A_30

1819 Kata
Mereka pulang dengan kebisuan, ada banyak hal yang ingin dibicarakan Alandra dan Oenix pada Zahn di kamar mereka. Keduanya cukup lama menunggu, hingga Zahn masuk ke kamar dengan wajah sumringah. Sigap Alandra menarik lengan pemuda itu dan duduk bersama. “Ada apa tarik-tarik lenganku?” tanya Zahn ketus. “Aku ingin tahu, kau dari mana saja? Kami lama menunggumu.” Zahn mencebik, sambil membuang muka pada Alandra. “Sepertinya, itu bukan urusanmu.” “Cukup Zahn! Sikapmu keterlaluan pada Pangeran,” ujar Oenix menimpali. Ia tahu, Zahn tak sadar melakukannya namun merasa tidak tahan dengan sikap ketusnya pada Alandra. “Harusnya, kalian yang harus menjaga sikap. Karena, kau akan menjadi pemimpin di sini!” Alandra dan Oenix mengerutkan dahi. “Apa maksudmu?” tanya Alandra. Zahn tertawa, lalu bangkit berdiri. “Sudah dengar kan, jika Nyonya Wilsy akan menikah tiga hari lagi? Calon suaminya adalah aku.” Deg! “Mustahil!” Alandra tak percaya mendengarnya, begitupun Oenix. “Wanita itu sudah keterlaluan telah memperdayamu. Sadarlah, Zahn! Mari kita keluar dari kastil terkutuk ini!” ujar Oenix dengan suara tinggi. Zahn melotot dan mendekat ke arahnya. “Siapa kamu mengatur hidupku, wahai lelaki tua? Sudah kuputuskan, untuk tetap di sini. Kalian pun tidak bisa keluar dari sini, karena Nyonya Wilsy tidak akan membiarkan itu terjadi.” Oenix naik pitam, ia meraih depan pakaiannya, dan menariknya ke atas. “Kau benar-benar bukan dirimu! Aura jahat mempengaruhi pikiranmu!” Zahn membalas dengan mendorong lelaki paruh baya itu hingga tersungkur, membuat Alandra langsung membantu Oenix untuk bangun. “Kamu keterlaluan,” ujar Alandra. Zahn tersenyum sinis. “Malas sekamar dengan kalian, lebih baik aku tidur di ruangan lain.” Zahn bergegas membawa kakinya keluar dari kamar itu, dan segera menguncinya sesuai perintah Wilsy. Wanita itu rupanya, telah mengetahui kecurigaan Alandra dan Oenix, maka ia pun tidak akan membiarkan mereka kabur. Suara kunci besi itu, disadari Alandra. Ia berlari ke arah pintu, dan berusaha membuka, namun telah terkunci. Ia menggedor pintu kuat-kuat. “Zahn. Buka pintunya! Buka!” bentak Alandra. Hening! “Dia sudah pergi. Percuma kau teriak-teriak,” ucap Oenix sambil memegang dadanya yang terasa sakit didorong oleh Zahn. “Jika begini, bagaimana kita bisa keluar,” ucap Alandra dengan raut kecewa. “Lihat di sana!” Oenix menunjuk jendela persegi, namun cukup tinggi. “Kita kabur lewat sana,” imbuhnya. “Bagaimana bisa? Kita tidak mungkin meninggalkan Zahn di sini sendirian,” ucap Alandra. Oenix terdiam, seolah memikirkan sesuatu. ~~~ Malam, yang tak biasa. Alandra berkeringat dingin, karena ia bermimpi panjang yang melelahkan. Dalam mimpinya, ia digandeng seorang wanita yang berpakaian penuh dengan perhiasan, menuruni anak tangga. Alandra tentu saja terkejut, karena wanita itu adalah Wilsy. Di bawah sana, banyak sekali makhluk yang datang ke kastil nya, namun bentuk fisik mereka begitu menakutkan membuat Alandra bergidig ngeri. “Aku mau dibawa ke mana?” tanya Alandra, tangannya sibuk melepas cengkeraman wanita itu, namun tenaganya tidak lebih kuat. “Kita akan menikah,” ujar Wilsy. Mata Alandra membola. “Apa? Kau tidak waras!” Wilsy tertawa kencang, membuat ia lagi-lagi merinding mendengar suaranya yang membahana. Lalu saat mereka sampai di depan untuk mengucap janji, wanita itu tiba-tiba berubah menyeramkan. Wajahnya buruk rupa, rambutnya gimbal dan terulur panjang hingga lantai, gigi taring dan kuku-kukunya pun panjang serta tajam. Alandra berjengit kaget, saat ia kembali berontak terdengar teriakan kesakitan dari suara yang dikenalnya. Ia menoleh ke arah sudut samping, dan lagi-lagi terkejut karena di sana Zahn kedua tangannya diikat. “Te-temanku mau diapakan?” tanya Alandra. Wilsy menoleh pada Zahn. “Oh, dia akan jadi tumbal sebagai pernikahan kita, semacam hadiah.” Rupanya, Zahn hanya dimanfaatkan wanita itu agar rencana jahatnya berhasil. Alandra pun kehabisan kesabaran, ia menepis kuat-kuat cengkeraman namun gagal karena dua lelaki tinggi menangkapnya. “Keterlaluan! Lepas! Lepas!” Alandra terus berteriak hingga seseorang mengguncang tubuhnya. “Pangeran! bangun!” Matanya terbuka dengan peluh membanjiri, Oenix perlahan menegakkan punggungnya. Alandra merasa lega, karena semua hanyalah mimpi. Tapi, itu terasa nyata baginya. “Anda bermimpi?” “Iya, Paman. Dalam mimpiku, aku menikah dengan wanita itu dan Zahn dijadikan tumbalnya,” jawab Alandra yang masih terengah-engah. “Wilsy maksudmu? Sepertinya, itu rencana yang akan wanita itu lakukan pada kita. Sebaiknya kita bersiap, dan keluar dari kamar ini, mari hadapi bersama.” Diam terus di sana tanpa ada kepastian, hanya akan membuat mereka terus di liputi rasa takut jalan satu-satunya adalah mencoba keluar walau harus melawan wanita itu. Mereka telah pasrah apapun Yang terjadi. Perlahan dengan mengendap-endap keduanya keluar dari kamar, sambil mencari di mana Zahn berada. Satu persatu mereka menuruni anak tangga, dan mencari ke semua sudut, namun ruangan itu sangat sepi. “Zahn di mana ya? aku belum melihatnya di sudut ruangan manapun,” tanya Oenix. “Mungkin dia sedang keluar bersama wanita itu.” “Bisa saja. Kita coba cari ke jalan yang pernah dilalui.” Keduanya melangkah cepat, namun saat mendekati pintu tiba-tiba seseorang berlari tunggang langgang memasuki kastil. “Lari!! Ayo kita lari!!” Pekik Zahn. Rupanya dia yang lari ketakutan, dan merangkul bahu Alandra. “Ada apa denganmu?” tanya Alandra. “Wilsy, dia ... sebenarnya jelmaan buto. Dia marah padaku, hingga berubah ke rupa aslinya yang menyeramkan. Kita tidak punya waktu jadi harus pergi dari sini, nanti kuceritakan,” jelas Zahn dengan tubuh bergetar. Lega Zahn kembali sadar tetapi juga terkejut, namun benar kata Zahn bahwa mereka harus segera pergi sebelum hal buruk terjadi. Ketiganya baru sampai di pelataran kastil, awan tiba-tiba mendung dan menghitam padahal hari masih pagi. Ini persis saat mereka berjalan dan tiba-tiba terhalang kabut. Terdengar suara tawa yang menakutkan di belakang mereka, perlahan ketiganya menoleh. Makhluk hijau, tinggi besar, dengan gigi taring yang tajam tertawa dan sesekali meraung. Alandra dan dua lainnya terlonjak kaget lalu berlari ke arah jalan lain. “Mau ke mana kalian? Tidak akan kubiarkan pergi!” bentak buto wanita itu. Oenix tersungkur, tak bisa mengimbangi kecepatan dua pemuda itu. “Zahn, kembali ke sini! Paman terjatuh!” pekik Alandra. Mau tak mau, mereka kembali untuk menolong. “Kaki Paman terluka, mari raih tanganku.” Oenix berusaha meraih tangan Alandra dan kembali bangkit, namun ia hampir kembali jatuh. “Kaki Paman berdarah,” ucap Zahn. “Iya, tadi terbentur batu.” suara tawa itu kembali membuat mereka terhenyak. “Kalian pergi lebih dulu, nanti Paman menyusul.” “Tapi kami tidak mungkin meninggalkan Paman sendirian di sini,” ucap Alandra. “Tidak apa-apa, pergilah. Paman tidak mungkin berjalan cepat dengan keadaan kakiku saat ini.” Alandra bergeming sesaat, lalu ia pun berjongkok. “Mari, Paman. Biar ku gendong.” “Jangan Nak, itu hanya akan menyulitkanmu saja.” “Bukan masalah, kemarilah Paman.” Akhirnya, Oenix pun menuruti ucapan Alandra, ia mendekat dan meraih kedua bahu pangeran. Mereka mulai melangkah meninggalkan tempat itu. “Kalian mau pergi kemana?” bentak suara seorang wanita. Ketiganya membeku, lalu perlahan Alandra dan Zahn menoleh ke belakang . Tak disangka, buta itu sudah ada di belakang mereka, malah jaraknya hanya 2 meter saja dari mereka berdiri. Tinggi buto itu, lebih dari empat meter. Bahkan saat berjalan, terasa getarannya. Wajah buto itu begitu menyeramkan dan penuh amarah, seolah ingin memangsa mereka. Makhluk itu meraung sambil menunjukkan gigi taringnya hendak menyerang ke arah Alandra. “Pangeran, awas!” Zahn memekik. Kedua tangan besar itu terulur ingin mencekik leher Alandra, bahkan pemuda itu pun tampak pasrah - karena berusaha lari pun sudah terlambat. Sedetik kemudian, ia memejamkan mata. Namun, tiba-tiba cahaya memantul, membuat buto itu merasa silau. “Aaaakkh!” Mendengar itu, Alandra membuka mata. Cahaya dari liontin miliknya itu begitu menyilaukan, namun ternyata bukan hanya itu. Lama kelamaan, buto itu mengerang kesakitan. Alandra dan Zahn merasa bingung menyaksikannya, karena sang pangeran belum sedikit pun menyerang. Lalu, tak lama setelahnya buto itu ambruk dan hancur seolah menjadi debu. “A-apa yang terjadi?” tanya Alandra. “Liontinmu,” ucap Zahn sambil mendekat. “Benar, liontinmu beraksi untuk melindungimu.” Oenix menimpali. “Benarkah? Tak sangka semudah itu, padahal aku mengira akan ada perkelahian dan kita akan kalah.” Oenix tersenyum. “Turunkan aku.” Alandra menurunkan lelaki paruh baya itu perlahan, dan membimbingnya untuk duduk. “Ada hal yang belum kukatakan,” imbuh Oenix. Alandra diam untuk menyimak. “Liontin yang kau pakai, adalah milik keturunan kerajaan Xaviorus. Tiap liontin yang diturunkan dari generasi ke generasi, memiliki pancaran kekuatan yang berbeda. Seperti saat, liontin ungu ini dipegang ayahmu, maka kekuatannya adalah mampu mengubah sesuatu sesuai kehendak.” Alandra mengangguk. Ia ingat saat Alastor mengubah rusa menjadi dirinya yang palsu. “Lalu, kini kalung ini ada di tanganmu, sepanjang kau mengetahuinya, apa reaksi liontin itu?” tanya Oenix. Alandra memejamkan mata, mencoba mengingat-ingat. “Entahlah Paman. Tiap aku berusaha, mengeluarkan kekuatannya, tapi tak bereaksi. Namun, liontin ini pernah bercahaya saat aku terdesak akan di habisi oleh anak buah Luxone, lalu liontin ini tiba-tiba bercahaya ungu dan mengeluarkan kekuatan yang tidak aku sangka-sangka. Karena itulah aku dan Dayan selamat,” jelas Alandra. Oenix mengangguk paham. “Lalu tadi pun kau terdesak, maka liontinmu tiba-tiba bercahaya. Sepertinya, kekuatan liontin ini adalah sebagai pelindungmu.” “Menakjubkan.” Mata Alandra membulat. “Wah, bukankah itu hebat Pangeran?” celetuk Zahn. Oenix terkekeh. “Iya, itu bagus untukmu, Nak.” Ia terdiam sejenak. “Namun jangan senang dulu, selama Luxone masih hidup. Ia takkan berhenti, untuk mengambil apa yang ia mau, mungkin saja selain mengincar tahta dan kerajaan, juga akan mengambil liontinmu itu.” “Ya, Paman. Mulai hari ini, aku akan berhati-hati.” Setelah obrolan itu, Alandra dan Zahn mengoleskan obat yang mereka bawa pada pamannya itu. Setelah Oenix membaik, kembali mereka berjalan untuk mencari jalan keluar. Hampir setengah hari, mereka terus mencari jalan di tengah kegelapan. Tiba-tiba saja, di ujung sana ada sebuah cahaya yang membuat mereka tergerak untuk terus mendekatinya. Hingga, cahaya itu kian dekat, membuat mereka terpejam kuat karena silau. Saat membuka matanya perlahan, tak sangka mereka telah berada di dimensi lain, dimensi tempat di mana mereka tinggal. Cahaya matahari menghangatkan tubuh. Sadar mereka telah ada di tanah Xaviorus, Zahn pun sujud mencium tanah itu, karena terlampau bahagia. “Syukurlah ... tersesat di dunia gaib itu, seolah beratus tahun lamanya,” keluh Zahn. Tingkah pemuda itu, mengundang tawa dari Alandra dan Oenix. “Sepertinya, ada yang tidak sadar bicara bahwa ia akan tinggal di kastil itu selamanya,” ucap Alandra sarkas. Oenix tertawa sambil mengangguk. Zahn bergidik ngeri. “Entah apa yang merasukiku, hingga mulutku mengucapkan kalimat konyol itu.” Alandra mengulas senyum seraya menepuk bahunya. “Tenanglah kawan. Kami paham kau tengah dipengaruhi oleh wanita itu, hingga tak sadar bertingkah buruk.” “Iya, kau bahkan berani membentak pangeran,” ujar Oenix. Mata Zahn menatap tak percaya. “Iyakah? Aduh, maafkan atas kelancanganku, Pangeran. Aku terima hukumanku,” ucap Zahn sangat menyesal. Ia kemudian bertekuk lutut, namun Alandra sigap meraih dua lengannya untuk kembali berdiri. “Sudah kumaafkan, lagi pula kau tak sadar melakukannya.” “Terima kasih, Pangeran.” Obrolan kembali mencair di selingi tawa canda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN