Sashi pulang dari klub jam empat diri hari diantar oleh Pak Solihin, sopirnya Robert. Meskipun lelah, ia merasa senang dan puas karena Robert memberitahunya bahwa semua eclaire Sashi habis dan banyak yang memuji rasanya. Karena terlalu lelah, Sashi pun langsung tertidur tanpa berganti baju. Ia terbangun pada pukul sebelas siang, dengan perut yang keroncoigan.
Di dapur ternyata sudah ada Bu Putu yang sedang mencuci piring. Berbeda dengan Wayan, Bu Putu bekerja dengan lebih berat. Ia mencuci dan menyeterika baju milik Jeff. Meskipun Jeff bisa mengirimnya ke laundry, namun Bu Putu memintanya untuk ia cuci sendiri. Ia tidak suka makan gaji buta, dan memastikan semua baju yang ia cuci tidak kalah bersih dan wangi dari laundry.
"Sashi mau makan apa?" tanya Bu Putu begitu melihat Sashi masuk.
"Aku mau goreng kentang, Bu. Tapi biar sama aku aja. Oh ya, by the way kemaren aku sama Wayan bikin eclaire, buat cuci mulut. Kayaknya udah beku di kulkas. Nanti kalo bu Putu pulang, ambiol aja dua box yang besar buat kalian, ya."
"Oh iya nanti ibu bawa ke rumah. Kmau gimana tidurnya apa udah cukup?"
"Lumayan, Bu. Aku pulang kerja langsung tidur kook, malah ga pake acara ganti baju dulu."
"Hahahaha ada-ada aja, kamuu..."
Ponsel di genggaman Sashi berbunyi, nomor tidak dikenal. Begituia mengangkatnya ternyata hanya kurir.
[Maaf, Mbak, ini saya dari JNB mau antar barang, apakah mbak ada di rumah?]
"Oh iya saya lagi ada di rumah, nih. Mau diantar sekarang?"
[Iya, saya on the way ke sana ya, Mbak. Mohon standby.]
Tidak samapi sepuluh mneit, paket yang dimaksud sudah berada di tangan Sashi. Noni mengirrimkannya dalam satu boks besar. Ada baju, sepatu, juga barangnya yang lain yang sudah sangat dirindukan olehnya. Sashi pun menelepon Noni untuk mengucapkan terima kasih, lalu menyiapkan satu baju untuk pergi kerja nanti.
"Sashi, udah ga usah keluar. Ini kentangnya udah ibu goreng. Mkana aja di sini, ya," ujar Bu Putu membawakan sepiring kentang dan teh panas.
"Aduh ibu kok pake repot-repot, padahal biarin saya aja yang bikin." Sashi benar-benar merasa tidak enak.
"Uah ga apa-apa, ibu juga kebetulan lagi santai, kok. Ga ada kerjaan apa-apa lagi."
"Kalo gitu makasih banyak ya, Bu" Sashi pun menikmati kentangnmya di meja kerja sambil melihat lautan.
Sepiring kentang mengingatkan Sashi pada Jeff sewaktu pria itu juga membawakan makanan yang sama di malam hari kemarin. Sashi bertanya-tanya mengapa sekarang Jeff jadi begitu dingin tidak seperti biasanya. Sashi hanya menduga bahwa pria itu sedang kelelahan di tempat kerjanya. Namun Sashi ingin melihat Jeff mempedulikannya lagi.
***
Lagu tribute untuk Sashi selesai direcord. Kini Noni tidak ada acara menangis lagi saat menyanyikan bagian reffnya hingga Jio dan Revo heran. Noni sendiri merasa lucu karena sebenarnya ia memang sudah tidak bersedih setelah mendapati fakta bahwa ternyata Sashi masih hidup. Mereka memperdengarkannya dengan volume tinggi sehingga siapapun dapat berkomentar.
"Mantap!" seru Shaki. "Udah selesai, nih?"
"Belum, tinggal dimixing aja," jawab Jio.
"Oke, ayok deh bikin videonya. Udah ga sabar gue."
"Ya udah carilah ide konsepnya. Sementara gue mixing dulu lagu ini. Rundingin aja sama Noni maunya gimana," ujar Jio.
"Oke siap."
Jio kembali ke ruang studio, sementara Nonimenepuk paha Shaki. "Si Wiggy kemana? Kok ga ada dateng lagi?"
"Hari ini mau dateng kok dia. Tadi kirim chat ke gue, mau sekalian minta tolong fotoin buat produk-produk endorse-nya. Udah numpuk dari kemaren."
"Oh bagus deh. feed Instagramnya juga kosong mulu dari kemaren."
Suara mobil menghentikan pembicaraan mereka. Noni sudah hapal hanya dari suaranya bahwa itu mobil milik Sashi. Namun ia tidak ingin pergi keluar dan membukakan pintu untuk adik tiri sahabatnya itu.
Suara bel mulai berbunyi, akhirnya Shaki yang membukakan pintu. "Hai, Dixie. Apa kabar?" tanya Shaki basa basi.
"Baik. Boleh masuk?"
Shaki mempersilakan Dixie untuk masuk dan duduk di sofa, di mana Noni juga sedang berada di situ."Gue mau balikin mobil punya Kak Sashi. Cuman mungkin tiap weekend gue mau pake mobilnya buat jalan. Gapapa, kan? Dua sampai tiga kali dalam seminggu doang, kok. Sama sekalian minta list barang-barang Kak Sashi di sini apa aja supaya aku bisa jagain."
"Jagain gimana?" tanya Noni curiga.
"Ya gue bisa rutin ke sini buat cek. Atau jabatan Kak Sashi bisa turun ke gue sebagai owner kantor ini. Gimanapun gue paling berhak buat jagain asetnya dia supaya tidak dimakan saman orang-orang yang ga punya hak."
Noni sungguh muak mendengar kalimat tersebut. "Ya silakan aja sih kalo mau rutin dateng ke sini. Toh kita juga ga niat makan profit bagian Sashi.Udah kita rencanain juga kalo royalti dari sini bakalan dikirim ke rekening ayahnya. Kamu ga usah takut, orang-orang di sini bukan orang serakah."
Dixie mencebikkan bibir. "Oke deh kalo gitu. Hmmm... gue tetep akan ke sini aja dan pelajari tugas-tugas Kak Sashi."
Tepat setelah itu Wiggy datang. Dixie langsung terpesona begitu melihatnya. Wiggy bagaikan karakter anime yang melompat dari buku komiknya. Ia sangat ethereal dengan rambut panjang begitu.
"Eh, Bang Wiggy, aku Dixie adiknya Kak Sashi," katanya sambil berdirii dan mengulurkan tangan.
Namun uluran tangan itu hanya disentuh sedikit dan sekilas oleh Wiggy. "Hai."
"Bang Wiggy, hari ini ada jadwal apa?"
Wiggy yang tampak malas bicara hanya bergumam. "Pemotretan."
"Wah!! Aku boleh liat? Kebetulan aku penggemar Bang Wiggy, pengen tahu cara pemotretan di sini kayak gimana. Siapa tahu aku juga bisa bantu-bantu sedikit. Kalau butuh asisten."
Noni tidak kuat melihat itu semua sehingga ia mengeluarkan ponsel untuk merekam kejadian tersebut. Ia hendak mengirimkannya kepada Sashi, supaya temannya itu bisa melihat betapa menggelikannya adik tirinya tersebut.
Kini Wiggy dan Shaki ke ruang belakang untuk pemotretan diikuti oleh Dixie. Wanita itu terdengar meminta foto bareng pada Wiggy dan Wiggy pun mau tidak mau menyetujuinya.
[Lo liat deh anjir, tadi dia minta foto berdua sama si Wiggy. Noh abis itu dia senyam senyum sendiri sambil liatin hapenya. PAlingan dia udah upload ke media sosial.]
Tidak lama kemudian, Sashi menjawabnya dengan banyak emoticon tertawa. [Gue baru tahu dia suka sama si Wiggy. Wahh... lo punya saingan dong!]
Noni langusng bergidik membaca pesan tersebut. Ia tidak takut jika rivalnya hanya seorang Dixie. Wiggy mana mau dengan wanita super kecentilan dan serakah seperti Dixie. Meskipun jauh di lubuk hati, Noni sangat kesal melihat mereka foto berdua.