Bukan Kami

1083 Kata
Gemercik air, membangunkan sang pangeran. Mata birunya berkedip beberapa kali, sebelum akhirnya terbuka lebar. Untuk pertama kali, sepanjang perjalanan Alandra begitu nyaman tertidur. Ia menoleh ke bawah tempat tidur, namun Dayan tak nampak sana. Seketika ia meloncat karena terkejut dan segera keluar dari kamar untuk mencari Dayan. Suara aliran air makin terdengar, rupanya dari arah belakang rumah sang tabib. Tanpa ragu Alandra membuka pintu dan melangkah menapaki bebatuan. Manik matanya tertuju pada tempat pemandian dengan air yang begitu jernih. Tapi ... Byarrr!! “Sialann! Pergi kau!” pekik Dayan berteriak. Alandra seketika mengusap wajahnya yang tiba-tiba basah disiram air oleh binatang berbulu itu. Dari ujung rambutnya, seketika basah kuyup. Gigi pemuda itu seketika bergemeletuk dengan kesal. “Dayaaaan!!” “Jangan melihatku tukang ngintip! Cepat pergi!” suara Dayan tak kalah kencang. “Salahku apa?!” bentak Alandra, wajahnya sudah memerah karena emosi. “Kau telah mengintipku sedang mandi, itu kurang ajar! Dasar mata keranjang!” Alandra mengerjap. “Hei, jangan menuduh sembarangan. Aku tak selera dengan binatang!” tegas Alandra. Mendengarnya, Dayan menelan saliva. Ia memindai tubuhnya yang berbulu, barulah sadar jika ia hanya seekor binatang. “Kenapa diam? Kehabisan kata-kata?” tanya Alandra mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi, namun perlahan ia turunkan karena terlalu tinggi. Seketika rubah putih itu terdiam dan melangkah mendekatinya. “Ma-maaf. Aku sudah selesai, cepatlah kau mandi,” ucap Dayan merendahkan suaranya. Ia melengos memasuki pondok. Alandra berdecak kesal dengan tingkah aneh rubah itu. Kehebohan terdengar oleh tabib yang tengah memetik obat herbal di depan rumah, ia tergopoh berjalan cepat ke belakang rumahnya mengecek keadaan. Terlambat, hanya ada Alandra yang hendak membuka bajunya. “Ada apa ribut-ribut?” tanya sang tabib. Alandra seketika memakaikan kembali pakaiannya. “Oh, tidak ada apa-apa Tuan, hanya keributan kecil, itu sudah biasa bagi kami. Maafkan atas ketidak nyamanannya.” Tabib terkekeh. “Tidak apa-apa, kukira ada masalah tadi.” “Oh ya, Tuan. Apalah bilik mandi ini ... tidak ada penutupnya?” Kali ini tabib itu tak bisa menahan tawa, mulai paham keributan apa yang ia dengar tadi. “Tidak, lagi pula saya hanya tinggal sendirian jadi bukan masalah jika mandi tidak ada penutupnya,” jawabnya santai. Alandra hanya menelan saliva dengan kasar. “Mandilah, saya akan memetik sayuran untuk kita makan dan tenang saja, tak akan ada yang mengintipmu,” imbuh tabib itu dan kembali melenggang santai. Alandra meringis sambil sibuk melihat ke sana dan kemari. “Nasiiib,” gumamnya. **** Perut telah terisi. Alandra memberikan beberapa kepingan emas sebagai bentuk terima kasih pada sang tabib, kemudian ia dan Dayan melanjutkan perjalanan. “Kau tahu, biarpun dirimu menyebalkan. Tapi saat terluka, aku begitu khawatir,” ucap Alandra saat mereka mulai melewati perkampungan. Dayan hanya diam, walau hatinya merasa senang karena tuannya begitu peduli padanya. “Aku tak menyangka, kau bisa cepat sembuh. Tabib berkata padaku, jika kau bukan rubah biasa. Tahu apa maksudnya?” imbuh Alandra bertanya. Kali ini, Dayan tak tahan untuk tertawa dengan kepolosan Alandra. “Mungkin ... tabib itu tahu, jika aku rubah yang cantik dan istimewa.” “Terserah!” Alandra memutar bolanya dengan jengah, merasa menyesal telah bertanya demikian. Baginya, yang tidak biasa dari Dayan hanya satu, bahwa rubah itu bisa bicara. Di area perkampungan itu, Alandra beberapa kali melihat kereta atau kandang kuda. Membuat keinginan hatinya tak terbendung lagi. “Aku butuh seekor kuda. Kita cari pasar, dan membeli satu ekor untukku. Pegal rasanya terus berjalan,” ucap Alandra. Dayan mendelik. ‘Dasar pangeran manja!’ Merasa Dayan diam membisu, Alandra menoleh ke arahnya. “Kenapa diam saja?” “Aku hanya bingung menanggapinya. Apa harus kuingatkan lagi, jika mencari obatmu, tidak boleh menaiki kendaraan termasuk kuda?” Alandra mengetuk dagunya beberapa kali. “Menurutmu ... kenapa tuan Argus melarang?” “Mungkin, agar otot kakimu kuat. Maklumlah, selama jadi pangeran kau hanya duduk manis di singgasana tanpa melakukan apa pun.” Mendengarnya Alandra merapatkan bibir, karena mulai kembali kesal. Andai saja, ia mampu, pasti akan mengangkat tinggi-tinggi rubah itu lalu dilemparkan ke jurang terdalam, pasti Dayan tidak bisa berkutik dan memohon-mohon dengan wajah memelas, meminta tolong padanya. Tanpa sadar Alandra tertawa jahat. “Kau kerasukan?” tanya Dayan. Seketika pemuda itu terdiam. “Lupakan. Bagaimana tentang tadi, bolehkan aku membeli satu ekor kuda?” “Tidak boleh, Pangeran manja!” ujar Dayan melotot dan penuh ketegasan. Jika sudah begitu, Alandra tak bisa berbuat banyak. Ia sangat benci disebut pangeran manja. **** Sambil berjalan, karena merasa tempat itu cukup sepi. Alandra mengangkat pedangnya. Ia mulai memainkannya dengan berbagai gaya, seolah tengah melawan musuh di gelanggang. Tanpa sadar, Dayan memperhatikan tiap gerakannya yang memukau. Di ujung jalan, beberapa anak laki-laki dan perempuan yang diperkirakan berusia delapan tahun, berlari ke arah Alandra dan Dayan. “Tuan, kita kepinggir,” ujar Dayan. Keduanya sudah menepi, namun anak-anak itu terus berlari mengelilingi keduanya sambil tertawa, hingga menubruk Alandra - membuatnya terjatuh. Sang pangeran mencoba bangkit sambil menepuk-nepuk jubahnya yang terkena debu. Anak-anak itu seolah menganggap Alandra tidak ada, mereka terus berlari mengelilingi tiang rumah salah satu warga. “Hei, anak-anak!” panggil seorang lelaki paruh baya yang keluar dari rumah, yang tak jauh dari Alandra dan Dayan berdiri. Seketika, anak-anak itu berhenti berlari dan membalikkan tubuh mereka. “Kemarilah!” ujar lelaki itu. Mereka diam sesaat dan saling berpandangan, kemudian berjalan mendekatinya. “Sedang apa kalian?” tanya lelaki itu. “Kami sedang bermain kejar-kejaran, Paman,” jawab salah satu dari mereka. “Boleh saja bermain, tapi jangan sampai merugikan orang lain. Sadar tidak, kalian menubruk orang ini?” tunjuknya pada Alandra. Mereka kompak menggeleng. “Kalau begitu. Minta maaflah!” Seketika mereka menunduk. “Maaf, Paman ....” kompak mereka. Alandra tersenyum, biar bagaimana pun mereka hanya anak-anak yang belum mengerti apa-apa. “Tidak apa-apa, lain kali berhati-hati ya.” “Baik, Paman.” Setelah diizinkan pergi, mereka kembali bermain. Lelaki paruh baya itu, menatap Alandra dan Dayan. "Maafkan anak-anak tadi, ya Tuan." Alandra membungkuk. "Tidak apa-apa, Tuan. saya paham, lagi pula tidak sakit." Lelaki itu tampak menepuk bahu sang pangeran sambil memindai keduanya. “Baguslah. Eh, dari penampilan kalian berdua. Kalian, pasti pemain pengganti, ya kan?” tanyanya tiba-tiba. Alandra dan Dayan saling memandang bingung. “Maksud, Tuan?” tanya Alandra. “Kalian, pasti pemain sirkus yang akan tampil nanti malam kan? Bukan ke situ arah jalannya, tapi ke sana,” ucapnya menunjuk ke arah lain. Dayan menggeleng, itu bukan jalan menuju gunung Zas. “Oh, Tapi kami__” “Kalian berdua!” Panggil seorang gadis dengan suara lantang, memotong kalimat Dayan. Alandra dan Dayan, menoleh ke belakang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN