Kedua Kali

1279 Kata
Alandra telah mengganti atap lama, dengan menyusun kayu baru yang telah ia potong juga tumpukan jerami yang tersedia. Ia meregangkan kedua tangannya yang merasa pegal, dan perlahan menuruni tangga. Mina sudah menyambutnya dengan sikap manis. Ia menarik lembut lengan pemuda itu, membuat Dayan melotot karena terkejut. Sementara sikap Alandra justru biasa saja, malah santai seraya melemparkan senyuman pada Mina. ‘Apa-apaan ini?’ batin Dayan, makin merasa ada yang tidak beres. “Terima kasih, Tuan. Kau pasti lelah, sebagai hadiah aku memasak makanan istimewa untukmu.” Kembali, Alandra tersenyum. “Itu berlebihan, tapi terima kasih.” Dayan mengekor keduanya, untuk masuk ke rumah. Di sana, Alandra dan Dayan dibuat takjub karena begitu banyak makanan yang Mina suguhkan. Termasuk kambing bakar utuh. ‘Kapan gadis ini sibuk masak? Padahal, sepanjang tuan Alandra bekerja, dia terus memperhatikan tuanku,' batin Dayan. “Kalian makanlah yang banyak, aku ke dapur dulu.” Tanpa menunggu, Alandra menyambar daging dan makan dengan lahap. Dayan, menatapnya dengan perasaan khawatir. “Tuan, sikapmu aneh.” Alandra menoleh padanya. “Aneh bagaimana?” “Kau selalu manut ucapan gadis itu, dan cara menatapnya tadi ... begitu dalam.” Mendengarnya, Alandra tertawa kecil. “Aku juga tidak tahu, mengapa susah sekali melepaskan pandangan, apa mungkin karena Mina sangat cantik?” Dayan memalingkan wajah, merasa tak suka saja degan ucapan pemuda itu. Ia pikir, Alandra bukan tipe lelaki yang mudah luluh dengan perempuan cantik, tapi dugaannya salah. ‘Semua lelaki sama saja!’ “Makanlah dulu, nanti kita bicara lagi,” imbuh Alandra. *** Hingga malam telah berakhir, dan berganti siang. Dayan begitu kesusahan membujuk Alandra untuk melanjutkan perjalanan. Lelaki itu selalu beralasan masih lelah atau Mina masih membutuhkan bantuannya. Sama halnya dengan lelaki itu, Mina pun terus mengulur-ulur waktu agar Alandra tetap di rumahnya, bahkan Dayan dibuat muak dengan sikap manja Mina pada sang pangeran. Karena, sesekali gadis itu selalu merangkul lengan Alandra erat-erat sambil berkata manis. Mina pun kerap bersikap dingin pada Dayan, dan selalu diam-diam mengusir rubah itu. “Tuan Alandra, ikut saya sebentar. Saya ingin bicara berdua saja tanpa gangguan,” ucap Mina sambil mendelik ke arah Dayan. Tanpa menolak, Alandra mengikutinya ke sebuah ruangan. Karena penasaran, Dayan diam-diam mengikutinya. Dengan gerakan cepat, Mina memeluk pinggang Alandra. “Tuan, tak bisakah tetap di sini bersamaku? Aku ... sendirian dan merasa sepi, jika ada Tuan maka aku akan sangat bahagia,” ucap Mina. “Memangnya, kau tidak risih dekat-dekat denganku begini? Kau tahu, kulitku seperti ini, aku buruk rupa.” Mina melepaskan rengkuhan tangannya, dan mengusap lembut sisian wajah Alandra membuat getaran tak biasa di hati pemuda itu. “Bagiku tidak penting. Bahkan, di mataku, kau begitu rupawan karena kebaikan hatimu,” ucap Mina. Wajah Alandra sudah memerah dengan pujian itu. “Ah, Nona terlalu berlebihan. Aku__” “Aku menyukaimu, Tuan.” Mata biru Alandra membesar. “Apa? Mana mungkin kau menyukaiku.” Wajah Mina berubah sedih. “Jika tidak percaya padaku ... itu membuatku sedih.” Alandra mengerjap, merasa bersalah. “Maaf, hanya terasa mustahil. Karena fisikku ini, tidak mungkin ada gadis yang menyukaiku,” ucap Alandra. Mina menunjuk dadanya. “Buktinya, aku menyukaimu. Sudah kubilang, karena hatimu sangat baik, jadi kau memang tampan di mataku. Bagaimana soal tadi? Kau mau tinggal bersamaku selamanya?” tanya Mina. Kembali tatapan itu beradu begitu lama, hingga Alandra begitu larut menatap pemandangan indah di hadapannya. “Aku cantik kan Tuan?” bisik Mina, entah sejak kapan wajahnya ia dekatkan ke telinga Alandra. Alandra menelan saliva sambil mengangguk. “Bibir merahku juga menggoda?” tanyanya lagi. Kembali pemuda itu mengangguk, ia sudah tak ingat apa pun selain wajah cantik Mina. “Kemarilah, dekatkan wajahmu,” ucap Mina. Dayan yang sedari tadi diam-diam menyaksikan mereka, tambah muak dan tidak ingin membiarkan keduanya melakukan hal lebih. Ia berjalan cepat, dan memisahkan kedua wajah yang nyaris menyatu itu. Merasa terganggu, Mina melotot tajam ke arahnya. “Kenapa kau lancang masuk ke ruangan pribadiku? Cepat keluar. Dasar pengganggu!!” bentak Mina. Dayan mematung, karena gadis itu berani membentaknya. Sementara Alandra diam membisu tidak ada niatan untuk membelanya. Bahkan seperti kerbau dicocok hidung, saat Mina kembali bergelayut manja dan memintanya jangan menghiraukan Dayan, ia manut. “Tuan sadarlah, Mina bukan gadis baik-baik! Dia tengah mengusai pikiranmu,” ujar Dayan. Mina berpura-pura menangis, ia menenggelamkan wajah ke dadda Alandra. “Temanmu jahat, dia menuduhku sembarangan.” Melihat rengekan itu, Alandra jadi tidak tega. Ia beralih menatap tajam ke arah rubah betina itu. “Kau selalu kasar Dayan! Ayo minta maaf.” “Tuan, kenapa malah jadi menyalahkanku? Wanita itulah yang salah. Gara-gara dia, perjalanan kita tersendat padahal gunung Zas sudah terlihat. Ayo, tinggalkan dia dan mari pergi.” Dayan mendekat ke arahnya, dan menggigit ujung jubah lelaki itu untuk ia tarik. Tapi, Mina menghardiknya hingga terpelanting dan jatuh. “Aaakkh ....” Dayan meringis. Melihat rubah itu kesakitan, Alandra hendak mendekat untuk membantu. “Tuan, jangan tertipu!” ujar Mina seraya menahan tubuh tinggi itu. “Dia hanya pura-pura kesakitan, padahal aku tidak kencang mendorongnya tadi. Jangan dengarkan ucapannya. Lihatlah aku ....” Kembali Alandra menatap kedua mata milik Mina. “Kamu, tidak perlu ke gunung Zas. Karena, aku menerimamu apa adanya dan akan mencintaimu segenap jiwaku. Bukankah itu cukup?” sambung Mina. Alandra terdiam. Ia memikirkan ucapan gadis itu. Selama memiliki penyakit kulit, ia selalu minder dan diejek. Pernah ia merasa bahwa, tidak akan ada satu pun perempuan yang menyukainya. Tapi, ucapan Mina membuatnya merasakan rasa lapang dari sesak yang menyelimuti selama ini. Dayan berusaha bangkit, menahan sakit. Ia sangat ingin tahu, keputusan apa yang akan diambil Alandra “Tuan ... kau dengar aku? Tinggalah bersamaku,” ujar Mina kekeh. Pemuda itu, menarik napas panjang dan menoleh ke arah Dayan. “Dayan, maaf. Kau tahu kan, aku pernah mengeluh selama perjalanan denganmu karena lelah, walau selebihnya aku senang bersamamu, terima kasih. Tapi Mina benar, aku tidak butuh sembuh, karena sudah ada orang yang menerimaku apa adanya,” terang Alandra. Dayan berdecak kesal. “Lalu bagaimana dengan raja Alastor dan ibumu? Bagaimana juga dengan rakyat Xaviorus yang membutuhkanmu? Kau akan meninggalkannya begitu saja?” tanya Dayan. Kembali, Mina merangkul lengan pangeran itu kuat-kuat. “Tuan, jika kita bersama. Aku bersedia menemui kedua orang tuamu. Katakan pada mereka, aku calon istrimu.” Mina menjeda ucapannya. “Fisikmu yang sekarang, harusnya tak jadi halangan buatmu jadi raja, karena rakyat yang tulus akan mudah menerimamu, sepertiku,” imbuh Mina. Ada yang terasa hangat di hati Alandra. Ia benar-benar tenggelam dengan pujian dari gadis itu. “Dasar wanita sihir! Apa yang kau lakukan pada tuanku? Hingga manut saja apa maumu!” bentak Dayan. Tapi, Mina mundur seolah takut, padahal di belakang punggung Alandra, ia tengah meledek dengan menjulurkan lidah padanya. “Sudahlah, kau jangan terus menerus menyalahkan Mina.” Alandra menengahi. “Tapi dia menguasai pikiranmu, dia jahat!” Kini, giliran Alandra yang mendorong tubuh Dayan. “Kau keterlaluan. Pergi dari sini!” tegas Alandra. Dayan menggeleng tak percaya. “Kini, giliranmu yang mengusirku untuk gadis yang baru kau kenal?” “Maafkan aku, Dayan. Pergilah!” Mata Dayan memanas, ia mundur perlahan. Rasanya cukup, ia merendahkan diri. Ia pun harus memeluk harga dirinya yang masih tersisa. “Baiklah, aku pergi. Semestinya, perjalanan yang kita lalui selama ini, banyak memberikanmu pelajaran berharga, ternyata aku salah. Tapi ingatlah, aku lah yang menyukaimu dengan tulus, karena rela menemanimu perjalanan jauh, dan juga menerimamu apa adanya,” terang Dayan. Mina tertawa. “Kau bilang menyukai pangeranku? Apa kau tidak sadar, jika dirimu binatang?” Dayan menunduk, ia tak ada niatan untuk membalas ucapan pedas, dari Mina. “Aku pamit Tuan, jagalah dirimu baik-baik.” Dayan memutar tubuhnya. Sedetik kemudian, hati Alandra merasa hampa dan sakit. Lebih sakit dari saat Dayan pergi meninggalkannya pertama kali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN