Si Tangguh

1042 Kata
“Berhenti!” bentak Alandra. Lelaki itu pun menoleh ke arahnya, dan menurunkan pedangnya. “Jangan beraninya, hanya pada perempuan! Kalau berani, lawan aku!” tegas Alandra. Lelaki yang lebih besar darinya itu terbahak, dan terdengar menjengkelkan. “Keberanianmu, boleh juga. Ayo kita beradu pedang.” “Tuan, berhentilah! Kau akan kalah,” ujar Mina. Alandra menoleh ke arahnya. “Bukankah, kau bilang aku harus membalaskan dendam? Maka, inilah yang akan kulakukan.” Pemuda itu, mengalihkan pandangan pada lelaki besar di hadapannya sambil menghunuskan pedang. Lalu perkelahian adu pedang itu pun, tak bisa terelakkan. Suara nyaring dua pedang terus nyaring. Sesekali, Alandra terjatuh namun ia bangkit lagi dan melawan tanpa gentar. Mina, merasa harus melakukan sesuatu. Ia pun melempar guci di dekatnya dan melempar benda besar itu tepat di kepala lelaki jahat itu. “Aaaarggh!!” Lelaki itu kesakitan sambil memegang kepalanya yang mulai meneteskan cairan merah. Tak berhenti, Mina kembali memukul-mukul kepalanya dengan guci lain, hingga lelaki itu pingsan. Mina mendongakkan kepala ke arah Alandra. “Sekarang waktunya. Pergilah!” “Ta-tapi, kamu bagaimana?” Tanya Alandra khawatir. Mina tersenyum tipis. “Aku bisa mengatasinya, kau harus pergi ke gunung Zas. Ikutilah arah pohon, yang sudah aku tandai dengan kapur putih di ujung sana. Sengaja, kubuatkan tanda itu, untuk mempermudah jalanmu. Hanya itu ... yang bisa kulakukan untukmu, sebagai permohonan maafku,” imbuhnya menundukkan kepala dalam-dalam. Alandra mendekat padanya. “Bukankah, kau anak buah pamanku? Mengapa malah membantuku?” “Itu ... aku setengah hati melakukannya, karena semakin mengenalmu, hatiku terasa nyaman.” Tampak pemuda itu menarik napas panjang. “Jangan memikirkan perasaanku, abaikan saja. Waktunya kau pergi, sebelum lelaki jelekk itu sadar dari pingsannya.” Alandra mengusap kepala gadis itu. “Terima kasih, aku berhutang padamu.” “Tidak, justru aku telah menyusahkanmu. Maafkan aku.” “Tak ada yang perlu dimaafkan. Sekali lagi, terima kasih dan jaga dirimu baik-baik.” Mina mengangguk pelan, matanya memanas menahan tangis. “Semoga berhasil pangeran!” Alandra terkekeh lalu mengangguk. Setelah berpamitan untuk kesekian kali, Alandra keluar dari rumah itu. Ia tak lagi menoleh ke belakang, karena khawatir hatinya semakin terasa berat meninggalkan Mina. Tanpa Alandra tahu, rumah misterius itu tiba-tiba menghilang, bersama Mina dan lelaki besar itu. ~~~ Lontin milik Alandra, kembali bersinar menerangi jalanan gelap. Sesuai arahan Mina, ia melangkah ke ujung sana dan mengarah ke ribuan pepohonan tinggi. Tiap jalan yang disusuri, terdapat pohon yang telah diberi tanda sebuah goresan warna putih. Sehingga, ia berjalan tanpa hambatan. Ia pun tersenyum dan bergumam tentang rasa terima kasihnya pada Mina. Langkahnya kian panjang, dan entah sudah berapa lama. Ia benar-benar menghiraukan rasa lelah, karena hatinya ingin segera menyelesaikan misinya. Pikirannya berkecamuk, memikirkan kepergian kedua orang tuanya. Namun, semua telah terjadi. Yang harus ia lakukan adalah, mempertahankan kekuasaan dan kerajaan, jangan sampai berada di tangan yang jahat. “Kau benar-benar jahat Luxone. Akibat ulahmu, menghancurkan seluruh hidupku!” ujar Alandra geram. Ia menonjok sekencangnya, pada batang pohon besar. Lalu, sejurus kemudian ia menangis di keheningan malam yang sudah hampir pagi itu. Saat ia lelah mengeluarkan rasa beban dan sesak. Alandra bangkit dan hendak melanjutkan perjalanan. Tiba-riba, suara ringkikan seekor kuda, membuat Alandra terperanjat. Ia segera menarik pedang dan sibuk melirik ke sekeliling tempat yang mirip hutan itu, namun tak ada apa-apa di sana. Padahal, ia yakin dengan jelas mendengar suara ringkikan kuda. Setelah dirasa tak ada lagi suara. Alandra memasukkan pedangnya, dan melanjutkan langkah. Lagi, suara ringkikan itu terdengar jelas, kali ini Alandra sibuk mengusap tengkuknya yang tiba-tiba meremang. “Apa mungkin, hanya halusinasi? Atau kah makhluk halus tengah menguji nyaliku?” Ujarnya sibuk bersenandika. Saat pikirannya tengah berdebat, seseorang bersuara di telinganya. Membuat Alandra terkejut bukan kepalang. “Tenanglah ... ini aku, Argus. Kau dengar suaraku?” Alandra menelan saliva, keringatnya sudah sebutir biji jagung. “A-apakah kau ... benar-benar, Tuan Argus?” tanya Alandra meyakinkan. “Benar. Kau sudah mendengar kabar orang tuamu dan kerajaan?” Alandra mengangguk lemah, wajahnya kembali sendu. “Sabar ya Anakku. Kau pasti bisa melewati semua ujian ini. Maka dengarkanlah wangsitku.” “Apa mungkin? Aku tidak memiliki ilmu untuk menerima wangsit,” ucap Alandra yang menatap ke atas langit. Ia mampu mendengar suara dari Argus, tanpa bisa melihat wujudnya. “Iya. namun Dayan dari jauh sana, memberikan sedikit ilmunya untukmu. Sehingga, kau bisa mendengarkanku,” ucap Argus. Seketika, ia teringat rubah putih berbulu lebat itu. Walau pun telah berkali-kali dikecewakan, namun Dayan tetap membantunya. ‘Ah, Dayan, di mana kau? Aku merindukanmu,' batinnya. “Apakah pantas? Aku ... telah menyakitinya, Tuan Argus. Diriku, bahkan melanggar pesanmu, untuk menjaga perasaan Dayan. Maafkan aku,” ujar Alandra dengan raut kecewa. “Tidak apa-apa. Aku justru tak menyangka, jika Dayan banyak berubah, ia tak lagi liar dan perasa. Semua pasti karena pengalamannya berpetualang denganmu,” ucap Argus. Alandra masih dengan posisi menunduk menahan perasaannya. Rasa sesal telah mengecewakan rubah itu, kian menghantuinya. “Pangeran Alandra!” Pemuda itu mengerjap, suara Argus membuyarkan lamunannya. “Bagaimana? Kau mau mendengarkan wangsitku?” tanya Argus kemudian. “O-oh, iya. Tentu, apa itu?” Alandra tidak memahami maksud Argus, namun ia manggut saja dan mendengar apa yang akan diucapkan lelaki paruh baya itu. “Berjalan lah beberapa langkah ke arah pohon merah di sana. Tak jauh dari situ, kau akan menemukan seekor kuda. Naikilah, untuk sampai di gunung Zas. Kuda itu istimewa, mampu mendaki gunung setinggi apa pun. Maka, itulah bantuan dariku, semoga berhasil anakku. Karena, hanya kau lah tumpuan para rakyat sekarang,” terang Argus. Tatapannya lurus pada pohon berwarna merah satu-satunya. Setelah percakapannya dengan Argus selesai, ia mendekati pohon itu. Kaki panjangnya terus berjalan dengan hati-hati, dan menelisik tiap tempat yang minim cahaya itu. Namun, ia sedikit lega, karena hari akan segera pagi, sehingga cahaya kian terang. Cukup jauh ia melangkah, hingga kakinya berhenti tepat di depan seekor kuda berwarna coklat. Kuda itu, memunggunginya, sambil asyik memakan rerumputan. ‘Itu pasti kuda yang dimaksud Argus,' batinnya. Ia mendekat, dan mengelus sisian tubuh kuda coklat itu. “Hei, kau gagah juga kawan. Siapa namamu?” tanya Alandra. Lalu ia memikirkan nama yang bagus buat kuda jantan itu. “Hm, bagaimana kalau namamu adalah Tangguh? Ah, ya itu nama yang bagus. Sekarang kau kuberi nama Tangguh!” ujarnya masih mengusap leher sang kuda. Kuda coklat itu, kembali meringkik dan mengangkat kedua kakinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN