Penghinaan

1277 Kata
Gadis itu mendekat. “Pemain lain sudah menunggu kalian dari tadi, ayo cepat jalan!” Alandra membeku menatap paras gadis itu. Melihat Alandra hanya diam saja, Dayan maju ke hadapan. “Anda siapa?” tanya nya. “Saya Shalu, ketua atraksi sirkus.” Dayan menggelengkan kepala, karena gadis itu sudah salah paham. “Maaf, Nona. Anda salah orang.” “Salah orang bagaimana? pemain sirkus yang biasa mengatakan, jika pengganti mereka adalah laki-laki dan seekor binatang. Sudahlah, kita tak punya banyak waktu.” Karena tak ingin keduanya menjadi ribut, Alandra mencoba menengahi. “Tunggu sebentar, apakah kami akan dapat imbalan?” Dayan menatap tak percaya dengan pertanyaan sang pangeran. Gadis itu tersenyum. “Tentu saja, selain makanan, pakaian bagus juga akan diberi kepingan emas.” “Baik, kami bersedia ikut,” cetus Alandra mantap. Bagi Dayan, ini tak bisa dibiarkan. Karena hanya akan menghambat perjalanan mereka saja. Melihat Alandra terus menatap paras cantik gadis itu, rahangnya mengeras. ‘Dasar lelaki hidung belang! Demi gadis cantik, sampai lupa tujuan utama,' batinnya kesal. **** Mereka sampai di sebuah lapangan luas, ada perkemahan yang di dalamnya terdapat para pemain sirkus yang sedang berganti kostum. Sesuai arahan Shalu, Alandra mengganti pakaiannya dan diberi arahan. “Nanti, tugas kalian hanya berkeliling di dekat penonton, jangan lupa selalu tersenyum. Paham?” “Paham, Nona. Bolehkah__” “Bagus, saya harus mengecek pemain lain. Kalian duduklah di sana, sampai dipanggil untuk giliran,” ucap Shalu memotong ucapan Alandra. Dayan mendorong tubuh Alandra dengan kepalanya. “Hei, apa yang kau lakukan?” “Ikutlah denganku sebentar.” Mereka menjauh dari arena, dan duduk di tempat yang sepi. “Kamu kenapa?” “Kenapa bagaimana?” Alandra balik bertanya dengan santai, ia menyempatkan menatap Shalu di kejauhan. “Tujuan kita, adalah ke gunung Zas. Kenapa malah menerima tawaran gadis itu?” Dayan masih menahan kekesalannya. “Kau kan tahu, hadiahnya menggiurkan.” Dayan tertawa hambar seraya menggeleng. “Aku tidak yakin, itu alasan utamamu. Ayahmu, pasti membekalimu kepingan emas yang banyak, hadiah dari gadis itu takkan seberapa.” Alandra menarik napas panjang, kemudian ia berjongkok mengimbangi tinggi badannya. “Anggaplah kita bersenang-senang, lagi pula hanya sehari.” Dayan kembali menghentakkan kaki, membuat tanah yang dipijak sedikit berguncang. “Oh ya, ya. Bersenang-senang, sambil menikmati betapa cantiknya si Shalu itu! Makan tuh!” tukas Dayan, lalu ia kembali ke arena tanpa mempedulikan Alandra. Pangeran, hanya berdecak saja melihat sikap Dayan. ‘Apakah semua wanita atau betina sensitif?’ **** Penonton sudah berkumpul mengelilingi arena yang terhalang pagar. Atraksi dimulai dengan aksi berjalan dan berayun menggunakan tali, ada juga yang berputar di roda besi dengan kecepatan tinggi, masuk ke lubang api atau bermain sulap. Hingga, Alandra dan Dayan berjalan mengelilingi penonton. Awalnya, bagi Alandra itu mudah, karena hanya berjalan dan tersenyum walau ia tak memahami mengapa tugasnya lebih mudah dibanding pemain lain. Tapi, tiba-tiba terdengar tepuk tangan yang meriah, dan sorak sorai yang menggema. Senyum Alandra berkembang. “Lihatlah Dayan, mereka senang melihat kita!” seru Alandra. “Menurut pangeran, apa yang membuat mereka terhibur? Padahal, dibanding yang lain tugas kita membosankan,” cetus Dayan sambil memutar bola mata dengan malas. Alandra rupanya tak mendengar, ia sibuk tenggelam dengan riuhnya penonton bersorak ke arahnya. Tiga jam, pertunjukkan tak terasa lelah, Alandra begitu terhibur. Ia tak hentinya berbicara pada Dayan, bagaimana mereka bersorak untuknya. Diam-diam, Dayan merasa aneh dengan pertunjukan tadi. Jika penonton terhibur karena dirinya, rasanya tidak mungkin penonton begitu terpukau melihat dirinya yang merasa biasa saja. Shalu, meminta para pemain untuk mengantri menerima hadiah. Alandra dan Dayan, berada paling belakang. Sepanjang itu, lagi-lagi pemuda itu terus menatap wajah Shalu dengan wajah berbinar. Dayan pun menyadari sikap aneh sang pangeran. ‘Apakah gadis itu, sangat mempesona tuan Alandra?’ Kini, giliran Alandra dan Dayan yang maju untuk menerima hadiah. Shalu pun, memberikan senyum terbaiknya. “Sesuai janjiku, ini hadiah kalian. Terimalah.” Alandra membungkuk dan menerima sekarung hadiah. “Ini sangat banyak, terima kasih.” “Saya lah yang harus berterima kasih. Sepanjang kami beratraksi dari satu tempat ke tempat lain, ini lah kali pertama kami mendapatkan untung banyak. Itu semua karena kamu dan rubahmu,” jelas Shalu. Tentu saja Alandra begitu senang, sangat kentara dari riak wajahnya dan itu makin membuat Dayan kesal tak terkira. Beberapa pemain mendekat dan menyapa Alandra sambil menepuk bahunya. “Atraksi kalian bagus!” Alandra membungkuk. “Terima kasih, Tuan-Tuan.” “Apakah, kalian berdua ingin bergabung dengan kami lagi di lain waktu?” tanya salah satu dari mereka. “Tidak!” jawab Dayan cepat, sebelum Alandra yang menjawabnya. “Kenapa? Kalian akan cepat kaya.” “Terima kasih, tapi kami sedang melakukan perjalanan penting,” ucap Dayan kemudian. Ia sempat menginjakkan kaki Alandra sebagai isyarat agar mengiyakan ucapannya. “Oh, be-betul itu. Kami ... masih ada urusan penting.” “Begitu, sayang sekali ya. Penampilan unik fisikmu dan rubah putih elok ini, bisa menjadi daya tarik.” Lalu, terdengar gelak tawa dari mereka padahal menurut Alandra dan Dayan tidak ada yang lucu. “Betul, ha ha ha ... mereka tadi bahkan mengatakan bahwa atraksi ini kurang seru tanpa fisik Anda ini.” “Maksud kalian apa?” tanya Dayan dengan mata melotot. Mereka terdiam dan saling memandang. “Jawab!” nada Dayan meninggi dengan penuh tekanan. “Iya. Itu ... kenyataannya bukan? Fisik teman Anda unik, jadi daya tarik bagi penonton.” Mendengarnya darah Dayan mendidih, ia hendak menyerang wajah lelaki itu dengan cakarnya namun Shalu maju menengahi mereka. “Sudah-sudah, kalian jangan berbicara tentang fisik lelaki ini, tidak baik.” “Kami tidak menghina, justru mengatakan bahwa fisiknya unik. Apa yang salah?" “Cukup! Terima kasih atas semuanya, kami pergi,” ucap Dayan lalu ia mendongakkan kepala ke arah Alandra. “Tuan, ayo kita pergi. Anda tidak mungkin di sini terus kan?” Alandra mengangguk, lalu ia berpamitan pada mereka dengan perasaan hampa. **** Sepanjang jalan, Alandra terdiam dan tidak bicara sepatah kata pun pada Dayan, membuat rubah putih itu merasa khawatir. “Tuan tidak apa-apa?” tanya Dayan hati-hati. Alandra mencoba tersenyum. “Tidak, aku minta maaf selalu melakukan sesuatu sesuai kehendakmu. Lain kali, aku harus mendengarkanmu lebih dulu.” Dayan merasa lega mendengarnya. “Baguslah, dan aku harap, ucapan mereka tidak membuatmu berkecil hati.” “Bohong jika aku tidak merasa rendah. Harusnya, tadi aku curiga, mengapa hanya disuruh berkeliling dan menikmati tawa mereka yang sesungguhnya tengah mentertawaiku.” Dayan mencelos mendengarnya, tak tahu kenapa jika Alandra sakit hati, ia pun merasakan hal serupa. “Anda, tidak seburuk itu kok.” “Kau bicara seperti itu, hanya merasa tidak tega padaku, kan?” Dayan menggeleng kuat. Terdengar tarikan napas berat dari pemuda itu. “Aku harus teguh untuk mencari obat. Tidak boleh goyah seperti tadi. Karena, jika aku gagal ... tidak mungkin aku menjadi raja pengganti ayahku dengan fisik seperti ini. Yang ada para rakyat akan jijik!” “Ah, Tuan berlebihan. Tapi, mengapa Anda tiba-tiba menerima tawaran gadis itu untuk ikut atraksi? Rasanya mustahil demi hadiah, apa karena wajah gadis itu cantik?” Alandra yang tengah kalut tiba-tiba tertawa kecil. “Kau pikir, aku hidung belang?” Dayan menjawab dengan hanya mengangkat bahu dramatis. “Wajah gadis itu, seperti mendiang adikku. Mungkin ... aku terlalu rindu padanya,” imbuh Alandra. Dayan tertegun mendengarnya. Ia pun berpikir keras, bagaimana cara menghibur pangeran itu. “Hari akan gelap, sementara kita belum membersihkan diri. Perkiraanku, kita akan sampai di sungai jika lari ke arah sana. Siapa yang sampai lebih dulu, dia pemenangnya. Dan yang kalah, harus membuat tenda dan membakar ikan untuk makan malam.” Mata Alandra membulat. “Apa??” Dayan sudah lebih dulu berlari. “Ayo, cepat! Tuan tidak ingin kalah bukan?” ledeknya. Alandra pun tertawa dan mulai mengejarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN