chapter 1

705 Kata
Sudah semalaman Aria tertidur dengan tubuh yang demam. Dirinya ditemani oleh Suster Ann di kamar asrama miliknya. Kamar asrama ini sungguh luas, bahkan ini kamar yang masih sepi. Kamar asrama putri sudah penuh dan hanya tersisa ini saja, Suster Ann yang mengecek semalaman kamar pun memang semuanya sudah penuh. Ia lantas membersihkan tempat ini secara mendadak, dengan ditemani dua orang suster lainnya. Suster Ann pun tertidur di sisi Aria bersama boneka kesayangannya. Cahaya mentari mulai memasuki celah-celah kecil jendela ruangan asrama Aria. Suara lirih dari bibir Aria kecil pun terdengar. "Ha … haus, ha … us aku haus," ucapnya pelan. Bibirnya berwarna biru dengan kulit yang pucat karena kedinginan, sungguh dirinya masih sangat lemah. Suster Ann menatap wajah Aria kembali. "Sayang, kau bangun? Kau ingin minum? Sebentar aku akan mengambilkannya," ucap Suster Ann kepada Aria ketika dirinya melihat Aria yang sudah terbangun. Suster Ann pergi menuju dapur asrama untuk mengambil segelas air putih dan juga roti untuk sarapan beberapa. Sungguh Ann sangat senang mendengar Aria sudah sadar, dirinya panik dengan menyiapkan beberapa gelas dan juga roti untuk Aria. Jeane menanyakan Aria pagi ini. "Bagaimana kabarnya? Apa ia sudah sadar?" Tanya Jeane kepada Ann. "Aku baru terbangun dan dia sudah mengucapkan kata haus. Sungguh aku bahagia ketika ia terbangun. Semoga Tuhan selalu memberkatinya," ucap Ann dengan membawa beberapa roti di atas piring dan segelas s**u serta segelas air putih. Dari jauh Ann melihat Asher yang berdiri di pintu kamar ruangan Aria. "Asher, apa yang kau lakukan?" Tanya Ann dengan berjalan menuju ruangan kamar. Asher yang hanya mengintip pun ikut berjalan bersama Ann. Bagi Asher melihat seseorang anak perempuan yang sendirian di kamar yang luas. Terlebih ia seperti sedang kesakitan, "Suster Ann, dia siapa?" tanya Asher kepada Suster Ann. Ann terkejut ketika dirinya mendapati pembicaraan Asher yang seperti pria dewasa. Ann yang membawa nampan pun menaruh nampan tersebut ke atas meja dekat ruang tidur Aria. Ann tersenyum dengan duduk disisi Aria. "Kemarilah Asher. Aku akan mengenalkanmu kepada anak perempuan, aku pun baru mengenalnya semalam. Ia tidak sadarkan diri semalam dan beruntung Tuhan memberkatinya dan berada hingga saat ini bersama kita," ucap Ann dengan menjelaskannya kepada Asher. Asher menatap wajah Aria saat ini, dirinya berjalan dengan mendekati Aria dan juga Suster Ann. Aria pun kembali mengucapkan kata haus. Dengan pelan Suster Ann mengangkat kepala Aria yang saat ini masih lemas. Dirinya mengusap rambut panjang milik Aria dan mencoba membuatnya tersadar dari tidurnya. Aria pun secara perlahan membuka kedua matanya. Mata kunang-kunangnya mulai terbayang dengan melihat Suster Ann dan bayangan sosok Asher. Asher yang terdiam melihat Aria dengan menatapnya serius. Aria pun terbangun dengan tubuh yang sakit di seluruh tubuh akibat terjatuh ketika ia tidak sadarkan diri. "Suster, dimana aku?" Tanya Aria ketika melihat Suster Ann. Aria terdiam dengan melihat sekitar. Ruangan kamar yang sepi dengan hanya berisikan dirinya seorang, "Apa kau sudah bangun? Tenanglah, aku Suster Ann dan ini adalah Asher. Mulai hari ini Asher adalah temanmu. Apa kau menyukainya?" Aria terdiam dengan mengangguk sembaring berbaring, "Hai, namaku Aria. Apa kau yang bernama Asher?" Asher menatap Aria dengan pilu. Dirinya memeluk boneka beruang berwarna cokelat milik Aria, "Apa ini milikmu? Boneka ini pasti memiliki banyak kisah. Usiamu berapa?" Tanya Asher kepada Aria. "Lima belas tahun," jawabnya dengan pelan. Suster Ann tersenyum dengan melihat Aria, dirinya menyiapkan makanan sarapan untuk Aria berupa potongan roti. "Asher berusia tiga belas tahun. Dia lebih muda darimu, kalian bisa menjadi kakak dan juga adik." Aria mengangguk dengan tubuh berbaring. Melihat Aria yang masih lemas, Asher pun berpamitan untuk melakukan pelajaran dari sekolah asrama. "Suster Jeane sudah menunggu. Aku akan melakukan sekolah, kau harus menungguku disini. Jangan pergi ketika aku datang kembali kepadamu." Suster Ann tersenyum ketika melihat Asher yang seperti pria dewasa pada umumnya. "Asher, pergilah belajar. Aku akan menjaga Aria disini. Ia tidak akan pergi kemana-mana. Kau pergilah," ucapnya dengan memegang pundak Asher. Suster Ann pun membantu Aria untuk melakukan sarapan kembali. Dirinya menyuapi Aria untuk memakan roti serta telur, dirinya memberikan segelas s**u hingga air putih dan obat untuknya. Setelah melakukan sarapan Suster Ann membiarkan Aria tertidur kembali. Dirinya melihat Aria yang sendirian dikamar yang luas, "Apa lebih baik aku memindahkannya di kamarku saja ya. Lagipula menunggu kamar ini lumayan hampir penuh untuknya, namanya Aria Scarlet. Nama yang sangat bagus sekali."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN