Tabib Seribu Penyakit

1144 Kata
Krruuuuk ....! Alandra memalingkan wajah menahan malu, karena sadar suara perutnya membuat Dayan terus menatapnya. “Pasti kau lapar,” ujar Dayan berseloroh dengan suara lemah. “Diamlah.” Dayan terkekeh. “Tapi aku salut, kau masih kuat bisa menggendongku. Artinya, tak selemah yang kukira.” “Kau tidak tahu saja, jika kelebihanku banyak.” Mendengarnya Dayan hanya mencebikkan bibirnya. Sepanjang menjadi teman berpetualang, pangeran itu tidak menunjukkan kelebihannya. Tak terasa, mereka sampai di sebuah pondok kecil. Alandra menyapu pandangannya dan tak ada rumah selain bangunan tua itu. “Menurut warga, rumah tabib itu jauh dari pemukiman, dan hanya satu-satunya. Aku yakin, itu tempatnya,” tunjuk sang pangeran. Dayan mengangguk saja, gigitan ular itu mulai terasa makin sakit. Saat mulai memasuki pekarangan, pondok itu dikelilingi berbagai macam tanaman yang sepertinya sengaja ditanam dan ditata sedemikian rupa. Tampak bunga warna-warni menambah keasrian tempat itu. Alandra mengetuk pintu. “Permisi, apakah ada orang di dalam?” lelaki itu memanggil. Tak berselang lama tampak seorang lelaki tua berambut putih memakai baju putih keluar dari pondok itu. “Selamat malam Tuan, maaf jika kedatangan kami mengganggu, kami hendak menemui tabib,” imbuh Alandra pada lelaki tua itu. “Oh, itu saya sendiri. Masuklah dulu.” Alandra tersenyum, sembari masih menggendong Dayan ia membawa kakinya masuk ke pondok itu. “Apakah di antara kalian ada yang perlu pertolonganku?” Mendengar ucapan lelaki tua itu, Alandra duduk dan membaringkan Dayan yang entah sejak kapan tak sadarkan diri. “Sebelumnya, maaf jika saya lancang. Apakah benar, tuan adalah yang kami cari. Tabib seribu penyakit?” Terdengar tawa kecil dari lelaki tua itu. “Kau berlebihan anak muda.” Kakek itu menghampiri Alandra dan duduk di dekatnya. “Saya hanya melakukan apa yang kumampu dan meninggalkan apa yang tidak saya mampu. Apa yang telah menimpa rubah ini?” “Dia temanku. Tadi terkena gigitan ular saat perjalanan menuju kemari,” jelas Alandra. Dengan saksama sang tabib memeriksa kondisi rubah itu, Ia menempelkan ketiga jari tangan kanannya ke tubuh Dayan, sesekali tabib itu membersihkan darah yang membasahi bulu lebatnya. “Syukurlah bukan gigitan ular berbisa. Walau begitu, lukanya cukup dalam karena sepertinya rubah ini melakukan penyerangan membuat gigi tajam si ular menancap tajam,” terang sang tabib. Mata Alandra membesar karena terkejut. “Lalu, apakah rubah ini bisa selamat?” Tabib itu bangkit sambil terkekeh. “Kau pasti tahu, dia bukan rubah biasa. Saya, akan membuat beberapa ramuan.” Alandra mengekor sang tabib ke pekarangan rumahnya. Tampak lelaki tua itu memetik beberapa daun dan mencabut rempah-rempah. Alandra tak tahu pasti jenis apa itu, rupanya bukan sekedar hiasan taman tetapi juga obat. Tabib menumbuk semua menjadi satu hingga halus, lalu menempelkannya pada luka Dayan kemudian masuk ke ruangan lain, untuk beberapa saat dan memberikan sekantung obat dari dedaunan yang kering. “Berikan ini kepada temanmu, sehari dua kali pagi dan sore.” “Terima kasih Tuan tabib atas kebaikan Anda.” “Sama-sama. Istirahatlah walau hanya semalam, agar rubah ini tidak kelelahan.” Alandra membungkuk dan kembali mengucapkan rasa terima kasih. **** Dayan, telah diistirahatkan di sebuah kamar. Lalu, tabib itu menyodorkan dua cawan berisi air putih dan makanan untuk Alandra. Sepanjang berbicara atau melihat gerak gerik sang tabib, Alandra tidak menemukan keanehan atau kejanggalan. Membuatnya penasaran mengapa para warga itu, seolah menjauhi sang tabib? “Tuan, saya pun ingin meminta bantuan ....” Alandra menjeda ucapannya, ia memperbaiki tempat duduk terlebih dahulu karena gugup. “Pasti Anda sudah memperhatikan tangan dan kakiku, apakah Anda bisa mengobati penyakitku ini?” tanya pemuda itu. Berbeda dengan yang tabib lakukan pada Dayan, yakni memeriksa tubuhnya. Namun pada Alandra tidak demikian. Membuat pemuda itu langsung berprasangka, mungkin saja tabib itu merasa jijik padanya. “Sudah kubilang, saya bukan tabib seribu penyakit, dan hanya mengobati yang saya mampu. Saya tidak bisa mengobatimu, sepertinya bukan penyakit biasa, melainkan kutukan. Apa benar?” tanya sang tabib. Alandra mendundukkan kepalanya lalu mengangguk lemah. “Tapi, ini bukan kesalahanku Tuan, jadi kurasa pasti bisa sembuh dengan mudah oleh tabib manapun,” ucap Alandra beralasan. “Tetap tidak bisa. Karena tiap kutukan, punya satu penawar. Kau sudah tahu obatnya?” “Iya, Tuan. Jauh, di pegunungan es." “Maka, carilah obat itu sesulit apa pun.” Benarlah apa yang dikatakan Dayan, jika penyakitnya, hanya berada di gunung Zas. Ia pun menarik napas panjang dengan berat. Tabib, mampu membaca raut sedih dan kecewa dari Alandra, namun ia pun tak mampu berbuat banyak. “Dari mana, Anda tahu keberadaan saya?” tanya tabib itu memecah keheningan. “Mendengar dari beberapa warga di ujung sana. Namun, sepertinya Anda terkucilkan. Jika boleh tahu, apa yang terjadi. Apakah Anda melakukan kesalahan?” tanya Alandra. Tabib itu tersenyum tipis. “Sebenarnya, kita senasib walau hakikatnya berbeda. Engkau dikutuk atas sesuatu yang bukan kesalahanmu, begitu pun diriku dua puluh tahun yang lalu.” Alandra masih diam menyimak. “Dulu, persis seperti malam ini. Ada seorang lelaki yang menggendong anak perempuannya di punggungnya, datang ke pondokku yang lama, meminta bantuanku untuk mengobati anaknya. Saat melihat wajahnya, saya sangat kenal karena lelaki itu merupakan seorang menteri di daerah ini.” “Lalu?” tanya Alandra penasaran. “Anaknya muntah darah dan demam tinggi. Saat kuperiksa, ternyata terkena sebuah racun racikan. Setelah diberikan obat penawar, saya mengatakan padanya bahwa ada seseorang yang sengaja memasukkan bubuk racun itu ke makanan yang tak sengaja dimakan anaknya." Tabib itu tampak menghela napas dengan berat. “Menteri itu percaya padaku, dan akan mencari siapa pelakunya. Namun dua hari kemudian, terdengar kabar bahwa anaknya tak tertolong bahkan menteri pun menyusul anaknya meninggal dunia. Tidak kusangka, para warga tiba-tiba menyerang pondokku dan membakarnya. Saat kutanya ada apa, istri dari menteri itu maju ke hadapan.” Alandra menyodorkan minuman pada sang tabib karena tubuh lelaki itu tampak bergetar. “Istrinya, menghasut semua warga, menuduhku yang meracuni menteri dan anaknya.” “A-apa?” Alandra terkejut, ia yakin tak salah dengar dan sibuk mencerna ucapan lelaki tua itu. “Pondokku telah terbakar, saya pun sudah tak punya tempat tinggal. Yang bisa dilakukan saat itu, hanya mencari tahu kebenarannya.” “Sebuah bukti?” tanya Alandra. “Iya, lewat penyamaran sebagai pengawal pribadi wanita itu, akhirnya saya menemukan kenyataan bahwa dialah yang meracuni suami dan anak tirinya, demi merebut kekuasaan dan jabatan sebagai menteri.” Alandra mulai paham apa yang diceritakan tabib itu. Benar, walau beda namun hampir sama dengan yang ia alami. Bahkan ia lebih sakit, karena yang melakukannya adalah paman kandungnya sendiri. “Bagaimana nasib Anda setelah itu?” Kembali pemuda itu bertanya. Tabib itu tersenyum tulus. “Kau bisa lihat sekarang, baik-baik saja bukan? Saya mengasingkan diri, membuat pondok baru di sini, hidup tenteram dan damai. Asal kau tahu, diam-diam para warga yang masih percaya padaku, kerap datang kemari untuk berobat. Sabar adalah kuncinya, Ambilah pelajaran dariku, ya,” ucap sang tabib panjang lebar. Seolah ada angin dingin menerpa wajah Alandra. Harapan itu, selalu ada dan makin dekat diraih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN