POV ALEX
Meskipun semua bukti telah menunjukan semua kebenarannya. Namun aku masih belum bisa menerimanya.
"Mungkin kau akan sadar setelah mendengar ini..." Terdengar datar saat Louis berucap. Dan sengaja menghentikan sejenak ucapannya. "Wanita itu jugalah yang membunuh Ayahmu, dan membuat ibumu bunuh diri karena kematiannya."
Aku menatapnya tajam saat berbicara mengenai ayahku. Ayahku sudah lama meninggal, jejak kematianya memang misterius. Sampai sekarang aku belum menemukan petunjuk apapun. Tapi bukan berarti Rea jugalah pelakunya. Namun pemikiran itu segera musnah saat melihat Louis mengeluarkan sebuat alat suntikan yang telah kosong dan yang mengejutkanku adalah sebuah nama yang sangat kukenali disana. Andrew Dam Vaste...
Tubuhku mendadak lemas mengetahui kenyataan itu. Beberapa saat otakku terasa hampa. Aku tidak bisa berfikir. Lebih tepatnya menolak untuk berfikir.
Aku tertawa hambar menatap Louis dengan mengguncang bahunya.
"Katakan padaku kalau ini semua adalah lelucon payahmu Louis?" aku nyaris memelas saat mengatakannya. Aku bisa melihat tatapan prihatin yang Louis tunjukan padaku.
Louis menggeleng lemah. "Aku mengerti perasaanmu, Alex. Hanya saja aku heran kenapa kau sangat mudahnya percaya pada wanita itu. Namun... Ya, inilah kenyataannya."
Pikiranku seketika membeku. Tubuhku juga membeku. Duniaku juga seakan ikut membeku. Rasanya sangat menyakitkan seakan dunia ini runtuh menimpa kepalaku.
Aku menatap Louis sesaat. Aku yakin apa yang ada diwajahku saat ini adalah cerminan dari apa yang kulihat diwajahnya. Duka mendalam, dendam, amarah. Aku sadar aku harusnya percaya pada Louis. Duka yang dia tanggung hampir sama besar dengan yang aku rasakan. Menciptakan luka yang menganga lebar dan sulit untuk disembuhkan.
"Dengar Alex, aku juga mengalami duka yang sama denganmu. Aku kehilangan ayahku karena wanita itu," ucap Louis sembari meletakan tangannya dipundakku.
"Tidak, kau tidak mengerti!" Aku menyentakkan tangannya kuat. Aku sadar apa yang dilakukan Louis hanya untuk menyadarkanku dari kesalahan yang kubuat. Harusnya aku tidak boleh sekasar itu. Namun dalam keadaan penuh emosi seperti ini, aku membutuhkan seseorang untuk menjadi bahan pelampiasan kemarahanku. Aku membutuhkan orang untuk disalahkan.
"Jika kau ingin marah. Maka lakukan lah pada wanita itu Lex. Balaskan dendam kita padanya, jangan biarkan dia hidup lebih lama."
Aku merasa sesuatu yang begitu penting didalam diriku terkoyak lalu hancur. Sesuatu yang tadinya sangat berharga, kini digantikan dengan dendam dan amarah yang memuncak secara permanen. Kini aku merasa hampa, bahkan hidupku seakan kehilangan arah dan tujuan.
Hanya ada dendam yang membentuk jurang hampa menganga dihatiku. Karena telah percaya bahkan jatuh cinta padanya.
"Kau benar Louis, aku akan membalaskan dendam padanya. Hutang nyawa dibayar nyawa. Rea Spencer, dia harus mati..." ucapku dengan nada tenang, namun terdengar mengerikan.
Aku tahu membalas dendam tidak akan mengubah keadaan. Namun aku harus melakukannya untuk menghilangkan rasa sakit ini.
Aku segera menghubungi anak buahku untuk menemukan keberadaan Rea. Sesuai dugaanku dia berada dirumah sakit untuk menjenguk ayahnya.
Aku segera melangkah pergi untuk menemui nya. Mobil yang kukendarai melaju cepat menembus hujan.
Rea Spencer... Kau harus membayar semuanya.
Aku merasa begitu bodoh karena sudah mempercayainya. Semua ceritanya, kesedihannya. Ternyata itu hanyalah topeng untuk melakukan recana busuknya. Dia nyaris ingin menipuku dan memasukanku kedalam perangkap selanjutnya.
Aku telah melakukan kesalahan fatal karena telah jatuh cinta pada orang yang salah. Dan bodohnya lagi, cinta ini bahkan masih belum lenyap. Padahal aku sudah mengetahui segala kebusukannya. Aku sepertinya sudah gila.
Aku berhenti termemung saat mobil ku telah sampai dirumah sakit. Dimana ayah Rea dirawat. Aku berjalan dengan langkah cepat untuk segera menemuinya. Aku melihat Rea baru saja keluar dari ruangan ayahnya dirawat. Aku semakin mendekat kearahnya. Mencoba Menyembunyikan semua emosi yang berkecamuk yang tergambar jelas diwajahku. Rea menyadari kedatanganku. Dia tersenyum dan melambaikan tangannya kearahku seperti tanpa dosa. Mungkin dia masih berfikir bahwa aku masih belum mengetahui semuanya.
Aku menatapnya muak. Bisa-bisanya dia masih bisa tersenyum padaku. Setelah dia membunuh ayahku dengan keji. Dia adalah iblis betina yang berwajah malaikat.
Aku telah sampai dihadapannya.
"Lex? Ada apa, kenapa kau terlihat kacau?"
Alih-alih menjawab pertanyaannya aku malah menatap matanya nanar. Kenapa? Mengapa dia masih menatapku dengan pandangan cemas. Bukankah inilah yang dia inginkan? Membunuhku secara perlahan.
"Alex? Katakan ada apa?" Rea kembali bertanya dan menyentuh lenganku.
"Aku akan mengatakannya. Tapi tidak disini." ucapku datar dan langsung membalikan badan tanpa menunggu tanggapannya. Untungnya dia mengerti dan mengikuti langkahku dari belakang.
Aku berhasil membawanya masuk kedalam mobilku dan melaju dengan kencang. Aku bisa melihat Rea yang tidak terusik sama sekali dengan caraku membawa mobil. Jika saja yang aku bawa wanita lain, mungkin dia sudah berteriak histeris Karena ketakutan. Tapi tidak pada Rea yang bersikap biasa saja.
Butuh waktu cukup lama bagi kami untuk sampai ketujuanku. Selama diperjalanan bersama Rea. Aku merasa nyaman sekaligus jijik. Kapan aku bisa melenyapkan perasaan sialan ini.
"Dimana ini?" ucap Rea saat melihatku menghentikan mobil di sebuah ruangan bawah tanah. Tempatku biasa mengeksekusi para musuh maupun penghianat.
Aku sedikit gelisah apakah aku bisa membunuhnya atau tidak. Disaat emosiku sedang meledak-ledak tadi aku dengan mudah mengatakannya. Tapi bagaimana dengan sekarang disaat emosiku sudah terkendali.
Tidak.
Aku harus bisa melakukannya.
Aku membayangkan wajah ayahku untuk menguatkan tekadku.
"Diruangan khusus mengeksekusi para musuh dan penghianat," ucapku dingin dengan menatapnya tajam.
Ucapanku mengandung aura yang mengerikan. Namun aku masih belum menemukan ketakutan didalam diri Rea. Wanita ini memang luar biasa dalam keberaniannya.
"Kenapa kau membawa ku kesini? Apa yang sebenarnya ingin kau sampai kan?" tanya Rea masih dengan wajah tanpa dosanya. Seakan tidak pernah melakukan kesalahan apapun.
"Untuk membunuhmu."
Rea menatapku bingung. Ekspresinya sama persis seperti ekspresiku saat mendengar Louis menuduhku tadi.
"Alex? ini tidak lucu."
"Aku juga tidak sedang melucu Rea. Kau bisa melihat sendiri dari raut wajahku."
"Kenapa? apa kesalahanku padamu?"
Cih, aku sangat muak dengan sikapnya yang berlagak polos. Wanita iblis yang bersikap tanpa dosa setelah melakukan pembunuhan dengan keji.
"Jangan bersandiwara lagi Rea. Aku sudah tahu semuanya. Aku sudah tahu semua rencana licikmu. Dan aku juga sudah tahu bahwa kau yang telah membunuh ayahku." balasku pelan. "Karena dirimu, ibuku bunuh diri karena kehilangan ayahku. Kau harus membayarnya. Hutang nyawa dibalas nyawa..." tambahku lagi sembari menodongkan pistol di dadanya.
"Alex! dengarkan aku, aku tidak..."
"Ayo keluarkan kemampuan bertarungmu Rea. Hadapi aku," ucapku memotong ucapannya. Aku berkata dengan nada mendesak. Namun Rea masih juga tidak bergerak. Dia masih saja menatap ku bingung.
BERSAMBUNG ..
TERIMAKASIH TELAH MENGIKUTI ALUR CERITA INI DENGAN BAIK.