Kuda milik Oenix, sakit dan mati dalam perjalanan, membuat Alandra dan Zahn pun melepas dengan menjual kuda mereka masing-masing dan memilih berjalan kaki saja. Tokh, justru itu malah memudahkan mereka menapaki jalan yang naik turun atau sempit.
Sepanjang jalan, Alandra terdiam. Sesekali, ia menendang kerikil kecil yang berada di hadapannya.
Berbeda dengan Zahn, yang sibuk memeluk kantung berisi koin emas dan kudapan dari Imera. Hatinya riang, karena perbekalan begitu banyak.
Sementara Oenix , menyadari perubahan wajah Alandra.
“Apa yang membuatmu bermuram durja, anakku?” tanya Oenix. Alandra sontak menoleh.
“Oh, aku hanya memikirkan Imera. Anak itu, pasti sangat merindukan kakaknya. Sama halnya denganku, yang begitu merindukan adikku, bahkan sama halnya dengan Imera, aku pun pernah bertemu dengan seorang gadis yang wajahnya begitu mirip adikku. Rasanya, daddaku terasa sesak,” ucap Alandra.
Zahn memandang wajah Alandra lekat-lekat. Ia hampir lupa akan kematian adik perempuan sang pangeran tiga tahun lalu.
Ia tak menyangka, jika Alandra begitu sedih merindukan sosok adiknya.
Zahn pun menepuk bahu Alandra untuk menenangkan.
“Kau punya kami sekarang, anggaplah saudaramu sendiri.”
Alandra tersenyum tipis. “Terima kasih, kalian sangat baik.”
~~~
Awalnya tak ada yang aneh selama perjalanan, karena mereka masih berada di area pemukiman penduduk.
Namun, kabut tiba-tiba tebal membuat pemandangan menjadi terhalang. Hendak kembali mundur, mereka telah berada di tengah-tengah.
Terlebih, udara tiba-tiba dingin menusuk padahal hari masih siang.
“Ada apa ini ya? Kok tiba-tiba ada kabut? Tadi kan terang benderang,” tanya Zahn.
“Engahlah. Bulu kudukku merinding!” Alandra mengusap-usap tengkuknya, matanya sibuk menyapu sekeliling yang tertutupi kabut.
“Jangan menengok kanan dan kiri, teruslah menatap ke depan, dan teruskan perjalanan,” ucap Oenix. Ia sudah merasakan sesuatu yang tak beres di situ.
Walau tak mengerti maksud lelaki yang lebih tua dari mereka, Alandra dan Zahn manut saja.
Tapi ... tak berlangsung lama. Zahn tak bisa menahan lagi, karena suara riuh di belakang membuat kepalanya seakan tertarik untuk menoleh.
Matanya membulat sempurna. Karena, ia mendapati seekor kuda berukuran sangat besar, tiba-tiba berlari ke arah mereka. Namun, yang membuat Zahn shock, kuda itu tanpa kepala.
“Aaaaaaaa!!” teriaknya di keheningan.
“Ada apa?” tanya Alandra.
Zahn tak menjawab, dan langsung menarik tangan kedua lelaki itu untuk berlari.
Oenix, seolah tahu. Ia pun mendesah kasar di tengah langkah mereka yang kian cepat.
“Sudah kubilang jangan menengok ke belakang. Kalau saja kau menurut, kuda itu tidak akan berlari mengejar kita,” sungut Oenix.
Napas mereka memburu dan terus berlari.
“Maaf, Paman,” ucap Zahn merasa bersalah.
Untuk sesaat, ia bergidik ngeri. Karena, kuda itu tanpa kepala, namun mampu meringkik seolah memiliki mulut dan berlari ke arah mereka seolah dapat melihat.
‘Kuda apa itu? Aneh sekali,' batinnya.
Ketiganya terus berlari tanpa arah, hingga lolos dari kejaran.
Sedetik kemudian, mereka terduduk dengan napas tersengal-sengal ditambah peluh yang membanjiri.
“Mengerikan! Aku tidak pernah melihat makhluk tanpa kepala, hii!” ujar Zahn bergidik.
Alandra memilih diam, ia sangat terkejut hingga tak bisa membuka bibirnya. Wajahnya tampak pucat.
“Minumlah, Nak. Kau pasti shok melihat makhluk tadi,” ucap Oenix.
Alandra meraih wadah minum dengan gemetar.
Blugh!
Belum reda rasa takut dan lelah, terdengar suara yang cukup nyaring di dekat pohon tempat mereka bersandar.
“Suara apa itu?” tanya Zahn.
“Coba kamu cek. Sepertinya, di belakang pohon ini,” titah Oenix.
Zahn menelan saliva dengan kasar, ia sangat takut. Tetapi tak mampu menolak perintah lelaki paruh baya itu.
Perlahan, ia melangkah mengitari pohon besar itu, dan ....
“Tidak! Tolong!” pekik Zahn.
Sontak Oenix bangkit, hendak memeriksa namun Zahm berlari hingga menabraknya.
Belum sempat Oenix bersuara, matanya tertuju pada kepala kuda yang menatap ke arahnya.
“Ya-yang ja-jatuh itu ... kepala kuda!!” Zahn terbata saking takutnya.
Mereka bertiga bangkit, dan saling merapat satu sama lain sambil memperhatikan kepala kuda itu.
“Ayo kita pergi,” bisik Alandra.
Keduanya mengangguk.
“Hitungan tiga, kita barengan berlari. Satu ... Dua ... Tiga!” Ujar Zahn.
Ketiganya berlari sekuat tenaga, namun gagal karena di depan, tiba-tiba kepala kuda terbang ke arah ketiganya, membuat mereka nyaris terjatuh karena terkejut.
“Kuda siallan!” Oenix tidak mungkin terus menghindar. Ia menarik pedangnya, dan mencoba menebas kepala kuda itu, hingga jatuh ke bawah, sedetik kemudian kepala hewan itu menghilang tanpa jejak.
Alandra dan dua lainnya menarik napas lega.
“Sepertinya, ada seseorang yang memiliki ilmu magis, sengaja mengganggu kita, ” ujar Oenix.
“Ilmu magisnya masih cetek,” ujar Zahn meledek.
“Jangan meremehkan, kita tidak tahu apa yang terjadi setelah ini,” ralat Oenix.
Sebenarnya, kalimat itu tidak terlalu dihiraukan Alandra, karena yang penting mereka selamat. Ia pun mengurut dadda dengan lega.
“Terima kasih, Paman. Kau pemberani.”
Oenix menggeleng. “Sebenarnya, secara alami sekuat apa pun kita, jika melihat makhluk ghaib, tetap saja takut. Tadi pun aku tanpa sadar melakukan itu.”
Rasa lega tidak berlangsung lama, karena kuda tanpa kepala kembali mengejar mereka.
“Awaas!!” Alandra memekik.
Oenix maju untuk menghadang. Ia memainkan keahliannya dalam berpedang. Kuda itu tumbang dengan goresan yang ia toreh, tetesan darah pun mengalir, namun tiba-tiba kuda itu bangkit dengan kondisi membaik, tanpa luka. Sekali lagi, Oenix melukai kuda itu, dan lagi-lagi luka itu menghilang.
Melihat itu, Alandra dan Zahn tidak bisa diam saja. Mereka ikut menghunuskan pedang, bahkan Alandra berhasil menebas kaki depannya, namun ajaib kaki itu kembali tersambung, dan kuda bangkit seolah tidak pernah luka.
Seketika, Alandra bergidik ngeri.
Merasa ini akan sia-sia, Oenix mengintruksikan pada kedua pemuda itu untuk ikut berlari bersamanya.
Kabut itu tiba-tiba hilang berganti dengan cahaya rembulan. Hilangnya kabut, membuat rasa lega karena kuda tak lagi mengejar, namun mereka merasa ada yang janggal karena hari tiba-tiba sudah gelap.
“Ini terlalu cepat untuk berubah menjadi malam,” ucap Alandra.
“Kau benar, firasatku buruk!” ujar Zahn mengkeret.
“Tenanglah, kita jalan saja terus.” Oenix menimpali.
Ringkikan kuda, membuat mereka nyaris melompat karena terkejut, ketiganya lari tunggang langgang, dan berhenti karena di depan mereka terdapat kastil tua yang sangat tinggi.
Alandra menggeleng kuat. Ia tidak bisa menerima kenyataan dengan apa yang dilihatnya.
Sudah kapok dengan rumah misterius di dalam hutan, kini ia kembali menemukan kastil seram di tempat entah berantah. Bahkan, sekeliling mereka, banyak pohon dan jurang-jurang.
“Kita ada di mana? Sangat beda dengan terakhir kuta berjalan, sebelum kuda aneh itu mengejar kita,” ucap Zahn.
“Kita sudah ada di dimensi lain,” cetus Oenix.
Alandra dan Zahn terbelalak.
“Maksud Paman, dimensi para hantu?” tanya Zahn takut-takut.
Oenix bergeming.
“Sudahlah. Kita harus apa sekarang? Jika kembali, pasti kuda itu mengejar kita, tapi jika terus jalan, ini mengarah ke kastil itu, tak ada jalan lagi,” ujar Alandra merasa frustasi.
Mereka terdiam, hingga seseorang keluar dari pintu kastil. Alandra menelan saliva yang terasa pahit, karena di sana ada seorang perempuan dewasa, memakai gaun terulur panjang berwarna merah.
Ketiganya tanpa sadar mundur beberapa langkah, namun endusan kuda, membuat mereka menoleh ke belakang. Untuk kesekian kali, ketiganya terkejut, karena kuda tanpa kepala itu hanya beberapa inci jaraknya dari mereka dan kakinya sudah siap menendang.
“Pergi kau! Mereka tamuku,” ujar wanita itu membentak.
Kuda itu, tiba-tiba mundur dan berlari meninggalkan pelataran kastil. Alandra dan kedua lelaki tentu saja bertanya-tanya, mengapa kuda tadi, sangat takut pada wanita yang diperkirakan berusia 40 tahun itu.
Lalu, wanita itu kian dekat sambil mengulas senyum yang misterius. Kembali bulu kuduk mereka, tiba-tiba meremang.
“Ini sudah malam, ada baiknya kalian menginap di sini walau sehari,” ujar wanita yang masih tampak cantik itu.
“Maaf, Nyonya. Tapi kami, sedang menempuh perjalanan penting,” ucap Oenix memberanikan diri untuk bersuara.
“Tapi jika malam ini kalian kembali ke jalan itu, pasti kuda tadi akan mengejar kalian lagi. Kalian tidak takut?”
Mereka membeku mendengarnya.
“Sudahlah, istirahatlah di tempat ini. Kalian tamuku dan akan ku muliakan sehingga bisa makan, mandi dan tidur dengan nyaman. Bagaimana?” tawar wanita itu.
Ketiganya sibuk saling memandang, memang jika putar balik, pasti kuda itu mengejar, namun menumpang istirahat di kastil asing itu pun bukan ide yang baik juga.
“Kalian tampak lelah, tidak memungkinkan untuk kembali melanjutkan perjalanan,” imbuh wanita itu terus membujuk.
Di antara kedua pilihan sulit itu, mereka harus memilih salah satunya dan akhirnya terpaksa menerima tawaran wanita itu.
Pintu besar itu terbuka lebar, ketiga lelaki masuk dengan tatapan takjub sekaligus merinding.
Kastil itu tampak sudah tua walau masih kokoh, ornamen serba hitam dan ukiran klasik menambah kesan misterius.
Di ruangan yang nyaris kosong tanpa barang itu, terdapat meja bundar dari bahan kayu yang mengkilap.
“Kalian, duduklah di meja itu. Dan makanlah, aku ke atas dulu.”
Kemudian, ia menaiki anak tangga.
Bukan ucapan wanita itu yang membuatnya heran, tapi di meja itu telah terhidang banyak makanan dan tiga piring dan gelas tertata rapi, tahu jika mereka akan datang.
Tanpa bicara, ketiganya duduk, dan menatap hidangan yang perut keroncongan.
Sayuran, daging-daging serta buah-buahan begitu menggugah selera. Tangan Zahn terulur mengambil potongan daging yang dibakar, namun Oenix menepuk tangannya itu.
“Aww! Ada apa Paman?”
“Jangan memakannya.”
“Setuju! Wanita tadi mencurigakan, kita harus berhati-hati,” ucap Alandra menimpali.
Kruuuukk!
Perut Zahn berbunyi.
“Ah, masa bodoh! Aku sangat lapar, lagi pula makanan ini tampak enak.” Zahn tidak menggubris ucapan Oenix dan Alandra.
Ia memakannya dengan lahap, bahkan makanan seisi meja itu, hampir habis ia makan.
Sendawa, membuat Zahn menghentikan makannya ia menyandarkan punggung di bahu kursi, dan mengusap perutnya yang membuncit.
“Kau makan seperti kerasukan,” desis Alandra.
Mendengarnya, Zahn mendecih. “Bilang saja kau mau. Ambil saja lah, dari pada kita mati kelaparan," ucap Zahn ketus.
Alandra tidak goyah, ia berhenti mengajak lelaki itu berbicara.