bc

Cinta Di Tengah Bencana

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
HE
fated
second chance
kickass heroine
heir/heiress
tragedy
bxg
brilliant
city
office/work place
disappearance
war
like
intro-logo
Uraian

Seorang dokter relawan tak pernah menyangka akan bertemu kembali dengan mantan kekasihnya di tengah kota yang hancur akibat bencana. Kini, mantannya bukan lagi pria yang ia kenal dulu, melainkan seorang dokter militer yang harus bekerja satu tim dengannya.Awalnya tidak mudah. Luka lama dan kecanggungan masih ada. Namun demi menyelamatkan warga, mereka tetap profesional. Di tengah perjuangan, rasa yang dulu hilang perlahan kembali hingga setelah semua berakhir, mereka memutuskan memperjuangkan cinta yang sempat gagal dan melangkah ke pelaminan

chap-preview
Pratinjau gratis
Bencana Dimulai
Suara dentuman keras mengguncang seluruh penjuru Kota Argen. BRRAAAKKK! Gedung-gedung tinggi di pusat kota bergetar hebat. Lampu jalan pecah, kaca-kaca pertokoan berhamburan ke jalan raya, dan orang-orang berlarian sambil berteriak panik. “GEMPAAA!” “LARI, CEPAT LARI!” “YA TUHAN, TOLONG KAMI!” Permukaan aspal mulai retak-retak, kendaraan saling bertabrakan, dan suara sirene alarm meraung dari berbagai penjuru kota. Di sebuah apartemen lantai tujuh, seorang wanita muda terjatuh dari sofa. “Astaga—” Tangannya secara refleks mencengkeram kaki meja untuk menahan diri. Getaran gempa semakin terasa kuat, membuat lemari di sudut ruangan roboh dan pigura-pigura foto jatuh lalu pecah berkeping-keping. “Ya Allah…” Ia buru-buru meraih ponsel, namun di layar hanya tertulis tulisan: Tidak Ada Sinyal. “Jangan sampai listrik padam sekarang…” BLAAAM! Tiba-tiba seluruh penerangan di kota itu mati total. Suasana menjadi gelap gulita, sementara jeritan ketakutan mulai terdengar dari luar jendela. Di pusat kota, kondisi jauh lebih parah. Beberapa gedung perkantoran runtuh sebagian, dan rumah sakit utama nyaris tidak sanggup menampung arus korban yang terus berdatangan. Lorong-lorong penuh sesak dengan orang-orang yang terluka, tangisan bercampur dengan suara sirene ambulans yang tak henti meraung. “Dok! Tolong anak saya!” “Suami saya tertimpa reruntuhan bangunan!” “Perawat, tolong bantu kami!” “Kami butuh tabung oksigen, cepat!” Kekacauan terjadi di mana-mana. Seorang dokter laki-laki berlari secepatnya melewati lorong IGD. “Cepat! Ruang operasi sudah penuh!” “Kami kehabisan persediaan darah!” teriak seorang perawat dengan napas terengah. “Pindahkan pasien yang ringan ke tenda darurat di luar!” “Tapi mesin pembangkit listrik hampir mati total!” Di luar rumah sakit, hujan mulai turun dengan deras. Banyak warga duduk di pinggir jalan, sebagian menangis tersedu-sedu, sebagian lagi hanya terdiam memandangi puing-puing bekas tempat tinggal mereka. Di kejauhan, seseorang berteriak histeris memanggil orang terkasihnya. “MAMA! ADA YANG MELIHAT MAMA SAYA?!” Tim penyelamat mulai berdatangan, namun jumlah korban terlalu banyak dan terus bertambah. Sementara itu, sebuah rekaman video amatir mulai menyebar dengan cepat di seluruh media sosial—menampilkan gedung yang runtuh, orang-orang yang terperangkap di bawah reruntuhan, dan suara tangisan yang memilukan. Jembatan utama penghubung kota juga terlihat retak parah dan tidak bisa dilalui. Kurang dari satu jam kemudian, stasiun televisi nasional mulai menyiarkan berita ini secara langsung. Seorang wartawan berdiri di tengah guyuran hujan sambil memegang mikrofon. “Kami berada di pusat Kota Argen yang baru saja diguncang gempa berkekuatan besar. Kondisi di sini sangat memprihatinkan. Banyak bangunan ambruk dan ribuan warga sedang dalam proses evakuasi…” Layar televisi kemudian berganti menampilkan tulisan besar: TRAGEDI BESAR DI KOTA ARGEN RIBUAN WARGA TERDAMPAK RUMAH SAKIT HAMPIR TIDAK BERFUNGSI Berita ini juga menarik perhatian dunia. Negara-negara tetangga langsung menawarkan bantuan, dan media internasional menyebutnya sebagai salah satu bencana terbesar yang terjadi tahun itu. Di gedung pemerintahan, rapat darurat berlangsung dengan suasana yang sangat tegang. Seorang menteri meletakkan berkas laporan di atas meja. “Jumlah korban terus bertambah setiap menitnya.” “Beberapa wilayah sudah tidak mendapatkan aliran listrik dan air bersih.” “Bandara mengalami kerusakan ringan namun masih bisa beroperasi.” “Dan rumah sakit sudah benar-benar tidak sanggup lagi menampung pasien.” Presiden mengusap wajahnya yang tampak lelah. “Apa status keadaan sekarang?” “Ditetapkan sebagai darurat nasional, Pak.” Ruangan menjadi hening sejenak. “Baiklah,” jawabnya dengan tegas. “Kirimkan bantuan sepenuhnya.” “Kerahkan pasukan militer?” “Segera.” “Tambahkan tenaga medis dan peralatan?” “Lakukan sekarang juga.” “Dan proses evakuasi?” “Dimulai malam ini juga.” Tidak ada yang berani membantah. Semua orang menyadari kenyataan pahit—kota itu benar-benar hancur. Malam harinya, di markas besar tim medis militer. Seorang pria tinggi berbadan tegap berdiri di depan layar besar yang menampilkan kondisi Kota Argen. Ia mengenakan seragam dokter militer, dengan raut wajah yang dingin dan tatapan mata yang tajam. Tangannya terlipat rapi di depan d**a. Dialah dr. Axel Mahardika—dokter militer terbaik yang dikenal sangat disiplin, tegas, dan jarang mengucapkan kata-kata yang tidak perlu. Di layar terlihat jelas gambaran gedung yang runtuh, korban yang membludak, serta jalur evakuasi yang semrawut. Mayor Bara berbicara dengan suara lantang. “Kondisi di lapangan sangat buruk. Rumah sakit hampir lumpuh total karena kekurangan tenaga dan peralatan. Kita akan mengirimkan tim medis malam ini juga.” Tatapan Axel tetap datar dan profesional, tidak menunjukkan reaksi apa pun. “Siapa yang ditunjuk sebagai pemimpin tim?” tanya salah satu anggota. Mayor Bara menoleh ke arah Axel. “dr. Axel Mahardika.” Ruangan langsung menjadi sunyi senyap. Tidak ada yang mengajukan keberatan, karena semua orang mengetahui kemampuan dan dedikasi pria itu. Kapten Revan menyenggol bahu Axel pelan. “Selamat mendapat tugas, Dokter Dingin.” Axel tidak bereaksi sedikit pun. “Kapan jadwal keberangkatan?” “Paling lambat tiga jam lagi.” Letnan Niko menghela napas panjang. “Wah, belum sempat pejamkan mata nih.” “Kalau mau tidur nyenyak, sebaiknya pindah jadi pegawai kantoran saja,” sahut Revan sambil tersenyum tipis. “Kamu ini kejam sekali, Kapten.” Mayor Bara kembali menarik perhatian semua orang. “Kalian akan bergabung dengan tim relawan dari kalangan sipil. Pastikan keselamatan tim, namun utamakan penanganan korban. Dipahami?” “Siap, Komandan!” jawab mereka serentak. Di kota lain, tepatnya di Rumah Sakit Sentosa. dr. Alesya Pramudita baru saja selesai melakukan operasi. Ia melepas masker medisnya dengan gerakan lelah, rambutnya sedikit berantakan dan matanya terlihat sayu karena kurang tidur. Teman dekatnya, Keira, langsung menghampiri dengan napas tergesa. “LESYA!” Alesya sedikit terkejut. “Ya ampun, pelan sedikit dong.” “Kamu sudah lihat berita belum?!” “Berita apa?” Keira segera menunjukkan layar ponselnya. Wajah Alesya perlahan berubah saat melihat rekaman yang ditampilkan—Kota Argen yang porak-poranda, bangunan runtuh, dan warga yang terluka berbaring di mana-mana. “Ya Tuhan…” “Parah sekali, kan?” dr. Dimas menghampiri mereka dengan raut wajah serius. “Saya baru saja menerima surat permintaan.” Alesya menoleh. “Surat apa, Dok?” “Permintaan tenaga medis sukarela untuk membantu di Kota Argen.” Keira langsung membeku di tempat. “Hah? Maksudnya… kita?” “Benar.” Suasana di sekitar mereka menjadi hening seketika. Alesya kembali menatap layar televisi yang menayangkan situasi di sana—tangisan anak-anak yang kehilangan orang tua, korban yang menunggu giliran ditangani, dan rumah sakit yang sudah penuh sesak. Dadanya terasa sesak. “Les…” panggil Keira pelan. “Kamu tidak mungkin ikut, kan?” Alesya terdiam. Tubuhnya memang terasa lelah, dan dua tahun terakhir hidupnya hanya dihabiskan di rumah sakit tanpa ada waktu istirahat yang layak. dr. Dimas berbicara dengan nada hati-hati. “Ini murni sukarela. Kami tidak memaksamu. Namun di sana kondisi sangat darurat dan kekurangan tenaga medis.” Alesya menggigit bibir bawahnya, pikirannya berkecamuk. Saat itu, suara wartawan dari televisi terdengar jelas: “Tim medis tambahan sangat dibutuhkan segera, bahkan malam ini juga…” Alesya memejamkan matanya sejenak, menarik napas panjang, lalu membukanya kembali dengan pandangan yang tegas. “Aku ikut.” “Hah?!” Keira melotot tak percaya. “Lesya, kamu serius?!” “Iya.” “Tapi kamu sudah sangat lelah!” “Aku tahu.” “Bahkan kamu belum pulih dari kelelahan kerja yang terus-menerus!” Alesya tersenyum tipis. “Tapi ingat, kita ini dokter, Kei. Tugas kita adalah menolong orang yang membutuhkan.” Keira mendengus kesal. “Kalau begitu, aku ikut juga.” “Kamu yakin?” “Tidak terlalu yakin sih… tapi aku takut kamu pingsan di sana nanti tidak ada yang menjaga.” Alesya tertawa kecil—suara pertama yang terdengar ceria hari itu. dr. Dimas mengangguk puas. “Baiklah. Tim akan berangkat malam ini juga.” Di markas militer, Axel menerima berkas daftar nama relawan sipil. Ia membacanya satu per satu: dr. Nabila, dr. Haris, dr. Kevin… semuanya terasa biasa saja. Namun tangannya tiba-tiba berhenti bergerak. Napasnya tercekat sejenak, dan tatapan matanya yang tajam seolah membeku. Satu nama yang tertulis di kertas itu membuatnya terpaku. Nama yang tidak pernah ia sangka akan ia lihat lagi. dr. Alesya Pramudita. Suasana di sekitarnya terasa sunyi. Revan yang melihat perubahan sikap temannya bertanya, “Ada apa?” Axel tidak menjawab. Pandangannya tetap tertuju pada nama itu, sementara tangannya mencengkeram berkas itu sedikit lebih kuat. Tidak mungkin. Setelah bertahun-tahun tidak berjumpa, mengapa harus sekarang? Mengapa harus di tempat yang sedang dalam bencana seperti ini? Dan mengapa harus dia? “Bro?” panggil Revan lagi. Akhirnya Axel berbicara dengan suara rendah yang hampir tidak terdengar. “…Tidak mungkin.”

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
721.6K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.5M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
958.6K
bc

A Warrior's Second Chance

read
346.7K
bc

Not just, the Beta

read
342.2K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook