A_25

1006 Kata
Keesokan hari, di pagi yang dingin. Zahn mengajak Ishan dan Oenix, ke kampung halamannya. Tak masalah bagi Alandra, karena masih satu jalur dengan arah yang akan dilalui. “Kita akan ke mana setelah ini?” tanya Alandra. “Oh, kita akan mencari tempat penginapan. Karena seharian bahkan di malam hari, kita terus berjalan dan itu sangat melelahkan, maka kita butuh istirahat barang sehari, bagaimana Pangeran?” “Saya setuju Paman. Mendaki gunung, bukan hal yang sepele, seluruh tubuhku rasanya pegal dan kaku.” “Aku tahu di mana tempat penginapan yang pas,” cetus Zahn. “Di mana?” tanya Alandra dan Oenix kompak bertanya. Zahn tersenyum. “Ikuti aku!” Dengan menaiki kuda, perjalanan menjadi lebih cepat. Mereka berjalan melewati rumah-rumah para penduduk, hampir semua rumah yang mereka temui adalah rumah sederhana layaknya milik para petani biasa, tidak ada yang tampak lebih mencolok dari pada yang lainnya. Di beberapa ruas jalan mereka mendapati sekumpulan anak-anak yang sedang bermain dengan riang gembira, beberapa kali mereka mendapati pula orang-orang yang pulang dari kebun mereka. Suhu udara menghangat, kini Alandra tahu ia telah jauh dari pegunungan es. “Zahn! kau sudah kembali!” tiba-tiba terdengar suara seorang lelaki tua, berlari mendekati ketiganya, membuat kuda mereka pun berhenti. Zahn turun dari kuda, dan mendekat. Mereka saling berpelukan “Kakek apa kabar?” tanya pemuda itu di sela senyum. “Baik. Harusnya, kakek lah yang bertanya, bagaimana kondisimu? Setelah penyerangan kerajaan, kau bak hilang ditelan bumi. Kakek sangat khawatir, a karena tidak menemukan kabarmu.” “Aku selamat dari penyerangan itu, dan kini telah bersama __” Alandra menyikut lengannya, agar Zahn tidak mengatakan tentang siapa Alandra dan asal usulnya. Ia hanya merasa trauma, dengan orang asing yang ditemui selama perjalanan yang ternyata musuhnya. “Oh, aku ... ke sini bersama kedua sahabatku, namanya Paman Oenix dan __" "Panggil saja, saya Lu,” ujar Alandra, kembali memotong ucapan Zahn. Alis lelaki tua itu bertaut. “A-apa? Luara, Lu ....” “Panggil saja Lu, Kek biar mudah,” ucap Alandra. Ia tiba-tiba tersenyum tipis, nama unik itu pemberian Dayan, nama samarannya. Walau sulit disebut, tapi ia tak mengerti mengapa bisa mengingat nama itu. ‘Dayan ... aku baru menyadari jika kau banyak membantuku,' batin Alandra. Tawa dari kakek, Zahn dan Oenix membuyarkan lamunannya. “Namamu bukan hanya unik, tapi juga susah disebutkan,” ucap sang kakek. Mereka kembali tertawa. “Ya sudah, kalian tampak lelah. Mari ikut kakek.” Lalu, ketiganya mengekor lelaki itu, ke suatu tempat. ~~~ Mereka sampai di tempat penginapan. “Zahn, kakekmu mengarah ke daerah penginapan, untuk apa?” bisik Alandra. Zahn mendekatkan bibir ke arah telinga. “Ini penginapan kakekku. Kita akan bermalam di sini,” jawab Zahn santai. “Oh ... itu bagus, terima kasih banyak.” Kembali, ketiganya mengikuti langkah sang kakek. Hingga, mereka sampai di kamar luas yang kosong. “Kalian, akan bermalam kamar ini. Sudah kusediakan tiga alas tempat tidur.” “Wah, terima kasih Kek.” Kakek itu mengangguk, dan menatap Zahn. “Zahn, ikut kakek sebentar. Dan biarkan kedua sahabatmu istirahat,” cetusnya. “Baik, Kek. Teman-teman, aku pergi dulu ya. Kalian, makanlah makanan yang telah tersedia, dan istirahatlah.” Alandra dan Oenix membungkukkan badannya. “Terima kasih, jamuan istimewanya.” ~~~ Di sebuah ruangan pribadi, dua lelaki beda usia, duduk berhadapan. Sang kakek, menuangkan teh bunga Telang pada cangkir milik Zahn. “Minumlah, untuk kesehatanmu.” Zahn meraihnya, dan meneguknya beberapa seruput. Kakek menatap cucunya lekat-lekat. “Kau sudah dengar kabar adikmu?” Zahn mengangguk. Ia pernah menerima sebuah surat tentang kabar adiknya yang meninggal terkena racun. “Sebelumnya, adikmu memang benar-benar hebat mampu menempuh perjalanan yang jauh demi mendapatkan ramuan itu. Ia diam-diam melakukannya sendiri, karena tidak ingin menyusahkan. Namun sayang, obat penawarnya tidak ada, hingga ia pun meninggal.” Raut kesedihan tampak kembali di wajah Zahn. “Ya, Adikku memang benar-benar hebat. Meskipun sedang sakit ia tetap menampilkan senyum dan berusaha kuat.” Zahn sebenarnya cukup terluka, karena adiknya selalu menyembunyikan sakit yang ia derita, hingga ia tahu setelah adiknya meninggal. ‘Itu ... Sangat menyakitkan,' batinnya. Zahn menjeda ucapannya. “Aku telah menyelidiki, penyebab tewasnya adikku yang terkena racun dan aku tahu siapa pelakunya.” “Siapa?” tanya kakek itu penasaran. “Luxone,” jawab Zahn. Kakek tua itu menggeleng tak percaya. “Dari mana kau tahu lebih jelasnya?” “Aku diberitahu oleh tentara khusus yang sangat dipercaya oleh raja Alastor, yaitu Oenix. lelaki yang tadi bersamaku yang diperintahkan oleh raja Alastor, untuk menyelidiki musuhnya. Hingga terkuaklah sebuah fakta bahwa adikku telah diracun oleh Luxone, karena menjadi saksi mata utama atas pembunuhan rakyat dan bala tentara kerajaan Xaviorus. Wajar saja, adikku tidak menemukan penawar, karena hanya Luxone yang memilikinya," terang Zahn panjang lebar Kakek tua itu berdecak tak percaya. “Tak kusangka, Luxone begitu jahat.” Sang kakek yang mendengar itu, tampak lemas, membuatnya terasa lesu. Namun, semua telah terjadi dan takkan kembali. Maka dari itu, Zahn tak ingin sedih berlarut-larut. Tujuannya kini, terus membersamai Alandra untuk membantunya melawan Luxone, juga membalas perbuatannya pada adiknya tercinta. “Kakek, sebenarnya Lu itu adalah pengeran. Ia anak dari raja Alastor,” cetus Zahn. Mata sang kakek membesar. “Alandra maksudm Tidak mungkin! Bukankah, pangeran telah mati dipenggal?” Zahn menggeleng. Ia pun menjelaskan, apa yang sebenarnya terjadi saat itu, hingga membuat Alandra harus menempuh perjalanan panjang untuk menemukan obat. "Ia sangat berhati-hati dengan orang asing, maka ketika ditanya nama, ia memakai nama samaran. mohon Kakek memaklumi itu." "Tidak apa-apa. Memang harus seperti itu, demi kehati-gatian. Lalu, bagaimana keadaannya sekarang?” tanya kakek itu. “Ia sudah sembuh Kek. Untuk itulah, aku mampir menemuimu, adalah untuk meminta izin,” ucap Zahn. “Apa itu?” “Izinkan aku, menemani sang pangeran dalam perjalanan, untuk mencari guru bela diri, agar kami bisa melawan Luxone dan antek-anteknya.” Sang kakek bukan tidak mengizinkan, hanya saja tak terpikirkan olehnya jika Zahn bertindak sejauh itu. “Soal itu ... akan kakek jawab esok pagi, kakek ingin bicara lebih banyak dengan sang pangeran.” Zahn pun mengangguk setuju, dan mengakhiri obrolan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN