A_34

1628 Kata
Alandra, Zahn dan Oenix menunggu putri itu muncul. Ketiga lelaki itu, beserta beberapa prajurit lain bersiap menaiki kuda. Sementara sang tuan putri akan menaiki kereta. “Pangeran, kau yakin akan membantu gadis itu? Ingat, kita punya tujuan pribadi yang lebih penting,” tanya Oenix. Bahu Alandra melemas. Sebenarnya, bisa saja ia tolak tapi hatinya tidak bisa membiarkan perempuan sendirian pergi dengan prajurit yang kurang tangguh. Khawatir saja, jika di jalan putri itu terjadi apa-apa. Namun, lebih dari itu sebenarnya .... “Maaf Paman, aku__” “Oh, aku tahu. Pasti karena bayarannya tinggi kan? Kalau itu alasannya, aku setuju. Bukankah, kita memang butuh perbekalan yang banyak,” ujar Zahn tiba-tiba. Walau pun benar, sekali lagi bukan itu pokok utamanya yang Alandra pikirkan. “Aku merasa, kenal dengan gadis itu mata dan suaranya ... seperti seseorang yang pernah kutemui,” ucap Alandra. Netra kuning gadis itu, begitu familiar baginya. Zahn terkekeh, ia sekarang telah menilai Alandra seseorang yang mudah tertarik pada seorang gadis. “Hati-hati kau jatuh cinta seperti pada gadis di gunung Zas. Lagi pula, kau tahu putri Irish memakai cadar tadi, jadi kita tak tahu persis seperti apa, jika wajahnya tidak cantik. Aku khawatir, kau kecewa Pangeran,” celetuk Zahn. “Zahn! Jaga bicaramu,” tegas Oenix. Zahn hanya mengangkat bahu dramatis, baginya ucapannya benar. “Ini sangat aneh. Aku sering mendengar suara dan warna mata seperti putri Irish.” “Mungkin ... kau merindukan seseorang, Pangeran,” cetus Oenix. Alandra mengangguk setuju, walau ia bingung pastinya, siapa yang ia rindukan. “Lupakan dulu soal itu. Aku berpikir, ada yang aneh di daerah ini, seperti contohnya kerajaan kehilangan banyak gandum di gudang. Seolah-olah ada orang dalam yang melakukannya, semacam pengkhianatan,” terang Oenix. Mendengarnya, sontak Alandra meremat dadanya yang tiba-tiba perih. Mendengar kata pengkhianatan, jadi teringat pada kejahatan Luxone. “Jadi bagaimana Paman?” tanya Alandra kemudian. “Tidak ada salahnya kita bantu.” Mata Alandra membulat. “Jadi, kalian setuju membantu putri Irish?” Keduanya mengangguk pada akhirnya. Lalu, Oenik mendekat pada Alandra dan menepuk bahunya. Sejak awal pemuda itu begitu menonjol dalam kebajikan dan ingin selalu membantu. Tidak aneh baginya, jika Alandra memiliki hati yang mulia, karena sifatnya begitu sama persis dengan ayahnya, raja Alastor. “Terima kasih pada kalian.” “Tuan Putri Zaara Airish, datang!” ujar salah satu prajurit. Membuat pandangan Alandra, Zahn dan Oenix tertuju pada gerbang yang terbuka. Tampak gadis bercadar muncul ke hadapan. Alandra mengerjap. ‘Si-siapa tadi? Zaara Airish? Bukankah, namanya Irish?’ batin Alandra bertanya-tanya. Putri Irish muncul diantar sang ayah, ketiga lelaki kompak berdiri lalu memberi hormat. Sementara salah satu prajurit membuka pintu kereta kuda untuk sang putri. “Tolong jaga putriku satu-satunya,” ujar raja Irlan. Alandra dan dua lainnya kembali membungkuk. “Serahkan pada kami, Tuan.” Lelaki paruh baya yang terbatuk-batuk itu, mengangguk lega, ia kembali memasuki bangunan kokoh itu, diantar oleh pengawalnya. Gadis berparas bercadar itu, hendak menaiki kereta miliknya, tapi ia menyempatkan menatap ke arah Alandra dan kedua temannya. “Tuan-tuan, aku tidak begitu mengenal kalian. Jujur, saya ragu namun karena ayahku yang mengatakannya, maka saya berusaha mempercayai kalian,” ucap putri Irish. Alandra memandangi Zahn dan Oenix. “Tenang saja Tuan Putri. Kami akan memegang amanah ini.” Perempuan itu pun mengangguk lega. “Kupegang ucapanmu.” Ia mengalihkan pandangan. “Pengawal! Berikan mereka senjata!” titah sang putri. Putri Irish menaiki kereta dengan tenang. Kemudian, ketiga lelaki beserta beberapa prajurit, menaiki kuda mengapit kereta milik gadis itu. Roda mulai berputar, ringkikan kuda pun menandakan mereka mulai bergerak menyusuri jalan. *** Mata tajam Alandra menyapu sekeliling jalan. Tangan kanannya bersiap memegang gagang pedang miliknya. Jalan yang ditelusuri, adalah tapak roda dari kereta pengangkut gandum. Irish merasa aneh, mengapa tak ada satu pun penjaga yang mengetahui seseorang masuk ke gudang, padahal ruangan itu jelas-jelas dijaga ketat. ‘Perasaanku sangat tidak enak.’ “Tuan putri, jejaknya hilang sampai sini!” ujar salah satu prajurit. Untuk mengecek tanah yang mencetak roda kereta itu, Alandra dan yang lainnya menuruni kuda. Sementara Irish masih memperhatikan mereka di balik tirai kereta. Diam-diam, manik matanya terus menatap Alandra. Mereka berjongkok menyapu jalanan. Benarlah, tidak ada jejak lagi di sana bahkan telapak kaki sekali pun. Gludrakk! Gludrakk! Gludrakk! Suara hentakan kaki kuda dari arah depan, tiba-tiba melangkah cepat membuat mereka sangat terkejut. “Siaga!” ujar Alandra nyaring dan lantang. Prajurit langsung membuat formasi, begitu juga Alandra dan dua lainnya yang sigap memegang gagang pedangnya. Kuda-kuda itu muncul ke hadapan mereka. Alandra dan yang lain, kian bersiap dengan tatapan penuh tanya. Irish menggelengkan kepala, kuda-kuda itu berjumlah tak sedikit dan orang-orang yang menunggangi binatang itu, semuanya bertopeng. Kini, Alandra dan yang lain dipagari oleh orang-orang bertopeng itu, membuat geraknya terbatas. “Wah, apa-apaan ini! Siapa mereka?” ujar Zahn panik. Alandra dan Oenix mulai maju selangkah, ke arah mereka. Beberapa prajurit, berdiri melindungi kereta yang di dalamnya ada putri Irish. Di dalam, Irish makin mengernyitkan kening. Ini benar-benar aneh baginya, kedatangan pasukan kuda bertopeng itu tiba-tiba muncul seolah tahu sebelumnya bahwa mereka akan datang menyusuri jalan itu. “Siapa kalian? Tolong jangan menghalangi jalan kami!” ujar Alandra tegas. “Serahkan putri Zaara Airish, maka kalian akan selamat,” desis seorang lelaki bertopeng hitam. Keanehan sejak awal, mulai menemukan titik terang. Alandra tidak mungkin mengabaikannya dan harus segera menguak hal-hal yang janggal itu. “Tidak mungkin kami menyerahkan sang putri pada orang asing,” jawab Alandra kembali tegas. Terdengar ledakan tawa dari mereka. “Kau tidak mengenalku rupanya!” Mereka kompak turun dari kuda-kuda itu. Seseorang yang menonjol dibanding lainnya mendekat pada Alandra. Kini mereka berhadapan, dengan tubuh sama tinggi dan tegap. Di belakang Alandra, Oenix bersiaga menjaganya. Alandra, sudah menarik pedangnya begitu juga dengan lelaki itu. Lalu, perkelahian pun tak terelakkan. Suara dencing pedang beradu cukup melengking memecah keheningan. Oenix, Zahn dan para prajurit itu melawan orang-orang bertopeng itu. Alandra berhasil menangkis serangan dari lelaki berpakaian serba hitam itu, hingga ... ia sempat lengah, membuat lengannya tergores oleh mata pedang lalu tersungkur. Tak menyerah, Alandra bangkit dan terus melawan. Tapi lagi-lagi ia terpojok. Di sebelahnya Oenix dan Zahn pun tengah sibuk melawan anak buah lelaki itu, membuat mereka tidak sempat membantu Alandra. “Ah, membosankan melawanmu! Kau begitu lemah!” ujar lelaki itu pada Alandra. Alandra seketika menelan saliva. “Benarkah? Kalau begitu, lawanlah aku yang sepadan denganmu,” ucap Irish yang tiba-tiba telah berada di samping Alandra. Pangeran, cukup terkejut dengan penuturan gadis itu. Rasanya tidak percaya bahwa seorang putri mampu melawan lelaki kuat itu. “Jangan Putri, biar aku saja yang melawan,” ucap Alandra. Irish mendorong halus dadda Alandra. “Tidak apa-apa, kau duduklah di sana untuk istirahat. Aku memang ada urusan yang belum selesai dengan orang ini, maka harus kuselesaikan sekarang juga! Benar kan Tuan Vic?” ujar Irish seraya mengangkat dagu dengan angkuh. Lelaki bernama Vic itu kembali tertawa. “Jika kau berbicara seperti itu, tampak makin cantik.” Irish mengangkat pedangnya, dan menghunuskan ke arah Vic. “Jangan banyak bicara, lawan aku!” bentak Irish. Vic memiringkan kepalanya, karena nyaris saja pedang milik gadis itu menebas lehernya. Tapi wajah Vic tampak santai dan melayani setiap gerakan lincah tangan sang putri. Anak buah Vic tumbang satu persatu, membuat lelaki itu, kini hanya sendirian dan masih melawan serangan dari Irish. Sementara Alandra menonton keduanya, dengan mimik khawatir. “Kenapa kau kasar sekali tuan putri. Padahal, aku hanya ingin mengajakmu menikah denganku,” ujar Vic di sela tawa. “Itu karena kau egois! Tukang memaksa! Sudah kubilang, aku tak sudi menikah dengan keturunan perampok sepertimu, walau kau kaya tujuh turunan! Jangan pernah mimpi ingin menikahiku,” tegas Irish pongah. Kalimat itu menghujam jantung. Darah Vic mendidih, ia pun meluapkan emosi dengan mengeluarkan seluruh tenaganya. “Perempuan siallan!” bentaknya. Pedangnya terangkat ke atas, Irish tidak sempat mengelak karena gerakan Vic yang cepat, membuatnya jatuh tersungkur. Namun, tubuhnya tak terasa sakit atau perih, ia pun sibuk memeriksa. ‘Aku tidak apa-apa?’ Tapi saat kepalanya mendongak, Irish terkejut. Pantas saja pedang Vic tak melukainya karena tangan Alandra sekuat tenaga menghalanginya, membuat telapak tangannya mengalirkan darah. Irish tidak tega melihat itu, ia bangkit dan menggoreskan luka di punggung Vic dengan pedangnya. “Aaargh!” Vic berteriak kesakitan. Di saat itulah, Irish duduk memeriksa luka di tangan Alandra. “Kenapa kau selalu bertindak bodoh? Sudah dua kali, telapak tanganmu terluka,” ucap Irish, matanya mendadak sendu. Sedetik, Alandra merasa heran dari mana gadis itu tahu soal lukanya. Irish merobek kain pakaiannya, dan membalut luka di tangan Alandra. Di saat lengah itulah, Vic kembali bangkit dan mengangkat pedang, untuk menusuk punggung Alandra. Namun, Oenix dan Zahn sigap menangkap tubuhnya. Vic berusaha berontak, hingga cengkeramannya terlepas. Di saat itulah, ia berlari sekencangnya, lalu menaiki kuda miliknya, lalu secepat kilat ia pergi. “Huh! Dasar pecundang! Sudah terpojok, langsung kabur!” pekik Zahn kesal. “Sudahlah, yang penting kita semua selamat,” ucap Oenix. Keduanya mendekat ke arah Alandra yang masih duduk diam melihat Irish tengah membalut lukanya. “Pa__” “Panggil aku Alandra, bukan nama lain,” ucap Alandra. Oenix mengangguk paham. “Alandra, kau tidak apa-apa?” “Lukanya dalam, ada di lengan dan telapak tangannya, sebaiknya kita segera kembali ke istana. Tabib kerajaan akan mengobatinya,” ucap Irish seraya bangkit. Oenix dan Zahn membantu Alandra untuk berdiri. “Kau masuk ke keretaku saja,” imbuh Irish pada Alandra. “Mana boleh. Itu milik tuan putri.” “Tidak apa-apa. Kau sedang terluka,” ucap Irish tanpa berani menatap wajah Alandra. Kemudian, ia pun memerintahkan prajuritnya untuk mengawal kereta yang dinaiki pemuda itu. Kemudian Irish, Zahn dan Oenix menaiki kuda untuk kembali ke istana. Di dalam kereta, Alandra masih sibuk memikirkan sikap Irish dan hal-hal yang membuatnya merasakan hal aneh. Sementara Vic, terus memecut kudanya seraya bergumam, “Aku tidak akan berhenti sampai di sini. Lihat saja nanti!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN