Saat pagi tiba Alandra terbangun saat mendengar suara kokok ayam bersahutan, meskipun tinggal bersama di penginapan milik kakeknya Zahn, namun ia mendapatkan perlakuan istimewa karena seorang pangeran. Ia tidur di kamar yang terpisah, dan menempatinya sendirian.
Tidurnya tidak terlalu lelap, karena banyak hal yang dipikirkannya. Tentang mencari Dayan terlebih dahulu, atau ke daerah Amorei, tempat di mana guru bela diri itu tinggal. Ditambah sosok gadis bernama Airish, yang selalu terngiang di pikirannya.
Suara ketukan pintu, membawa kakinya membukanya.
Tampak Zahn berdiri di ambang pintu. Pakaiannya telah rapi, sepertinya pemuda itu bersiap untuk melanjutkan perjalanan.
“Pangeran, Anda tampak telah rapi dan siap,” ucap Zahn.
Memang pagi buta, Alandra sudah membersihkan diri dan berganti pakaian. Ia tak ingin menunda untuk segera berangkat.
“Iya, Zahn. Begitupun dirimu.”
Zahn mengusap jubahnya. “Ya, aku pun telah berpamitan dengan kakek, karena pasti akan memakan waktu lama, untuk perjalanan kita kali ini. Mari, kita makan dulu, sebelum berangkat. Tapi ... di mana paman?”
“Oh, paman masih mandi,” jawab Ishan.
Zahn pun memasuki kamarnya. “Kalau begitu, kita tunggu beliau selesai, agar bisa makan bersama. Sambil menunggunya, aku ingin menanyakan sesuatu.”
Alandra ikut duduk di sampingnya pada kursi berbahan kayu.
“Apa yang ingin kau tanyakan?”
“Begini. Kurasa, Pangeran merasa tidak enak dengan kami jika Anda melakukan perjalanan sesuka hati. Padahal, ke mana pun tujuan utamamu, aku dan paman dengan senang hati menemanimu.”
Alis Alandra berkerut, belum memahami ucapan Zahn seluruhnya.
“Aku bisa menebak, pikiranmu sedang bercabang,” imbuh Zahn.
“I-itu__”
“Jadi tentukan. Tujuan utama kita, akankah mencari Dayan terlebih dahulu, mencari guru bela diri ataukah menemui gadis pujaanmu.”
Oenix tampak masuk ke kamar Alandra, dan mendapati keduanya mematung tanpa kata.
“Kalian berdua kenapa, Kok, diam membisu, tidak salah makan kan?” seloroh Oenix.
Keduanya terkekeh.
“Pangeran tengah bingung, menentukan ke mana dulu kita pergi. Mencari Dayan, mencari guru bela diri, ataukah __”
“Apa Paman ada ide?” tanya Alandra memotong kalimat Zahn, sebelum lelaki itu kembali ngawur.
Oenix ikut duduk berhadapan dengan kedua pemuda itu.
“Kau tahu, ke mana kira-kira Dayan pergi?” Oenix balik bertanya.
Alandra menggeleng.
“Mungkin dia kembali pada tuannya, Argus.”
“Jika begitu, masih belum jelas. Jadi, sebaiknya kita fokus ke daerah Amorei, untuk mencari guru bela diri, dari peta yang kau punya. Bagaimana Pangeran?”
Alandra terdiam berpikir.
“Perlu kuingatkan, tujuan utamamu adalah kembali ke kerajaan. Setelah kedua orang tuamu meninggal, tanggung jawabmu lebih besar sebagai calon raja. Kau tidak akan membiarkan Luxone mengambil alih kedudukan ayahmu kan? Tak terbayang, pasti akan kacau dan bertindak semena-mena pada rakyatnya,” sambung Oenix.
Seolah tertampar. Ia kini sadar apa tujuannya, dan dirinya tidak boleh egois karena rakyat membutuhkannya.
“Paman benar. Kalau begitu, kita ke Amorei saja.”
Zahn menepuk bahunya, membesarkan hatinya.
“Pasti, akan jalan keluarnya.”
“Terima kasih. Kalian memang yang terbaik.”
“Baiklah. Sebelum pergi, mari kita maka dulu. Kakekku sudah menunggu,” ucap Zahn.
Mereka pun beranjak.
~~~
Beranjak siang. Ketiganya telah jauh dari desa, langit pun tiba-tiba mendung.
“Kita harus mencari tempat istirahat dan berteduh. Sepertinya, hujan akan turun,” ucap Oenix.
Benar saja, air dari langit turun deras, petir terus menyambar bersahutan silih berganti.
Ketiganya berhambur berlari, ke sebuah gubuk tak terpakai.
“Syukurlah, kita menemukan tempat ini,” ucap Zahn.
Alandra berjongkok, jubahnya basah dan ia menggigil kedingingan.
Oenix dengan sigap, menyalakan kayu bakar.
“Zahn, tampung air hujan itu dengan wadah ini. Aku akan memasak air hangat untuk kita.”
“Baik, Paman.”
Sambil menunggu, Alandra memilih berpindah tempat ke sudut dan menggantungkan jubahnya yang kebasahan. Tak terasa ia terkantuk hingga tidur dengan lelapnya.
~~~
Mata Alandra mengerjap beberapa kali, saat tetesan sisa hujan menembus celah atap gubuk.
Sementara, Zahn dan Oenix tampak sudah terbangun. Mereka cukup lama tertidur, sampai hujan reda.
“Kau sudah bangun Pangeran?” tanya Oenix.
Alandra beringsut diiringi tertawa kotak karena malu.
“Iya, Paman tapi ... Panggil aku Alandra saja, itu membuatku nyaman.”
Oenix terkekeh.
“Baiklah, jika itu maumu.”
“Omong-omong, Gubuk ini lumayan hangat, membuatku jadi terlelap.”
“Syukurlah, kau segera makan buah-buahan itu dan membersihkan diri, lalu mari kita lanjutkan perjalanan,” ucap Oenix lalu memasukkan pisang ke mulutnya.
“Terima kasih kalian telah memasak air dan memetik buah untukku.”
“Sama-sama, Pangeran. Tapi, kamu harus membersihkan sampah-sampah ini!” celetuk Zahn.
“Hah?” Mata Alandra membola.
Lalu, ia ditinggalkan keduanya ke area sungai begitu saja. Meninggalkan, tumpukkan kulit buah-buahan yang berserakan.
Alandra mendengkus kesal. “Dasar kalian!”
Kejauhan samar Zahn dan Oenix tertawa.
****
Kaki membawa ketiganya terus melangkah di wilayah pedesaan itu, setelah matahari kian naik, Ishan memperkirakan jika mereka akan segera keluar dari desa itu dan memasuki wilayah pemukiman penduduk yang padat.
“Ini menyenangkan bukan karena jika berjalan di banyaknya penduduk terasa aman. Entah dari para perampok atau dari binatang buas,” cetus Zahn.
Mereka mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju.
“Betul akan banyak warga yang bisa membantu kita sekedar untuk beristirahat.” Oenix menimpali.
“Baiklah kita sudah lama beristirahat. Mari bergerak cepat.” Alandra menimpali.
Kemudian, ketiganya terus melangkah hingga tanpa terasa sudah sampai di area yang ramai dengan para penduduk. Mata memandang banyak rumah-rumah dan perkebunan.
Dari jauh ada anak perempuan yang tengah berlari sedang mengejar dua anak laki-laki. Alandra dan yang lain memperhatikan ketiganya yang sedang berlari.
“Kembalikan jepit rambut ku!” ujar anak gadis itu.
“Cepat kembalikan jepit rambut ku!” ulangnya.
Namun, kedua anak laki-laki itu, malah tertawa meledek seraya menjulurkan lidahnya. Membuat anak gadis itu tak berdaya dan menangisi jepit rambutnya, dan terus saja berlari mengelilingi jalan itu, berputar-putar.
Alandra merasa tak tega melihatnya, ia mengepalkan lengannya kuat-kuat, dan hendak melangkah.
Zahn menghalangi langkah Alandra, seolah tahu apa yang akan dilakukan sahabatnya itu karena sedari tadi sang pangeran tidak lepas dari pandangan ketiga anak itu.
“Kau mau apa? sebaiknya jangan ikut campur urusan anak kecil, lagi pula kita orang asing,” ucap Zahn
Alandra terkekeh. “Aku hanya kasihan sama anak perempuan itu yang dijahili kedua temannya.”
Zahn berdecak. “Barkan saja namanya juga anak kecil.”
“Tapi jika terus dibiarkan mungkin saja anak perempuan itu akan sakit hati.”
“sakit hati katamu? Itu terlalu berlebihan.”
“Apa kau tidak tahu sikap kedua anak laki-laki itu bisa saja berdampak buruk pada anak perempuan itu?”
Oenix tersenyum penuh arti pada percakapan alot mereka.
Akhirnya, Zahn pun pasrah dan hanya bisa diam, membiarkan Alandra melangkah mendekati anak-anak itu.
Oenix menepuk bahu Zahn. “Tenanglah anak muda. Darah Alandra mengalir dari keturunan raja yang adil, sehingga wajar jika ia merasa tidak nyaman melihat pemandangan itu, walau pun pelakunya anak kecil.”
Zahn pun tertegun. Ia lupa akan hal itu, lagi pula dirinya sahabat Alandra sejak kecil. Kecenderungan bersikap seperti tadi, sudah kentara sejak lama.
Alandra mendekat ke arah anak gadis yang masih menangis.
“Hai para jagoan! Kemarilah,” ujar Alandra pada kedua anak lelaki itu. Mereka pun menatapnya lalu saling berpandangan satu sama lain.
Kedua anak itu menggeleng, karena yakin akan dimarahi Alandra.
“Tidak apa-apa. kemarilah.” Alandra kembali mengulangi ucapannya dengan lembut, kemudian kedua anak lelaki itu menghampirinya dengan langkah takut-takut.
“Ah, kau juga gadis manis. Mendekatlah,” Ishan pun memanggil anak perempuan itu, dan mengekor anak lelaki mendekatinya.
Kian dekat matanya terbuka lebar. Anak gadis itu mematung menatap wajah Ishan.
‘Seperti wajah kakakku,' batinnya dalam hati.
‘Sorot mata yang tajam, rahang tegas, hidung bangir, tubuh atletis. Sungguh seperti kakakku.’
“Kau tidak apa-apa gadis manis? Kulihat kau tengah mengejar kedua anak laki-laki ini, apa yang terjadi?” tanya Alandra.
Anak gadis itu pun merunduk. “Oh mereka anak nakal yang selalu menggangguku, dan kali ini mereka mengambil jepit rambut kesayanganku, itu pemberian dari kakakku,” jawabnya. Wajahnya kembali bersedih.
Tatapan Alandra pun, mengarah kepada kedua anak laki-laki itu.
“Boleh kupinjam jepit rambutnya?” pinta Alandra.
Maka anak lelaki itu memberikan menjepit rambut pada Alandra, kemudian jepit itu ia angkat tinggi-tinggi.
“Coba ya, salah satu dari kalian ambil jepit rambut ini!” ujar Alandra.
Awalnya keduanya tak paham dan saling memandang, namun mereka manut, dan bergilir mengambil jepit rambut itu.
Berkali-kali mereka meloncat, menggapai jepit yang Alandra angkat. Namun berkali-kali gagal, membuat wajah mereka tampak gusar
“Bagaimana? Susahkan?” tanya Alandra.
Kedua anak itu berhenti, dengan napas senin-kamis.
“Kalian, begitu tak berdaya,” imbuh Alandra.
Sontak kalimat itu membuat mereka menunduk.
“Itulah yang dirasakan anak gadis ini. Kalian lebih kuat dan tinggi, sehingga ia tak berdaya melawan kalian. Dan sikap seperti itu, bukanlah ksatria. Lelaki sejati itu, harus bisa menjaga dan memuliakan perempuan. Dari perempuanlah, kita lahir. Sang ibu telah susah payah mengurus kita. Kuharap, ini kali terakhir kalian mengganggunya, dan jangan melakukan hal serupa pada perempuan mana pun. Mengerti?” tanya Alandra penuh penekanan.
Mereka yang masih menunduk, mengangguk-anggukkan kepala dengan cepat.
“Bagus. Angkatlah dagu kalian, dan minta maaflah,” imbuh Alandra.
Kedua anak lelaki itu mengangkat kepala, dan mengulurkan tangan pada si anak gadis.
“Maafkan kami. Janji, tidak akan mengulanginya,” ucap mereka.
Anak gadis itu tersenyum seraya mengangguk.
Kedua anak lelaki itu pun merasa lega, dan pergi setelah pamit pada Alandra dan yang lainnya.
“Kau tidak apa-apa gadis manis?” Alandra menurunkan pandangan padanya.
“Tidak Kak. Terima kasih, pertolongannya.”
“Sama-sama. Siapa namamu?”
“Imera. Bolehkah aku membalas kebaikanmu?”
Alandra terkekeh. “Tidak usah. Aku tidak mengharapkan balasan.”
Anak itu terdiam sejenak.
“Kalau begitu, anggaplah aku sedang meminta bantuanmu.”
Alis Alandra bertaut. “Eh?”
Zahn dan Oenix pun saling pandang, sama-sama tak paham.
“Tolong antarkan aku pulang. Gara-gara terus berlari mengejar mereka, aku sampai sejauh ini.”
“Begitu. Sebentar ya, aku harus berbicara dengan kedua sahabatku terlebih dahulu.”
Anak gadis itu pun mengangguk dan menatap Alandra, berjalan mendekati kedua lelaki dewasa itu.
Tak lama, pangeran kembali dan berjongkok – mengimbangi tinggi badannya.
“Mereka bersedia mengantarmu, tapi kau tahu arahnya ke mana?” tanya Alandra.
“Iya, dari sini kita lurus.”
Alandra mengangguk paham dan mengisyaratkan pada Zahn dan Oenix untuk mengikuti mereka.
~~~
Mereka telah sampai di kediaman Gadis itu ternyata rumahnya begitu besar. Dan di depannya ada sebuah papan yang bertuliskan nama dan pekerjaannya. Rupanya, ayahnya adalah seorang menteri.
Imera mengajak ketiganya, untuk berkenalan dengan ayahnya.
Sebenarnya, ayahnya sempat terkejut dengan wajah Alandra yang mirip dengan anak sulungnya, ia bahkan sempat salah menyebutkan nama.
“Bukan Kak Idera, Ayah. Ia seseorang yang tengah dalam perjalanan jauh. Tadi, kak Alandra dan kedua temannya telah menolongku bahkan mengantarku pulang,” terang Imera.
“Oh, maafkan saya. Anda, begitu mirip dengan mendiang Idera, kakaknya Imera,” ucap lelaki paruh baya itu.
Alandra segera membungkuk hormat. “Jangan khawatir, Tuan. Saya memahami.”
Setelah berbincang, Imera meminta pelayan untuk memberikan mereka makanan dan kamar untuk beristirahat.
Keesokan harinya, Miera mendatangi kamar mereka. Rupanya, ketiganya telah bersiap untuk melanjutkan perjalanan.
“Kakak, dan Paman. Ada hadiah dari ayahku, terimalah.”
Imera memberikan sebuah kantung berukuran sedang, berisi koin emas dan beberapa kudapan.
“Tapi, kami tidak __”
“Tolong jangan menolak, agar aku merasa senang. Kau telah mengobati rasa rinduku pada kakakku.” Mata Imera meredup.
Tangan Alandra menyentuh pucuk kepalanya.
“Kita senasib, aku juga punya adik perempuan yang telah meninggal. Tapi, jika kau menyayanginya, jangan bersedih ya, ia pasti bangga punya adik manis dan baik sepertimu,” cetus Alandra.
Tampak wajah anak itu berbinar.
“Terima kasih Kak. Kalian, berhati-hatilah di jalan.”
Ketiganya mengangguk, dan berpamitan pada seisi rumah itu.