A_26

1284 Kata
Kembali, pagi menyingsing. Alandra telah membersihkan diri dan duduk di bangku yang terbuat dari kayu, membiarkan sejuknya pagi menyentuh wajahnya. Ia merogoh sebuah gulungan, yang berisi sebuah gambar peta pemberian Airish. Entah kenapa, ia sering melihat peta itu secara seksama, hatinya tergerak ingin mendatangi kediaman gadis itu. Seseorang menyentuh pundaknya, membuatnya cukup terkejut. “Ah, Paman?” Oenix duduk di dekatnya, tak lama Zahn pun ikut duduk untuk bergabung. “Kulihat, kau termenung sejak tadi. Memikirkan apa?” tanya Oenix. Alandra menunjuk gulungan yang dipegangnya. “Aku belum cerita pada kalian. Bahwa, saat di gunung Zas, aku bertemu seorang gadis yang sangat cantik.” Zahn sibuk menahan tawa, dan itu disadari oleh Alandra. “Hei, jangan salah paham dulu. Dengarkanlah,” ujar Alandra, pipinya mulai memerah “Hm, baiklah.” “Awalnya, aku merasa takut kalau gadis itu jahat, atau salah satu dari anak buah Luxone yang selalu membuntutiku.” Alandra terdiam sejenak. “Namun aku salah. Ternyata, ia membantuku untuk membuat obat dari bunga Chamomile, dengan membuatkanku teh, lalu meminumnya. Setelah itu, aku diarahkan ke danau dekat taman untuk membersihkan sisa penyakit yang menempel di tubuhku. Hingga akhirnya, aku bisa sembuh seperti sekarang,” ujar Alandra panjang lebar. “Kemudian?” tanya Zahn mulai penasaran. “Walau dia baik, tapi aku yakin gadis itu bukan perempuan biasa, namun memiliki kekuatan magis. Tapi, lalu ia memberikanku peta ini. Lihatlah!” Mereka, menyimak secara seksama gambar garis-garis panjang itu. “Jujur, aku tak paham gambar ini. Bagaimana denganmu Paman?” tanya Zahn. “Sama, aku pun tak paham. Tapi kenapa harus cari tahu, itu bukan tujuan utama kita?” Alandra seketika tersenyum malu hingga menggaruk tengkuknya. Sebagai lelaki sebaya, Zahn tahu apa yang dipikirkan lelaki itu. “Hm, begini Paman. Sepertinya, pangeran kita ini tengah jatuh cinta, dan ingin mendatangi kediaman gadis itu,” cetus Zahn menggoda, sontak wajah putih Alandra kembali memerah seperti tomat. “Oh, begituuu ....” “Zahn! Awas kau!” ujar Alandra kesal, namun keduanya malah menertawakannya. “Hei, apa yang sedang kalian bicarakan? Sepertinya, seru,” ucap sang kakek. Mereka kompak membungkuk hormat. “Pagi Kek! Ini mengenai pangeran Alandra, sedang jatuh cinta dengan seorang gadis, dan ingin mendatangi rumahnya, lewat membaca peta ini,” jelas Zahn, menambah rasa malu saja bagi sang pangeran. “Kemarikan, kakek ingin melihatnya.” Alandra menyodorkan peta itu, lalu sang kakek membukanya. Seketika alisnya bertaut. “Ini, seperti, ke arah daerah bernama Amorei,” ucap sang kakek. ‘Amorei? Itu kan, tempat di mana guru bela diri berada, yang pernah Dayan katakan,' batin Alandra berpikir keras. “Setahu kakek, itu negeri seberang. Di daerah itu, terdapat pemimpin negeri yang baik dan adil.” “Negeri seberang? Berarti, buka bagian Xaviorus,” ucap Zahn. “Memang bukan. Namun dari tempat ini, Amorei tampak lebih dekat.” “Ini kebetulan sekali. Aku memang ada urusan ke sana, Kek. Untuk mencari guru bela diri,” ucap Alandra. Ketiganya menatap Alandra. “Dayan pernah memberi tahuku, seorang guru bela diri yang sangat ahli bernama Zaara. Aku harus ke sana,” imbuh Alandra. Ia pun terus menjelaskan maksudnya, untuk bertemu dengan guru itu. Oenix pun setuju, ia memang ahli berpedang, namun jika Alandra semakin kuat, maka pemuda itu bisa mengajari pasukan lainnya, karena mereka butuh kekuatan banyak untuk melawan Luxone. “Ini benar-benar keberuntungan untukmu pangeran. Karena dengan peta ini akan memudahkanmu untuk bertemu dengan guru bela dari itu,” ujar Oeinix. Alandra tersenyum lega, terasa ada angin yang menyapu wajahnya dan merasa bahagiam “Jika begini, aku kian bersemangat untuk melanjutkan perjalanan.” Tapi Pangeran, jika berkenan sebelum melanjutkan perjalanan. Bagaimana kalau kalian bersenang-senang terlebih dahulu?” tanya Zahn. “Maksudnya?” Alandra belum memahami. “Aku dan kakek, bermaksud ingin mengajak Pangeran dan Paman ke daerah pantai, di dekat sini.” “Benar. Kita bisa menangkap ikan banyak-banyak,” timpal kakek. Keduanya saling memandang satu sama lain. “Bukankah itu ide yang bagus Pangeran? Kita butuh hiburan sejenak,” ucap Oenix. “Baiklah, tak ada salahnya.” Mendengarnya mereka pun bersorak. “Bagus. Malam ini kita bersenang-senang untuk membakar ikan hasil tangkapan. Barulah besok paginya melanjutkan perjalanan.” Akhirnya mereka pun sepakat bersiap-siap untuk berangkat ke pantai. ~~~ Mereka cukup berjalan kaki, walau melelahkan. Namun, pemandangan pantai yang indah seolah mengobati rasa lelah. Rombongan anak-anak, riuh tertawa dan bercanda di bibir pantai. Mereka akan menaiki perahu sambil menyiapkan jaring. “Pangeran, Anda tunggu di sini. Aku ingin mengajak anak-anak itu menangkap ikan. Semakin banyak orang, makin banyak ikan yang didapat,” ucap Zahn nyaring, berlomba dengan suara deburan ombak. “Baiklah, itu ide yang bagus. Setahu kakek, di sana memang banyak ikan, pasti pangeran menyukainya.” Alandra, kakek dan Oenix, menunggu di dermaga. Mereka akan menaiki kapal perikanan. Tampak hiruk pikuk suasana di dermaga, banyak para nelayan mengangkut hasil tangkapan mereka ke tempat penampungan untuk di jual di sana. Selain tercium aroma ikan segar, tercium pula semerbak harum aroma ikan bakar yang membuat perut keroncongan, karena selain menjual ikan-ikan yang segar terdapat pula, orang-orang yang menjual ikan bakar. Semua pemandangan ini membuat Alandra takjub. karena belum pernah melihat pemandangan seperti ini sebelumnya. Kehangatan, kekompakan, kekeluargaan dan kerja keras membuat hatinya bergetar. Matahari kian naik. Zahn telah kembali, dan meminta Alandra, Oeinix dan kakek menaiki kapal perikanan. Mereka bersorak gembira, dan menangkap banyak ikan segar berukuran besar. Melihat ikan laut yang begitu banyak jenisnya di keranjang yang telah mereka tangkap, membuat Ishan kembali dibuat takjub. “Pangeran, untuk dibakar nanti. Anda ingin ikan yang mana?” tanya kakek. Alandra menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, karena bingung. “Pilihlah sesuka hatimu,” imbuh sang kakek. “Saya pilih yang itu saja paman.” Ishan menunjuk ikan yang besarnya seperti betis orang dewasa, pasti membuatnya lebih kenyang pikirnya. Zahn hanya tersenyum melihat ikan yang dipilih Alandra, pemuda itu tak tahu saja, meskipun ikan itu begitu besar namun rasanya tidak terlalu gurih. “Anak-anak, yang ini adalah ikan milik pangeran. Kalian tidak boleh mengambilnya!” seru kakek. Mereka kompak mengiyakan, dan menepi untuk mencari tempat yang nyaman untuk membakar ikan-ikan mereka. ~~~ Malam temaram dengan deburan ombak yang kian surut. Mereka menata alat, lalu memilih ikan yang telah dibersihkan dan dibumbui. Kepulan asap dan aroma harum bakaran ikan menyebar terbawa angin membuat siapa saja tergoda dan kian lapar. Tak lama menunggu ikan-ikan itu telah matang siap disantap. “Mari makan!” seru Zahn bersemangat. Mereka mengambil masing-masing ikan mereka. Memakan ikan bakar, lagi-lagi mengingatkan Alandra pada Dayan saat mereka membakar ikan bersama-sama. Zahn menepuk bahunya, membuyarkan lamunannya. “Malam yang indah bukan?” Alandra mengangguk. Tempat itu memang tempat yang paling nyaman, tampak hamparan air laut yang biru dihiasi batu-batu karang yang kokoh, pasir putih yang bersih deretan pohon kelapa yang menjulang tinggi. “Kau benar, terima kasih. Telah memberikanku pengalaman tak terlupakan.” “Sama-sama, Pangeran.” Setelah Alandra menyelesaikan memakan ikannya. Kakek, berinisiatif melakukan sesuatu. Ia bangkit dan berlari menuju deretan pohon kelapa itu, lalu lelaki tua itu mengangkat kepalanya memperhatikan pohon mana yang berbuah. Alandra dan yang lain, tampak memperhatikan apa yang kakek itu lakukan. Setelah melepas alas kakinya, dengan perlahan dan hati-hati Ia memanjat pohon kelapa itu. Setelah di puncak Ia lekas mengambil empat buah kelapa yang masih muda dengan golok yang ada di pinggangnya. Kelapa pun, satu persatu berjatuhan. Ketiga lelaki yang memperhatikan sang kakek, berlari dan mulai memungutnya. Kakek turun, dan memerintahkan pada mereka untuk membuka dan meminumnya. “Air kelapa ini, paling segar yang pernah kuminum,” ucap Alandra. “Setuju. Aku dilahirkan dan besar di daerah sini, tapi tak bosan meminumnya. Rasanya manis.” Malam itu udara yang dingin, begitu terasa hangat dengan tawa dan candaan mereka. Sejenak melepas beban dan penat, sebelum esok hari mereka benar-benar akan melakukan kembali perjalanan jauh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN