Klub

1006 Kata
Sorak sorai dari halaman begitu riuh diiringi musik EDM yang dinyalakan oleh Franky dengan volume keras. Ia kembali mengundang teman-temannya, bahkan bule yang ia kenal beberapa hari lalu untuk pindah penginapan ke Rosie & Riley Cottage. Beberapa di antaranya memuji suasana cottage yang nyaman secara langsung kepada Jeff. Karena beberapa koki dan kepala chef masih dalam masa training, mereka sudah pulang sore tadi. Jadi para bule yang sedang party ini memanggang steaknya sendiri. Mereka tampak bersenang-senang, hingga Jeff puas melihatnya dan tidak sabar menunggu kedatangan kedua orangtuanya untuk berlibur di cottage miliknya sendiri. "Yang, aku tidur duluan, ya," kata Alina sambil memegang lengan Jeff. "Loh, tumben masih jam sepuluh udah ngantuk." "Aku lagi capek. Kamu di sini aja dulu, ga enak kalo kamu ikutan tidur cepet." "Oke, mau aku anterin?" "Ga usah, kamu di sini aja." Alina pun pergi ke pondoknya yang paling depan. Jeff hanya memerhatikan hingga kekasihnya tersebut masuk. Ia sudah tidak bisa berpositif thinking denagn sikap Alina sejak kedatangannya dari Bandara kemarin. Namun Jeff bukan tipe pria yang memaksa kekasihnya untuk bercerita. Alina sudah sering datang ke Bali untuk menemui Jeff, begitu pun sebaliknya. Jeff sering memberi kejutan pada Alina yang suka tiba-tiba berada di Singapore untuk mengajaknya makan malam. Biasanya mereka akan membahas apa pun yang menarik, menyampaikan kerinduan mereka, banyak tertawa dan berakhir dengan bercinta hingga kelelahan. Namun sekarang Alina seperti tidak mau disentuh. Sekarang pun sepertinya begitu. Jeff tidak tahu apa yang sedang mengganggu pikiran Alina. Sebagai pria yang baik, ia akan menunggu kekasihnya itu berbicara sendiri. Mungkin Alina datang ke sini memang bukan untuk melepas kerinduan, melainkan mencari ketenangan. Jeff hanya bisa memaklumi. "Bro, ayo dooong..." Franky menghampiri Jeff sambil membawa sebotol bir. Untuk menghargai teman dan tamu-tamunya yang pertama, Jeff meraih botol tersebut dan bersulang dengan mereka. Ia juga mencicipi daging barbeque serta marshmallow yang sudah dibakar sambil mengobrol ringan. Rupanya para wisatawan itu berasal dari Indianapolis. Mereka sudah satu minggu berada di Bali dan akan pulang tiga hari lagi. Pria tinggi yang bernama Robin berjanji jika ia kembali lagi ke Bali, dirinya akan menginap lagi di Rosie & Riley Cottage. "Bro, gue cabut dulu ke kuta sebentar," kata Franky bersama satu pria bule kurus berambut pirang. "Mau kaman lo?" "Biasa, nyari cewek. Ni dari tadi si Robert ga bisa dihubungin, jadi mending gue samperin aja ke sana sambil liat-liat. Siapa tau bisa milih. Heheheh...." Jeff berdecak. "Lo baru kemaren loh bawa cewek." Franky tertawa. "Kayak ga tau aja bapak kita yang satu ini. Energi seorang Franky mana bisa habisKuat banget meski harus tiap jam buka ronde baru." Jeff hanya bisa membeirtahu, tapi dia tidak mau melarang Franky. Temannya itu bukan anak kecil lagi.Namun jika Soni yang melakukannya, ia tidak akan segan-segan mendamprat, karena Soni sudah mempunyai istri dan anak. Jeff sendiri sangat menyayangi anaknya Soni yang kini berusia 3 tahun bernama Ziggy. Itu sebabnya Jeff selalu melarang Soni melakukan hal negatif karena selalu teringat wajah anak batita itu. "Ya udah sana, gih. Gue bentar lagi juga mau istirahat," kata Jeff sambil menaruh botol birnya di atas meja. "Nah kan, baru aja gue ngomongin cewek, lo langsung sadar di tempat tidur lo ada cewek juga. Hahahahah! Dah ya, gue mau ke si Robert dulu." *** Aroma kayu manis dari pancake yang Sashi buat sangat menggugah selera. Sashi lupa bahwa tadi siang ia hanya makan sedikit. Perutnya kini keroncongan dan ia seakan ingin memakan steak berukuran besar. Apalagi menu special hari ini adalah steak buatan Pak Made yang enaknya luar biasa.Lagi pula, Mora sedang abse kerja karena sakit. Jadi sedari tadi Sashi mengerjakan semua menu dessert seorang diri. Untunglah semua dikerjakan dengan baik dan sudah selesai. "Pak Made, waitersnya pada kemana, ya?" tanya Sashi setelah sadar bahwa pancake yang ia buat belum diambil. Pak Made ikut melihat ke sekeliling dapur dan tidak ada satu pun waiters yang tampak. "Lagi pada di dalem kali, ya?" Sashi melihat pancake yang terlihat empuk menggemaskan sehingga ia khawatir rasanya akan berkurang jika keburu dingin. Akhirnya Sashi pun berinisiatif untuk mengantarnya sendiri. Ia melihat bon pesanan, mencari nomor meja yang memesan pancake. Setelah ditemukan, ia pun pergi ke dalam klub sambil membawa baki berisi pancake topping blueberriy. Selama bekerja di sini, Sashi baru menginjak ruangan klub satu kali bersama Robert. Namun kala itu suasana sedang kosong karena belum jam buka. Kini suasananya berubah 180 derajat karena banyak lampu kelap kelip, terdengar musik yang kencang dan para tamu yang sedang melepas penat dengan menari dan open bottle. Sashi lumayan kesusahan mencari meja nomor 17 yang memesan tiga porsi pancake. Untunglah, ada salah satu wiaiters pria yang sedang membawa baki kosong dengan langkah cepat menuju dapur. Sashi langsung menghadangnya. "Eh, kamu! Meja nomor tujuh belas di mana?" tanya Sashi setengah berteriak mengalahkan dentuman suara musik. Si waiters pria itu menoleh. "Oh, ada di ujung, Kak. Sini aja biar saya yang antar, tawar si waiters tersebut yang memang sudah menjadi tanggung jawabnya. "Oh oke, takut keburu dingin soalnya." Sashi pun menyerahkan baki yang ia bawa, lalu hendak kembali ke dapur. Ia sempat menyapu ruangan dengan matanya, mencari keberadaan Robert untuk meminta izin waktu istirahatnya dipercepat. Sepertinya Sashi tidak sanggup lagi menunggu satu jam untuk mengisi perutnya. "Hey, Beb. Lagi nyari siapa?" tanya seorang pria entah dari mana. "Oh, nggak. Lagi nyari temen aja." Pria berperawakan preman dengan rambut keriting itu menyeringai. "Kamu anaknya Robert bukan, sih?" "Hah?" Sashi tidak mnegerti maksud ucapannya. "Saya kerja di sini, kerja sama Robert." "Aaah... sini minum sama aku, yuk!" ajak pria itu sambil menarik pergelangan tangan Sashi. "Woy Franky! Jauh jauh lo, jangan ganggu dia!" iba-tiba Robert datang dan melepaskan tangan Franky yang masih menggenggam pergelangan tangan Sashi. "Sash, lo balik lagi sana. Ngapain di sini?" "Anu... tadi waitersnya pada ga ada." "Ya udah sana balik." Sashi pun segera meninggalkan tempat tersebut, sementara Robert memicingkan matanya pada Franky. "Wah parah lo, punya anak secantik itu ga ada kasih tahu gue. Gue mau dong sama dia malem ini, bisa ga?" "GA BISA! Dia kepunyaan bos besar, eksklusif! Nanti gue cariin yang lain." "Aelaaah... gue maunya sama dia. Berapa sih? Gue bayar berapapun."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN