"Roger, kau sudah menyiapkannya?" Alex langsung bertanya ketika melihat Roger yang sudah datang.
"Sudah. Jet pribadi sudah menunggu, Kau bisa langsung berangkat malam ini," Roger menyahut dengan cepat seolah begitu profesional menjadi seorang asistennya.
"Tidak. Aku tidak akan memakainya. Kami akan berangkat dengan mobil, sementara kau yang akan menunggu kedatangan kami diatas gedung markas Rowan, saat misi telah selesai."
"Baiklah." jawab Roger mengangguk cepat.
"Ayo," ucap Alex bergumam pelan, Rea mengangguk patuh dan langsung mengikuti langkah Alex.
Beberapa mobil berwarna hitam, yang dijaga oleh orang-orang berjas gelap tampak sudah menunggu disana. Mereka semua memberi salam sopan, dengan membungkuk saat berhadapan dengan Alex yang datang mendekat dengan Rea yang berada dibelakangnya kearah pintu mobil yang telah dibuka.
"Kami telah melakukan seperti yang anda perintahkan, semua telah siap disana,"ucap salah seorang pria yang memakai pakaian gelap itu.
"Mari ikut kami," sambungnya kemudian.
Alex hanya menganggukan kepala sembari mengulurkan tangannya untuk menyambut Rea, tanpa mengucapkan sepatah katapun. Tapi Rea segera mengerti dan menerima uluran itu untuk segera masuk kedalam mobil.
Alex duduk bersandar di kursi penumpang yang bersebelahan dengan Rea dan sesekali melirik kearahnya. Alex memperhatikan wajah Rea yang nampak datar, namun tersimpan dendam dan amarah disana. Entah mengapa hal itu begitu mengganggu pikiran Alex, dan berusaha untuk segera menyelesaikan permasalahan wanita yang sedang bersamanya ini. Dan untuk hal yang akan terjadi setelah ini, biarlah waktu yang menjawabnya.
Rea menggerakan kepalanya menoleh kearah Alex. Yang membuat mata mereka jadi bersibobrok. Merasa tertangkap basah karena telah memperhatikannya membuat Alex jadi salah tingkah. Untungnya dia dengan mudah menguasai dirinya dari situasi itu.
"Rea, seburuk apapun masalalumu. Aku harap kau berhenti menyalahkan dirimu sendiri atas kejadian itu. Mungkin itu sudah menjadi takdirmu."
Kalimat penghibur lagi-lagi keluar dari mulut Alex, meski hal itu hanya untuk mencairkan suasana didalam kabin penumpang yang tadinya hening, saat mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing.
Rea tersenyum tulus. Baru kali ini dia nampak lebih hidup. Ucapan sederhana Alex mampu membuatnya tersentuh.
"Kau tahu? Kau juga berbeda dari penjahat lainnya. Kau terlihat begitu peduli, meski aku tahu itu hanya sekedar simpati untukku. Tapi aku tidak menyangka kau juga masih memiliki hati nurani untuk itu."
Entah mengapa ucapan Rea membuat Alex tersenyum bangga.
Tanpa terasa mereka telah sampai di kediaman Rowan. Rea bahkan tidak merasakan gemetar sedikit pun saat memasuki area itu. Dia bahkan dengan sangat pandai dalam menguasai emosinya. Mereka datang dengan wajah dingin dan aura mencekam serta menusuk.
Salah satu anak buah Rowan melihat kedatangan Alex dengan wajah kagetnya sampai menempelkan kedua tangannya di kaca jendela untuk memastikan, lalu segera turun untuk melaporkan pada Rowan.
"Ada tamu yang tak diundang," ucap salah Seorang anak buah Rowan itu.
"Apa? Siapa?" tanya Rowan penasaran.
"Alex Dam Vaste. Ketua klan The fastest killer. Dia datang membawa banyak pasukannya. Dan dia juga datang bersama Rea," jawabnya cepat. Sebuah ketakutan terlihat jelas.
Rowan nampak bingung dengan kedatangan Alex yang secara tiba-tiba. Bukankah hubungan diantara mereka dulu tidak begitu baik. Tapi kenapa saat ini dia malah datang kemari? Apa dia sudah mengetahui semuanya?" pikir Rowan.
Namun belum sempat ia berfikir lebih jauh. Alex dan Rea telah berada diruangannya dengan raut wajah yang tak bisa diartikan.
Alex...
Gumam Rowan pelan, namun masih bisa didengar.
"Rowan... Senang bertemu denganmu lagi. Tapi kali ini pertemuan kita akan cukup menyenangkan. Karena aku akan memberikanmu kejutan yang tak terduga. Yaitu kematianmu, aku akan menyapu bersih tempat ini dari orang-orang yang kotor seperi kalian."
Ucapan Alex bagaikan teror bagi Rowan dan anak buahnya. Rowan sendiri nampak pucat dan mengeluarkan keringat dingin. Rowan sangat paham bagaimana kejamnya seorang Alex pada musuhnya.
"Kenapa kau terlihat gemetar Rowan. Bukankah kau sendiri sudah terbiasa dengan hal semacam ini," ucap Alex santai. Dengan seringai iblis menyertainya.
Rowan melotot kan matanya pada Alex seolah dia sedang berhadapan dengan orang gila yang haus darah.
Kenapa Alex bisa datang kesini? Apa ini artinya Rea telah gagal dalam misinya kali ini? batin Rowan menggerutu cemas.
"Aku tahu kau sedang memikirkan banyak pertanyaan di benakmu, maka dari itu dengan sangat berbaik hati aku akan memberi tahumu agar kau tidak mati dalam kesia-sia an."
Alex memiringkan tubuhnya dari ambang pintu sembari mengulurkan tangannya.
"Kemarilah Rea."
Sosok yang muncul setelah menyambut uluran tangan Alex, membuat Rowan terperangah. Matanya nampak merah padam menahan amarah.
"Kenapa kau berada disini, JALANG sialan" bentak Rowan dengan suara menggelegar kearah Rea. Namun Rea tidak perduli dengan itu. Dia justru menyunggingkan senyuman sinis menatap Rowan, seakan ingin mengatakan betapa menyedihkannya situasi Rowan saat ini.
"Kau hanyalah lintah menjijikan yang selalu mencari kelemahan orang lain. Kau pengecut yang memiliki ambisi tinggi namun kau sendiri tidak mampu melakukannya, jika bukan karena bantuan orang lain," ucap Rea dengan nada penghinaan yang kental. Membuat darah Rowan semakin mendidih seakan ingin meledak.
"PENGHIANAT BODOH!" Maki Rowan lagi mencela Rea habis-habisan.
Membuat Alex berdecak dan menatapnya dengan pandangan merendahkan.
"Aku tidak ingin mendengar lebih banyak ucapan sampahmu Rowan. Tempat ini sudah dikepung oleh anak buahku, sementara kau..." Alex menyipitkan matanya seolah menimbang-nimbang apa yang ada dibenaknya. "Kau akan kubunuh saja, lagi pula aku tidak suka berlama-lama disini. Karena tujuanku datang kesini bukan untuk berbincang denganmu. Melainkan membunuhmu, dan menyapu bersih semua yang Berhubungan dengan bisnis kotormu ini,"
Rowan terperangah kaget bercampur kecemasan mendengarnya. Lalu dengan merendahkan harga dirinya, dia malah menuduhkan hal yang tidak-tidak pada Rea. Rowan meruntuhkan harga dirinya hanya demi memohon belas kasihan dari Alex.
"Jangan mempercayai dengan apa yang wanita itu katakan Alex. Dia pembohong besar, dia mencoba menjadikan aku kambing hitamnya disini. Dia wanita licik yang hanya ingin menyelamatkan dirinya sendiri dengan memfitnahku. Aku hanya lah korban disini," ucap Rowan dengan tergagap bercampur ketakutan yang luar biasa.
Bukannya simpati, Alex bahkan muak melihatnya. Sudah jelas dengan cara apapun Rowan untuk bernegosiasi dengan Alex hanyalah sebuah kesia-sia an.
Hanya butuh waktu sepersekian detik gas beracun yang telah mereka siapkan telah menyebar keruangan itu. Alex memandang Rowan dengan tatapan puas melecehkan. Lalu memberi isyarat pada semua anak buahnya untuk segera menelan pil penawar racun itu.
Rowan yang sadar tidak bisa bertahan disana merasa depresi dan terlihat kalang kabut. Matanya tertuju pada Rea yang baru akan menelan pilnya. Namun dengan cepat Rowan menepis tangan Rea yang menyebabkan pil itu terlempar entah kemana.
"Jika aku mati. Maka kau juga harus mati!" ucap Rowan dengan seringai jahatnya sembari mulai merasakan efeknya dengan terbatuk-batuk dan sesekali kesulitan menarik nafasnya.
Alex yang melihat hal itu terlonjak kaget dan langsung menarik Rea untuk segera pergi dari sana. Dengan tersaruk saruk Rowan menahan kaki Rea untuk menunda kepergiannya, agar dia juga menghirup gas beracun itu lebih banyak. Tapi Alex segera menerjang tubuh Rowan sampai tersungkur.
BERSAMBUNG .....
TERIMAKASIH TELAH MENGIKUTI ALUR CERITA INI DENGAN BAIK.