A_31

1129 Kata
“Katakan pada kami, apa yang kau alami hingga menjadi sadar sepenuhnya?” tanya Alandra pada Zahn. Sambil berjalan, Zahn mencoba mengingat-ingat. “Oh, wanita tua itu membawaku ke sebuah rumah lain. Di sana kedua lelaki kekar tiba-tiba menyeretku. Aku berusaha meminta tolong pada Nyonya Wilsy, tapi wanita itu malah tersenyum sinis dan mengabaikanku. Sempat kulihat, orang-orang di sana memberikan hormat padanya.” “Lalu?” “Setelahnya, aku diperintah oleh kedua lelaki itu, untuk berbaring di atas ranjang kayu. Kaki dan tanganku diikat kuat, mulutku ditutup sebuah kain. Saat aku kepayahan membuka ikatan itu, Nyonya Wilsy mendekat. Ia membisikkan sesuatu yang membuatku merinding, yaitu akan menjadikanku tumbal, sebagai hadiah pernikahannya. Seketika aku sadar, dan kian berontak melepas ikatan.” Alandra menyadari kaki dan tangan Zahn terluka, pasti pemuda itu gigih berusaha untuk kabur. Ia menepuk bahunya. “Kau pemberani, bisa kabur dan menyelamatkan kita.” “Aku sudah tidak peduli keselamatan saat itu. Mereka lengah, dan tengah berpesta pora, di situlah aku memiliki celah untuk melepaskan ikatan, dan akhirnya berhasil. Sekuat tenaga aku keluar, namun tak disangka Nyonya Wilsy murka, dan mengejarku. Saat menoleh ke belakang, dia berubah menjadi buto besar dan tinggi.” Zahn bergidik ngeri mengingatnya. Mata Zahn meredup, dan menatap Alandra juga Oenix secara bergiliran. “Maafkan aku teman-teman.” “Sudahlah, kau melakukannya karena tidak sadar. Yang penting kita selamat.” “Setuju. Wanita itu, membuatmu menjadi orang lain, tapi sudahlah, lupakan,” ucap Oenix. “Terima kasih.” “Baiklah, hari sudah sore. Kita cari penginapan,” ujar Oenix kemudian. ~~~ Hari berlalu, ketiganya telah sampai di daerah seberang. “Ke arah mana kita melangkah? Ada tiga jalan di depan kita?” tanya Alandra. “Coba kau periksa petanya,” titah Oenix. Alandra mengangguk, ia merogoh peta dari saku jubahnya, dan membuka gulungan itu. Ternyata, di peta itu hanya ada satu jalan saja. Ketiganya saling memandang satu sama lain. “Mungkinkah kita tersesat lagi?” tanya Oenix. Zahn seketika menepuk dahinya. “Aduh, jangan lagi. Aku lelaaah ....” Sementara Alandra mendesah dengan berat, setali tiga uang dengan Zahn, sama lelahnya karena terus tersesat. Oenix tampak berpikir keras, ini sangat aneh baginya. Sejak awal, ia yakin telah berjalan ke arah yang tepat. Mengapa tiba-tiba ada tiga jalan? “Sepertinya, memang satu jalan. Hanya saja ... ada seseorang yang memiliki ilmu, membuatnya menjadi tiga,” terang Oenix. “Maksud Paman, dua jalan adalah ilusi?” tanya Alandra. “Ya, mereka membuat tipuan.” Zahn berdecak kesal. “Mereka siapa?” “Menurutmu?” Oenix balik bertanya. Zahn menatap Alandra. “Pamanku?” Alandra mencoba menjawab. “Tepat sekali.” “Buto itu? Apakah antek2 Paman juga?” “Kalau itu, bisa ya ... bisa tidak. Karena aku coba menerawang, tampak abu-abu. Namun, ilusi ini Paman yakin ulah anak buah Luxone.” Alandra mengetuk-ngetuk dagunya. Ia ingat saat pertama kali melakukan perjalanan bersama Dayan, banyak hal aneh yang ia alami, dan itu berhubungan dengan ilmu magis yang memiliki aura hitam. Dari sini ia bisa menilai bahwa Luxone memiliki ilmu magis. “Paman, aku ingat pertama kali saat aku dituduh membunuh seorang kakek. Panah itu milik Luxone, lalu kakek yang terluka itu mengutukku memiliki penyakit yang menjijikkan, padahal aku tidak salah. Jujur sampai saat ini, aku tidak mengerti apa yang terjadi, namun hatiku tidak bisa menyalahkan sang kakek. Aku yakin kakek itu salah sasaran, maka dari itu aku harus memecahkan misteri ini,” terang Alandra. “Itu juga yang kupikirkan.” “Baiklah, kita sebaiknya selesaikan masalah satu-satu. Di depan ada tiga jalan, kita tidak boleh salah memilih, karena khawatir mungkin akan masuk lagi ke dimensi lain.” Ketiganya diam, tampak berpikir keras. Tidak ada dari ketiganya yang berani memilih, khawatir itu menjadi salah jalan. Suara desisan, membuat mereka berjengit kaget. Rupanya, ada seekor ular muncul dari lubang kecil tak jauh dari mereka. Ketiganya bersiaga. Tangan kiri Alandra, memeras sarung pedangnya sementara tangan kanannya memegang gagang pedangnya dan ditariknya perlahan. Ujung mata pedang ia hunuskan ke arah ular itu. Namun yang terjadi, ular itu merayap ke arah jalan sebelah kiri. Ketiganya sontak saling pandang. “Oh hampir saja!” Zahn mengurut dadanya. “Kukira, ular itu akan menyerang dan menggigit kita. Ternyata masuk ke jalan sebelah kiri,” ucap Alandra. “Ya, syukurlah.” Ketiganya merasa lega. “Kalau begitu, aku tidak mau melewati jalan kiri. Takut saja bertemu lagi dengan ular itu, kan berbahaya,” celetuk Zahn kemudian. Ucapan pemuda itu, membuat Alandra tertegun. Ucapan Zahn ada benarnya, dan ular itu tiba-tiba mengingatkannya pada Luxone yang menyukai ular itu, hingga semua pakaiannya bergambar ular. “Ini aneh, mungkinkah sebuah petunjuk?” tanya Alandra. Oenix tampak mengangguk-anggukkan kepala. “Bisa jadi. Mari kita perhatikan jalan tengah dan jalan sebelah kiri.” Kembali, mereka memperhatikan. Ada seekor kalajengking melewati jalan tengah. Ketiganya menegakkan tubuh. “Kalian tahu kan sekarang mana jalan yang benar?” tanya Oenix. Keduanya mengangguk dengan semangat. “Mari kujelaskan. Ular itu, memiliki insting memilih tempat yang rindang dan banyak air, jadi binatang itu memilih jalan sebelah kiri. Sedangkan kalajengking, menyukai tempat yang gelap, sehingga tadi memilih jalan yang tengah. Kita tidak mungkin memilih kedua jalan itu, karena dipastikan kedua jenis binatang itu pasti banyak, dan berbahaya buat kita. Sementara, jalan sebelah kanan, umumnya sama seperti yang kita pijaki, jadi kuyakin itu jalan yang benar,” terang Oenix panjang lebar. “Bagus! Kalau begitu, tunggu apa lagi Paman, ayo kita ke sana,” seru Zahn semangat. Alandra dan Oenix tertawa kecil dan mengekor Zahn yang lebih dulu berjalan dengan riang. ~~~ Malam yang lembab bekas sisa air hujan. Ketiganya telah sampai di negeri seberang, bernama Amorei. Mereka belum tahu, siapa pemimpin negeri itu. Namun untuk sementara, Alandra dan dua lainnya akan menginap di salah satu rumah penduduk untuk bertanya lebih jauh, tentang negeri itu. Terutama, tata krama dan kebiasaan di sana, agar mereka tidak melanggarnya. “Sungainya besar sekali, kita harus melewatinya dengan jembatan dari kayu itu!” ujar Zahn menunjuk jembatan yang cukup panjang. “Aduh! Kau yakin itu kokok? aku takut ambruk!” Alandra merasa takut, pikirannya tiba-tiba membayangkan jembatan itu roboh,dan menjatuhkan mereka ke sungai yang banyak bebatuan besar.” Oenix terkekeh sambil menepuk bahu pangeran. “Tenang saja, jembatan itu tampak baru jadi pasti aman.” Ucapan Oenix tidak membuat Alandra lebih tenang, tetap saja ia gugup. Wajahnya sudah pucat, hal itu disadari oleh Zahn, ia mendekat ke arah Alandra. “Pangeran, perlukah kugendong sampai ujung sana?” godanya. Alandra mengerjap. “A-apa? Tidak mau, itu tampak konyol dan tidak berwibawa.” Ia kembali membayangkan, dirinya tampan, gagah dan calon raja harus digendong seperti anak kecil hanya untuk menyeberang jembatan. Oenix dan Zahn sibuk menahan tawa. “Baguslah kalau begitu. Mari kita mulai menyeberang,” ujar Oenix semangat. Alandra sibuk menelan saliva dengan kasar, dan mencoba memberanikan diri untuk melangkah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN