terkekeh. “Kau tidak suka ya?”
Irish mengerjap.
“Tidak. Boleh-boleh saja.”
“Terima kasih. Omong-omong, apa yang membawamu kemari?” tanya Alandra, ia luput bertanya tentang kedatangan gadis itu.
Alandra sebenarnya begitu silau dengan kecantikan dan keanggunan Irish, maka ia harap gadis itu tidak berlama-lama di kamarnya.
“Mengecek keadaanmu, dan juga ....”
“Hm?”
“Ayahku sedang sakit. Aku datang ke sini untuk menyampaikan sesuatu padamu. Maukah kau dan dua temanmu bekerja di sini?”
Alandra tidak menyangka, jika itu pertanyaannya.
“Maaf, Nona. Rasanya tidak mungkin, seperti yang Anda ketahui kami sedang melakukan perjalanan penting.”
Irish mengangguk. “Jika boleh tahu, hendak ke mana?”
Sebenarnya Alandra, tidak sembarangan mengatakan ini pada siapapun. Entah kenapa itu bukanlah apa-apa jika mengatakannya pada gadis itu.
“Aku ingin menemui seorang guru yang hebat aku akan berguru padanya begitu ini sangat penting kami tidak ingin membuang waktu,” terang Alandra.
“Siapa namanya mungkin aku kenal?” Kembali Irish bertanya.
Alandra merasa tidak salah jika memberi tahu siapa nama guru itu padanya.
“Seorang perempuan, bernama Zaara,” jawab Alandra.
“Wah, bukankah namanya sama denganku? Namaku Zaara Airish, dan memiliki nama kecil, Irish.”
Deg!
Alandra baru menyadari jika nama wanita itu sama. Ia heran mengapa bisa terlupa.
“Ya benar, Nona. Nama kalian sama, ini kebetulan yang menyenangkan.”
Tampak Gadis itu menarik napas panjang.
“Tapi baiklah, aku menerima keputusanmu nanti akan ku sampaikan pada ayahku. Semoga lancar ya mencari guru bela diri.”
Alandra mengangguk hormat. “Terima kasih, Nona.”