Kenyataan Pedih

1749 Kata
Mina tersenyum penuh kemenangan. Ia menarik lengan Alandra, untuk ia dekap tubuh tinggi itu erat-erat. “Kau melakukan hal yang benar, Pangeran. Mari kita hidup bahagia bersama.” Alandra bergeming, ia terus menatap pintu saat di mana Dayan keluar beberapa saat lalu. “Kita adakan pesta malam ini untuk merayakannya. Aku akan mengundang semua teman-temanku.” Alis Alandra bertaut. “Kau ... punya teman?” Mina terkekeh. “Tentu saja, temanku ratusan. Kau bisa lihat nanti, aku akan mandi dan bersiap-siap, jangan lupa kau juga ya. Pakailah pakaian yang telah kusediakan.” Mina melenggak keluar dari kamar lelaki itu. ‘Dia punya teman?’ Alandra pikir, gadis itu benar-benar hidup sebatangkara, itu pun juga menjadi alasannya untuk tetap tinggal. Karena ia dan Mina, merasa saling melengkapi dan mengisi. Ia mengibaskan tangan, mencoba melupakan. Tangannya terulur pada kain hitam beraksen merah, untuk ia pakai malam ini. ~~~ Suara alat musik, menggema – menghentak pijakan. Gendang bertabuh, alat petik, suara seruling dan nyanyian benar-benar mengganggu pendengarannya. Malam itu, Alandra benar-benar dibuat tak nyaman. Ia ingin kembali ke kamarnya saja untuk istirahat, namun Mina terus memaksanya untuk bergabung. “Aku belum mengenalkanmu pada mereka. Ayolah.” “Tidak, Mina. Aku di sini saja.” Alandra menarik diri, untuk menjauh. Lagi-lagi, kedua mata Mina menghipnotisnya, membuatnya lagi-lagi tak berkutik. “Ikut denganku!” tegas Mina. Lengan yang tampak lembut itu menarik kasar tangan Alandra membuat lelaki itu setengah tergusur. Setelah dekat sekumpulan teman-temannya, Mina mendorong tubuh Alandra, membuatnya benar-benar tersungkur. Puluhan pasang mata tertuju padanya, sedetik kemudian terdengar gelak tawa, Alandra langsung menyapu pandangannya pada mereka yang ternyata tengah menertawakannya. Ia pun berusaha bangkit dan merapikan pakaiannya. Setelah bangkit ia menatap Mina yang juga tengah menertawakannya, pemuda itu mendekat dan berbisik, “Kau menertawakanku?” Mina yang belum selesai tertawa, sedikit menggelengkan kepalanya. “Aku hanya lucu cara kau jatuh tadi,” kilahnya. “Apa kau bilang lucu? Lalu kenapa kau tadi mendorongku?” “Karena jalanmu begitu lama, jadi aku melakukan itu tadi. Ah, sudahlah jangan terlalu serius dan dibesar-besarkan. Kita semua di sini akan bersenang-senang.” Alandra sibuk menarik napas panjang, mencoba menahan kekesalannya. “Mari, kukenalkan kau pada mereka.” “Teman-teman perkenalkan ini adalah kekasihku.” Semua yang hadir, menatapnya dengan tatapan tak percaya, sambil saling bisik satu sama lain. Alandra pun menunduk, karena ia merasa minder dan rendah diri. “Dia bukan orang biasa, melainkan adalah seorang calon raja di negeri Xaviorus,” sambung Mina. Makin terkejut lah orang-orang itu, dengan ucapan gadis itu. Sementara Alandra, sibuk menelan saliva dengan susah payah. ia takut jika salah satu dari mereka mengenalnya. Namun sejurua kemudian, dugaannya salah. Para tamu yang tampak mencurigainya itu, langsung melanjutkan acara pesta, dan mengabaikan kehadiran Alandra. Mereka menikmati acara pesta. Musik semakin menggema, Mina kembali mengajak Alandra untuk menari bersama. Kali ini lelaki itu menolak mentah-mentah. Tak disangka, Mina menyuruh beberapa orang untuk memegang tubuhnya dan secara tiba-tiba Mina meraih cawan, dan memasukkan air ke mulutnya. Ternyata bukan air biasa. Mulut Alandra terasa panas dan pahit. Ia memuntahkannya tepat di wajah Mina. Tak terima, Mina langsung menampar Alandra. “kurang ajar! Kau menumpahkannya di wajahku!” “Kau dan teman-temanmu lah yang kurang ajar!” balas Alandra, membuat suara riuh nyanyian tiba-tiba senyap. “Kau memberikanku minuman apa?” tanyanya. Pertanyaan itu, kembali mengundang gelak tawa sesisi tempat itu. Bahkan nada tertawa mereka, terdengar seperti ledekan. “Sebenarnya, kau ini hidup di negeri mana? Sampa8 tidak tahu minuman memabukkan,” ujar salah satu lelaki tinggi di hadapannya. Alandra membeku. ‘Minuman memabukkan?!’ Seketika Ia pun menatap tajam ke arah Mina. “Belum cukup aku ditertawakan?” tanya Alandra berbisik padanya. Mina terdiam. “Aku akan ke kamar sekarang juga, kalau kau melarang. Sekarang juga aku keluar dari rumah ini!” tegasnya. Mina pun membiarkan ia pergi, namun baru saja dua langkah berjalan, teman-teman mina langsung mengutarakan hal-hal yang menyakitkan. “Mina, kau pungut lelaki itu dari mana? lihatlah kulitnya menjijikkan!” “Benar, kau kan cantik. Tak sepadan dengan wajahnya yang buruk rupa,” timpal yang lain. Hinaan-hinaan terus terlontar dari mulut mereka. Alandra semakin terluka, ia pun memilih memanjangkan langkahnya memasuki kamar. ~~~ Setelah kejadian hari itu, Alandra benar-benar tertekan. Kebahagiaan yang ingin ia raih, kian hari kian hambar Janji manis dari gadis itu, hanya bualan. Karena beberapa hari setelah Dayan pergi, Mina bersikap acuh tak acuh padanya. Namun, ia tak bisa pergi dari rumah itu karena setiap hendak kabur, seolah ada kekuatan magis menghalanginya. Ini adalah sepenggal kisah yang penuh penyesalan. Alandra diam sendirian di dalam kamarnya, menyaksikan ribuan bintang yang berkelip manja di balik jendela. ‘Bagaimana aku harus keluar dari sini?’ Saat matanya terpejam, liontin miliknya bercahaya warna ungu. Saking silaunya, membuat Alandra membuka netranya. Cahaya itu, memenuhi ruang kamarnya. Ia memegang kalungnya erat-erat. ‘Apakah, kalung ini kembali bereaksi?’ Sudah berhari-hari, ia mencoba agar liontin itu mengeluarkan kekuatan seperti waktu itu. Yaitu, dengan hanya memegang kepala liontinnya, namun selalu nihil. Ia pun kini yakin, bukan karena genggamannya liontin itu bercahaya, melainkan dengan cara lain. Ah, saat ini ia tidak ingin memikirkan hal itu. Yang jelas, ia harus memanfaatkan situasi, saat liontin itu bercahaya, maka waktu yang tepat untuk menggunakannya. Perlahan Alandra keluar dari kamarnya. Malam itu, sudah sangat larut, namun ia tak peduli asalkan bisa keluar dari rumah laknat itu. Degup jantungnya kian berpacu cepat, sesekali ia membasahi bibir bawahnya agar meredam rasa gugup. Kakinya terus melangkah, mendekati pintu keluar dan rasanya terasa jauh. Senyumnya tersungging, saat pintu itu mulai nampak. Namun, di ruangan lain ada suara seseorang tengah berbicara. Alandra berusaha mengabaikan, namun rasa penasaran itu kian memuncak. Kakinya pun melangkah ke arah ruangan itu. Pintu yang sedikit terbuka, memudahkan pemuda itu untuk mengintip siapa yang ada di dalam ruangan itu. Matanya terbelalak, saat menatap Mina tengah berbincang dengan seorang lelaki bertubuh besar. “Aku tidak akan lama di sini, hanya menyampaikan perintah tuan Luxone,” ujar lelaki itu. Deg! “Tenang saja, besok adalah hari terakhirnya di sini, dan juga di alam ini. Ia akan mati, dengan racun yang sudah kubuat,” cetus Mina. Lelaki itu mendecih. “Semoga, itu bukan bualanmu Nona. Karena, harusnya racun itu kau berikan, tepat saru hari setelah dia terjebak di tempat ini.” Mina menunduk seraya menggigit bibir bawahnya. “Kau tidak menyukainya kan?” tanya lelaki itu. Mina mendadak gugup. “A-apa? Tidak mungkin, mustahil aku menyukai lelaki buruk rupa itu.” Tawa lelaki tinggi besar itu meledak. “Raut wajahmu seolah menunjukkan bahwa ucapanmu tak selaras dengan isi hatimu. Si pangeran itu mungkin buruk rupa, tapi kharismanya tetap memukau bukan?!” Mina bangkit berdiri, melihat itu Alandra pun mundur beberapa langkah. “Sudah cukup! Jangan meledekku terus. Pokoknya, kupastikan, jika besok adalah hari terakhirnya di sini.” Lelaki itu ikut bangkit. “Bagus. Memang seharusnya begitu, setelah ayahnya mati maka ia pun harus musnah. Dengan begitu, tuan Luxone akan mudah menjadi raja.” Piar!! Mata Mina dan lelaki itu membola, mendengar suara pecahan. Mereka cepat keluar dari ruangan itu dan mendapati Alandra tengah berdiri dengan wajah tegang, sementara di dekatnya, ada guci yang pecah tersenggol olehnya. Liontin yang tadinya bercahaya pun, kembali meredup. “Tu-tuan Alandra? Kau belum tidur?” Tampak sekali, wajah Mina begitu pucat karena terkejut. Berbeda dengan lelaki tinggi besar itu yang tampak santai sambil menyilangkan kedua tangannya. “Apa semua yang kalian ucapkan benar?” tanya Alandra dengan suara bergetar. Keduanya terdiam. “Jawab! Apakah benar, ayahku telah meninggal?” Alandra memang terkejut, mendengar kenyataan bahwa Mina adalah salah satu anak buah Luxone. Wanita itu telah menipu dan memperalatnya, bahkan hendak memusnahkannya. Namun, ia lebih terkejut lagi, saat mendengar ayahnya telah meninggal. Mina menatap temannya, entah mengapa ia tak tega untuk berbicara jujur. “Ayahmu mati, karena kalah berperang dengan tuan kami,” jawab lelaki itu. Tubuh Alandra kaku seketika. “Bukan hanya ayahmu, tapi ibumu, para tentara, pelayan dan rakyat sipil yang menjadi tentara dadakan, termasuk istana kerajaan ayahmu. Semuanya musnah dan hancur!” imbuh lelaki itu. “A-apa, ti-tidak mungkin!” “Ya, terimalah kenyataan. Tuan Luxone, telah menang.” Tubuh Alandra merosot, lutut seolah tak bertulang – sangat lemas. Sementara Mina, menggigit bibir bawahnya melihat Alandra yang tampak rapuh. Pangeran itu, menutup wajah dengan kedua tangannya dan menangis tertahan. Semangatnya, untuk mencari obat luruh sudah, karena mendengar kabar buruk tentang kedua orang tuanya. Seketika, ia menggasak surainya sambil berteriak memecah keheningan. Di saat rapuh itulah, lelaki tinggi besar menyikut lengan Mina. “Waktu yang tepat menghabisinya. Tebas kepalanya dengan pedangmu,” bisik Lelaki itu. Namun, Mina mendadak tidak tega. Sudah sedari awal, ia maju mundur untuk menghabisi lelaki itu, dirinya pun tidak tahu mengapa. “Hei! Malah diam saja, cepat!” kali ini, lelaki itu bersuara lebih nyaring. “Tidak! Aku tidak mau!” “Cih! Pecundang! Aku tak paham, mengapa tuan Luxone memerintahkanmu untuk meleyapkan pangeran terkutuk itu. Ya sudah, biar aku lah yang melakukannya.” Lelaki itu, menarik pedangnya, dan diangkat tinggi-tinggi seraya melangkah. Kemudian, ia telah berdiri tepat di depan Alandra yang tengah terduduk lesu. “Matilah kau!” Set! Grep! Mina menahan pedangnya, ia tepat memegang di bagian tajam. Sehingga, telapak tangannya berdarah. “Mina! Kau gila! Minggir!” teriak lelaki itu. Mina tak menggubris, ia menitikkan air mata, dan menurunkan pandangannya pada Alandra. “Tuan, pergilah!” “Untuk apa dan ke mana?” tanya Alandra. Ia sudah tak bersemangat untuk mengobati dirinya atau belajar bela diri. “Mengobati lukamu, dan membalaskan dendammu pada Luxone. Kau tidak mungkin diam dan menyerah begitu saja kan?” Alandra terdiam. “Balaskan dendammu pada Luxone, atas kematian kedua orang tua dan rakyat,” imbuh Mina. Kali ini, semangat Alandra tiba-tiba berkobar. Entah kekuatan dari mana, ia mampu berdiri lagi. “Siallan! Apa yang kau lakukan wanita bodohh!” teriak lelaki tinggi besar itu. Mina bergeming, malah terus menatap Alandra. “Demi keinginan ayahmu dan kerajaan. Cepat pergilah?” ujar Mina. Blugh! Lelaki tinggi besar itu mendorong Mina kuat-kuat, membuat lengannya kesakitan hingga meringis. “Mina!” pekik Alandra. “Jangan hiraukan aku. Tolong cepat pergi. Biar aku urus orang ini!” ucap Mina berusaha bangkit. Alandra menelan saliva, ia bingung antara harus tetap di sana dan melawan lelaki itu, atau meninggalkan Mina dengan lelaki jahat itu. Kilatan pedang, hampir menebas tubuh Mina. Namun, ia sigap menghindar walau serangan itu, terus dilontarkan oleh lelaki itu. Alandra, tidak mungkin membiarkan hal itu, terlebih Mina adalah seorang perempuan. “Berhenti!” bentak Alandra. Lelaki itu pun menoleh ke arahnya, dan menurunkan pedangnya. “Jangan beraninya, hanya pada perempuan! Kalau berani, lawan aku!” tegas Alandra.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN