Selama terluka, Alandra begitu perhatian pada Dayan. Bahkan ia menangkap satu burung kecil untuk menghibur rubah itu.
Tentu saja, Dayan girang atas sikap manis pangeran itu.
“Tuan, kau sangat baik. Tapi, kita tak bisa membawa burung kecil ini bersama kita.”
“Kenapa? Bukankah burung ini sangat lucu dan mungil?” Alandra menyentuh halus binatang bersayap itu.
“Benar, tapi apakah kau tega memisahkan dia dari keluarganya? mungkin saja induknya tengah mencarinya.
Alandra terdiam.
“Kita lepaskan saja ya, lagi pula burung ini tinggal di sini, dan hidup bebas,” imbuh Dayan.
Sang pangeran pun mengerti, ia tak sejauh itu berpikir tentang nasib burung itu.
“Baiklah, karena aku yang menangkapnya. Biar kulepaskan sendiri.
Dayan mengangguk. Kemudian lelaki itu melepaskan ikatannya dan dibiarkan terbang jauh sambil mencicit riang seolah berterima kasih.
“Lihatlah Tuan, burung itu tampak bahagia,” ucap Dayan.
“Kau benar.”
Lalu, hari yang masih pagi dan sejuk, Alandra dan Dayan melanjutkan perjalanan.
****
Di bukit yang hijau dan basah.
“Dayan, apakah itu ... gunung Zas?” tanya Alandra menunjuk gunung di kejauhan.
Dayan tersenyum ia memang sedang menunggu reaksi dari lelaki itu. “Benar Tuan, walau terlihat dekat, tapi kita bisa menghabiskan waktu sehari atau dua hari untuk sampai di sana tanpa istirahat.”
Alandra sangat kegirangan mendengarnya.
“Tidak apa-apa. Setidaknya aku bisa melihat bahwa gunung Zas itu nyata. Dan aku bisa segera sembuh.”
“Gunung itu sangat tinggi. Mungkin kau akan lelah mendakinya,” seloroh Dayan.
Alandra mendelik dengan kalimat itu. “Aku ingatkan padamu, kita sudah berjalan bukan hitungan minggu saja, tapi sudah berbulan-bulan. Banyak hal yang sudah dilewati. Mendaki gunung itu, bukanlah apa-apa.’
Dayan terkekeh. “Kita akan tahu nanti.”
Angin begitu dingin menerpa wajah, Alandra terus mengusap-usap tangannya seraya meniupnya.
“Aku lelah dan haus” ucap Alandra. Ia bukan hanya ingin istirahat, tetapi juga tenggorokannya sangat kering.
Suhu dingin, membuatnya mendambakan minuman hangat.
“Baiklah, kita mendekat ke pohon rindang itu. Sementara kau istirahat, aku akan mencari air untukmu.”
“Terima kasih, Dayan.”
Rubah berbulu putih itu meloncat, ke perbukitan pinus. Sementara Alandra duduk dengan menyilangkan kedua tangan di dadda tepat di bawah pohon.
Tak berapa lama, Alandra sudah terkantuk-kantuk menunggu rubah putih itu datang, hingga tak sadar suara langkah kaki mendekatinya.
“Permisi, Tuan.”
Hening.
Alandra tak bereaksi dengan suara itu. Rupanya ia telah terlelap.
“Tuan ....” ulangnya seraya sedikit mengguncang tubuhnya.
Kali ini, pemuda itu bergerak dan perlahan membuka matanya. Sadar, seorang gadis cantik duduk di hadapannya, Alandra beringsut.
“Si-siapa kamu?”
Tangan lentik dan mulus itu terulur. “Saya Mina.”
Alandra mengabaikan uluran itu dan mengedarkan pandangannya mencari sang rubah, tapi Dayan belum juga muncul.
“Tuan, bisa lihat mataku sebentar?” tanya Mina.
Secara reflek, lelaki itu menatap Mina. Entah sudah berapa detik, mereka saling menatap dan mimik Alandra berubah datar dengan tatapan kosong.
“Ikut saya ya. Tolong bantu untuk memperbaiki rumahku yang hampir roboh,” imbuh Mina meminta.
Mata Alandra membola. “Mau roboh? Ah, itu harus segera diperbaiki.”
Mina mengangkat sebelah sudut bibirnya, karena sikap lelaki itu berubah. “Betul. Mari ikut saya ke rumah."
Alandra mengangguk patuh, ia bangkit dan merapikan jubahnya.
"Saya sudah menyebutkan nama. Anda siapa?" tanya Mina kemudian.
"Alandra," jawabnya. Ia sepertinya lupa, akan nama samaran pemberian Dayan.
“Tuan!”
Panggilan Dayan membuat keduanya menoleh, tampak rubah itu berlari kecil ke arahnya.
“Kau lama sekali.”
“Maaf, aku tak menemukan sungai. Bagaimana kita bisa minum ya?”
“Kalau begitu, di rumahku saja. Saya akan menyuguhkan minuman hangat,” ucap Mina masuk ke obrolan mereka.
Dayan yang baru menyadari kehadiran Mina, memindai tubuh gadis itu. Tiba-tiba, ia merasa aneh mengapa di tempat sepi, banyak perbukitan dan pohon-pohon besar bahkan beberapa jurang yang curam, ada seorang gadis?
Bahkan menawarkan minuman di rumahnya, ia yakin jika perempuan itu bermaksud lain.
“Maaf Nona, tapi kami ada perjalanan penting dan harus pergi. Kami akan segera menemukan air. Terima kasih,” ucap Dayan. Ia mendongakkan kepala dan menatap Alandra, berharap tuannya itu mengerti isyaratnya untuk segera pergi.
Namun yang ada, lelaki itu terus menatap Mina tanpa sedetik pun berpaling.
“Sayang sekali, padahal sekalian saya minta bantuan untuk memperbaiki rumahku,” ucap Mina dengan wajah memelas.
“Betul Dayan. Kita bantu Mina terlebih dahulu untuk memperbaiki rumahnya. Itu tidak akan lama.” Alandra menimpali.
“Iya, sekalian kalian istirahat. Rumahku dekat dari sini.”
Keduanya saling melempar senyum di hadapan Dayan.
Rubah itu tentu saja terkejut, ditinggal sebentar mereka tampak akrab, bahkan Alandra sudah mengetahui nama gadis itu.
“Ta-tapi, Tuan ....”
“Ayolah, kita sebagai sesama harus tolong menolong kan?” tanya Alandra.
Dayan tak berkutik, ia sibuk menelan saliva.
“Mari, ikut saya,” ujar Mina saat tak ada lagi kalimat yang keluar dari mulut rubah putih itu.
***
Benar saja, rumah Mina tak jauh dari tempat mereka tadi. Ketiganya masuk, dan gadis itu menyuguhkan minuman hangat dari rempah.
“Minuman ini, berkhasiat untuk memulihkan stamina. Cocok untuk kalian yang sering bepergian jauh,” ucap Mina.
“Terima kasih.” Alandra meraih cawan itu dan meneguk isinya.
Namun, matanya tak lepas memandangi wajah Mina dan itu disadari oleh Dayan, membuatnya cukup kesal.
Ia mendekatkan diri ke arah telinga Alandra saat gadis itu merapikan sesuatu.
“Tuan, cepatlah tanyakan padanya mana kerusakan yang harus diperbaiki,” bisiknya.
Alandra mengangguk. Ia pun kembali mengalihkan pandangan pada Mina.
“Mina di bagian mana kerusakan rumahmu yang harus ku perbaiki?” tanya Alandra.
Mina berdiri tak jauh darinya. “Di atas sana. Atapnya rusak, sehingga jika hujan selalu masuk ke rumah, itu merepotkanku.”
Alandra mengangguk paham. Ia pun keluar diikuti Dayan. kemudian sebuah tangga disodorkan padanya, dan tanpa menunggu lagi ia mulai naik.
Saat Alandra tengah memperbaiki atap, Dayan menoleh ke arah Mina. Baginya ini, kesempatan baik untuknya bertanya, ia pun mendekati gadis itu.
“Maaf saya ingin bertanya sesuatu, apa boleh?”
Mina melirik sekilas ke arahnya dengan raut malas.
“Tanya apa?”
Kemudian gadis itu kembali menatap Alandra lekat-lekat, dengan tatapan berbinar.
“Apakah Anda tinggal sendirian di sini? Kulihat tidak ada rumah orang-orang yang tinggal di sekitar sini.”
masih menatap ke arah Alandra, Mina menggeleng. “Memang tidak. Ini bukan pemukiman penduduk, jadi aku hanya sendiri di sini.”
Kening Dayan berkerut. “Tapi kenapa? di mana keluargamu?”
kali ini Gadis itu menatap lurus ke arah Dayan dengan raut wajah tidak suka. “Maaf. Sepertinya itu bukan urusanmu wahai rubah. Lagi pula itu urusanku, dan aku hanya butuh temanmu untuk memperbaiki rumah. sementara kau tidak perlu ikut campur,” ujarnya ketus.
Mendengarnya, Dayan pun menarik nafas panjang dan tidak lagi mengeluarkan suara. Hatinya tetap merasa curiga terhadap gadis misterius itu terlebih Alandra tiba-tiba bersikap aneh. Ia menyesali dirinya, mengapa tadi meninggalkan Alandra sendirian, sehingga dirinya tidak tahu, apa yang terjadi saat rubah itu pergi.
'Aku yakin, Tuanku sedang tak sadar apa yang tengah dilakukan. Ia pasti tengah dikuasai alam bawah sadarnya oleh gadis itu. takkan kubiarkan!' batin Dayan bersenandika.
"Nona, setelah ini jangan ganggu tuanku. Dan biarkan kami pergi."
Mina langsung menyilangkan kedua tangan, dan mengangkat dagu dengan angkuh.
"Jangan mengaturku! Kenapa kau tak pergi saja? Sepertinya, tuanmu itu tak membutuhkanmu lagi."
"Jangan asal bicara!" tegas Dayan menghunuskan tatapan tajam ke arahnya. Namun Mina hanya terkekeh.
"Kita lihat nanti, Tuanmu akan lebih memilihku atau binatang tak berarti sepertimu!" desisnya.
"Sebenarnya, siapa kamu?" tanya Dayan.
Yang ditanya, hanya mengendikkan bahu tak peduli. Mina kembali menatap wajah Alandra terus menerus.
Dayan merapatkan gigi menahan emosi.
'Dari sikapnya ini, sekarang aku yakin. Mina bukan gadis biasa yang meminta pertolongan semata, tapi ada hal lain yang tak kuketahui, Aku harus segera menyadarkan tuan Alandra,' batin Dayan.