Mereka telah sampai di pelataran istana. Alandra, dibantu Zahn menuruni kereta.
Setelah turun dari kuda, Irish mendekat.
“Tuan-Tuan, tolong bawa Tuan Alandra ke kamar pelayan. Di sana ada tiga kamar kosong yang bisa kalian pakai,” ucap Irish.
“Panggil saya Alandra saja, Putri,” ujar Alandra.
“Baiklah, nanti akan ada kakekku ke kamarmu untuk mengobati luka. Beliau juga seorang tabib kerajaan.”
Ketiganya mengangguk.
Irish menatap ketiganya. “Dan terima kasih, kalian telah menolongku. Makan dan istirahatlah.”
Ketiganya membungkuk hormat.
Hingga, Irish masuk ke pintu utama Alandra tak lepas menatap gadis itu, dan disadari oleh Zahn dan Oenix.
“Sepertinya, hati pangeran telah terkena panah cupid asmara,” ucap Zahn berseloroh.
“Hei! Jaga bicaramu, dan selama di sini jangan panggil aku pangeran.”
Zahn terkekeh.
“Jadi ... Mana yang akan kau pilih? Gadis cantik di pegunungan Zas, ataukah Irish si putri bercadar?”
Alandra memutar bolanya dengan malas. “Terserah kamu!”
~~~
Raja Irlan menyambut Irish dengan hati was-was dan khawatir.
“Anakku, kau tidak apa-apa?” Ia merengkuh kedua lengan anak gadisnya, dan memeriksanya.
“Siapa pelakunya? Kau sudah menemukannya?” tanya sang ibu ketus. Ia bahkan seolah tak peduli, anak gadisnya terluka atau tidak.
“Dinda! Irish baru saja pulang, biarkan dia istirahat dulu.”
Irish menarik napas panjang, berusaha sabar atas sikap ibunya itu. Ia melepas cadar dan mengoles senyum terbaiknya.
“Tidak apa-apa, Ayah. Biar kuberi tahu, pelakunya mantan calon suamiku, yang dulu dijodohkan oleh ibu,” desisnya seraya melirik ke arah ibunya.
Wajah wanita paruh baya itu memerah, dan memalingkan wajah.
“Apa? Kurang ajar! Sudah kuduga, dia memang bukan lelaki baik,” ujar raja Irlan kesal.
Sang ibu berdecih. “Lalu mana lelaki itu?”
“I-itu ... dia kabur. Sebenarnya, dia menyerang kami sambil membawa banyak anak buah. Kami berhasil mengalahkan anak buahnya, tapi vic berhasil lolos.”
Raja Irlan, membimbing anaknya untuk duduk. Sebagai wali raja Irish tidak boleh terluka atau lelah karena ia pengganti ayahnya dalam memimpin kerajaan.
“Apa yang kau lakukan sudah bagus, Nak.”
“Tapi, aku dibantu Alandra dan dua temannya. Tanpa mereka, mungkin aku kalah.”
Sang ayah tersenyum. “Kita patut beri mereka hadiah. Tapi di mana mereka?”
“Alandra terluka, aku sudah memanggil tabib untuk mengobatinya.”
“Syukurlah, jika dia sudah membaik. Segera menghadapku ya.”
“Baik, Ayah,” ucap Irish.
Sementara ibunya, mendengarkan obrolan mereka dengan tatapan tidak suka.
~~~
Tabib memasuki kamar yang ditempati Alandra. Pemuda itu sedikit terkejut, karena hafal wajah tabib yang sudah sepuh itu.
“Bu-kankah ... Anda tabib seribu penyakit?”
Tabib itu tersenyum. “Apa kabar Tuan? Jangan panggil tabib seribu penyakit, tapi panggil saja tabib Ramsi, itu namaku.”
Alandra masih tak percaya apa yang ia lihat.
“Ceritakan padaku, bagaimana Anda bisa ada di sini?”
Ramsi mengelus janggut panjangnya yang putih.
“Putri Irish telah membawaku ke mari. Ia mengangkatku sebagai kakek angkatnya dan juga tabib kerajaan, ini merupakan kehormatan untukku,” jelas Ramsi.
“Wah, tuan putri sangat baik,” cetus Alandra. Walau ini membingungkan baginya, karena bagaimana mungkin, putri itu bisa mengenal sang tabib. Tempatnya saja, sangat jauh terpencil.
“Sebenarnya, putri merindukan kakeknya yang telah meninggal. Wajahku katanya mirip, sehingga beliau menginginkanku tinggal di sini. Kupikir, tak ada salahnya tokh di pondok itu aku sendirian. Di sini, aku memiliki banyak teman.”
Alandra mengangguk setuju.
“Bagaimana asal mula kalian bertemu?” tanya Alandra kemudian.
“Hmm, itu pada saat dia terluka, datang ke pondokku malam hari.”
Setelah obrolan itu, Alandra diminta tabib itu untuk menyingkap bajunya, dan tampaklah goresan luka di dadda dan telapak tangannya.
Dengan telaten, Ramsi mengobati luka Alandra dan membalutnya.
Saat lelaki tua itu sibuk mengobati, mata Alandra terkesiap. Setelah semakin diperhatikan, wajah Ramsi terasa familiar, persis seperti kakek-kakek yang terkena panah beracun. Bedanya, janggut Ramsi lebih panjang.
‘Tapi tidak mungkin! Kakek itu kan, sudah meninggal,' batin Alandra.
“Sudah selesai, Nak,” ucap Ramsi membuyarkan lamunan.
Alandra kembali merapikan pakaiannya sambil mengangguk hormat.
“Terima kasih banyak, Kek.”
“Sama-sama. Istirahatlah, hari sudah malam.”
Kakek itu beranjak, setelah merapikan barang-barangnya. Kemudian keluar dari kamar.
Tak lama, Zahn memasuki kamar Alandra dan duduk di samping ranjang.
“Pangeran, kau lihat tabib itu? Wajahnya mirip dengan kakek yang terkena panah beracun dahulu.”
Alandra tertegun, ternyata bukan hanya ia yang menyadarinya.
“Iya, tapi kan kakek itu sudah meninggal. Mungkin beliau hanya mirip.”
Zahn mengangguk. “Setuju. Aku hanya terkejut saja tadi, malam-malam muncul di balik pintu dan menanyakanmu. Kupikir hantu.”
“Uh, dasar penakut. Sudah sana, ke kamarmu, aku ingin istirahat.”
Alandra berbaring memunggungi Zahn.
“Baiklah. Segera sembuh ya, aku ingin kita berkeliling istana.”
“Hmm.” Hanya itu jawaban Alandra.
~~~
Malam gemintang.
Irish tak bisa memejamkan matanya, ia terus memikirkan keadaan Alandra.
‘Bagaimana keadaannya? Haruskan aku menjenguknya malam ini?’
Hatinya terus bersenandika. Sangat aneh dan tak biasa, jika seorang putri malam-malam datang ke kamar pelayan, pasti akan banyak mata yang menatap penuh tanya.
Namun, tidak ke sana malam ini juga, hatinya gundah. Sedari tadi, ia sibuk mondar mandir dengan gelisah. Untuk pertama kalinya, Irish begitu mengkhawatirkan seseorang.
‘Ah, besok saja.’
Irish mencoba berbaring, seraya memejamkan mata. Masih ada hari esok, biar pagi saja ia mendatangi pemuda itu, pikirnya.
Baru dua detik terpejam, terdengar ketukan pintu.
“Putri sudah tidur?”
Ternyata suara pelayan pribadinya.
“Oh, Lin. Masuklah, kamarku tidak dikunci.”
Seorang gadis, seusianya masuk sambil membungkuk hormat.
“Malam Putri, maaf saya lancang mengganggu istirahatnya.”
Irish tersenyum tipis. “Tidak apa-apa. Aku belum tidur, ada apa?”
“Tuan raja kesehatannya kembali menurun.”
“Apa?” Irish terkejut dan menyingkap selimutnya.
Tapi Lin menahannya.
“Jangan khawatir, Putri. Saya datang ke sini, karena diperintah beliau agar Anda menawarkan pekerjaan untuk Tuan Alandra dam kedua temannya.”
“Pekerjaan lagi?” Alis Irish berkerut.
“Iya, Putri. Beliau tidak bisa mengatakannya secara langsung jadi, meminta Anda untuk melakukannya besok.”
“Tapi, aku tidak janji, bahwa ketiga lelaki itu bersedia membantu lagi. Kudengar, mereka itu sebenarnya tengah dalam perjalanan ke suatu tempat,” ucap Irish.
“Oh, begitu ya. Tapi, tak ada salahnya Anda coba Tuan Putri.”
Gadis itu pun mengangguk.
“Baiklah, tawaran pekerjaan apa?” tanya Irish.
Lalu, Lin pun membisikkan sesuatu padanya. Setelah selesai, Irish menarik napas panjang.
“Akan kucoba besok.”