Wellcome

1014 Kata
Beberapa hari kemudian... Sudah dua jam Jeff berada di cofffee shop bandara untuk menunggu kedatangan Alina. Pagi tadi, menurut kekasihnya itu pesawat memang mengalami delay, namun Jeff tetap pergi sesuai schedule awal. Sudah dua bulan lebih mereka tidak bertemu. Terakhir Alinea ke Bali hanya stay selama tiga hari. Wanita itu akhir-akhir ini sangat aktif. Ia tinggal di Singapore, mempunyai bisnis tas dan makeup sendiri yang sudah dirilis hampir dua tahun ini. Jeff sempat memberi saran supaya Alina membuka cabang di Indonesia supaya memudahkan mereka untuk bertemu, namun Alina masih memikirkannya matang-matang. Menurutnya ia ingin fokus dulu sampai yang di Singapore maju pesat. Ponsel jeff bergetar ketika ia menyeruput gelas espresso keduanya hingga habis. Alina mengabari bahwa pesawatnya baru saja landing. Jeff pun bersiap keluar coffee shop untuk menjemputnya di dekat eskalator. Sudah banyak orang yang turun dari tangga berjalan tersebut, sementara keluarga mereka memanggilnya dengan antusias dan saling berpelukan. Jeff pun akhirnya melambaikan tangan ketika melihat sosok Alina di puncak eskalator. Rambutnya tampak dipotong hingga sebahu dicat kemerahan. lina semakin tampak fresh. Wanita itu memakai kacamata hitam dan tas milik brandnya sendiri. Ketika melihat Jeff, ia ikut melambaikan tangannya sambil tersenyum manis. Sesampainya Alina di bawah, keduanya berpelukan selama beberapa menit, lalu Jeff mencium kening dan mengecup bibirnya. "Hows the flights?" "Lumayan serem turbulance-nya, padahal aku pilih penerbangan pagi supaya ga kena hujan, eh malah delay dan tadi di atas sempet gerimis. Takut banget loh beb, apalagi kan baru-baru ini ada kecelakaan pesawat juga." "Jeff langsung teringat Sashi. "Kamu ngikutin beritanya?" "Nggak, sih, cuman tahu gitu aja kan rame banget di semua portal berita sama media sosial. Tapi aku mana sempet baca." Syukurlah, Jeff berharap Alina tidak pernah melihat wajah Sashi di internet yang diberitakan sebagai korban. "Kamu udah makan?" Alina menggeleng. "Belum. Aku tadi cuman makan cookies. SEngaja ga makan berat dulu karena pengen makan grilled clams sama king prawn di Menega. Udah buka kan jam segini?" “Udah doong… yuk, kita ke sana.” Jeff membawakan koper milik Alina sementara sebelah tangannya lagi memegang tangan kekasihnya tersebut. Entah sudah berapa kali Jeff dan Alina makan di Menega yang menyediakan banyak makanan enak dan berbagai signature dishesnya membuat ketagihan. Sepanjang perjalanan menuju kafe, Alina banyak menceritakan tentang kemajuan bisnisnya. Namun Jeff menangkap dari nada bicaranya, Alina tidak seantusias dulu. Mungkin ia terlalu capek, karena badannya pun terlihat lebih kurus. “Tapi ga ada masalah apa-apa kan di kerjaan?” tanya Jeff. “Uhm… nope! Semuanya baik-baik aja. Kamu sendiri gimana? Cottage apa kabar?” "Udah siap ditempati. Kalo kamu ga capek, besok kita ke sana. Ada si franky juga lagi nginep." "Oya? Whoaa rame dong kalo ada dia." Jeff tertawa. Di mana ada Franky, di sana memang pasti ada kehebohan. "Udah seminggu lebih dia di sini. Tadinya cuman bentar, tapi aku minta dia stay lebih lama, karena mama papa kan mau dateng juga. Biar rame aja nanti. Franky kan tukang ngehibur." "Hari apa mama papa dateng?" "Tiga hari lagi. Kamu di sini lama, kan?" Alina tampak berpikir sebentar. "Belum pasti sih, Beb. Tapi aku pasti semeptin ketemu mama papa, tenang aja. Sekalian mau kasih hadiah buat anniversary mereka." "I hope you are here in my birthday," ujar Jeff sambil memandangi Alina ketika mobilnya berhenti di lampu merah. Alina tersenyum sambil mengusap lengan Jeff. "Aku ga janji, kan tahu sendiri kerjaan aku lagi hectic banget, ga bisa ditinggal lama-lama." "Oke. No worries. Paling setelah semua selesai dan mama papa juga udah balik ke Australia, aku samperin kamu ke Singapore." Untuk sesaat, Jeffmelihat mata Alina mengerjap cepat. "Ah yaa! Kamu kabarin aja kalo mau ke sana. By the way, orang yang nempatin rumah belakang itu masih ada?" "Masih. Cuman jarang keliatan. Soalnya dia kerja malam, pulang subuh. Siangnya juga tidur. Paling keluar nyari makan doang." "Kerja apa emangnya?" Jeff tidak mau memberitahu Alina tentang pekerjaan Sashi yang sebenarnya. "Waiters. Di restoran 24 jam." "Kok bisa sih kamu nampung dia?" "Ya... karena dia butuh pertolongan, Beb. Aku nemuin dia pingsan di pinggir jalan, tasnya dirampok dan dia ga bisa pulang ke kota asalnya. Jadi sementara dia tinggal di sini sambil nyari kerjaan sampingan. Kayaknya dia memutuskan buat stay setelah ngerasa betah tinggal di Bali." Alina mengangguk. "Tapi... dia bakalan lama ngisi rumah belakang?" "Cuman sementara sampai pemasukan dia stabil dan bisa cari kosan. Its okay, dia sama seklai ga ganggu, kok." "Oke, aku cuman penasaran aja kok. Kalo Bu Putu gimana? Masih kerja sama kamu?" "Masih. Kemaren dia sempet sakit dan digantiin sama anaknya, si Wayan." "Kenapa sih kamu masih pertahanain dia? Masakannya biasa aja. Dia kayak terima gaji buta juga karena rumah kamu tuh ga ada yang bener-bener harus dikerjain. Kamu aja jarang di rumah, rumah jarang berantakan, cuci piring paling cuman satu dua, nyuci bisa di laundry. Kenapa harus ada asisten rumah tangga?" "Karena dia butuh kerjaan." Alina pun tertawa. "Duh ya ampuun.. kalo kamu punya sikap yang gampang ga enak hati, lama-lama itu rumah jadi tempat penampungan." Jeff membelokkan mobilnya ke kafe. Ia membuka seatbelt, allu menghadap Alina. "It's okay. Selama kita mampu nolongin merka ya why not? Aku juga ga mau berlebihan sampai memperkerjakan empat asisten rumah tangga. Nope." "Iya aku tahu. Terserah kamu juga, sih. Aku juga yakin Bu Putu orangnya baik. Cuman ga tau nih orang baru yang nempati rumah belakang rumah kamu. Nanti aku lihat deh, aku kan paling pinter baca sikap seseorang." "Paling nanti sore si Sashi keluar. Biasanya diajakin Bu Putu makan di dapur." Alina ikut membuka seatbelt-nya. "Oke. Duh, perut aku mulai keroncongan. Buruan masuk, yuk. Kayaknya sepip, Beb" "Iya ini baru aja jam buka.Mau makan di dalem atau luar?" "Dalem aja deh, takut kena debu. Langsung pesenin grilled clams sama king prawn yaaa..." Jeff pun menunjuk sebuah meja di pojok dengan sofa empuk. Alina langsung menuju ke sana, sementara Jeff memesankan makanannya. Alina duduk sambilmelepas kacamata. Ia memeriksa ponsel dan suasana hatinya sedang dalam keadaan tidak bagus sehingga iaa memutuskan untuk mematikan ponselnya saja. "Beb, aku pesenin lemon squash buat kamu," kata Jeff yang kini ikut duduk di hadapan Alina. "Oke, Beb. Thanks," katanya, lagi-lagi tidak seantusias tiap kali ia memesan makanannya di kafe itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN