Kembali

1167 Kata
“Kamu kekanakkan, manja, dan penakut!” “Aaaaarggh!” Alandra melempar capingnya dan menggasak rambut dengan kasar. Sepanjang perjalanan suara dan kalimat dari Dayan terus terngiang-ngiang. “Kenapa ucapan rubah itu selalu mengganggu pikiranku?” gumamnya. Ia kembali bangkit dan melanjutkan perjalanan. Akhirnya ia sudah keluar dari hutan. Baginya, wanita yang memberikannya peta itu, benar-benar baik dan Dayan sudah salah menilai. Mencoba melupakan si rubah, Alandra melangkah sendirian memasuki perkampungan. Tak ada orang yang ia lewati, selain bertanya tentang di mana keberadaan tabib seribu penyakit. Tanpa diduga, begitu mudah baginya bertanya tentang sang tabib. Banyak orang yang mengenalnya, namun mereka seolah ragu akan keperluan sang pangeran. “Anda yakin, ingin bertemu tabib itu?” tanya seorang lelaki. “Tentu. Aku ingin berobat padanya, kudengar ia ahli mengobati segala macam penyakit.” “Itu benar, namun ... beliau__” “Hei! Itu bukan urusan kita, jika orang ini mau menemui si tabib, biarkanlah!” ujar serang lelaki lainnya yang berkulit lebih gelap, tiba-tiba muncul memotong pembicaraan. Ia mengalihkan pandangan pada Alandra. “Kau datang dari hutan itu kan?” tunjuknya mengarah ke arah jalan menuju hutan yang telah disusuri. Alandra menjawab dengan anggukkan. “Sudah kuduga. Kami berlepas diri, jangan melibatkan warga di sini. Jika kau ingin mendatangi tabib itu, pergilah sendiri.” Semua menjadi diam. Alandra mengedarkan pandangannya, pada semua warga yang menyaksikan. Tidak ada satu pun orang yang membantah ucapan lelaki berkulit gelap itu, malah mereka mundur teratur. Alandra berusaha menyingkirkan rasa penasarannya dengan sikap aneh mereka. Ia pun mengangguk paham, tak ingin menyulitkan mereka dengan paksaan. “Baiklah, Tuan tidak apa-apa. Tapi tunjukkan saja di mana kediamannya,” ucap Alandra kemudian. Telunjuk lelaki itu mengarah pada jalan di sudut yang jaraknya sekitar dua puluh meter dari tempat mereka berdiri. “Susuri saja jalan kecil itu. Jaraknya lumayan jauh dari sini, namun jika menemukan persimpangan, jangan berbelok. Tetaplah lurus, sampai kau menemukan sebuah pondok satu-satunya. Di situlah tabib itu tinggal.” Manik mata Alandra menatap ke arah yang ditunjukkan. Alih-alih sebuah jalan kecil, namun ia menatap itu hanya sebuah jarak sempit yang dipenuhi semak belukar. Alandra bisa menangkap, jika jalan itu jarang dilalui orang. Ia sudah melangkah sejauh ini, demi kesembuhannya. Dirinya pun telah menyakiti Dayan, maka Alandra tidak ingin mundur atas apa yang menjadi pilihannya. Hatinya tetap teguh, bahwa pilihannya lah yang terbaik. ‘Mencari obat ke pegunungan Zas, bisa-bisa memakan waktu berbulan-bulan. Sementara Luxone, hendak melakukan sesuatu sekitar dua minggu lagi. Aku tak punya banyak waktu,' batinnya. Hari sudah larut. Sungguh panjang langkah yang ia susuri menuju pondok. Dengan bantuan cahaya kunang-kunang, Alandra menyusuri jalan yang penuh dengan rerumputan yang liar. Kruuuk! Perutnya yang kosong, ah tidak hanya itu tetapi juga kerongkongannya begitu kering. ‘’Sial! Entah kapan sampai di pondok. Jangan-jangan, aku telah dibohongi warga-warga itu,” ucap Alandra. Wajahnya bahkan telah pucat dengan keringat dingin. “Oh ... aku sangat lapar dan haus ....” Ia terus saja bergumam seraya memegang perut dan tenggorokan. Shsssssss .... Telinganya, mendengar desisan. Alandra menelan saliva dengan kasar. Makin pucat sajalah wajahnya. Malam itu, hanya bercahayakan rembulan dan kunang-kunang sehingga pencahayaan begitu minim. Pupil matanya membesar, tatkala menatap binatang panjang meliuk-liuk ke arahnya. Alandra mundur dengan cepat, hingga kakinya terpeleset, ia mencoba bangkit namun terjatuh lagi. Ular itu terus mendekat ke arahnya, membuatnya terpaksa menggusur tubuhnya sendiri. “Aaaaaa!!” Teriakannya memecahkan keheningan. Secara perlahan, matanya terbuka dan mendapati ular itu tengah dicengkeram oleh seekor rubah. Walau cahaya remang, tapi Alandra tahu itu adalah Dayan. Ular itu sempat melawan dan menggigit lehernya, namun rubah putih itu tak gentar, dan balik menggigit bagian ekor untuk ia banting kepalanya bertubi-tubi ke batu besar. "Dayan! Cukup! Cukup!" ujar Alandra melerai. Tapi, Dayan terus membanting hingga kepala ular itu hancur. Setelahnya ia mundur. Alandra merasa ngeri melihat adegan itu. "Bi-bisakah kau menurut padaku sekali saja? Ular itu sudah mati, tapi kau membantingnya hingga kepalanya hancur!" Napas Dayan masih terengah-engah, namun ia harus menelan kekecewaan. Ia pikir, kedatangannya untuk menolong Alandra, akan disambut baik namun lelaki itu masih saja ketus padanya. "Kau selalu melarang, tanpa menanyakan alasannya. Seperti waktu itu aku menyerang kera di hutan, kau tak memberiku kesempatan untuk menjelaskan," ucap Dayan. Hening. Keduanya saling menatap dengan pikiran masing-masing. Alandra menurunkan pandangannya, pada leher Dayan yang terluka karena gigitan. Seketika, ia merasa bersalah. "Maaf, harusnya aku berterima kasih padamu. Kau tidak apa-apa?" Alandra mendekat - berjongkok dan mengulurkan tangan ke arah leher si rubah. "Aku khawatir, ular itu beracun. Apa yang harus kulakukan?" imbuhnya. "Antarkan saja pada tabib seribu penyakit itu." Alandra menatapnya tak percaya. "Kau percaya ucapan wanita itu?" Dayan mengangguk. Sebenarnya, Argus memberinya sebuah wangsit bahwa perempuan gempal yang di rumah hutan itu, seseorang yang baik. Walau tujuannya, belum diketahui. Untuk itulah, ia kembali kembali pada Alandra. "Iya, kali ini kau benar," jawabnya. "Terima kasih, kamu telah kembali padaku." Alandra tersenyum, ia senang karena rubah itu melunak. Kedua tangannya meraih tubuh Dayan untuk digendong. "Hei!! Turunkan aku!" pekik Dayan, ia sibuk menggerakkan tubuhnya dan itu membuat Alandra goyah nyaris terjatuh. "Dasar rubah betina! bisakah kau diam dan duduk manis?" Baru saja, mereka berbaikan sudah kembali bertengkar. Mereka terdiam. "Kau telah menolongku, biarkan aku membawamu ke tabib itu," imbuh Alandra. Seolah ada es di dalam dadda Dayan, ucapan itu membuatnya terasa nyaman. **** Alandra masih berjalan, menyusuri jalan sempit dengan posisi menggendong si rubah. "Kau tidak malu menggendong binatang sepertiku? Bukankah itu terlihat lucu?" tanya Dayan. Alandra berdecak kesal, karena Dayan terlalu cerewet. "Tidak. Lagi pula, tidak ada yang melihatku." "Kenapa kau tak bertanya kenapa aku membunuh kera dan ular itu?" Kembali Dayan bertanya, membuat Alandra menarik napas dengan kasar menahan emosi. "Ya sudah, kenapa?" tanyanya terpaksa. Dayan terkekeh, karena sadar wajah majikannya tampak gusar. "Kera itu disuruh seseorang untuk mengintai kita, karena khawatir binatang itu telah mengambil informasi, maka kumusnahkan saja." Alandra tertegun, soal ini tak terpikirkan olehnya. "Benarkah? oleh siapa?" "Itu, aku belum tahu." Langsung saja, Alandra terpikir pada Luxone. ia yakin, jika pamannya lah yang melakukannya. "Oh, mungkin sekarang kita harus berhati-hati, dan jangan mudah percaya." Dayan mengangguk. "Lalu, ular kubunuh tadi. kepalanya harus dihancurkan, agar matanya juga hancur. Mata ular yang sudah mati bisa merekam semua kejadian sebelum kematiannya. Maka, teman ular lain bisa mengambil rekaman itu hanya lewat mata yang tersisa." "Wah, artinya semacam balas dendam?" tanya Alandra. "Ya, jika tak kuhancurkan mungkin temannya akan mengejar kita," jawab Dayan. Alandra bergidik. Namun, ia merasa lega dengan semua penjelasan itu. "Terima kasih Dayan." "Untuk?" Dayan menatap kedua manik biru itu. "Untuk semuanya. Tanpa kau, aku tak tahu nasibku bagaimana. Aku juga minta maaf telah menyusahkan dan menuduhmu macam-macam." Dayan mengendikkan bahu dengan jumawa. Walau hatinya tersentuh dengan kalimat Alandra. "Sama-sama, kau tak sepenuhnya salah. Wanita gempal yang memberimu peta dan juga kabar soal tabib, itu benar. Wanita itu orang baik, di antara orang-orang yang mencurigakan itu," terang Dayan. "Maksudmu?" "Sebenarnya, aku sudah mantap meninggalkanmu, tapi tuan Argus memberiku wangsit, soal kabar wanita itu. Tapi tolong jangan bertanya lebih, karena hanya itu yang ku tahu. Satu hal yang pasti, di rumah hutan itu terdapat musuh-musuhmu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN