"Grissham adalah darahku, sedangkan Aldric adalah nafasku. Aku tidak akan bisa bertahan hidup jika salah satu diantara mereka mati. Namun kebimbanganku justru membawaku kedalam hal yang lebih buruk: Aku kehilangan keduanya.
Mereka membunuh suamiku tepat dihadapanku. Aku terlalu syok sampai tidak bisa berteriak. Saat itu aku segera sadar bahwa tidak ada lagi yang bisa kulakukan untuk Grissham. Aku harus menyelamatkan Aldric. Membawanya pergi sejauh mungkin. Aku bergegas memutar kemudiku dan meletakan Aldric disebelahku dan melaju dengan kencang. Naluriku untuk mempertahankan hidup anakku membuatku seperti pembalap hebat. Aku masih begitu syok untuk menangis, bawah sadarku masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Grissham telah tiada."
Meski Rea tidak meneteskan air mata setetespun, kepedihan yang terpancar diwajahnya sangat tampak nyata. Membuat Alex terpaku dan memiliki naluri aneh didalam dirinya untuk menjaga wanita ini. Bukan hanya sekedar rasa simpati, melainkan ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh sebuah kata.
"Lalu didetik selanjutnya mereka berhasil mengejarku. Mereka mendesakku agar berhenti dan mulai menembak mobil yang kubawa dengan bertubi-tubi. Sampai akhirnya mobil yang aku kendarai kehilangan kendali dan masuk kedalam jurang. Tadinya aku pikir, aku sudah mati. Tapi ternyata tidak, aku masih sadar. Meski luka yang ada ditubuhku begitu parah tapi aku tidak terlalu merasakannya, yang ada dipikiranku hanyalah Aldric. Aku mengkhawatirkan keadaanya. Lalu aku bertambah hancur saat melihat putraku, anakku yang bahkan masih sangat kecil, mati didepan mataku. Aku tidak ingin menceritakan kondisinya pada saat itu. Terlalu menyakitkan bagiku. Kejadian itu selalu menghantuiku bahkan menjadi mimpi buruk bagiku. Intinya anakku juga meninggal di depan mataku, sampai aku tidak bisa melakukan apapun untuk menolongnya."
Alex memalingkan wajahnya. Melihat Rea yang seperti itu, entah mengapa membuatnya merasa ikut hancur bersamanya. Seolah semua kepedihan yang dirasakan Rea ditransferkan padanya. Semua luka dan kepedihan yang dia alami, untuk sesaat semuanya menjadi milik Alex dalam bentuk yang tak bisa disangkal. Dalam sedetik itu Alex) mulai memahami bagaimana rasanya memiliki rasa simpati. Yang tidak pernah dia rasakan pada siapapun sebelumnya.
"Dan pada saat rasa sakit ditubuhku mulai semakin terasa, aku hanya memejamkan mataku berharap ajalku segera tiba. Tapi ternyata harapanku tidak juga terkabul. Aku masih hidup, walau tinggal sejengkal dari kematian. Seseorang yang kusebut ayah saat ini dan orang yang menjadi sandra Rowan, yang telah menyelamatkanku. Dia merawatku layaknya putrinya sendiri. Kasih sayang yang tidak pernah kudapatlan dari seorang ayah akhirnya bisa kudapatkan. Meski situasinya sangatlah berbeda. Kejadian kelam itu membuatku menjadi sosok yang dingin dan memiliki naluri Seorang pembunuh. Setelah kejadian itu aku banyak melakukan pembunuhan pada orang-orang yang memiliki kekuasaan tinggi. Karena aku yakin yang merencanakan pembunuhan pada suami dan anakku adalah orang-orang seperti mereka.
Manusia serakah yang menjatuhkan orang lain demi kepentingan mereka sendiri. Pada saat aku melakukan aksi yang kesekian kalinya. Pada saat itulah Rowan memergokiku dan menyimpan semua bukti kejahatanku. Tapi aku tidak perduli dengan ancamannya, toh jika aku ditangkap polisi maka aku pasti akan mendapatkan hukuman mati. Itu bukan masalah besar bagiku.
Tapi ternyata Rowan lebih licik dari yang kubayangkan. Dia menahan ayah angkatku, menyiksanya sampai dia tidak berdaya. Aku tidak punya pilihan lain selain mengikuti keinginan nya. Untuk menjadi anak buahnya, dan sebagai pembunuh bayaran. Sampai akhirnya aku bertemu jack, dia begitu baik padaku sejak aku mulai bekerja dengan Rowan. Rowan sendiri yang meminta jack untuk menjadi asistenku. Entah apa alasan Jack tidak menyukai Rowan aku sendiri tidak tahu."
Rea dan Alex sempat bertatapan lama.
"Nah begitulah ceritaku, cerita tentang gadis malang dan menyedihkan," ucap Rea begitu tenang. "Kelemahanku membawa mereka dalam kematian." sambungnya tertawa getir.
"Itu semua bukanlah kesalahanmu," kalimat penghibur itu keluar begitu saja dari mulut Alex tanpa bisa dicegah.
"Aku tahu, tapi bagaimana pun juga aku tidak bisa menghilangkan rasa bersalah yang terus saja menghantuiku. Jika saja aku tidak lemah, jika saja saat itu aku mendengarkan Grissham untuk segera lari dan membawa Aldric pergi jauh dengan cepat. Mungkin aku tidak akan kehilangan anakku." jawabnya datar.
Kali ini tidak ada kata penghibur lagi yang keluar dari mulut Alex. Bahkan tak ada yang bisa dipikirkannya. Rea dan penderitaannya akan berakhir hanya karena jika dia sudah mati.
"Jika tidak ada lagi yang ingin kau tanyakan, bisa kita mulai rencana kita," Rea membuyarkan lamunan Alex.
"Baiklah..."
"Alex? Apa yang kau lakukan disini. Dan siapa wanita cantik ini." Roger yang datang secara tiba-tiba mengalihkan perhatian Mereka.
"Namanya Rea. Kita akan membantunya untuk membantai Rowan," jawab Alex singkat.
Roger mengangguk mengerti dan segera memanggil anak buah Alex yang lainnya untuk menyusun sebuah strategi. Mereka akan menyiapkan helikopter disaat darurat. Dan juga gas beracun untuk memanipulasi pembunuhan mereka. Sehinggal berita yang akan tersebar akan mengatakan Rowan dan sekelompok anak buahnya mati dalam keadaan keracunan akibat asap gas beracun yang bocor.
Tidak lupa pula para penembak jitu yang akan ditempatkan di berbagai sudut. Serta bom peledak yang memiliki suara yang begitu kecil, namun hasil ledakan yang lumayan besar sehingga Rowan dan anak buahnya tidak akan bisa kabur kemanapun untuk menyelamatkan diri.
"Roger, kau yang mengurus yang lainnya, saat aku dan Rea memasuki markas Rowan. Dan pastikan ayahnya Rea tetap aman dan selamat. Kita akan mencoba strategi pertama dulu. Berpura-pura menyerang dari timur tapi menyeranglah dari barat. Pada tiap pertempuran, elemen dari sebuah kejutan dapat menghasilkan keuntungan ganda. Bahkan ketika berhadapan langsung dengan musuh, kejutan masih dapat digunakan dengan melakukan penyerangan saat mereka lengah. Untuk melakukannya, kita harus membuat perkiraan akan apa yang ada dalam benak musuh melalui sebuah tipu daya. Dan barulah gas beracun itu kita sebar," Alex berucap tegas dengan aura kejamnya.
"Kita harus Kalahkan musuh dengan menangkap pemimpinnya. Jika tentara musuh kuat tetapi dipimpin oleh komandan yang mengandalkan uang dan ancaman, maka ambil pemimpinnya.
Jika komandan mati atau tertangkap maka sisa pasukannya akan terpecah belah atau akan lari ke pihak kita. Akan tetapi jika pasukan terikat atas sebuah loyalitas terhadap pimpinannya, maka kita harus berhati-hati, pasukan akan dapat melanjutkan perlawanan dengan motivasi balas dendam." sambungnya lagi.
Mereka semua mengangguk paham dengan yang dikatakan Alex. Penyerangan kali ini akan cukup menantang dibandingkan sebelumnya.
"Ini adalah pil penawar racun gas apabila terhirup oleh kalian. Kalian harus segera meminum obat ini nanti." ucap Alex sembari memberikan botol pil pada Roger untuk dibagikan pada yang lainnya. Dan memberikan satu untuk Rea.
MARI KITA MULAI .....