Dua Sahabat

1124 Kata
Terkadang, mengingat hal-hal yang menggembirakan di masa lalu bersama kedua orang tuanya, membuatnya tanpa sadar menyunggingkan senyum. Sebuah kenangan manis yang tak mudah dilupakan. Hatinya bergemuruh, kerinduan itu kian memuncak. Namun, ingatan pahit seolah menamparnya pada sebuah kenyataan bahwa sang ayah telah tiada. ‘Bagaimana dengan ibuku? Apakah ia ikut meninggal, atau selamat?’ batinnya. Alandra menggelengkan kepala, ia benar-benar risau dan selalu maju mundur. Haruskah meneruskan mencari obat dan guru bela diri, atau kah menyerah saja? tokh kerajaan Xaviorus telah hancur. Hari mulai terang, walau sinarnya masih terasa hangat menyentuh indera peraba. Alandra masih menaiki si Tangguh, menggelapkan langkah menuju kaki bukit. Tampak gunung Zas, kian dekat di kedua netranya. Suara kaki kuda, membuatnya menoleh ke belakang. Bukan suara kaki si Tangguh saja, melainkan ia mendengar suara kaki kuda lain yang jumlahnya lebih dari satu. Ternyata, pasukan berjubah hitam bertopeng mendekatinya. Samar, mata Alandra melihat lambang ular di dadda mereka. Kini ia tahu, bahwa itu adalah anak buah Luxone, dan pasti mereka datang untuk menyerangnya. Ia pun memacu kudanya dengan cepat, karena di belakangnya sekelompok pasukan berkuda itu terus mengejarnya. Hingga, saat Alandra melewati perbukitan menuju pegunungan, mereka masih saja bersikukuh untuk mengejar, bahkan menyerang dengan anak panah. Beruntung, Alandra dengan gerakan sigap berusaha menghindar, hingga anak panah itu tidak mengenainya dan menancap ke tanah. Walau begitu, pemuda itu tidak bisa tenang karena serangan demi serangan mereka lakukan. Rupanya, saat ia melewati jalanan yang ditunjukkan oleh Mina, hal itu diketahui anak buah Luxone. Sehingga, mereka pun berkejar-kejaran untuk menangkap sang pangeran dan di hadapkan pada Luxone, hidup atau mati. ~~~ Hujan deras, turun secara tiba-tiba, membuat pergerakannya melamban, karena khawatir jika kudanya terpeleset dan jatuh. Kelompok berkuda itu, masih saja mengejar. Hingga, Alandra lengah, satu anak panah menancap di lengannya. “Aaakkh!” Ia mengerang kesakitan. Cairan merah, langsung menembus jubah yang ia kenakan. Khawatir tubuhnya tumbang, Alandra berusaha kuat untuk terus menghindar dari kejaran walaupun luka akibat panah itu, terasa ngilu dan menyakitkan. Sambil terus memacu si Tangguh, Alandra mencengkeram tangannya yang terasa dingin, air hujan menambah luka perih di lengannya. Ia tidak mungkin mencabutnya saat itu, karena hanya akan mengganggu pergerakannya. Merasa tak ingin semakin kalah dan tersudut. Sekuat tenaga, pemuda itu meraih panah miliknya, ia memutar sedikit tubuhnya ke arah kelompok itu dan melesatkan anak panah ke arah mereka. Berhasil. Tiga orang di antara mereka, tumbang. Di saat itulah, Alandra kembali menjauh dari mereka dan memiliki kesempatan untuk mencabut anak panah di lengannya. Keberuntungan belum berpihak, saat ia semakin jauh. Ternyata, jalan itu buntu. Di bawahnya adalah jurang yang sangat curam, sementara di samping kanan dan kiri adalah tebing tinggi menjulang. Sadar telah salah jalan, ia pun memutar kudanya dan kembali ke jalan yang sama. Merasa pasrah jika kembali berpapasan dengan kelompok berjubah hitam itu. Benar saja, semakin dekat Alandra dan mereka. Ia pun mengangkat pedangnya dan menebas siapa saja yang ia lewati. Suara desing pedang beradu pun, memecah keheningan. Tak sedikit dari mereka, yang terjatuh dan tumbang akibat tebasan pedang oleh tangan sang pangeran. Namun, dari arah belakang satu orang dari mereka mendorong punggungnya dengan kakinya, sekuat tenaga. Membuat, Alandra tersungkur ke lumpur yang menggenang akibat hujan. Alandra berusaha bangkit, namun kembali jatuh karena seseorang menginjak punggungnya, bahkan seorang lainnya dengan sengaja menginjak lengannya yang terluka, membuat Alandra kembali mengerang kesakitan. sementara mereka sibuk terbahak, menertawakan ketidak berdayaan sang pangeran. “Sekaranglah waktunya! Tebas kepalanya, dan mari kita persembahkan untuk tuan Luxone,” ujar sang ketua kelompok itu. Maka salah satu dari mereka mengangkat pedang, Alandra pun sudah terpejam pasrah, namun tiba-tiba gerakannya terhenti. Ada sebuah tenaga, yang menghalaunya. Seketika, kelompok berjubah itu menoleh pada mata pedang yang dipegang seseorang. Kilatan petir, membuat cahaya yang mengenai wajah lelaki itu. Tidak, bukan satu orang melainkan dua orang lelaki. ‘Zahn? Oenix?’ batin Alandra bertanya-tanya. Ia sangat mengenal Zahn, lelaki sebayanya yang merupakan pengawal pribadi ayahnya. Sementara Oenix, lelaki itu adalah tentara kerajaan yang ia tahu, telah berkhianat kepada kerajaan. Kedua lelaki beda usia itu, melawan mereka dengan tebasan pedang. Gerakannya lincah dan lihai, Alandra dibuat kagum melihatnya. ‘Ah, aku ingin sejago mereka dalam bertarung.’ Satu persatu lelaki berjubah hitam itu tumbang, hingga tewas. Setelah mereka dikalahkan, Alandra mendekat pada Zahn dan Oenix. “Kalian, telah menolongku. Terima kasih.” Oenix masih dengan napas memburu, memegang kedua bahu Alandra. “Pangeran terluka, mari saya bantu mengobati. Sambil akan kujelaskan semua yang terjadi.” Walau masih bingung dengan ucapan Oenix, ia pun mengikuti langkah lelaki paruh baya itu dibantu Zahn yang memapahnya. Mereka duduk di tempat yang teduh, hujan makin reda tinggal rintik-rintik kecil. Kuda-kuda mereka, telah diikat kuat di batang pohon yang besar. ~~~ Oenix, telah menempelkan ramuan yang ia bawa, pada lengan Alandra. Lalu, menyodorkan minuman rempah, karena sang pangeran tampak pucat akibat darah yang banyak keluar. Alandra menatap satu-satu ke arah keduanya. Menunggu salah satu dari mereka untuk bersuara. “Kau sudah siap mendengarkan?” tanya Oenix. Alandra mengangguk. “Sebelumnya apa yang kau ketahui tentang kerajaan ayahmu?” Alan ramalan salivanya. “kudengar ayahku telah tewas banyak yang terluka dan kerajaan Xaviorus hancur. Apa itu benar?” ucapnya dengan nada bergetar. Oenix dan Zahn, saling memandang satu sama lain. Kau benar ayahmu telah tewas akibat ulah pamanmu kerajaan telah dibakar dan banyak tentara dan juga rakyat terluka. Dan sebenarnya ratu Tathiana selamat tapi ....” “Tapi apa?” “Ibumu tewas, terpanah. Saat kami bertiga, tengah karena terlelap malam hari. Maafkan kami.” Mata Alandra terpejam ia sudah terluka kehilangan ayahnya, ditambah mendengar ibunya meninggal rasanya sangat hancur. “Kami di sini, akan menemani dan juga menjaga Anda, Pangeran,” imbuh Oenix. Alandra bangkit berdiri dan memunggungi mereka. “Aku tidak ingin membebani kalian. Karena, pasti kalian punya kehidupan yang ingin dijalani sendiri. Pergilah, lagi pula aku sudah tak punya tujuan hidup, akan mengikuti saja, ke mana kaki melangkah.” Zahn menarik napas panjang, ia mendekat ke arah pangeran. “Kami, tidak akan meninggalkan engkau Pangeran. Selain berjanji akan menjagamu, tetapi juga dari diri kami memang ingin menemanimu. Tolong izinkanlah.” Untuk sesaat Alandra terdiam, ia pun membalikkan tubuh diiringi senyuman tipis. “Terima kasih, hati kalian sangat mulai. Namun, Tuan Oenix, mengapa dulu Anda ada di kubu Luxone?” “Ah, ya. Itu belum sempat kujelaskan padamu. Sebenarnya, saya ditugaskan raja Alastor untuk berpura-pura mendukung Luxone. Strategi ini, mampu menumpas banyak anak buahnya, pamanmu sempat kewalahan,” terang Oenix. Alandra bisa bernapas lega mendengarnya. “Terima kasih, aku sempat kehilangan kepercayaan akibat dikhianati pamanku sendiri, namun kehadiran kalian mematahkan semuanya.” Ketiganya saling menepuk punggung masing-masing. “Sekarang, hendak ke mana tujuanmu?” tanya Oenix. Alandra menunjuk kaki gunung Zas. Kita akan ke sana, dan suhu udara pasti akan sangat dingin, jika kalian memiliki baju hangat pakailah.” Keduanya menatap gunung es itu, dan kompak mengangguk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN