“Kau makan seperti kerasukan,” desis Alandra.
Mendengarnya, Zahn mendecih. “Bilang saja kau mau. Ambil saja lah, dari pada kita mati kelaparan,” ucap Zahn ketus.
Alandra tidak goyah, ia berhenti mengajak lelaki itu berbicara.
Sementara, Oenix menggelengkan kepala dengan sikap tak biasa Zahn pada Alandra.
“Zahn, jaga sikapmu. Dengan siapa kau bicara.”
Oenix hanya memutar bola mata dengan malas.
Langkah sepatu, yang menuruni anak tangga mengalihkan pandangan pada ketiga lelaki itu.
Rupanya, wanita tadi lah yang kembali menghampiri mereka.
“Kalian sudah selesai makan? Silahkan membersihkan diri dan pergilah ke kamar yang sebelah kanan, untuk kalian istirahat.”
Kemudian, wanita itu memutar tubuhnya dan kembali meninggalkan mereka yang mematung.
Di tempat mandi, mereka bergilir dan mengganti pakaiannya kemudian masuk ke kamar.
Kamar itu, terdapat toga tempat tidur yang bersih. Tanpa menunggu, Zahn langsung melompat dan menjatuhkan diri ke ranjang empuk itu.
“Aaaah, nyamannya. Kalian harus mencobanya.”
Alandra dan Oenix masih terdiam dan memilih duduk saja di kursi rotan.
“Sepertinya, aku akan betah di sini. Misal wanita tadi, memintaku tinggal di sini lama, aku bersedia. Bisa mandi sepuasnya, makan enak, dan tidur senyaman ini,” imbuh Zahn.
“Sadarlah Zahn! Ingat tujuan utama kita,” ujar Oenix tegas.
Zahn tertawa. “Kalian ini, tidak memiliki selera humor ya? Cukup sudah, aku lelah dan ingin tidur.”
Tak berapa lama, terdengar dengkuran halus. Zahn telah terlelap.
Oenix duduk di samping Alandra.
“Pangeran merasa tidak, setelah makan Zahn terlihat aneh?”
Alandra mengangguk. “Iya Paman. Jangan-jangan, di rumah ini banyak ilmu hitam, kita harus berhati-hati.”
“Setuju, ini terlalu mencurigakan. Pokoknya, pagi buta kita harus diam-diam keluar dari sini, karena aku khawatir wanita asing itu akan menahan kita.”
Kembali Alandra mengangguk.
Oenix membuka kantung miliknya, dan menyodorkan beberapa potong roti, apel dan kacang.
“Makanlah, Pangeran. Perut kita belum terisi sejak siang.”
“Oh iya. Aku lupa, kalau kita masih punya bekal makanan.”
Oenix tersenyum, dan menatap Alandra mulai menyantap rotinya.
~~~
Malam begitu panjang, dan entah mengapa baik Alandra mau pun Oenix, susah untuk terbangun. Mereka baru bisa membuka matanya, saat pagi telah muncul.
“Aduh, kita kesiangan!” ucap Oenix bernada kecewa.
Alandra pun tampak gusar, ia sibuk menggasak rambutnya.
“Lalu bagaimana ya, Paman? Pasti wanita itu telah bangun. Jiak tahu, akan begini aku tidak akan tidur semalam,” ucapnya kecewa.
“Sudahlah. Tidak baik menyesal, kita turun ke bawah. Aku baru sadar, jika Zahn sudah tidak ada di ranjangnya.”
Alandra menoleh ke arah ranjang kosong. “Iya, Zahn telah bangun. Tapi ... kenapa dia tidak membangunkan kita ya?”
Oenix mengangkat bahu dramatis. “Kita akan tahu, saat turun. Mari, silakan Pangeran duluan.”
Alandra pun melangkah keluar kamar dan menuruni anak tangga bersama Oenix. Di sana, sudah ada Zahn duduk berhadapan di meja makan.
Lagi-lagi, keduanya ditawari makanan. Alandra dan Oenix saling menatap bingung.
“Kenapa diam? Silakan makan, hidangan ini,” ucap wanita itu santai.
“Sebelumnya, terima kasih Nyonya. Tapi, kami tidak terbiasa makan pagi. Nanti saja,” jawab Oenix.
Mereka makin merasa curiga saja dengan sikap wanita itu. Lagi pula, di kastil itu wanita bergaun merah dipastikan tinggal sendirian, rasanya tidak mungkin ia mampu memasak makanan sebanyak ini, dalam sekejap, sendirian.
Namun, kecurigaan mereka tidak berlaku bagi Zahn. Lelaki itu terus saja menyantap makanan dengan lahapnya tanpa peduli pada Alandra dan Oenix, seolah mereka tidak ada.
“Aku dan Zahn akan berjalan-jalan ke kota, kami ingin ke pasar untuk membeli banyak makanan dan pakaian. Kalian harus ikut,” ucap wanita itu.
“APA??” kompak Alandra dan Oenix terkejut.
“Ya, teman kalian ini ingin membeli beberapa potong pakaian.”
“Tidak usah, Nyonya. Kami harus segera pergi sekarang, terima kasih jamuan dan perhatiannya,” ucap Alandra seraya bangkit sambil berdiri, diikuti Oenix.
Zahn langsung menahan mereka dengan kedua tangannya, tatapannya mengintimidasi.
“Zahn, apa yang kau lakukan. Mari kita pergi,” seru Oenix.
“Untuk apa? Jadi pelayan Si Alandra, lalu mengikutinya ke manapun pergi? Cih! Aku tak sudi.”
“Jaga bicaramu!” bentak Oenix.
“Aku berkata benar!”
Alandra melerai mereka. “Tolong jangan bertengkar.”
Tanpa setahu mereka, wanita itu menyeringai lalu kaki mulusnya mendekat ke arah mereka.
“Hei ... sebagai teman, harusnya kalian paham. Zahn ini sedang merajuk, ia hanya ingin dituruti permintaannya untuk bersama pergi ke pasar, apa salahnya?”
Alandra dan Oenix terdiam.
“Nyonya Wilsy benar,” ujar Zahn.
Bahkan, Alandra dan Oenix geleng kepala, karena Zahn tampak akrab dan sudah mengetahui nama wanita itu.
“Zahn! Kau__”
“Sudahlah Paman, kita ikuti kemauannya. Barulah setelah itu kita pergi,” bisik Alandra memotong ucapan Oenix.
Tampak lelaki paruh baya itu, menarik napas panjang.
“Nah, begitu baru bagus. Mari kita naik ke kereta milikku,” ujar Wilsy.
Ia melangkah diikuti ketiga lelaki. Dan di pelataran luas itu, ada dua kereta kuda yang akan mereka naiki. Wilsy mengangkat rok gaunnya ke atas agar memudahkannya menaiki kereta itu.
“Zahn, kau naik bersamaku. Sementara kedua temanmu, naik ke kereta di belakangnya,” ucap Wilsy.
Zahn merasa girang dan segera naik. Alandra dan Oenix pun juga ikut naik ke kereta kuda.
“Zahn benar-benar berubah, dia sangat menurut pada wanita itu bahkan terkesan seperti anak kecil,” bisik Alandra khawatir.
“Sepertinya Zahn telah dipengaruhi oleh kekuatan hitam dari wanita itu, membuatnya bersikap aneh,” ucap Oenix.
“Kalau begitu, kita tidak boleh tinggal diam.”
Oenix mengangguk setuju.
“Sementara kita ikuti kemauan si Wilsy, sambil mencari tahu kekurangannya, agar memudahkan kita untuk menyerang.”
“Baik, Paman.”
~~~
Mereka memasuki area pasar, banyak penjual dan pembeli tengah berinteraksi. Namun, dari wajah mereka yang tampak lain, Oenix yakin mereka bukan manusia.
“Nyonya Wilsy, selamat pagi. Apa yang membawa Anda kemari?” tanya seorang kakek penjual sayuran.
“Seperti yang pernah kalian dengar, aku akan menikah tiga hari lagi. Kalian, akan menjadi tamuku jadi datang ya,” ujar Wilsy dengan wajah pongah.
Alis Alandra bertaut, ia bertanya-tanya dengan siapa wanita itu menikah?
Tiga hari lagi, waktu yang singkat. Di kastil itu tak nampak kesibukan apa pun, sepi dan senyap. Ia dan Oenix makin curiga saja.
Di sudut sana, Zahn sibuk becengkerama Wilsy, bahkan samar terdengar ia memuji wanita yang usianya lebih tua darinya itu.
Alandra mendekat pada Oenix dan membisikkan sesuatu.
“Zahn, tampak makin aneh!”
“Iya, dia seperti terhipnotis. Aku yakin, wanita itu memberikan sesuatu pada pikiran Zahn.”
Alandra tertegun, ia pun pernah mengalami hal ini sampai tega memaki Dayan hingga meninggalkannya.